Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Seperti Ibu Kandung


__ADS_3

Taksi berpendingin udara membuat kulit panas Nurul yang berkeringat mendingin.  Demikian dengan isi kepalanya yang menyeruak ke detak jantung yang hampir tak beraturan.  “Tenang, Maria… Tenang, Maria… Lu hebat,” batin Nurul.  Ia mencoba mengubah pikirannya yang sebenarnya hanya membohongi dirinya sendiri.


Nurul turun dari taksi dengan wajah yang biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.  Tapi, di balik itu bibirnya masih bergetar.  Nurul berharap tak ada orang yang menuntutnya bicara saat ini.


Nurul masuk ke dalam rumah dengan mempercepat langkahnya.  Sesekali ia celingukan.  Secepat itu ia tiba di kamarnya, menutup lalu menguncinya.  Nurul membanting tubuhnya di ranjang super empuk lalu menenggelamkan wajahnya di atas bantal.


“Nurul… betapa kotornya dirimu, Nurul!” gumamnya sembari meremas seprai dengan kuat.  Nurul terbayang-bayang dengan apa yang baru saja ia lakukan.  Ia tak pernah semenyesal ini setelah bermesraan dengan laki-laki. Berbeda halnya saat melakukannya dengan Tommy, ia melakukan semua hal yang memalukan tanpa penyesalan mendalam sebab ia mencintai Tommy.


TOK… TOK… TOK…


NURUL… NURUL SAYANG…


Nurul mengenal suara orang yang mengetuk pintu kamarnya itu.  Ia sangat tidak mengharapkannya saat ini.  Tapi, apabila Nurul tidak membiarkannya masuk dan menemuinya, mungkin ada dampak lain yang lebih tak diinginkannya.  Itu adalah suara Tante Lupita, tentu saja.


Nurul bangkit dari ranjangnya dan menghapus air matanya.  Ia menghadap ke cermin dan memeriksa wajahnya.  Ia menghapus sisa air matanya, menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan.  Nurul lalu mencoba tersenyum, tapi senyumnya itu berlebihan dan ia mengulanginya dengan intensitas senyuman yang lebih santai.  Semua ia lakukan di depan cermin.

__ADS_1


Setelah itu, Nurul pun membukakan pintu kamarnya dan menghadapi Tante Lupita dengan ekspresi yang biasa.  “Kamu udah pulang, Sayang?  Kok Mama ga dengar kamu datang?” ucap Tante Lupita di depan kamar Nurul.


“Kamu baik-baik aja kan, Sayang?” tanya Tante Lupita sambil terus menatap mata Nurul.  Wajah Nurul memang biasa saja, tapi mata adalah jendela hati yang tak pernah bisa berbohong.  Nurul tersenyum.  “Baik-baik aja, Ma,” ucap Nurul menghindari mata Tante Lupita.


“Sebenarnya Mama lihat kamu pulang dengan taksi.  Apa yang terjadi, Sayang?  Kenapa Brian ga mengantarmu pulang?” pertanyaan yang merongrong emosi Nurul.  Ia sedang tak ingin membahasnya.  Bibirnya bergetar, lantas Nurul berpura-pura batuk untuk menutupi ekspresi sedihnya.


Tante Lupita menyeka rambut yang jatuh ke pelipis Nurul, mengaitkannya di belakang telinga Nurul.  “Ceritalah sama Mama apa yang terjadi, Sayang… Mama ga pernah mengecewakanmu untuk jadi pendengarmu, bukan?” ucap Tante Lupita.


Tangis Nurul pecah. Tante Lupita sudah seperti orang tua kandungnya sendiri baginya.  Apalagi ibu Nurul sudah meninggal dunia.  Kepedulian Tante Lupita membuat Nurul merindukan sosok ibu dan Tante Lupita selalu berlaku baik terhadapnya.


“Nurul… Nurul berantem sama Kak Brian, Ma,” ucap Nurul menahan sisa air matanya yang belum tumpah.  “Berantem?  Kenapa bisa berantem?” tanya Tante Lupita.  Ia curiga masalahnya tidak sesederhana itu.  Bagi Nurul, Brian adalah cowok yang ia peralat, tidk mungkin Nurul meneteskan air mata hanya karena bersitegang dengan Brian.  Nurul adalah perempuan yang cerdas, ia bisa meninggalkan Brian kapan saja tanpa sikap melankolis seperti ini.


“Ma, tapi tadi Nurul nyaris ketemu sama Icha.  Besok gimana kalau kita ke taman kota?  Jadi di sana itu… “ ucap Nurul mencoba untuk mengalihkan pembicaraan,mencoba untuk tegar dalam kesedihannya saat ini.  Tante Lupita pun lantas memegang kedua pipi Nurul, ia mengarahkan wajahnya ke arah mata Tante Lupita.


“Jangan bicarakan Icha lagi.  Mama ingin dengar tentang kamu, Sayang,” ucap Tante Lupita dengan pandangan yang menusuk.  “Nurul… Nurul udah ga bisa ketemu Kak Brian, Ma,” ucap Nurul.  “Apa yang terjadi, Sayang?” tanya Tante Lupita penasaran.

__ADS_1


Nurul pun menceritakan apa yang terjadi.  Semua ceritanya dilakukannya setengah-setengah karena enggan dan malu terhadap Tante Lupita.  Tapi, Tante Lupita terus mendorongnya untuk menceritakan keseluruhan apa yang telah terjadi.  Tentunya tidak pada bagian bersama Tommy.  Semua yang ia ceritakan hanya mengenai dirinya dan Brian saja.


Sontak air mata Tante Lupita menetes.  “Sangat tidak sepadan, Sayang.  Pengorbanan kamu selama ini sangat tidak sepadan.  Mama akan segera mengakhiri ini, Sayang,” ucap Tante Lupita.  “Jangan, Ma… Nurul mohon jangan!  Nurul akan menyelesaikan ini.  Nurul mohon,” ucap Nurul.


“Nurul!  Sebenarnya apa yang sudah Sudarsono perbuat kepadamu hingga kamu begitu ingin menyelesaikan sampai akhir?  Mama tahu kamu melakukan ini semua dengan keterpaksaan, Mama tahu!” desak Tante Lupita.  Nurul tidak buka suara.  Ia hanya ingin misinya ini tidak berhenti sampai di sini saja, tanpa hasil apa-apa.


“Pokoknya Mama akan menghentikan ini!  Mama akan bicara sama Sudarsono… “ ucap Tante Lupita.  “Ma, Nurul mohon!” ucap Nurul merengek dengan sangat menyedihkan.  “Baiklah.  Kalau itu mau kamu.  Tapi Mama gak akan pernah membiarkan kamu beraksi sendirian lagi!  Mama ga mau kamu menjadi korban.  Kejadian seperti tadi bersama Brian ga boleh terjadi lagi.  Mengerti?” ucap Tante Lupita.


“Nurul paham, Ma,” jawab Nurul.  Nurul pun merasa lega karena sudah menumpahkan sebagian beban pikirannya.  Tante Lupita benar-benar dirasa sebagai ibu kandungnya sendiri yang bisa membuat Nurul nyaman di saat dibutuhkan.  


Tante Lupita pun memeluk Nurul kembali.  Ia begitu peduli dan menyayangi Nurul.  Tetesan air matanya menandakan betapa ia menyesalkan apa yang telah terjadi pada Nurul.  Ia tak rela Nurul menjadi bulan-bulanan lelaki kurang ajar seperti Brian. Ia sebegitu pedulinya karena sudah menganggap Nurul seperti anak kandungnya sendiri.


Nurul sudah menceritakan apa yang dikatakan oleh Brian tentang Icha.  Namun, bagi Tante Lupita bukan saatnya mempercayai perkataan Brian tersebut.  “Mulai sekarang, kita akan mengandalkan bantuan Rudi.  Rudi pernah dekat dengan Icha.  Dia juga lelaki yang sopan.  Apa yang terjadi antara kamu dan Brian tidak mungkin akan kembali terjadi, Sayang.  Mulai saat ini bersahabatlah dengan Nak Rudi.  Sekarang fokuskan informasi dari dia saja, ya?  Kata-kata Brian jangan dipikirkan lagi,” ucap Tante Lupita.


“Kalau Icha sudah ditemukan nanti, Mama akan membuat perhitungan dengan Brian.  Biar dia tahu rasa.  Mama yakin Brian pasti juga berani berlaku kurang ajar kepada Icha.  Kita akan membuat Brian mendekam di penjara karena sudah hampir menodai kalian berdua.  Mama juga akan meyakinkan Sudarsono kalau selama ini Brianlah yang sudah membuat Icha melarikan diri.  Kita akan melakukannya dengan bantuan Icha.  Maka itu, sekarang kita fokus kepada Icha dulu melalu Rudi.  Oke, Sayang?” ucap Tante Lupita.

__ADS_1


“Iya, Ma.  Nurul paham,” jawab Nurul menurut.


__ADS_2