
Hari ini mereka akan bermalam di daerah lain yang akan mereka masuki. Firasat Nurul mengatakan bahwa Tommy akan membawanya ke Jember tempat rekannya dulu. Ada Sarah di sana, perempuan yang seharusnya dijemput Tommy malam itu, tapi Tommy salah sasaran dan justru menjemput Nurul.
Tommy memulai percakapan lainnya. Mereka berbincang-bincang seperti yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih baru. Masing-masing ingin tahu tentang semua rahasia pasangannya. Nurul tidak terkejut saat mendengar bahwa Tommy sangatlah kesepian saat masih anak-anak, atau Tommy sangat merindukan ibunya meskipun ibunya itu telah memperlakukan Tommy dengan kejam.
Semangat Tommy pun terlihat saat membicarakan tentang reformasi politik. Hal itu membuat Nurul berpikir jika Tommy sedikit berbeda darinya. Setidaknya, Tommy berusaha untuk memahami keprihatinan orang awam. Banyak rekan sederajatnya, seperti Tuan Sudarsono, yang sama sekali tidak memperhatikan hal-hal semacam itu.
Sungguh menyakitkan saat mendengar tentang kedekatan Tommy dengan Rudi. Jelas sekali kalau Tommy akan melakukan apapun untuk sahabatnya itu. Rudi telah menolongnya melalui saat-saat kegelapan di masa anak-anaknya. Rasanya menyedihkan bagi Nurul saat memikirkan bagaimana Tommy akan membencinya setelah Tommy mengetahui bahwa Rudi direncanakan dijadikannya kekasih Icha, hal yang Tuan Sudarsono buru.
Nurul tidak bisa mengambil resiko itu, ia harus tetap merahasiakannya dari Tommy. Tommy berusaha mengarahkan percakapan untuk membahas tentang orang tua Nurul. Tapi, Nurul berkelit dari diskusi itu dengan mengatakan hanya beberapa kata singkat tentang kematian ibunya.
Beberapa saat kemudian di sepanjang hari itu Nurul memahami maksud Tommy saat mengatakan “mereka akan berhenti untuk menginap”. Meskipun mereka berhenti sebentar saja sekalipun pasti peluang Nurul untuk melarikan diri sangat kecil. Setidaknya Tommy lebih waspada kali ini.
Nurul memandangi Tommy, Tommy tiba-tiba mengantuk dan tertidur dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Betapa manisnya Tommy tidur. Rambut Tommy sangat kusut, raut wajahnya yang keras terlihat melembut. Tommy menyatakan bahwa ia tidak punya kemampuan untuk mencintai, tapi Nurul tidak lagi mempercayainya.
Mungkin akan sulit untuk membuat laki-laki itu bisa merasakan cinta, tapi kesulitan itu akan membuat perasaan cinta tersebut jauh lebih berharga saat Tommy bisa merasakannya nanti. Seperti harta karun yang sulit dan baru saja berhasil ditemukan.
Seandainya saja Nurul bisa tinggal bersama Tommy untuk menyaksikan hal itu terjadi, rasa mencintai. Nurul menghela napas, kegelisahan yang pahit telah merusak kedamaiannya. Ia harus memastikan mereka berhenti dengan segera. Ia tidak kuat lagi menahan masa penantian yang tidak pasti ini.
Hari demi hari terlewati. Suatu ketika Nurul terbangun dan memandangi Tommy di dalam mobil mereka yang melaju. Tommy sudah sepenuhnya terjaga dan sedang duduk sambil mengupas jeruk. Nurul melempar pandangannya ke luar jendela. Ini bukan daerah yang seharusnya mereka lewati.
__ADS_1
“Tom? Kok kita ga berhenti di Jember?” tanya Nurul. Tommy tersenyum dan mengangkat lalu menyilangkan kakinya dengan santai. Tanda peringatan berbunyi di benak Nurul. Ia merasa telah terlihat tempat-tempat yang seakan tak asing baginya. Ketakutan besar yang tiba-tiba melandanya membuat kakinya lemas.
“Jembatan Suramadu?” ucap Nurul terbelalak. “Kita… kita… “ ucap Nurul tergugup. “Aku kan bilang kalau kita akan menikah. Kamu tanya kita akan kemana, ya aku jawab kita akan ke timur,” ucap Tommy.
Kesadaran segera menerpa Nurul. “Kamu membawaku pulang?” ucap Nurul. Tommy menatap Nurul. “Iya, aku bermaksud melakukannya dengan benar, aku akan melamar kepada ayahmu dan kita menikah di depannya,” jelas Tommy.
*
Nurul hanya bisa membayangkan apa yang dipikirkan ayahnya saat mereka tiba dan Tommy mengatakan bahwa Tommy ingin menikahi Nurul. Bagaimana Nurul bisa menjelaskan kepada ayahnya? Meskipun bisa mengarang sejumlah kisah tentang kemunculannya yang tiba-tiba bersama Tommy, ia ragu jika Tommy akan tetap tutup mulut tentang penyamaran Nurul. Oh tidak, sangat mungkin itu adalah alasan Tommy membawa Nurul pulang.
Pada akhirnya Nurul harus mengatakan kepada ayahnya bahwa ibunya telah bunuh diri dengan menenggak ramuan buatannya secara over dosis. “Tidak! Ini tidak akan berhasil!” protes Nurul. “Kalau kamu membawaku pulang, aku akan mengatakan kalau aku ga mau menikah denganmu. Terus kamu ga akan bisa melanjutkan semua rencanamu!” ucap Nurul.
“Ayahku udah tahu semuanya,” dusta Nurul. “Itu ga akan menyelesaikan apapun,” lanjutnya. “Dia ga tahu, kamu bohong kan? Aku punya orang kepercayaan yang sudah mencari tahu hubunganmu dan ayahmu selama kalian berjauhan,” ucap Tommy.
Tenggorokan Nurul mengencang, ia tidak lagi berpura-pura bersikap santai. “Tom, kamu udah janji… “ ucap Nurul. “Aku kan janjinya tidak akan bicara sama Sudarsono,’ jawab Tommy. Tommy menjejakkan kakinya ke lantai saat mencondongkan tubuhnya untuk mengunci Nurul dengan tatapan tajamnya. “Aku ga berjanji untuk tidak berusaha melindungimu dengan cara lain. Kamu udah ditenggelamkan oleh seorang pria gila yang mencoba menghancurkanmu,” ucap Tommy.
“Aku ga mau hanya berdiam diri melihat itu semua terjadi. Karena kamu ga mau mengatakan alasan kenapa Sudarsono memaksamu untuk menyamar dan kamu ga mengizinkan aku berbicara dengannya, kamu ga memberiku pilihan selain membawamu pulang. Itu artinya yang harus kulakukan adalah berbicara dengan ayahmu,” ucap Tommy.
“Kamu akan membunuh ayah,” desis Nurul. “Kamu ga ngerti apa yang akan kamu lakukan!” lanjutnya. “Kalau gitu, buat aku supaya mengerti!” ucap Tommy.
__ADS_1
Nurul menatap wajah Tommy yang keras kepala, pada mata yang tidak menunjukkan belas kasihan kepada Nurul. Tanah Madura telah mereka jajaki, Nurul tergugup dan membayangkan bagaimana kalau mereka sampai di Pamekasan.
Mungkin jika Nurul mengatakan pada Tommy tentang alasan penyamarannya, hal itu akan memuaskan Tommy. Mungkin jika Tommy mengetahui alasan tersebut, ia tidak menekan Nurul untuk mengatakan alasan mengapa Nurul menyetujui permintaan Tuan Sudarsono. Namun, tentu saja setelah itu Tommy akan membencinya karena Nurul ikut mengambil bagian dalam mempermainkan sahabatnya, Rudi. Tapi, Nurul tidak bisa menahan diri lagi untuk bercerita.
“Baiklah,” bisik Nurul. Mata Tommy menyipit, seolah sedang berusaha untuk menilai apakah Nurul benar-benar serius. “Ini ada kaitannya dengan Icha,” ucap Nurul. “Icha?” Tommy terlihat kaget. Jelas sekali ia tidak pernah memikirkan itu.
Dengan terbata-bata Nurul menceritakan bagaimana Icha berusaha kawin lari dan bagaimana Tuan Sudarsono dan Tante Lupita telah meminta Nurul menjadi mata-mata dan berusaha menemukan laki-laki yang membawa Icha kabur itu. Nurul menjelaskan alasan-alasan kenapa ia setuju melakukan rencana itu, menekankan penjelasannya tentang rencana mereka.
Nurul tahu dengan segera saat Tommy mengaitkan penyamarannya dengan sahabatnya Rudi. Meluruskan duduknya, Tommy mengucapkan sumpah serapah. “Rudi adalah salah satu laki-laki yang kamu curigai? Ga cuma Brian, tapi juga Rudi! Itulah alasan mengapa kamu bersikap begitu hangat kepada Rudi. Itulah alasan diadakannya jamuan makan di Bogor juga di galeri Rudi!” ucap Tommy.
Nada dingin dalam suara Tommy membuat Nurul merapatkan lengannya dengan erat di depan dadanya. “Ya, Tuan Sudarsono bahkan mencurigaimu juga, karena kamu adalah saingan bisnisnya,” ucap Nurul.
Tommy menghantamkan kepalan tangannya ke sisi mobil. “Aku seharusnya menyadari bahwa semua ini berkaitan dengan Rudi. Tapi, aku membiarkan kecemburuanku kepada Brian membutakan mataku untuk melihat fakta itu,” ucap Tommy.
Tommy memandang Nurul. “Kamu telah memata-matai sahabatku. Kamu tahu kalau Sudarsono akan sangat mungkin menghancurkan Rudi nantinya jika dia tahu bahwa Rudi adalah laki-laki yang menjadi kekasih Icha!” ucap Tommy.
“Menghancurkan Rudi? Enggak, Tom! Tuan Sudarsono mengatakan kalau dia akan menawarkan kepada siapapun laki-laki yang melarikan Icha itu uang, atau sesuatu yang membuatnya setuju untuk meninggalkan Icha,” ucap Nurul.
Tommy memandang Nurul dengan Muak.
__ADS_1