
maira terdiam melihat situasi di depannya, suaminya dan kekasihnya sedang bercumbu di depannya, dan lebih tepatnya sisca yang memaksakan hal itu,
"maaf, " ucap maira sambil berjongkok mengambil pecahan beling gelas yang ia jatuhkan dari tangannya,
antoni sontak terdiam tetapi tidak dengan sisca, " oh jadi ini, " batinnya, sedangkan maira ia langsung kembli ke kamarnya dengan darang yang kini mengucur dari tangannya akibat terkena pecahan beling yang kini menumpuk di tangannya,
"sakit, " ucap maira tertahan dan kini ia jatuh merosot di belakang pintu kamar tidurnya,
"siapa dia sayang, " tanya sisca yang kini menatap antoni dengan seribu tanya,
"aku bisa jelaskan, " ucap antoni dengan seribu rasa bersalah di hatinya, namun mungkinkah rasa bersalah itu untuk maira istrinya dan mungkinkah itu untuk sisca kekasihnya antoni kebingungan.
"sudahlah, " sisca sudah merajuk kini ia mendorong dada antoni dan pergi dari apartemeb antoni dengan senyum liciknya, "kita lihat apa kamu akan mengejarku atau tidak, " gumam disca sambil berlari dengan membuat tangis palsu,
__ADS_1
antoni yang masih terdiam kini menyafari jika kekasihnya sisca sudah berlalu pergi akhirnya mau tak mau ia harus mengejarnya, apa ini yang namanya cinta???
"sayang tunggu, " ucap antoni sambil berlati mengejar langkah sisca yang kian menjauh darinya,
"yes, kejar aku sayang, " gumam sisca sambil terus berlari dengan tangis palsunya,
"sayang, aku bisa jelaskan semuanya, " ucap antoni yang kini sudah bisa menangkap sisca dan membawanya menuju pelukannya,
"Ayo sayang bujuk aku, " batinnya riang gembira,
"maaf, " antoni sepertinya memang terlihat sangat merasa bersalah padanya,
"maaf, jika aku menghianati cinta kita, namun itu semua terpaksa dan aku hanya mencintaimu, " ucap antoni dengan seribu rasa bersalahnya dan bukan main sisca sangat senang riang gembira mendengar ucapan permohon maafan dari antoni,
__ADS_1
"Bagus, aku bisa memanfaatlan situasi ini, " batinnya sisca dan kini ia sengaja melerai pelukan antoni dan kembali berjalan, antoni yang tidak mau membiarkan itu kembali menarik sisca dan memasukkannya ke dalam mobil,
maira masih merasakan rasa sakit apalagi saat ini ia tahu jika suaminya pergi mengejar kekasihnya dan bukan membujuk dirinya, "apa ini semua salahku," ucap maira, sambil meletakkan pecahan beling ke dalam tong sampah di dalam kamarnya,
"apa aku salah telah memasuki kehidupan orang lain, dan apa aku harus menghentikan ini semua tapi bagaimana dengan mama dan papa, " ucapnya sambil menangis tersedu,
maira semakin menangis tersedu, hidupnya saat ini sangat sulit untuk di mengerti orang lain dan sialnya lagi ia sudah jatuh hati pada suaminya sendiri,
maira bangkit dan kembali berbaring di atas ranjang, hatinya tak tenang ia keluar dari dalam kamarnya dan ngan mata yang sembab, kosong dan hampa rasanya sama saja seperti malam yang telah berlalu, maira duduk di atas sofa sendirian dan ia hanya mendengar suara dentuman jam yang menempel di dinding,
"aku ingin keluar dari rasa yang menyakitkan seperti ini," ucap maira di tengah berjalannya arah mata jam.
detik demi detik menit demi menit maira masih saja betah duduk di atas sofa berteman dengan sepinya malam, ia berjalan kemudian mematikan semua lampu apartemen, bukannya masuk ke dalam kamarnya maira malah kembali duduk di atas sofa sambil menangis tersedu sedu.
__ADS_1