
“Pak, jalan lebih ngebut, Pak!” ucap Tommy kepada supirnya.
Mobil itu melaju jauh lebih cepat, Tommy ingin mereka cepat sampai. Nurul menatap Tommy. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Nurul. Tommy tidak menjawab. Suatu keheningan yang meresahkan serasa melingkupi Tommy, menegangkan dan menakutkan.
“Kamu pasti tetap akan berbicara dengan Tuan Sudarsono. Bahkan meskipun aku telah memintamu untuk tidak melakukannya. Bahkan meskipun kamu berjanji untuk tidak melakukannya jika aku menyerahkan diriku kepadamu,” ucap Nurul.
Perkataan Nurul itu membuat Tommy tersentak. “Aku seharusnya tidak menjanjikan itu kepadamu. Tidak ada hasil yang baik dari janji itu,” ucap Tommy. “Jadi kamu akan mengingkari janjimu?” tanya Nurul.
“Apa kamu ga ngerti juga? Aku harus mengingkarinya. Itu demi kebaikanmu. Tidak satupun yang kamu katakan bisa mengubah pikiranku tentang situasi ini. Aku akan meninggalkanmu di rumah ayahmu dan aku akan kembali ke Jakarta,” ucap Tommy. Tommy menatap ke luar.
“Tapi aku akan kembali. Apapun yang kamu pikirkan tentang aku, Nurul, aku ga akan mengabaikanmu. Kamu ga perlu mengikatku dengan sejumlah emosi yang meragukan untuk melakukan hal yang benar. Kita akan menikah, apapun yang dikatakan Sudarsono atau yang dilakukannya atau… “ ucap Tommy.
“Jika kamu menemui Sudarsono dan membicarakan diriku, tidak akan ada pernikahan!” ucap Nurul. “Apa maksudmu?” tanya Tommy.
Semula Nurul berpikir bahwa usaha-usaha Sudarsono untuk menghancurkannya dan keluarganya akan bisa diselesaikan jika ada pernikahan. Tapi, sekarang sesuatu yang lain muncul di benaknya. Tommy menginginkan segala sesuatu sesuai dengan cara yang diinginkannya. Ia telah berjanji, tapi mengingkari semua janji itu jika dianggap perlu.
Semua kendali harus dipegangnya, karena jika ia memberikan kendali itu kepada orang lain, maka ia mengungkapkan kelemahannya. Nurul tidak bisa menikah dengan pria seperti itu, tak peduli apapun yang terjadi.
__ADS_1
“Maksudku, aku akan menikah denganmu. Aku tidak menyalahkanmu karena memperingatkan teman-temanmu, itu sudah seharusnya. Tapi, satu-satunya alasanmu untuk pergi menemui Tuan Sudarsono adalah untuk ‘menolongku’, atau setidaknya itulah yang kau katakan. Apa yang memberimu hak untuk memutuskan apa yang terbaik bagiku saat kamu ga tahu keseluruhan ceritanya?” ucap Nurul.
“Kamu menolak untuk mempercayai penilaianku. Kamu menolak untuk menghormati janji-janjimu. Baiklah, kalau kamu ga bisa melakukan sesuatu sesederhana itu, maka aku juga ga melihat alasan kenapa kita bisa menikah!” lanjut Nurul.
Tommy menunjukkan sikap tidak acuh. “Ayahmu akan memintamu menikah denganku setelah dia mengetahui… “ ucap Tommy. “Bahwa kamu telah merenggut keperawananku? Tidak, dia tidak akan memintamu menikahiku. Tidak semua pria sepertimu, Tommy. Beberapa diantara mereka benar-benar memperdulikan apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh wanita mereka,” ucap Nurul.
“Tapi aku peduli! Kalau aku ga peduli, aku ga akan menawarkan pernikahan!” ucap Tommy. “Ya, tapi kamu belum cukup peduli untuk menghormati harapanku atau memegang janjimu. Jadi, aku ga mau menikah denganmu,” ucap Nurul.
“Kamu mau aku memilih? Antara berbicara dengan Sudarsono atau menikahimu?” ucap Tommy. Nurul mengangguk. Suara Tommy menjadi semakin getir. “Aku kira kamu mencintaiku,” ucap Tommy. “Aku memang mencintaimu. Aku sangat mencintaimu hingga menginginkan pernikahan yang sesungguhnya untuk kita. Bukan pernikahan dengan kamu yang suka menjalankan segala sesuatu dan aku hanya berperan sebagai seorang istri yang sekedar menyenangkan saja,” ucap Nurul.
“Jadi kamu mencintaiku hanya selama aku melakukan apa yang kamu inginkan aja?” tanya Tommy. “Bukan. Aku mencintaimu apapun yang kamu lakukan. Tapi aku ga mau menikah denganmu jika kamu tidak mengindahkan harapanku juga,” ucap Nurul.
*
Tommy dan Nurul akhirnya sampai di jalan persimpangan masuk ke tempat tinggalnya. Mobil Tommy hanya berhenti sampai di sana, tidak lebih. Hal itu agar menghindari orang-orang di pesantren, termasuk ayah Nurul tahu mengenai kepulangan Nurul bersama Tommy, si lelaki asing.
“Tahu ga, Tom… Kamu udah menjalani seluruh hidupmu untuk menghindari cinta. Kamu bilang kalau ayahmu menghancurkan hidupnya karena mencintai ibumu yang sebenarnya tidak layak menerima cintanya,” ucap Nurul.
__ADS_1
Nurul menghela napas dengan berat. “Tapi kamu salah memahaminya, Tom. Pernikahan orang tuamu bukanlah bencana karena ayahmu sangat mencintai ibumu. Pernikahan itu menjadi bencana karena ibumu tidak mencintai ayahmu. Bukan cinta yang menghancurkan tapi kurangnya cinta yang menghancurkan pernikahan mereka,” ucap Nurul.
Tommy terlihat seolah baru ditampar Nurul. “Kamu ga tahu apa-apa tentang hal itu!” ucap Tommy. “Oh, iya, aku paham. aku bisa mengetahui seseorang laki-laki yang haus akan cinta saat aku melihat laki-laki itu. Tapi cinta membutuhkan rasa percaya dan kesedihan untuk memberi sebanyak yang telah diterimanya,” ucap Nurul.
Nurul meraih handle pintu mobil. “Sayang sekali semua itu di luar pemahamanmu,” ucap Nurul. Setelah membuka pintu mobil, Nurul beranjak keluar dari mobil. “Nurul… tunggu!” protes Tommy saat ia juga ikut keluar dari mobil. Tapi Nurul berputar membalikkan badan sehingga menghalangijalan Tommy sebelum ia bisa melangkah lebih dari dua langkah.
“Kamu mau ngapain? Mau masuk ke sana dan bilang kepada ayahku kalau kamu sudah setuju denganku, bahwa aku telah terlibat dalam semua kelicikan ini? Lalu cepat pergi ke Jakarta dan menghancurkan hidupku sementara aku mendapatkan ceramah dari ayahku?” cegah Nurul.
“Nurul… “ ucapan Tommy tercegah. “Tom! Kembalilah ke Jakarta. Bilang sana sama teman-temanmu itu tentang rencana Tuan Sudarsono. Aku ga mau jadi penyebab kerusakan mereka. Tapi ingatlah, kalau kamu bicara dengan Tuan Sudarsono, itulah akhir dari segala sesuatu di antara kita,” ucap Nurul.
Tommy menatap Nurul. Wajah Tommy memucat, tapi Nurul hanya melipat tangan di dadanya dan terus menghalangi Tommy. “Oke… Oke… “ Akhirnya Tommy berkata dengan dingin. “Kalau itu yang kamu mau,” lanjutnya. Memutar tumitnya, Tommy naik kembali ke dalam mobil dan memerintahkan supirnya untuk pergi.
Nurul menahan napas sampai mobil Tommy lenyap dari pandangan. Di benaknya, ia berencana menceritakan semuanya kepada ayahnya, meskipun itu akan sangat melukai hati ayahnya itu. Ia adalah satu-satunya harapan Nurul. Jika Nurul bisa membuat ayahnya terkesan tentang betapa seriusnya situasi ini, ayahnya pasti akan bersedia membantunya menyelesaikan ini di hadapan Tuan Sudarsono.
Nurul berjalan kaki menuju jalan ke pesantren. Ia tidak membawa apapun, seperti bukan baru saja pulang dari Jakarta, seperti baru saja pulang dari pasar.
“Eh, Nurul sudah pulang?” sapa seorang bapak-bapak yang mengendarai sepeda bermuatan barang dagangan. Nurul yang sedang berjalan melamun memandangi jalanan di depannya pun tersentak. Ia melempar senyum kejut yang seolah ramah. “Iya, Pak. Bapak apa kabar?” balas Nurul.
__ADS_1
Pria tua itu turun dari sepedanya dan menuntunnya, berjalan mengiringi langkah Nurul. “Ustadz Arif pasti senang sekali kamu sudah pulang. Tapi ngomong-ngomong dimana barang bawaanmu?” tanya pria tua itu.
“Emh… Itu Pak… Anu… “ ucap Nurul gelagapan. “Eh, Nak Nurul!” sapa seorang wanita yang lewat. Untunglah, kali ini Nurul tidak perlu menjawab pertanyaan pria tua itu. Pikiran Nurul yang rumit belum siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang lain yang datang mendadak. “Iya, Bibbhik!” sahut Nurul. Wanita itu pun mengajak ngobrol Nurul sehingga Nurul bisa pamit dari pria itu dengan sopan.