Janda

Janda
eps 42


__ADS_3

Maira juga sama hal nya seperti antoni, hatinya tak pernah tenang matanya tak bisa terpejam walau hanya sedetik pun hingga pagi menyangsang,


"pagi ma, " ucap maira mencium pipi mamanya dan langsung mendaratkan dirinya di kursi meja makan,


"pagi sayang, " balas mama Alin sambil tersenyum manis.


"papa mana, " tanya maira sambil meminum susu yang sudah di siapkan mama Alin untuknya,


"Ini papa sayang, " ucap tuan roy yang baru saja turun dan langsung duduk di kursinya sambil mama alin melayani sang suami dan anaknya,


sarapan pagi selesai dengan penuh canda bahagia dari keluarga itu,


"sayang, kamu berangkat pakai mobil kamu sendiri ya, semenjak kamu menikah mobil kamu tidak pernah keluar rumah sama sekali, " ucap mama alin, memang semenjak maira menikah mobilnya sama sekali tidak pernah terpakai lagi.


maira mengangguk, ia juga rindu menggunakan mobil kesayangannya "iya ma, " ucapnya dan mama alin kembali masuk ke dalam kamarnya dan keluar lagi untuk menyerahkan kunci mobil anaknya,

__ADS_1


sedangkan papa roy, ia langsung berangkat ke kantor karena hari ini ada meeting bersama klient nya,


maira memasuki mobilnya" Rasanya masih tetap sama, " maira tersenyum sambil meraba stir mobilnya"maaf sudah meninggalkan mu terlalu lama, " ucapnya lagi, mobil ini adalah hadiah dari papa dan mamanya, sehingga sebisa mungkin ia akan menjaga mobilnya dengan sebaik mungkin,


mobil maira sudah melaju meninggalkan rumah papa dan mamanya tujuannya sekarang adalah kampusnya,


"Ternyata anakku sudah tumbuh dewasa," mama alin terharu dan segera menyeka air matanya.


………


"Awas aja lu nindi kalau semua rencana gue hari ini gagal lagi karena lu, " dumelnya sambil kembali merapikan rambutnya,


iqbal turun dari kamarnya dan di meja makan ia sudah di sambut hangat oleh ke dua orang tua serta adiknya,


tak banyak kata yang iqbal ucapkan di saat berada di meja makan, karena memang ia tidak begitu akrab dengan ke dua orang tuanya.

__ADS_1


"iqbal, besok mom dan dad akan balik ke paris," ucap mom tya.


bukannya menjawab iqbal hanya diam saja sambil memakan sarapannya, hal seperti ini sudah biasa bagi iqbal ia sellu merasa sepi karena orang tuanya tidak pernah ada di sisinya,


sedangkan aqiela adiknya itu selalu ikut kemana mom dan dad nya pergi, sedangkan dirinya selalu di tinggal di rumah yang luas dan besar ini bersama bi yumna dan pak akbar,


iqbal meraih tasnya dan berdiri dari duduknya baru saja berjalan dad nya sudah angkat bicara, " kamu denger kan kata mom mu barusan, " dad Wisnu angkay bicara setelah melihat putranya hanya diam saja,


iqbal menoleh lagi ke belakang dan tersenyum sungging tanpa mau berbasa basi, ia lebih memilih pergi karena bersama orang tuanya akan membuat hatinya menjadi sesak,


iqbal melaju mengendarai mobilnya meninggalkan rumah besar yang banyak meninggalkan kepiluan untuknya, sedangkan bik yumna hanya bisa menghela nafasnya melihat anak dari majikannya itu berjalan melengos,


bik yumna sangat mengerti dengan ke adaan iqbal saat ini, "sabar den, " ucap bik yumna sambil melihat mobil yang di kendarai iqbal semakin jauh pergi.


di tengah perjalanan iqbal membanting stir mobilnya dengan perasaan yang menggebu gebu ia ingin marah ia ingin mengeluh, namun mungkin semua itu hanya percuma saja.

__ADS_1


__ADS_2