Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Nurul Menunggu Kedatangan Tommy


__ADS_3

Hari semakin berganti.  Jauh di dalam lubuk hati Nurul, ia begitu terbayang-bayang dengan sosok Tommy.  Tommy adalah laki-laki yang telah memberinya dosa ternikmat yang sangat sulit untuk dilupakan.  Nurul berusaha untuk bertaubat, menghilangkan bayangan Tommy dari dalam hatinya, tapi semenjak kabar datang bahwa Tommy menjadi mualaf dan akan datang untuk meminangnya, kenangan itu semakin hari semakin jelas.


Di sebuah kelas, di kampus, Nurul sedang duduk menanti perkuliahan dimulai.  “Assalamu alaikum, ukhti… “ sapa sahabat Nurul, Nita.  “Rul?  Nurul?” Nita sampai melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Nurul, baru kemudian Nurul tersentak dari lamunannya.


“Eh, kamu, Nit,” ucap Nurul menyeringai.  “Ya, Allah… Nurul, kamu melamun?” ucap Nita.  “Hehe… “ Nurul tertawa kikuk.  “Aku tadi ngucapin salam loh?” lanjut Nita.  “Oh?  Wa alaikum salam,” ucap Nurul.


“Kamu mikirin apa, sih, Rul?  Akhir-akhir ini kulihat kamu sering melamun.  Ga kaya biasanya gitu.  Kamu lagi ada masalah?” tanya Nita.  “Enggak, aku ga ada masalah, Nit,” ucap Nurul.


“Terus, apa dong yang bikin kamu sering melamun seperti itu?” tanya Nita.  Nurul tersenyum kikuk, ia enggan untuk memulai cerita.  “Nit, menurut kamu, gimana sih soal pasangan-pasangan muda yang menikah?  Kan lagi tren nih di mana-mana,” ucap Nurul.


“Ya, kalau menurutku sih ga masalah.  Asalkan mereka mampu secara mental dan materi.  Justru kayanya asik, pacaran halal.  Kalau udah ga muda lagi gimana pacarannya ga segemoy yang muda kan?  Kalau aku pribadi, sih, aku mau ngejar cita-cita dulu.  Pas udah nikah nanti takutnya malah ga sempat,” ucap Nita.


Nita memandang Nurul dengan heran.  “Ngomong-ngomong, kok kamu tiba-tiba nanya hal seperti itu?  Kamu mau nikah, Rul?  Sama siapa?” tanya Nita.  Nurul yang malu karena suara Nita yang mungkin terdengar dengan orang-orang di sekitar pun celingukan sambil membekap mulut Nita.


“Ssst… Berisik amat.  Aku kan cuma nanya, Nit!” ucap Nurul dengan suara hampir berbisik.  “Aku ga percaya,” ucap Nita dengan suara yang rendah.  “Jodoh kan hanya Allah yang tahu, Nit.  Pas kita ngebet banget misalnya mau nikah tapi kalau Allah ga berkehendak, ya, ga bakal jadi kan?  Sebaliknya, misalnya kita yang awalnya ga terpikir untuk menikah tapi tiba-tiba jodoh kita datang, gimana?” ucap Nurul.


“Iya, sih,” ucap Nita.  Nurul masih enggan bercerita tentang Tommy kepada Nita.  Selagi Tommy belum benar-benar datang untuk mengkhitbahnya, ia tidak akan sesumbar kepada siapapun.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, Rul… si Adi masih suka ngedeketin kamu?” tanya Nita.  “Iya, nih.  Aku risih kalau setiap hari diajakin barengan terus.  Padahal aku udah jelas-jelas menolak dia, aku udah bilang untuk ga berhubungan dekat dengan laki-laki kecuali ada urusan tugas kampus doang,” ucap Nurul.


“Kenapa, sih, Rul?  Bisa aja Adi itu jodoh kamu?  Kamu kok nolak cowok sebaik dia, sih?  Dia kan kalem, anak rohis, kayanya ga macem-macem deh orangnya,” ucap Nita.  “Nita, kalau dia benar-benar cowok yang baik, yang katanya anak rohis itu, dia ga akan cari-cari alasan buat bareng cewek!  Cowok alim ga akan berbuat kaya gitu, Nita,” ucap Nurul.


“Cowok alim itu hanya akan mendekati cewek untuk dinikahinya aja.  Cowok itu akan secara gambang mengutarakan niatnya untuk menikah, bukan modus doang,” ucap Nurul.  “Bisa aja kan, setelah dia berhasil deketin kamu, dia akan mengutarakan niatnya?” ucap Nita.  “Kalau enggak, gimana?” ucap Nurul.


“Iya deh, iya.  Kalau kamu ga mau sama si Adi, dia buat aku aja deh,” ucap Nita.  “Haha… ambil deh, Nit, ambil,” ucap Nurul.  “Hahaha… iya kalau dia mau, orang dia sukanya sama kamu.  Hahaha… “ ucap Nita.


“Udah jam segini, sebentar lagi perkuliahan akan dimulai nih.  Kamu tadi lihat Bu Reni, ga?” tanya Nurul.  “Lihat.  Kayaknya dosen kita yang bawel satu itu bakal masuk deh,” ucap Nita.  Nurul dan Nita pun mempersiapkan diri untuk mengikuti perkuliahan yang akan dimulai.


Hari berganti.  Nurul yang mengikuti perkuliahan hampir selama seminggu itu akhirnya akan kembali ke tempat tinggalnya di lingkungan pesantren.  Setiap akhir pekan Nurul memang selalu kembali ke sana, dan kembali ke lingkungan kampusnya ketika akhir pekan usai karena selama berkuliah ia tinggal di sebuah kos yang ada di dekat kampus.


“Assalamu alaikum,” Nurul baru saja sampai di komplek pondok pesantren.  Ia lalu bersama-sama berjalan kaki dengan karyawan yang bekerja di dapur pesantren.  Nurul menanyakan kabar, seperti biasa, ada kabar apa yang sedang santer di lingkungan pesantren khususnya lingkungan santriwati.


“Tidak ada yang heboh-heboh sekali sih, di komplek santriwati.  Paling-paling hanya Rina, itu loh, anak Bangkalan yang sering kesurupan kalau sedang kecapekan,” ucap wanita bertubuh gemuk itu.


“Oh, anak itu.  Nanti Nurul bantu terapinya.  Tapi Bapak masih suka nerapkan terapi ke anak itu kan?” tanya Nurul.  “Masih, Rul.  Tapi, ya, begitu, belum kelihatan hasilnya,” ucap wanita bertubuh gemuk itu.

__ADS_1


“Eh, Nurul.  Ada yang lagi heboh di komplek sebelah,” lanjutnya.  “Apa itu, Bhik?” tanya Nurul.  “Jadi, ada santri baru.  Masa dia mondok sebagai santri, tahu ga, padahal umurnya itu bukan umur santri lagi.  Dia cocoknya jadi pengajar, eh kok malah nyantri,” ucap wanita gemuk itu.


“Jadi itu yang bikin hebohnya?” tanya Nurul dengan nada biasa saja, seolah tidak tertarik dengan informasi itu.  “Bukan itu saja, dia sering membuat kehebohan.  Masa laki-laki sudah sebesar itu takut dengan tokek?  Ekspresinya itu, loh, Nurul… lebay banget.  Takut sih boleh takut, tapi dia sampai histeris,” jelas wanita bertubuh gemuk itu.


“Lalu ada lagi, dia minta salah satu kloset toilet direnovasi karena dia tidak terbiasa dengan kloset jongkok.  Ya, jelas Bapak marah.  Bhibbik sih tidak tahu ya, yang jelas setiap santri itu mulas pasti kerepotan.  Ada yang bilang kalau dia mulas dia pergi pakai ojek entah kemana, mungkin karena cari toilet yang ada kloset duduknya.  Hahaha… “ ucap wanita gemuk itu.


“Hus!  Bhibbik!  Kok jadi ngegibahin orang seperti itu?” tegur Nurul.  Padahal, Nurul tadi sempat hampir melepas tawanya ketika mendengar cetita dari karyawan wanita itu.  Nurul pun penasaran.  Ia teringat dengan Tommy.  “Kalau Tommy yang ada di sini, mungkin hal yang sama akan terjadi.  Atau jangan-jangan itu Tommy?” batin Nurul.


“Bhik…  Santri baru itu, ciri-cirinya seperti apa?” tanya Nurul.  “Ih, Nurul kepo, ya?  Kok tanya-tanya?  Tadi ngelarang-larang gibah,” ucap wanita gemuk itu.  “Bukan begitu, Bhik.  Soalnya ada teman Nurul juga dari Jakarta katanya mau datang ke sini.  Bapak bilang, teman Nurul itu mau masuk sebagai santri baru juga,” ucap Nurul.


“Iya, sih, santri baru itu katanya dari Jakarta.  Jangan-jangan itu teman kamu.  Jadi, ciri-cirinya itu orangnya tinggi, tidak gemuk, tapi berisi, kulitnya kuning langsat, rambutnya belah pinggir, kelihatan banget karena jarang mau pakai peci.  Ada jenggotnya, sepertinya cuma beberapa helai aja.  Kalau bisa dibilang ganteng, ya ganteng sih,” jelas wanita gemuk itu.


Nurul membulatkan matanya.  “Jangan-jangan benar, Bhik!  Sudah berapa lama dia di sini?” tanya Nurul.  “Baru berapa hari, sejak senin,” ucap wanita gemuk itu.  “Kalau begitu, Nurul mau cepat-cepat ketemu bapak dulu, Bhik,” ucap Nurul mempercepat langkahnya.  “Loh?  Nurul?  Itu sayuran bhibbik?” ucap wanita gemuk itu.


Nurul yang sudah berjalan di depan pun kembali untuk mengembalikan jinjingan yang ia bawa.  Sejak tadi ia memang membantu karyawan wanita itu membawakan jinjingan berupa sayuran, karena saat baru datang tangannya kosong, hanya menggendong tas di punggungnya.


“Iya, lupa.  Ini, Bhik.  Nurul permisi dulu, ya?  Assalamu alaikum,” ucap Nurul terburu-buru.  “Loh… loh… “ karyawan wanita itu pun kerepotan dengan jinjingannya, untungnya mereka sudah sampai di dekat pintu masuk pekarangan.

__ADS_1


__ADS_2