Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Keterangan Mata-mata Tommy (revised)


__ADS_3

“Tommy menyisirkan jemarinya ke rambutnya dengan gelisah setelah mendengar penjelasan Tante Lupita.  “Kakak Tante telah mengancamnya… Sesuatu yang begit misteri bagiku,” ucap Tommy.


“Ya, saya tahu.  Sudarsono tidak mau mengatakannya, demikian juga Nurul.  Saya bahkan menawarkan untuk menunjang kehidupan ayahnya jika dia ingin mengakhiri penyamaran ini, tapi dia menolak pertolonganku,” ucap Tante Lupita.


“Pertolonganku juga ditolaknya,” tukas Tommy.  “Aku harap Tante bisa memberikanku sejumlah jawaban, tapi sekarang justru semakin mengundang lebih banyak pertanyaan!” ucap Tommy kesal.


“Kayaknya satu-satunya orang yang tahu tentang kebenaran ini selain Nurul adalah Sudarsono.  Saya ragu jika kakakku itu mau mengatakannya padamu, Tom,” ucap Tante Lupita.


“Bagaimanapun keadaannya, aku tidak boleh bicara dengan pria tua itu,” kata Tommy mengejutkan Tante Lupita.  “Kenapa ga boleh?” tanya Tante Lupita.


Raut wajah Tommy yang tampan terlihat muram.  Ia berjalan dengan tatapan melamun, ia merenungkan sesuatu.  Lalu, ia mengatakan dengan suara pelan, “Nurul bilang kalau dia tidak mau menikah denganku kalau aku menanyai kakak Tante,” jawab Tommy.


“Apa?” seru Tante Lupita dan Rudi bersamaan.  “Kamu?  Menikah?” lanjut Rudi, matanya berkilau nakal.  Tommy memandang mereka dengan tatapan jengkel.  “Terkadang seorang pria harus menikah kan?  Kecuali ada larangan seorang aktivis politik menikah,” ucap Tommy.


Dengan susah payah Tante Lupita menyembunyikan tawa geli yang mendesak ingin terlontar dari tenggorokannya.  Tommy berencana untuk menikahi Nurul.  Gadis itu telah mendapatkan pasangan terhebat di sepanjang dekade terakhir ini, bahkan mungkin sepanjang abad!  Itulah yang diharapkan Tante Lupita, tapi ia tidak pernah bermimpi jika harapannya itu akan menjadi kenyataan.


Tante Lupita dengan hati-hati menanggapi pernyataan Tommy.  “Tentu saja kamu boleh menikah.”  Tante Lupita terdiam sejenak.  “Kayaknya kamu sudah melamarnya ya?  Tapi, apakah Nurul menerimanya?” tanya Tante Lupita.


Jelas sekali ini masalah yang cukup sensitif.  “Belum sepenuhnya menerima.  Itu tergantung apa yang kulakukan pada Sudarsono,” jawab Tommy.  “Aneh sekali,” cetus Tante Lupita keras-keras.  “Apa yang diketahui Sudarsono tentang Nurul sehingga membuatnya menolak untuk menikah dengan pria yang dicintainya?” lanjut Tante Lupita.

__ADS_1


Tatapan Tommy yang terpana tertuju kepada Tante Lupita.  “Nurul mengatakan kepadamu bahwa dia mencintaiku, Tante?” tanya Tommy.  “Tidak dengan kata-kata.  Tapi, kapanpun kamu melangkahkan kaku di dekatnya, reaksinya kepadamu terbaca dengan jelas.  Sama seperti terciumnya aroma bunga yang khas di rambutnya,” ucap Tante Lupita.


Tampaknya hal itu memberikan kesenangan bagi Tommy.  Namun, saat Tante Lupita ingin menanyakan apakah Tommy menanggapi perasaan cinta Nurul, suara lain terdengar dari pintu masuk.


“Selamat siang, Den Tommy.  Saya rasa Aden sedang menanti kedatangan saya,” ucap orang yang baru datang itu.  Semua mata tertuju pada seorang laki-laki yang berdiri di pintu masuk.  Tommy membulatkan matanya.  “Akhirnya kamu tiba juga.  Kenapa lama sekali?” ucap Tommy.


Laki-laki itu adalah orang kepercayaan Tommy yang ia kirim ke Madura untuk mencari tahu kehidupan Nurul selama di kampung halamannya itu.  Mereka pun berbincang mengenai perjalanan laki-laki tersebut.


Tante Lupita mengawasi dengan curiga sosok kurus tapi tegap dan berotot itu.  “Tommy, siapa orang ini?” tanya tante Lupita.  “Dia yang membantuku menemukan berita apapun tentang Nurul di Madura,” jawab Tommy.


Tommy telah memata-matai Nurul?  Ia memang sebegitu tergila-gila pada Nurul!


“Jadi?  Apa yang sudah kamu dapatkan?” tanya Tommy dengan nada cepat.  Faisal, namanya.  Ia terlihat sedikit kurang nyaman karena berbicara di depan banyak orang.  “Saya bertanya kepada orang-orang tentang hubungan antara Tuan Sudarsono dan Nona Nurul.  Kebanyakan mereka mengatakan tidak ada hubungan apapun.  Tapi, seorang ahli obat mengatakan kepada saya suatu dongeng yang menarik,” ucap Faisal.


Tommy menatap Faisal, tidak yakin apa yang dipikirkannya.  Tidak, ia tahu yang dipikirkannya.  Nurul tidak pernah membiarkan satu makhluk pun menderita, terutama ibunya.  Apakah Nurul telah memberikan obat penahan rasa sakit dalam jumlah besar dan Tuan Sudarsono mengetahuinya?


*


Tommy memikirkan apa yang baru saja diceritakan oleh Faisal.  Demi Tuhan, itu membuat semuanya masuk akal.  Ini menjelaskan alasan mengapa Nurul sepenuhnya menolak untuk mengatakan kepada siapapun tentang kebenaran itu.  Nurul telah melakukan kejahatan.  Tuan Sudarsono bisa membuat Nurul masuk penjara karena perbuatannya itu dan Nurul mengerti hal itu.

__ADS_1


Tommy merasa ngeri.  Setidaknya mereka semua sedang membicarakan tentang kematian seorang ibu.  Namun, ia juga mengingat dengan baik betapa mengerikannya penderitaan yang dialami ibu tirinya sampai akhir hidupnya.  Ia pun akan bersedia memberikannya ekstra ramuan pereda sakit seandainya ia bisa.


Tidak heran kalau Nurul sangatlah ketakutan.  Tidak heran jika ia memohon kepada Tommy untuk mempercayakan masalah ini seorang diri.  Nurul telah berpikir dan mungkin benar bahwa Tommy tidak bisa melakukan apapun jika Nurul dituduh telah melakukan pembunuhan.  Bahkan ia mungkin juga takut jika Tommy akan membencinya setelah ia mengetahui tentang kebenaran itu.


Baiklah, bukan Nurul yang dibenci Tommy.  “Sudarsono keparat!”  Tommy menatap Tante Lupita.  “Kakak Tante jauh lebih hina daripada ular yang terkutuk!” ucap Tommy kesal.


Tampaknya, Tante Lupita punya kesimpulan yang sama berkaitan dengan Nurul dan ibunya.  “Ya, Sudarsono memang benar-benar hina,” ucapnya.


Gelombang ketakutan mencengkeram Tommy.  Jika ia benar-benar pergi menemui Sudarsono sebelumnya… tidak heran Nurul mengatakan kepada Tommy untuk mempercayainya.  Tommy mungkin telah mempertaruhkan nyawa Nurul.  Tentu saja, jika Nurul menceritakan semua ini kepadanya sejak dulu.


Tapi, Nurul tidak cukup mempercayai Tommy untuk bisa menceritakan tentang hal itu, tidak tahu reaksi apa yang Tommy keluarkan.  Bisakah ia menyalahkan Nurul?  Akhirnya, hidup Nurul yang justru dipertaruhkan.  Namun, Tommy masih berharap Nurul bisa mempercayakan hidupnya kepada Tommy.


“Apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Tante Lupita.  “Jika Sudarsono telah memberikan ancaman seperti yang kupikirkan, itu pasti bukan sekedar ancaman,” ucap Tommy.  Tommy berpikir sesaat.  Suatu ide tiba-tiba terlintas di benaknya.  Begitu sederhana sehingga ia bertanya-tanya mengapa ide itu tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.


“Tunggu!  Aku punya solusi sempurna untuk masalah ini,” ucap Tommy.  Dengan beberapa kata, ia menjelaskan rencananya.  Tante Lupita menatap Tommy penuh kekaguman.  “Sepertinya itu akan berhasil,” ucap Tante Lupita.


Ponsel Tante Lupita berbunyi.  Seusai ia mengangkatnya, matanya membulat.  “Nyonya, Nyonya harus segera pulang.  Nona baru saja datang dan Nona Nurul mengajak seorang laki-laki tua bersamanya,” ucap penelpon itu.  Tante Lupita pun memberitakan kabar itu kepada Rudi dan Tommy.  “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Tante Lupita kepada Tommy.


Tommy menggelengkan kepalanya.  “Aku merasa kalau Nurul telah meyakinkan ayahnya tentang pentingnya masalah ini dan ayahnya itu bersedia datang untuk memberikan bantuan.  Meskipun aku tidak tahu apa yang mereka berdua bisa lakukan.  Rencana kita tampaknya masih merupakan solusi yang terbaik,” ucap Tommy.

__ADS_1


Tante Lupita bergegas menuju puntu lalu berhenti sejenak.  “Kamu akan datang kan, Tom?” tanya Tante Lupita.  “Tentu saja.  Aku akan segera menyusul Tante,” jawab Tommy.


Saat Tante Lupita pergi, Tommy bersandar ke mejanya untuk menopang tubuhnya yang tiba-tiba terasa lemas bagian lututnya.  “Apa kamu baik-baik saja, Tom?” tanya Rudi.  Tommy menggelengkan kepalanya.  “Bagaimana jika aku menerobos ke sana dan Nurul menganggapku telah bertindak tidak sesuai yang diinginkannya?  Atau demi Tuhan, bagaimana jika aku membuat masalah ini semakin kacau?” ucap Tommy.


__ADS_2