
maira sudah pulang ke apartemen antoni, ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang ukurannya biasa biasa saja, maira menatap langit langit kamar tidurnya sambil tersenyum miring,
"aku tidak pernah menyangka ternyata takdir sudah membawaku berjalan sejauh ini, " ucapnya sambil tersenyum, namun senyumannya itu penuh dengan rasa yang sudah tak bisa ia jelaskan dengan kata kata,
heh,, menghembuskan nafasnya dengan kasar maira kembali bangkit ia duduk bersila di tengah tengah ranjang, ia meraih buku diary yang ada di dalam laci,
"aku tidak pernah menyangka sebelumnya di umurku yang baru saja belum ngenap 20 thn aku sudah menyandang status menjadi istri dari seorang lelaki yang tak pernah ku kenali sebelumnya, dan ternyata takdir itu aneh ya dia tak bisa ku tebak, tapi tak apalah aku akan belajar dan terus belajar untuk menerima semua takdir yang telah di tuliskan untukku, dan untukmu suamiku aku harap kita berdua bisa mengarungi perahu ini bersama sama agar ia seimbang, dan ku mohon jika kamu belum mencintaiku setidaknya jangan sakiti aku dengan ucapanmu, " sepenggal angan yang maira tuangkan di dalam diary nya
maira tersenyum dia tak bisa membohongi hatinya, harapan itu selalu menyatu dalam jiwanya ia tersenyum kemudian beranjak dari atas ranjang dan memasuki kamar mandi,
butuh beberapa menit untuk maira membersihkan tubuhnya, kini ia keluar dengan rasa yang sudah segar, ia berjalan ke arah lemari dan memilih pakaian yang akan ia gunakan,
__ADS_1
"mama, ah aku rindu dan aku ingin mengunjunginya, tapi bagai mana caranya izin padanya sedangkan nomor ponselnya saja aku tak tahu, " ucap maira sambil memikirkan cara supaya bisa izin kepada suaminya untuk mengunjungi orang tuanya,
maira tersenyum ia sudah mendapatkan ide yang brilian, kini tangannya terulur mengambil sebuah note book kecil yang ada di atas meja,
"selesai, " ucap maira, ia meraih tasnya dan keluar dari kamarnya, maira mulai naik ke atas dan berhenti di depan kamar tidur antoni.
maira menempelkan note book yang telah ia tulis di depan pintu dan dengan segera pergi meninggalkan kamar antoni,
"beliin apa ya buat mama sama papa, " batin maira sambil keluar dari apartement,
sedangkan antoni kini ia tengah di landa rasa gelisah, pasalnya ia sudah berjanji untuk datang tepat waktu menemani kekasih hatinya itu, tapi sayang seakan semesta tak mengizinka bahkan kini sampai sore hari meeting terus saja berjalan jordi sudah bolak balik menyetir hingga tangannya terasa pegal,
__ADS_1
"ini yang terakhir tuan, " ucap jordi dan segera membukakan tuannya pintu mobil.
antoni menuruni mobil dengan hembusan nafas kasar, ia merpikan jasnya dan mulai memasuki restauran yang menjadi pilihan tempat meetingnya bersama client,
butuh waktu beberapa jam sehingga meeting berakhir, hah, kini giliran jordi yang menghembuskan nafasnya ia merenggangkan ototnya di saat sang client sudah pergi,
sedangkan antoni ia terlihat memijit plispisnya, kepalanya sudah pusing dengan seharian bekerja di tambah dari tadi sisca tidak henti henti menghubunginya
thingg,
satu notif kembali membuyarkan antoni,
__ADS_1
"sayang, cepatlah perutku semakin sakit, " isi notif dari sisca yang sudah ke sekian kalinya,
antoni yang sudah sangat lelah mau tak mau harus pergi ke tempat sisca karena janjinya, kini mobil yang di supiri sekertaris jordi sudah pergi melesat meninggalkan restauran dengan mengantarkan tuannya menuju apartement sisca.