
Tommy mendengar teriakan Nurul. Ia meminta mereka untuk berhenti berkelahi, tapi tidak mungkin lagi menghentikan hal ini. Pria ini telah berusaha mencuri Nurul darinya. Tidak seorangpun bisa mencuri Nurul dari Tommy. Dengan cepat, Tommy mengayunkan kepalan tangan kirinya ke wajah pria itu. Lalu, dengan sekuat tenaga menghujamkan kepalan tangan kanannya ke perut raksasa itu, bagian terlemah dari seorang pria.
Trik itu berhasil. Penantang Tommy yang malang itu tersungkur di tanah, ia mencengkram perutnya. Tidak sia-sia Tommy menggunakan waktu selama lima tahun terakhir untuk belajar tinju profesional. Satu hal yang dipelajarinya, ukuran tidak sepenting kemahiran untuk melancarkan pukulan ke tempat yang tepat.
“Lain kali jangan menjadi penghalang antara pria terhormat dengan istrinya,” gumam Tommy saat ia menjauh dari raksasa yang mengerang kesakitan itu dan berjalan menuju ke tempat Nurul berdiri. Mulut Nurul mengaga melihatnya.
“Turunkan aku!” teriak Nurul yang digendong Tommy. Nurul memukuli punggung Tommy lalu memasukkan Nurul ke mobilnya. Tommy seperti baru saja memikul sekarung beras lalu ia mengangguk kepada supirnya agar tak melepaskan Nurul.
Dengan muram, Tommy menghadapi kerumunan orang yang sedang menggerutu. Berkat Nurul dan salahnya perhitungan Tommy tentang keputusan Nurul yang tidak ingin menikah dengannya, Tommy sekarang mengalami situasi yang sedikit pelik.
Lebih dari satu wajah memandang Tommy dengan curiga dan sekelompok pekerja kasar entah itu supir pun baru saja turun dan mendatangi Tommy dengan wajah menantang. Sambil melipat tangan di dadanya, Tommy berpura-pura berlagak acuh tak acuh. “Tolong maafkan istriku untuk setiap masalah yang disebabkannya. aku dan dia sedang bertengkar dan inilah caranya menghukumku,” jelas Tommy.
“Seperti yang bisa kalian lihat, dia akan mengatakan apapun untuk menyerangku,” ucap Tommy. “Dia bilang Tuan menculiknya,” terdengar celetukan keras dari kerumunan. Tomy mendengus. “Ayolah, apa kalian benar-benar berpikir kalau aku perlu menculik seorang perempuan agar menjadi pendampingku? Selain itu aku bilang kepada pemilik penginapan bahwa dia adalah istriku dan dia telah memanfaatkan setiap kesempatan untuk berperilaku sebagai istriku. Tapi saat itu dia belum marah kepadaku,” ucap Tommy.
Tommy memandang mereka dengan tatapan sedih. Penantang Tommy berdiri terhuyung, terlihat waspada sekaligus keras kepala. “Dia bilang kalau Anda ingin mengambil keuntungan darinya. Dia bilang begitu,” ucap pria itu.
“aku harus mengaku bersalah untuk hal itu,” ucap Tommy. Tommy memaksakan senyuman di wajahnya. “Aku cukup sering mengambil keuntungan dari istriku yang cantik, tapi kalau dipikir lagi siapa yang tidak akan bersikap seperti itu?” ucap Tommy.
__ADS_1
Tommy merasa lega saat mendengar beberapa orang di antara kerumunan tertawa terkekeh. “Sayangnya,” lanjut Tommy. “Dia benci meninggalkan teman-teman yang disukainya di Jakarta karena selama seminggu tinggal di rumah baru kami. Dia mengungkapkan keinginannya itu dengan sangat jelas beberapa bulan yang lalu,” ucap Tommy.
Tommy mendesah secara berlebihan. “Tapi sial, ada tugas bisnis. Aku sangat suka jika aku bisa mengajak istriku bersamaku ke pedesaan di mana aku bisa… Hahaha… mengambil keuntungan darinya, dari kecantikannya,” ucap Tommy.
Tommy bisa merasakan keraguan melanda mereka secara tiba-tiba. Keyakinan mereka yang kuat tentang perbuatan amoral dari para pria terhormat dihadapkan dengan keyakinan mereka yang sama kuatnya tentang perubahan pikiran perempuan terhormat yang sering tidak menentu.
Kemudian, ditambah dengan kemampuan Tommy untuk mengalahkan seorang pria yang dua kali lebih besar dari ukuran tubuhnya, tampaknya akan memenangkan pertarungan. Meskipun, ia tidak bermaksud untuk membuktikan kelihaiannya berduel itu.
*
“Simpanlah uang yang diberikan istriku untukmu. Bapak berhak menerimanya,” ucap Tommy. Tommy memastikan jika tatapannya mendukung perkataannya, mengingatkan si raksasa itu bahwa seorang konglomerat sepertinya bukan orang yang bisa dipermainkan, terutama seorang pria kaya yang istrinya telah mencuri dompetnya.
“Iya, Tuan. Saya paham,” jawab pria tua itu. Tommy beranjak masuk ke dalam mobilnya. “Tunggu!” Tommy membeku, bertanya-tanya apakah akhirnya ia akan diserang oleh kerumunan orang tersebut. menoleh kepada si pemilik penginapan, Tommy menatapnya dengan tatapan seangkuh mungkin.
“Tuan dan istri Tuan akan membutuhkan makanan,” ucap si pemilik penginapan. Ia menyuruh seorang pelayan perempuan masuk ke penginapan lalu bergegas muncul lagi sambil membawa sebuah keranjang makanan.
“Terima kasih,” ucap Tommy. Setidaknya satu orang ini tahu kepada siapa ia berpihak. Senyum Tommy sangat tulus kali ini. “Mungkin ini cukup bisa meredakan kemarahan istriku agar aku bisa segera mengambil keuntungan darinya,” ucap Tommy berkelakar.
__ADS_1
Di tengah tawa yang semakin keras kali ini, Tommy membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Nurul duduk mematung di kursi samping Tommy. Meletakkan keranjang makanan di ruang belakang, Tommy menghempaskan diri di sebelah Nurul dan memerintahkan supirnya untuk melajukan mobilnya.
Saat mobil melaju meninggalkan halaman penginapan, Tommy berusaha untuk menenangkan dirinya. Rasanya ia ingin mencekik Nurul dan takut jika ia memandang Nurul maka ia akan benar-benar melakukannya. Namun, dalam hatinya ia tak bisa menyalahkan Nurul. Ia memang telah menculik Nurul, bahkan dengan alasan demi kebaikan Nurul sekalipun.
Tommy menyalahkan dirinya lebih dari siapapun. Ia seharusnya menyadari bahwa saat Nurul bersikap sangat malu-malu di penginapan tadi itu karena Nurul pura-pura menyetujui pernikahan yang ditawarkan Tommy.
Ketika Tommy merasa yakin bahwa dirinya bisa berbicara dengan sopan, ia berkata, “Kuharap kamu ga lagi punya keinginan untuk mengulang hal bodoh tadi,” ucap Tommy. “Suka-sukaku dong,” ucap Nurul. Tommy memandangi Nurul, tapi perempuan itu sedang menatap ke depan seolah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Getaran kecil di wajah Nurul gagal menyembunyikan ketenangan suaranya. Tommy menunduk dan melihat tangan Nurul terkepal erat di pangkuannya.
“Aku tadi kan menceritakan kebenaran sama mereka. Tapi mereka malah mempercayaimu. Yang kamu lakukan hanya dengan fasih menceritakan beberapa dongeng, dan mereka dengan penuh semangat membiarkanmu membawaku pergi,” ucap Nurul.
Suara Nurul terdengar sangat terluka sehingga Tommy merasakan sengatan rasa bersalah. Itu membuatnya marah. Nurul mengatakan kalimat itu tanpa rasa dendam, tapi ia berhasil menusuk hati Tommy.
Tommy tidak pernah mengajukan lamaran pernikahan kepada siapapun dan sudah pasti ia tidak pernah berharap mengajukan tawaran itu kepada seorang gadis lugu. Sungguh aneh bagaimana ia merasa begitu nyaman untuk mengatakan bahwa Nurul adalah istrinya saat mereka ada di penginapan tadi.
Istilah itu seharusnya terasa tidak mengenakkan di mulutnya. Namun, selama percekcokan Tommy dengan pekerja itu, ia tidak pernah memikirkan Nurul dengan panggilan lain. Sejauh yang Tommy mengerti, Nurul telah menjadi istrinya. Mereka hanya belum mempunyai selembar surat nikah untuk mengesahkannya.
__ADS_1
“Katakan kepadaku, Nurul… kenapa kamu sangat enggan menikah denganku. Kamu jadi menyatakan bahwa aku adalah seorang penculik. Apa kamu benar-benar ga suka dengan penawaran pernikahan dariku?” tanya Tommy. Tommy menahan napasnya untuk mendapatkan jawaban Nurul.
Jawaban dari Nurul adalah jawaban yang sangat berarti bagi Tommy, tanpa Tommy sadari. Saat Nurul tidak menjawab, keresahan yang mendalam berkecamuk dalam hati Tommy. Hal itu menggelisahkan daripada apapun jawaban Nurul. “Lupakan,” ucap Tommy dengan tegang. “Itu bukan hal yang penting,” lanjutnya.