
antoni sama sekali tak bisa memejamkan matanya sedetik pun malam ini, fikirannya melayang dan mengembara entah kemana. ,"aku kenapa, " bisiknya pada diri sendiri,
sedangkan sisca ia sudah bisa tertidur lelap beberapa jam yang lalu, antoni melepaskan tangannya dan berjalan ke arah balkon apartemen sisca, heh, " dengan segala rasa lelah di tubuhnya antoni kini hnya bisa menghembuskan nafasnya, jujur ia masih bingung dengan oerasaannya saat ini, seharusnya ia senang dan tenang karena bisa menemani kekasihnya.
namun ini malah sebaliknya ia menjadi semakin tak tenang, namun apa yang membuat ia tak tenang entahlah antoni pun masih mikirkan hal demikian, di saat antoni mencoba menerka hatinya di saat itu pula sisca menghawatirkan dirinya,
malam sudah semakin larut tapi tak melarutkan antoni yang masih tergaja, "apa maksud hatiku sebenarnya, semakin kesini kenapa aku semakin tak mengenali diriku, " ucapnya sambil menatap langit gelap yang malam ini tak di temani bintang.
antoni menyenderkan punggungnya di pagar pembatas balkon apartemen sisca," apa maira sudah tidur ya, " degh antoni seakan terkejut mendengarkan isi hatinya.
"apa maksud hatiku, " tanyanya pada dirinya sendiri,
drt,,
drt,,
ponsel antoni berdering ia segera mengambilnya di dalam kantong celana yang saat ini ia gunakan,
__ADS_1
"papa, " ucap antoni sambil menjawab panggilan masuk di ponselnya,
"iya pa, " ucap antoni,
seulas senyum tuan mario terbit namun sayang antoni tak bisa melihat senyuman di seberang jauh sana,
"bagai mana kabar menantu papa dan mama, " jawab tuan mario dengan antusias,
sedangkan antoni ia mendengus mendengarkan ucapan papanya yang hanya menanyakan kabar menantunya dan bukan dia,
"baik, kok cuman menantu aja yang papa tanyakan sedangkan anaknya sendiri enggak nih, " cercah antoni sambil mendengus kesal,
"o iya papa lupa, bagaimana kabar anak kesayangan papa yang satu ini, " antoni kembali mendengus mendengarkan ucapan papanya,
"gini nih kalau sudah punya yang lain aja anaknya sendiri jadi di lupain, " ucap antoni,
"makanya kalau mau di inget terus, buruan kasi papa cucu," degh seketika antoni terdiam ketika mendengar ucapan yang sama sekali tak pernah ia fikirkan,
__ADS_1
"pa, maaf ya antoni tutup dulu panggilannya, " tut,,
seketika panggilan itu terputus, " cucu, " ucap antoni, ia kembali terdiam,
sedangkan sebuah netra di buat membulatkan mata dan bibirnya, " menantu, " bisiknya pada dirinya sendiri,
"No, jangan bilang antoni sudah menikah, " lemas sudah kaki sisca saat telinganya mendengar jelaa semua ucapan antoni yang sedang menelpon dengan papanya
"Tidak, ini semua tidak boleh terjadi, antoni hanya milikku dan bukan milik orang lain, " sisca memundurkan langkahnya dan kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang,
sedangkan antoni ia sama sekali belum beranjak dari balkon, sedari berhenti mendengarkan ucapan papanya ia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar,
"cucu, " antoni mengulang kata kata papanya sambil tertawa namun entah apa maksud dari tawanya itu,
"maaf pa, antoni sama sekali tak mengharapkan pernikahan ini, " batinnya sambil netranya kembali menatap lurus ke depan,
apa antoni bisa di katakan seorang lelaki yang egois?
__ADS_1
apakah dia tak tahu betapa terlukanya hati seorang perempuan apalagi itu adalah istrinya saat mengetahui semua isi di hatinya?
apa dia tak tahu sesakit apa rasanya merelakan semua hal yang telah ia bangun dan sekarang hancur begitu saja..