Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Bersatunya Nurul dan Tommy (Tamat)


__ADS_3

Nurul dengan berlarian mencari ayahnya.  Ia ingin memastikan bahwa santri baru yang datang itu apakah Tommy atau bukan.  “Assalamu alaikum.  Paak… Bapaak… “  Nurul mencari-cari ayahnya di berbagai ruangan tanpa sempat melepaskan tas besar di punggungnya.


Nurul lalu berpindah ke bangunan lainnya.  Ia lalu beralih ke halaman masjid.  Masjid adalah bangunan yang berada di antara komplek pesantren untuk perempuan dan komplek untuk laki-laki.  Langkah Nurul terhenti, matanya terbelalak.  Ia lalu mundur dan justru bersembunyi di balik dinding.  Jantungnya berdetak lebih jencang.  Napasnya tersengal karena habis berlarian.


Tapi, sepertinya itu bukan hanya karena habis berlarian, melainkan karena seseorang yang yang baru saja dilihatnya dari kejauhan.  Nurul bersandar di dinding dengan tia-tiba, sampai terdengar benturan antara tas punggungnya dengan dinding itu.  Tangannya yang dia lekatkan di atas dadanya.  Ia mencoba menenangkan diri.


Orang yang baru saja dilihatnya adalah Tommy.  Nurul membalikkan tubuh.  Ia mencoba mengintip dari balik dinding, kembali memandang orang yang baru saja membuatnya seperti habis melihat jin.


Laki-laki itu tinggi, tubuhnya yang berisi tertutupi oleh kemeja yang longgar dengan ujung pakaian yang tidak dimasukkan ke dalam gulungan sarung di pinggangnya.  Rambut hiitamnya panjang, dibiarkan panjang walau tidak sampai menyentuh bahu.  Rambut itu diatur hingga terbelah di pinggir, menyisakan beberapa jumput poni yang jatuh di dahinya.


Bukan gaya berpakaian dan gaya rambut yang bisa Nurul temui pada laki-laki itu.  Laki-laki itu sedang mengarahkan beberapa santri yang sedang merenovasi sudut masjid.  Bicaranya berbeda, tidak seperti gaya bicara yang semestinya seperti dulu Nurul temui pada laki-laki itu.  Kini gaya bicaranya lebih seperti seorang guru yang menjelaskan dengan santun, bukan gaya bicara yang bossy dan suka menyuruh-nyuruh.


Malaikat darimana yang sedang Nurul pandangi secara sembunyi-sembunyi itu?  “Tommy…” gumam Nurul.  Itu bukanlah Tommy yang Nurul kenal.  Laki-laki ini begitu berbeda.  Tapi, wajahnya, ya, itu adalah wajah Tommy.


“Astaghfirullahal adziim…” suara yang familiar bagi Nurul terdengar menegurnya dari arah belakang.  Nurul kemudian berbalik dan menyeringai.  “Eh, Bapak,” ucap Nurul kikuk.  “Anak gadis diam-diam curi-curi pandang ke orang yang bukan mahram di sini!” ucap ayah Nurul.  Nurul pun langsung meraih punggung tangan ayahnya dan menciumnya.  “Assalamu alaikum, Pak.”  “Wa alaikumussalam.”  “Emh, anu, Pak… Anu… Tadi Nurul cari-cari Bapak kemana-mana,” ucap Nurul.  “Iya, Bapak sekarang ada di depanmu,” ucap ayah Nurul.

__ADS_1


“Bapak tidak mengabari Nurul kalau Tommy sudah datang!  Dan Bapak benar-benar menjadikannya santri di sini?” ucap Nurul.  “Iya, biar sajalah.  Bapak kan ingin kenal siapa calon menantu Bapak,” ucap ayah Nurul.  Nurul dan ayahnya berjalan berbalik kembali ke tempat tinggal mereka, meninggalkan masjid itu.


“Calon menantu Bapak?  Jadi Tommy sudah bilang ke Bapak kalau dia mau melamar Nurul?” tanya Nurul dengan berbunga-bunga.  “Sudah,” ucap ayah Nurul.  “Jadi, kapan dia akan… “ ucap Nurul dengan tidak sabar sampai berjalan mundur di depan ayahnya.  “Ya, sampai menunggu kamu pulang ke sini,” jawab ayah Nurul sambil memegang pundak Nurul dan membalikkan tubuh Nurul agar anaknya itu tidak berjalan mundur.


“Sekarang Nurul sudah pulang, Pak,” ucap Nurul dengan senyuman yang paling berseri yang pernah dilihat ayahnya.  Ayahnya itu tersenyum dan mengangguk-angguk kepada Nurul.  “Nanti malam ya?  Kamu bersiap-siap saja,” ucap ayah Nurul.  “Yah, malam masih lama, Pak.  Sore aja gimana?” ucap Nurul menawar dengan tidak sabarnya.  Nurul bicara dengan nada manjanya sebagaimana seorang anak kesayangan kepada ayahnya.  “Malam!” tegas ayahnya.  “I-iya, Pak.  Malam,” ucap Nurul patuh.


Ayah Nurul pun diam-diam tersenyum melihat tingkah putrinya itu.  Ia lalu mengusap-usap kepala Nurul yang berkerudung itu sambil berjalan beriringan bersama putrinya itu.


*


“Jadi bagaimana, Kak?” ucap paman Nurul kepada ayah Nurul menanyakan jawaban atas ungkapan hati Tommy.  “Mumpung Nurulnya sudah ada di sini.  Jadi, kita tanyakan saja kepada Nurulnya langsung.  Kalau Bapak, sih akan menyerahkan keputusannya sama Nurul,” ucap ayah Nurul.


“Nurul?  Kamu sudah dengar, kan, apa yang sudah bapakmu katakan?  Sekarang dari Nurulnya sendiri bagaimana?” ucap paman Nurul.  Nurul masih menunduk.  Ia mencoba tenang, karena jantungnya berdebar sangat kencang.


Sementara, dari balik dinding di arah ruangan lainnya, sedang bersembunyi karyawan wanita gemuk dan lima orang junior Nurul.  Salah satunya ada yang mengintip, lalu junior Nurul yang mengintip itu diketuk kepalanya agar kembali bersembunyi di balik dinding saja.

__ADS_1


“Bhik.. Mbak Nurul, Bhik!  Mbak Nurul dilamar!” ucap salah satu junior Nurul dengan wajah yang terharu.  Sementara para santriwati lainnya saling berpegangan tangan, ada yang saling tatap dengan mata berbinar.  “Semoga Nurul menerima laki-laki itu,” ucap wanita gemuk itu.  “Iya, Bhik… Aamiin… “ ucap junior Nurul yang lain.


Sambil menunggu jawaban Nurul, paman Nurul kembali bertanya kepada Nurul.  “Seperti yang dikatakan Nak Tommy tadi, bahwa Nak Tommy berniat untuk menikah dalam waktu dekat.  Apakah kamu bersedia, Nurul?  Kamu kan lagi kuliah sekarang, coba berikan jawaban kamu,” ucap paman Nurul.


Ayah Nurul tampak tenang dan dari raut wajahnya yang tersenyum tipis, seakan ia sudah dapat menebak jawaban dari putrinya itu.  Ia merasa kalau sudah lama putrinya itu tertarik dengan Tommy.  Sampai putrinya itu menolak lamaran dari laki-laki lain yang pernah mendatangi mereka.  Ia menebak, Nurul pasti menunggu momen ini sudah dari jauh-jauh hari.


“Iya, Paman, Bapak… Nurul bersedia menikah dengan Tommy dalam waktu secapatnya” ucap Nurul.  Kata-kata itu merupakan sebuah hembusan sejuk yang tertiup langsung hingga masuk ke dalam tulang-tulang Tommy.  Begitu menyejukkan sampai ke relung dirinya yang paling dalam.


“Alhamdulillaaah… ucap para perempuan yang bersembunyi dari balik dinding.  Tanpa sadar, mereka lupa mengontrol volume suara mereka.  Semua orang yang sedang duduk di ruang tamu pun sama-sama menoleh ke arah suara para perempuan muda itu.  Nurul tampak malu-malu dengan mengernyitkan dahinya ketika tahu bahwa perempuan-perempuan itu telah menguping.


Ayah Nurul menggeleng-geleng sambil tersenyum mengetahui ulah para perempuan itu.  Pembicaraan pun dilanjutkan kembali.  Tommy mengutarakan kesediaannya untuk menanggung biaya kuliah Nurul dan bersedia tinggal di Jawa Timur ketika sudah menikah nanti.  Mereka juga membicarakan pernikahan yang sederhana, sebagaimana permintaan Nurul yang menginginkannya demikian.


Kisah ini pun berakhir dengan indah.  Akhirnya, Nurul dan Tommy bisa bersatu dalam ikatan pernikahan sebagaimana mestinya.  Tommy telah berupaya sekuat tenaga sebelum menikahi Nurul, ia menimba ilmu agama, sehingga ia menjadi imam yang baik bagi Nurul.  Nurul menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan dengan memperoleh prestasi yang membanggakan.


Selama Nurul dan Tommy menjadi pasangan suami istri, mereka benar-benar menikmati indahnya masa berpacaran.  Tommy yang memiliki kecerdasan akademik turut membantu Nurul dalam menuntaskan tugas akhirnya juga dengan segala tips dalam menghadapi masalah-masalah klasik mahasiswa tingkat akhir.

__ADS_1


Selama itu mereka menunda untuk memiliki keturunan, agar Nurul bisa fokus menyelesaikan kuliahnya.  Nurul dan Tommy menikmati pernikahan mereka, pasangan muda yang hanya menghabiskan waktu berdua saja.  Ini adalah kebahagiaan yang tidak terbayangkan oleh Nurul sebelumnya, juga Tommy.  Kehidupannya telah berubah dan Nurul adalah keberuntungan baginya, yang membuatnya menjadi lebih baik seperti sekarang ini.


__ADS_2