
“Aku tahu bagaimana caranya, Tom.” Seringai nakal terpampang di wajah Nurul. “Aku ada di sana juga malam itu, kamu ingat? Tapi kamu mengatakan bahwa kali ini giliranku untuk menentukan kecepatan dan itulah yang kulakukan sekarang. Kurasa aku lebih suka duduk dulu di sini untuk sesaat dan memandangmu,” ucap Nurul.
Nurul mengarahkan ujung-ujung jarinya untuk menelusuri secara perlahan bagian depan dari dada Tommy. “Nurul…” geram Tommy.
“Bagaimana kalau seperti ini?” Sambil memberikan satu senyuman, Nurul dengan perlahan membuat jengkel, berdiri di atas lututnya dan turun lagi dengan perlahan. Jari-jari Tommy menancap di sisi tubuh Nurul saat ia menggertakkan gigi.
Nurul melakukannya lagi, bahkan kali ini lebih perlahan, meskipun ia menyelesaikannya dengan sedikit menggoyangkan pinggulnya yang membuat Tommy benar-benar merasa gila.
“Pernahkah ada seseorang yang mengatakan kepadamu kalau kamu adalah seorang penggoda?” ucap Tommy. “Aku? Bukan aku yang memulainya dan kamu tahu itu,” ucap Nurul.
Dengan sumpah serapah, Tommy memelototi Nurul. “Bergeraklah! Sialan kamu!” ucap Tommy.
“Maksudmu, seperti ini?” Wajah Nurul sepenuhnya menggambarkan keluguan saat ia dengan perlahan menancapkan dirinya pada Tommy, lalu bergerak turun sedalam beberapa senti. “Aku melakukannya dengan benar, kan?” ucap Nurul.
Keringat membasahi alis Tommy. Nurul berpikir untuk menggodanya. Baiklah, dua orang bisa memainkan permainan ini dengan lebih baik.
__ADS_1
Tommy menyusupkan satu jari ke tempat di mana mereka menyatu dengan sedemikian erat dan membelai pusat kewanitaan Nurul yang sensitif dan manis. Nurul terengah saat Tommy membelai bagian itu dengan begitu ringan, nyaris tidak seperti belaian.
Sekarang giliran Nurul yang terengah-engah dan bergetar mendekat ke tangan Tommy.
“Kamu menyukainya, ya?” Tommy menyentuhnya lagi dengan cepat dan tentu saja tidak cukup untuk memuaskan. “Seperti inikah yang kamu inginkan?” Tommy menirukan kata-kata yang sebelumnya diucapkan Nurul. “Aku melakukannya dengan benar, kan?” lanjut Tommy.
“Kumohon, Tommy… “ Nurul mencondongkan tubuhnya ke arah Tommy. Jari-jarinya mencengkeram bahu Tommy. Dadanya yang mencuat terpampang beberapa senti dari mulut Tommy. Bahkan, meskipun tertutup oleh pakaian dalamnya yang nyaris transparan, dada itu terlalu menggoda untuk diabaikan.
Tommy menghisap salah satunya melalui kain itu. Ia lalu meniup kain yang basah itu hingga Nurul bergetar. Puncak dadanya membengkak di bawah pakaian dalamnya. “Lagi?” tanya Tommy dengan licik. Tommy memberikan perlakuan yang sama seperti dada yang sebelahnya tadi. Lidahnya menjulur untuk memberikan belaian cepat. “Atau aku sebaiknya berhenti?” ucap Tommy.
Tommy mengerang. “Kurasa seharusnya kita berdua yang menang,” ucap Tommy. Tommy mendorong pinggulnya ke atas, di bawah Nurul. Mengingatkan Nurul tentang apa yang diinginkannya. “Bergeraklah, Nurul! Bergeraklah!” ucap Tommy.
Dan akhirnya Nurul pun bergerak.
Rasanya sungguh indah. Ini seperti siksaan total. Nurul menemukan ritme sempurna, lembut, cepat dan memikat untuk membangkitkan hasrat.
__ADS_1
Nurul bercinta dengan Tommy sungguh mengagumkan. Aroma bunga memenuhi seluruh indra Tommy dan gerakan putaran yang lugu dan goyangan Nurul telah membuat Tommy terguncang. Sangat sulit bagi Tommy untuk menahan pelepasan dirinya dan menanti Nurul. Tapi, Tommy tetap berusaha menahan dirinya. Setelah kemarin, ia menginginkan Nurul mendapatkan kepuasan penuh.
Jadi, Tommy memfokuskan semua upayanya untuk membelai dada Nurul dengan lidahnya dan mengelus sutra panas Nurul yang ada di antara kedua kakinya.
“Astaga, Tom… “ bisik Nurul saat Tommy menggoda Nurul dengan giginya. “Lakukan itu lagi, ya… oh.. ya…” ucap Nurul.
Kesenangan asli dari Nurul merupakan suara kutukan. Karena, kesenangan itu membuat Tommy tak bisa menahan dirinya. Tommy harus menutup matanya untuk mencegah agar dirinya tidak bisa melihat pancaran kenikmatan yang berkilauan di raut wajah Nurul yang merona.
Suatu gambaran erotis yang mengagumkan ketika Nurul menungganginya. Sebagai seorang wanita lugu, Nurul sangatlah tangguh. Sebagai seorang wanita yang berpengalaman, ia sungguh menghancurkan.
Ritme Nurul meningkat. Tubuhnya bergerak turun seperti tubuh seorang dewi yang menyiksa Tommy dengan kenikmatan. Dorongan untuk cepat mencapai pelepasan menjadi tidak terbendung, terutama saat Nurul memagut mulut Tommy dengan mulutnya dan mulai menghujamkan lidahnya dengan berani ke dalam mulut Tommy. Tommy menyambut lidah Nurul dengan hasrat yang nyaris menggila.
Tiba-tiba Nurul melepaskan ciumannya. Tubuhnya melengkung di atas tubuh Tommy. “Aku mencintaimu, Tom,” seru Nurul saat ia bergetar di sekeliling Tommy. “Aku mencintaimu… Aku mencintaimu… “
Hanya itu yang diperlukan. Dengan seruan keras, Tommy menaburkan benihnya ke dalam tubuh Nurul dan merasakan Nurul bergetar pada saat yang bersamaan.
__ADS_1