Janda

Janda
eps 58


__ADS_3

setelah menyelesaikan ucapannya antoni pergi berlalu begitu saja, sedangkan mom antoni masih diam mematung,


tubuhnya kini jatuh merosot ke atas sofa, " apa maksud anak itu, " bahkan kini nyonya delya memijit plipisnya merasa pusing dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut putranya,


antoni kembali melajukan mobilnya dengan perasaan yang menggebu, ia marah, kesal dan kecewa, "aku berfikir kamu adalah wanita baik baik tapi ternyata aku salah, kamu tak ada bedanya dengan wanita di luaran sana murahan, " umpat antoni mengatai maira,


mobil antoni melaju dengan cepat membelah jalan raya menyalip kendaraan yang berada di depannya,


sedangkan di kampus, entah mengapa perasaan maira semakin tak enak, ia seakan hampa dan deyutan di dadanya semakin mengencang, " aku kenapa, " gumam maira,


nindi yang dari tadi berceloteh hanya di hiraukan maira, ia tak seakan tuli tak mendengar setiap celotehan sahabatnya itu, "apa yang akan terjadi denganku, " maira terbengong dengan segala pemikiran di kepalanya,


nindi yang kini melirik ke arah maira menjadi bingung saat melihat sahabatnya duduk terbengong dan netranya menatap lurus ke depan bahkan maora tanpa berkedip sedikit pun,

__ADS_1


"hey, " kini nindi melambaikan tangannya di depan mata maira, seraya menyadarkan maira dari keterdiamannya,


"eh, iya, " maira kelagaban,


"kenapa, hem, " nindi membalik badan maira supaya mereka berdua berhadapan, menatap mata maira memindai, kini nindi terlihat serius dengan pertanyaannya, baru kali ini nindi melihat sahabatnya seperti ini


"ada masalah, kalau memang ada sini cerita, " ucap nindi sambil terus memegabg kedua bahu sahabatnya,


maira mendesah menghembuskan nafasnya ke udara, "aku tidak apa apa, " bahkan dalam rasa yang tak menentu di hatinya maira bisa tersenyum membalas semua pertanyaan sahabatnya,


"aku semakin penasaran denganmu, dan jujur saja semakin ke sini aku semakin penassran dengan gerak gerik mu yang semakin berbeda, " dan kini ucapan nindi berhasil membuat maira terdiam,


"apa mungkin aku harus mencerutakannya sekarang padamu, namun jujur aku masih takut nin, " batin maira,

__ADS_1


jujur saja saat ini maira juga tengah merasa bingung dengan apa yang dia rasa, kenapa hatinya berdenyut dengan tak menentunya dan kenapa rasa takut di hatinya semakin menggebu namun yang maira bingungkan apa yang membuatnya takut seperti ini dan mengapa denyutan di dadanya semakin terasa,


"hey, tu kan elu bengong lagi, " tangan nindi kini terulur menepuk bahu maira yang lagi kagi melamun


"eh, enggak kok, " maira kembali gelapan,


"ah, elu ga asik, cabut aja yuk, " nindi meraih tasnya dan berlalu pergi meninggalkan maira yang masih duduk,


maira kini bangkit berlalu pergi dengan segala kerumitan yang ia rasakan, sedangkan iqbal hanya bisa melihat maira dari jauh tanpa ada keberanian untuk mendatanginya, mungkin saat ini rasa malu lebih mendominan seorang iqbal,


"apa kurangnya aku ra, apa, coba jelaskan," ucap iqbal sambil menatap maira yang kini telah memasuki mobilnya dan berlalu pergi


iqbal masih bersandar di dinding tempat persembunyiaanya, tubuhnya merosot jatuh ke lantai, bayangan penolakan maira selalu terbayang di fikirannya, "heh, " desah panjang iqbal,

__ADS_1


kini maira telah meninggalkan kampus, tujuannya adalah pulang ke apartemen antoni suaminya bersama kerumitan yang kini menusuk relung batinnya,


"maira aku menceraikanmu, " sebuah kata yang menusuk pendengaran maira tatkala baru saja ia membuka pintu apartemen suaminya,


__ADS_2