Janda

Janda
BAB 18


__ADS_3

.


.


.


.


**SEGELINTIR MANUSIA BERKATA HALLO, MENDING PERAWAN YAK BAGUS KEMANA-MANA HAIYALAAAH...


NAMUN YA..


ADA JUGA LOH PERAWAN RASA JANDA ..


WKWKWKWKKK..


TYPO BERTEBARAN.


KEYBOARD DIGEROGOTI CONGORNA**


__________________________


fuuuuuuuuh...


Kepulan asap rokok memenuhi ruangan. Wanita berlipstik merah menyala duduk dan mengangkat kakinya diatas meja dan menatap remeh. Seolah dihadapannya itu serangga menjijikkan yang pantas mati dalam sekali pijakan saja. Namun wanita itu masih ingin bermain dan menyiksa pria yang sudah babak belur dihadapannya itu.


bugh...bugh...


Suara pukulan demi pukulan terdengar syahdu ditelinga wanita itu. Bagaikan melody indah dan sangat ia damba. Erangab kesakitan bagaikan lyric nyanyian yang begitu indah. Bahkan wajah penuh memar dan darah itu merasa tak gentar sedikit pun.


"Aku akan bertanya untuk terakhir kalinya Umar. Dimana kau sembunyikan wanita murahan itu?" nada suara yg manja tapi bisa merenggut nyawa. Bahkan ancaman itu tak meluruhkan sikap dan pendirian Umar.


"Aku bersumpah atas nama nyonya tua yang kau bunuh dan kau racuni itu. Aku Umar, takkan mau mengatakannya. Aku rela mati untuk nona Clarissa." mantapnya. Padahal nyawa sudah diujung tanduk namun dia tak perduli akan hal itu.


"Hahahaha. Habisi dia dan buang mayatnya. Aku ingin kesalon." cetus Alexa. Wanita yang selama ini menjadi mimpi buruk bagi Umar. Begitu juga Clarissa.

__ADS_1


Bag...bugh..


Umar dihajar habis-habisan dan hampir tak dikenali wajahnya. Sampai dipastikan korban tak berdaya mereka pun menghentikan aksinya.


"Ayo kita buang dia.." pria A


"Apa kita akan aman?" Pria B


"Sudah lakukan saja" pria A.


brmmmm...


Mobil yg mereka kemudikan melaju meninggalkan rumah kosong terpencil itu. Membawa jasad yang mereka sangka sudah mati padahal lelaki yang babak belur itu masih dalam keadaan hidup. Hanya saja lelaki itu kondisinya lemah.


Disebuah jalanan yang masih sepi dan kosong. Umar dilempar begitu saja layaknya membuang sampah.


"Ayo tinggalkan tempat ini.."


brrrrrrmmmmm.........


Mereka meninggalkan Umar begitu saja tanpa rasa bersalah sama sekali..


Begitulah.


Suara hatinya berteriak.


Dan tak seorang pun lewat bahkan melintas hanua sekedar melirik.


____________________________________


"Bang...stop, aku lihat sesuatu.."


"Hmmm...okay.."


Clarissa turun dan menatap seseorang yang tergeletak dan kagetnya dia mengenal orang itu.

__ADS_1


"UMAAARRR..." jeritnya.


Clarissa meminta suaminya membawa Umar untuk dibawa kedalam mobil. Dengan sigap Jojo membopong Umar dan membawa Umar kerumah sakit untuk diberi pertolongan lebih lanjut. Diperjalanan kerumah sakit Clarissa menceritakan siapa Umar dan bagaimana jasa besar seorang Umar kepadanya.


Jojo pun mendengarkan cerita istrinya dengan seksama sambil sesekali mengumpat kesal. Apa ada orang yang begitu tega bahkan kepada istrinya.


Bahkan Clarissa pun begitu takut melihat ekspresi menakutkan suaminya itu. Bahkan tak ingin meliriknya sama sekali. Sungguh, saat ini Jojo merasa amarahnya tak tertahankan.


"Halo, Ghani. Aku mau kau lakukan sesuatu untukku bro. Ya, kau tau kan maksudku? Bahkan kalau bisa hancurkan perusahaannya sampai tak bersisa." Jojo terlihat dingin dan tak bersahabat. Tak mau banyak bertanya Clarissa hanya diam dan menggenggam keras tangannya. Takut untuk banyak bertanya dia hanya diam dan merasakan hawa dingin disampingnya.


Sesampainya dirumah sakit. Jojo bergegas memanggil petugas kesehatan untuk membantunya membawa tubuh Umar dan segera memberi pertolongan. Dan lagi-lagi Clarissa hanya bisa bengong dan tak berbicara sepatah kata pun.


######


"Bagaimana keadaan kakak saya dokter?" tanya Clarissa.


"Beliau masih kritis. Luka dalam membuatnya tak bisa memberi respon. Bahkan ada beberapa hantaman benda tumpul dikepalanya membuat ada retak pada tulang tengkorak. Sepertinya seseorang benar-benar berniat membunuh beliau. Bahkan ada luka sayatan dibeberapa bagian tubuhnya.." jelas dr.Arman yang nontaben nya teman suaminya.


Jojo sangat emosi bahkan mencengkram baju dr.Arman.


"Aku mau kau tangani dia dengan baik. Kalau dalam 3 hari tak ada respon dari laki-laki itu. Kau tau apa yang apa yang bisa kulakukan bukan?" ancam Jojo


glek..


dr.Arman tak berkutik. Bahkan rumah sakit itu adalah ladangnya mencari rezeki. Bahkan dengan menjentikkan jari Jojo bisa menghancurkannya sekelip mata.


"Astaga Jo, masih aja suka main ancam. Bisa ngga sih kamu jangan nakutin.." cicit dr.Arman.


Yang diomongin hanya memberi tatapan dingin dan melotot padanya.


like


komen


vote????

__ADS_1


jan pelit


tar kuburan lo sempit:v


__ADS_2