Janda

Janda
eps 82


__ADS_3

nindia terkejut matanya membulat sempurna melihat beberapa orang yang berdiri tegap di hadapannya nindia merosot ke belakang namun langkahnya terhenti karena mentok dengan dinding bad ranjang Ale sang bodyguard antoni maju ke hadapan nindia smbil meraih ransel milik nindia yang terletak di meja nakas,"berapa pinnya, " ucap ale tegas membuat nindia seakin gemetar,, "anda mau apa, saya orang baik baik, " ucap nindia


"Cepat berapa pinnya, " ucap Ale denga suara lebih lantang dari sebelumnya, nindi menangis,"hikss,"


,"saya tidak mau dengar tangisan, cepat sebutkan berapa pinnya," suara ale tetap lantang hingga membuat mau tak mau jindia menyebutkan nomor pinnya,"baguss," ale menjauh dan berjalan kearah tuannya,"sudah tuan," ale menyerahkan ponsel nindia kepada antoni, sedangkan antoni kini tengah sibuk mencari nomor ponsel milik maira,"yang mana ini," antoni terus saja mencari hinnga ke paling bawah namun justru ia tak menemukan kontak maira,


"tanya dia mana kontak sahabatnya yang bernama maira," antoni kembali menyerahkan ponsel milik maira kepada Ale, Ale kembali melangkah mendekat ke arah nindia,"hubungi sahabatmu yang bernama maira," tegas ale,

__ADS_1


"untuk apa sayang menghubungi dia," nindia bertanya tanpa berani menatap ale yng tubuhnya sangat besar itu,,"Cepat saya tidak butuh pertanyaan lagi," hingga mau tak mau nindia langsung menghubungi maira setelah mendapat teriakan dari ale yang membuat dirinya kembali menangis,


tut,,,


ponsel maira tersambing namun ia belum menjawabnya, hingga persekian detik," hallo, nindi kamu kemana kok ga masuk dari tadi aku hibungi tapi kamu tidak jawab kamu kemana sih," itu suara maira yang terdengar jujur saja sai ini maira sngat khawatir dengan sahabatnya itu apalagi orang tuan nindia berada di luar negeri,


"aku takutt kamu cepat kesini ya," suara nindia terdengar sangat menyayat hati maira dan dalam beberapa detik ponsel yang, terhubung dengan maira langsung ale matikan sebelumnya ia telah men sharelock dimana keberadaan nindia saat ini, "Bawa dia pergi dari sini, tapi jangan dulu kalian lepaskan sebelum target datang, " ucap antoni tanpa membalik badannya nindi terus saja meronta smbil menangis dengan kencang, "lu mau bawa gue kemana, " nindi menangis kala tubuhnya kini di turunkan dari atas ranjang dan di taruh diatas kursi roda,

__ADS_1


setelah mendapatkan dimana lokasi nindia, maira dengan segera berlari kearah mobilnya, " sayang mau kemana, " nyonya alin kebingungan yang melihat maira berlari dari dalam kamarnya bahkan menabrak pak gun, "sorry pak, " ucap maira sambil berlari dia dengan segera melajukan mobilnya,, " mau kemana maira pagi pagi begini bukankah dia bilang kuliahnya nanti siang, " nyonya alina menjadi bingung melihat maira,


dengan kecepatan tinggi mair mengemudi mobilnya membelah jalan Raya yang telah di padati banyaknya pengemudi,


drtt. ,,


ponsel maira berdering ia melihat sekilas siapa yang menghubungi, "sorry gue ga bisa jawab panggilan kamu bal, " Iqbal menghubungi mair namun sayang maira tak mau menjawabnya akibat panik memikirkan nasib sahabatnya itu, "inikan tempatnya, " ucap maira sambil melirik ke arah ponselnya melihat alamat yang telah dikiram dirinya, ia berjalan memasuki sebuah gedung mewah itu sambil melirik kiri kanan hingga akhirnya ia sampai di depan kamar yang bernomor sama persis dengan yang ada di ponselnya, "ini kamarnya, " maira menarik pintu itu perlahan dan masuk ke dalamnya hingga sesuatu hal yng tak terduga terjadi.

__ADS_1


__ADS_2