
"ma, mas antoni menceraikan maira ma, " adu maira kepada mertuanya, nyonya delya seakan tak bisa mengeluarkan kata katanya ia terus mengeratkan pelukannya,
tuan Bagas yang belum mengerti dengan semua alur cerita kini merogoh kantong celananya mengambil ponselnya,
"cari di mana antoni berada, " ucap tuan bagas setelah ponselnya terhubung,
tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya tuan bagas langsung mematikan ponselnya dan ikut serja berjongkok di hadapan dua wanita yang sama sama saling memeuluk erat,
"apa yang sebenarnya terjadi, tolong ceritakan srmuanya pada papa nak, " ucap tuan bagas, sedangkan maira yang di tanya hanya bisa menggelngkan kepalanya, ia juga bingung apa yang telah di perbuat olehnya sehingga tidak ada angin tidak ada hujan antoni langsung menjatuhkan talaknya,
tuan bagas mengusap wajahnya kasar, apa yang akan dia jelaskan kepada tuan roy selaku papa dari maira, sebesar apa kemarahan tuan roy nantinya,
ah, membayangkan itu saja membuat kepala tuan bagas pusing nyutnyuta, bukan karena tuan bagas takut jika kontrak kerja mereka terputus tetapi yang tuan bagas takutkan adalah jika nanti keluarga dari tun roy membenci dirinya,
__ADS_1
"ah, " tuan bagas kembali mengusap wajahnya,
"sebelum semuanya jelas kamu tidak boleh pergi dari sini, " ucap tuan bagas, namun lagi lagi maira menggelengkan kepalanya,
"tidak pa, aku lebih baik pulang ke rumah papaku, " jawab maira sambil melepaskan pelukan nyonya delya,
"tapi nak, " belum selesai ucapan tuan bagas, maira langsung menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arah laki laki yang berstatus mertuanya itu,
begitu juga nyonya delya ia ikut berdiri air matanya belum juga reda, ia belum sempat bisa memanjakan menantunya belum sempat berbincang banyak belum sempat memasak untuk menantunya dan sekarang apa yang terjadi kini anaknya antoni mentalak cerai istrinya dengan telak tanpa perkara yang belum ada kepastiannya,
maira berjalan dengan langkah gontai memasuki kamarnya dan lagi lagi nyonya delya di buat terkejut dengan apa yang tersaji di depannya, ternyata maira dan antoni pisah kamar,
nyonya delya termegu di depan pintu, belum selesai keterkejutannya kini ia kembali di kejutkan dengan maira dan antoni yang pisah kamar,
__ADS_1
tuan bagas tidak ikut masuk ia kemvali keluar apartemen antoni memasuki mobilnya dan melaju meninggalkan apartemen anaknya itu,
"kemana anak itu " geram tuan bagas sambil terus memutari jalan raya,
maira mengambil kopernya dan membuka lemari di mana semua bajunya berada, ia membukanya dari semua gantungan yang menggantung,
"sayang, kamu diam di sini dulu ya nanti kita bicara lagi setelah antoni kembali, " bujuk nyonya delya sambil menggenggam tangan maira,
maira tersenyum mertuanya ini memang baik hati dan terlihat menyayangi dirinya namun apalah daya itu semua tidak berlaku bagi seorang antoni prajasa,
"ya sayang ya mau ya diam di sini dulu nanti kita bicarakan baik baik lagi ya, " nyonya delya terus saja membujuk maira agar tetap diam di apartemen sebelum antoni kembali,
"ma, maira bukannya tidak mau namun ucapan mas antoni sudah telak maira tidak bisa lagi diam di tempat ini, " jawab maira sambil terus memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
__ADS_1