
maira dengan terburu Buru keluar dari kamar dimana ia harus lagi lagi berurusan dengan mantan suaminya itu, " No, aku tidak mau kembali dan sekarang apa yang harus aku lakukan, " dengan berlari maira mendekati mobilnya dan masuk kedalamnya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi degub jantungnya kini tak karuan, "ayo ra mikir kamu ga boleh kembali sama mas antino aku ga mau itu terjadi, " maira menangis di dalam mobilnya ia bingung dengan apa yang telah menimpanya hari ini bahkan ia melupakan kuliahnya dan nindia sahabatnya,
sedangkan antoni ia masih duduk sambil membenarkan kancing kemeja yang ia gunakan, "sebentar lagi, " ucap antoni sambil tersenyum miring, ia meraih jasnya dan kembali mengenakannya antoni keluar dari kamar tempatnya saat ini, "daddy dan mommy harus tau prihal ini dan aku pastikan mereka berdua akan senang, " ucapnya dengan percaya diri,
__ADS_1
Maira terus saja menyetir mobilnya tampa rah dan tujuan hatinya tak tenang dan tak karuan dengan semua yang sedang ia hadapi saat ini, " aku ga mau, " maira menepikan mobilnya sambil menangis di dalamnya tangisannya terdengar sangat menyayat hati bagi mereka yang mendengarnya, " aku ga mau jika kegagalan kembali menimpaku, " ucap maira, ia hapus air matanya yang kini berjatuhan bak air hujan, " kenapa kamu melakukan ini mas, "maira meremas jemarinya, " kamu jahat mas ," bahkan kini tangannya menjadi sasaran amukannya ia pukul stir mobilnya dengan keras, hingga ia memilih untuk keluar dari mobil dan duduk di bawah pohon rindang dimana disitu ada sebuah bangku kecil, "kenapa takdir hidupku harus seperti ini bukan kah tidak adil, " cicit maira sambil mengusap aur matanya lagi, "jelaskan padaku mengapa harus aku, " tanyanya pada dirinya sendiri
antoni yang saat ini duduk di restauran terdekat dari hotel berbintang tempatnya tadi meraih ponselnya di dalam saju jas yang ia gunakan, " jemput sekarang, " ucap antoni pada sambungan ponselnya sambil kembali menyesap kopi hangat yang telah ia pesan,
__ADS_1
Maira terus saja menangis fikirannya kini melayang mencari sesuatu agar bagaimana dirinya terbebas dan tidak jadi menikah dengan antoni, " apakah bisa aku selamat dari semua ini," hembusan nafas terdengar keluar dari mulut makra setelah selesai mengucapakqn kalimat, hingga beberapa kali tarikan nafas jalan keluar itu belum ia temukan,
sedari maira duduk ada sepasang mata yang terus mengamati maira, seorang lelaki yang kini tengah duduk tak jauh dari maira sedang memicingkan matanya sambil memangku laptop memperhatikan maira yang terus saja menangis hingga akhirnya, "putis Cinta, " ucap seorang lelaki itu yabg kini tengah berdiri di samping maira sambil menyodorkan sehelai sapu tangan, maira mengangkat pandangannya smbil menganga, "kak Ariel, " ucap maira.
__ADS_1