Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Pria Peminta-minta di dalam Masjid


__ADS_3

Mohon maaf teman-teman, cerita sedang mengalami revisi.


Shalat jama’ah pun usai.  Orang-orang perlahan-lahan bubar, tapi tidak secara serentak.  Masing-masing orang terlihat terlebih dahulu memanjatkan doa dan berdzikir sendiri-sendiri secara khusyuk.  Tommy dengan bersemangat menunggui Dimas.  Sebentar lagi akan tiba gilirannya untuk shalat.


Tiba-tiba setelah beberapa orang tampak bubar perlahan-lahan, ada seorang pria berpakaian kusut mendatangi Tommy.  Pria itu terlihat begitu lemas, wajahnya sangat terlihat mengenaskan, seperti orang yang sudah lama tidak terisi energi.  Ia menadahkan tangannya kepada Tommy.


“Assalamu alaikum.  Den, saya mualaf,” ucap pria yang tidak dikenal itu.  “Oh ya?  Mualaf?  Bapak tinggal dimana?” tanya Tommy yang tampak mengabaikan tadahan tangan pria itu.  “Saya tinggal di sekitar Pasar Koja.  Saya sudah beberapa hari tidak makan, Den.  Tolong saya,” ucap pria itu.


Tommy memandangi pria itu.  Bagaimana mungkin ada orang seperti ini di lingkungan kampus?  Penampilannya seperti gelandangan walau pakaiannya bersih, tapi sungguh sangat semrawut, tidak rapi.  Hal itu mungkin saja terjadi, sebab masjid fakultas ini memang terletak tak jauh dari pagar terluar kampus.  Yang pasti tenaga keamanan kampus tidak mampu menjangkau seluruh tempat sehingga orang seperti ini bisa masuk ke lingkungan kampus.


Selain pandangan curiga, Tommy pun memiliki rasa iba dari pandangan matanya.  Satu sisi ia mengabaikan tadahan tangan pria tak dikenal itu, tapi di sisi lain ia juga tampak merapatkan tangan kanannya ke permukaan saku celananya.  Hendak meraba isi dalam saku yang menempel di pahanya itu.


“Mungkin pria ini adalah korban dari perundungan lingkungan tempat tinggalnya atau bahkan keluarganya sendiri diakibatkan oleh berpindahnya ia menjadi pemeluk agama islam.  Agama yang mungkin ditolak oleh keluarganya.  Kasihan sekali,” batin Tommy.


Tommy berniat menjadi seorang mualaf.  Ia memposisikan dirinya sebagai pria tak dikenal ini.  Untungnya Tommy adalah seseorang yang bermateri.  Tommy dapat memilih sendiri kehidupannya tanpa takut kehilangan harta dan lingkungannya.  Tommy juga dikelilingi oleh orang-orang baik yang mendukung perpindahan keyakinannya.

__ADS_1


“Bapak mau saya bantu?  Kita sesama mualaf, Pak.  Mungkin…” ucapan Tommy tercegah.  Tommy sebenarnya berniat untuk mengajak pria tak dikenal itu bersama-sama dengannya menimba ilmu agama islam dan Tommy juga ingin meringankan beban pria asing itu.  Mungkin pria tak dikenal itu bisa tinggal sementara di kediamannya lalu sama-sama mencari lembaga mualaf yang bisa membantu.


Dimas memotong ucapan Tommy.  “Astaghfirullahal adziim… Bapak sebelumnya sudah kena gep dan sekarang Bapak masih meneruskan pekerjaan hina ini,” ucap Dimas.


Pria tak dikenal itu menumpuk tangannya terjuntai ke bawah sambil menunduk.  “Maksud lu apa, Bro?” tanya Tommy.  “Bapak ini mengaku-ngaku sebagai mualaf, kan?” tanya Dimas kepada Tommy.  “Iya,” jawab Tommy.  “Dia minta uang sama lu?” lanjut Dimas.  “Emh…” Tommy ragu-ragu menjawab, sebab ia mengabaikan tadahan tangan pria tak dikenal itu.


“Hanya Allah yang tahu Bapak ini mualaf atau bukan, yang jelas dia suka keliling sebagai peminta-minta dan hanya akan pergi kalau seseorang sudah ngasih uang ke dia, Tom,” jelas Dimas.  Tommy memandangi pria tak dikenal itu sambil menggeleng.


“Ma-maafkan saya… “ ucap pria tak dikenal itu.  “Bapak, bukan begini caranya.  Bapak masih sehat, masih mampu untuk melakukan pekerjaan lain.  Jangan menjadi peminta-minta seperti ini.  Apalagi dengan memanfaatkan simpati orang lain atas nama agama.  Islam tidak mengajarkan hal seperti ini, Pak,” ucap Dimas dengan nada rendah.


“Saya tidak akan mengulanginya, Den,” ucap pria tak dikenal itu.  “Tidak bisa.  Waktu Bapak ketahuan melakukan hal seperti ini kemarin Bapak sudah janji juga tidak akan mengulanginya, tapi sekarang… Bapak kembali mengulanginya,” ucap Dimas.


“PAK SAFE’I… “ panggil Dimas.  “Sa-saya mohon, Den.  Jangan… “ ucap pria yang tak dikenal itu.  Tommy hanya memandangi dan membiarkan apa yang terjadi di hadapannya.  Tampak seorang pria berseragam security tanpa alas kaki dan masih berpeci menengok setelah dipanggil oleh Dimas.  Petugas itu tentu saja baru saja selesai shalat berjama’ah.  Petugas itu menghampiri mereka dengan segera.


“Pak Safe’i masih ingat Bapak ini?” ucap Dimas.  “Eh, kamu yang kemarin!” ucap petugas itu dengan kesal.  Pria peminta-minta itu mengerutkan tubuhnya.  Ia sebenarnya ingin melarikan diri, tapi Dimas menahannya dengan menggenggam pergelangan tangannya.

__ADS_1


“Apa orang ini berulah lagi?” tanya petugas.  “Iya, Pak.  Bapak ini hampir malak teman saya,” ucap Dimas.  Sementara Tommy hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Dimas.


“Ck ck ck… Kamu!  Mari ikut saya!” ucap petugas itu yang kini berganti menarik lengan pria peminta-minta itu.  “Maafkan keterbatasan kami dalam mengamankan lingkungan ini, Nak Dimas.  Khususnya saya.  Bisa-bisanya saya kecolongan seperti ini.  Seharusnya hal ini tidak terjadi lagi,” ucap petugas security itu.


“Iya, Pak.  Saya dan teman saya ini maklum, kok.  Silahkan Pak kalau mau membawa Bapak ini,” ucap Dimas.  “Iya, Nak Dimas, Aden… Saya permisi dulu.  Ayo, kamu ikut saya!” ucap petugas security itu.  Petugas security dan pria peminta-minta itu pun pergi dari hadapan Dimas dan Tommy.


“Subhanallah… Ada-ada saja hal memalukan kaya gitu,” ucap Dimas.  “Sudahlah,” ucap Tommy.  “Bukan apa-apa, Bro.  Orang-orang kaya gitu yang bikin nama islam jelek.  Selama ini yang nampak di permukaan para muslim itu adalah orang-orang miskin, suka minta-minta, ya seperti orang tadi itu.  Kadang gua malu sama orang-orang seperti lu, Tom,” ucap Dimas.


“Orang-orang seperti gua?  Maksudnya gimana, Bro?” tanya Tommy.  “Maksud gua orang-orang non muslim.  Di permukaan kalian ga nampak seperti itu.  Kebanyakan kalian adalah orang-orang berada, minimal bersikap royal gitu,” ucap Dimas.


“Ga semua.  Cuma kebetulan aja orang-orang non muslim yang lu lihat di sini seperti itu.  Orang-orang muslim terlihat dan tampak di permukaan itu soalnya jumlah kalian banyak, kalian mayoritas.  Hal-hal tertentu jadi ga tampak ke permukaan ketika jumlahnya sedikit alias minoritas,” ucap Tommy.


Sebagai seorang aktivis yang sudah banyak menghadapi berbagai permasalahan sosial, Tommy punya penilaian yang cukup objektif terhadap fenomena yang baru saja terjadi di depan matanya itu.  Sebenarnya demikian pun Dimas.  Dimas juga asalah seorang aktivis, tapi kini ia sedang menumpahkan keluh-kesahnya kepada Tommy.


Untungnya baik Dimas maupun Tommy tidak menanggapi dengan emosi yang berlebihan terhadap hal yang baru saja mereka hadapi itu.  Dimas memang sudah terlanjur kesal sejak beberapa hari yang lalu karena menemukan kejadian yang terulang oleh orang yang sama.

__ADS_1


Sementara Tommy, ia adalah seorang konglomerat yang sebenarnya tidak menyukai kegiatan seperti meminta-minta.  Baginya orang-orang yang meminta-minta seperti itu hanya orang-orang malas yang menjijikan.  Sebuah pemikiran yang muncul apabila Tommy tidak baru saja berwudhu dan menyaksikan kekhusyukan peribadatan tadi.


“Iya juga sih, Bro.  Semoga orang-orang seperti itu makin berkurang di masyarakat.  Bikin malu aja, nyusahin pula,” ucap Dimas.  “Aamiin… “ ucap Tommy.  “Ya, udah.  Katanya lu mau ngajarin gua shalat?” ucap Tommy.  “Oh, iya ya.  Yok lah,” ucap Dimas mengajak Tommy berpindah tempat dengan menempelkan tangannya ke punggung Tommy.


__ADS_2