Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Kecemburuan Tommy


__ADS_3

Nurul memutuskan untuk mengakhiri pencarian Icha.  “Kak, kayanya kita mesti istirahat, deh.  Gua laper,” ucap Nurul kepada Brian.  Brian pun mengajak Nurul untuk makan bersama di sebuah restoran tak jauh dari kampus.


Beberapa saat kemudian pun mereka sampai di restoran setelah melakukan perjalanan singkat dengan menggunakan motor Brian.  Perjalanan itu seakan menjadi perjalanan panjang bagi Brian.  Tidak seperti biasanya, kali ini Brian tidak melancarkan ocehan-ocehannya sepanjang perjalanan.  Nurul melihatnya sebagai seorang laki-laki yang sedang bad mood.  


“Tren kulit gelap kan lagi hits, sebentar lagi kulit lu bakal gelap nih, Kak,” goda Nurul.  Brian duduk di depan Nurul dibatasi meja restoran bulat yang mewah.  Suasana dingin dari pendingin ruangan di sana membuat nyaman mereka setelah berterik-terik tadi.  “Au ah,” jawab Brian dengan nada malas.


Brian menyandarkan tubuhnya di kursi dengan posisi yang begitu landai, dengan kepala yang ia tumpukan ke sandaran kursi, ia mendongak ke langit-langit sambil memejamkan matanya.  Nurul lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua sikunya di atas meja.  Nurul mengipas-ngipas Brian dengan telapak tangannya.  Ia mengeluarkan senyum meledek kepada Brian.


Brian pun menangkap tangan Nurul dengan lembut sambil menegakkan tubuhnya kembali.  “Duh peduli banget sih lu sama gua, Maria.  Makasi, ya,” ucap Brian dengan senyuman yang menggoda.  Pelayan pun datang, Brian menoleh dengan tetap memegang tangan Nurul.  Nurul tidak nyaman, jadi ia menarik tangannya itu.  Mereka pun memesan menu makan siang mereka.


Itulah hari pertama mereka berjalan berdua, si Maria dan Brian.  Tentu saja Tante Lupita dengan senang hati menerima kedekatan Nurul dengan Brian.  Brian selalu mengajak Nurul ke tempat-tempat yang menurut Tante Lupita aman bagi Nurul, kampus, mall, dan galeri.  Berbeda dengan Rico.  Sekali waktu Rico pernah datang ke rumah lalu Tante Lupita yang menyambutnya.  Tante Lupita mengungkapkan ketidaksukaannya karena Rico sudah mengajak Nurul ke tempat yang tidak aman.  Sejak saat itu Rico tidak lagi bertemu dengan Nurul.


Waktu pun berganti.  Hari demi hari Nurul menghabiskan banyak waktunya bersama Brian.  Brian mulai merasakan bahwa upaya pencarian Icha sudah jarang mereka lakukan.  Nurul atau perempuan yang dikenalnya sebagai Maria itu lebih cenderung mengajak mereka sekedar mengobrol berdua, obrolan-obrolan tentang pribadi masing-masing.  Sangat tampak Nurul begitu ingin mengenalnya lebih jauh.

__ADS_1


Sekali waktu Tommy hadir.  Tommy begitu ingin memisahkan Nurul dan Brian.  Nurul dan Brian menangkap kecemburuan yang luar biasa dari Tommy.  


Suatu ketika di kediaman Rudi… 


“Tom, saya rasa kamu ga perlu terlalu berlebihan begitu.  Ribut di muka umum dengan Brian, itu cuma akan mempermalukan dirimu sendiri.  Ingat, kamu adalah tokoh aktivis muda yang banyak digandrungi masyarakat perpolitikan.  Kamu ga mau kan pamormu jatuh hanya karena sikap kasarmu yang ga bisa kamu kuasai itu?” ucap Rudi yang tengah mengambilkan segelas brendi kepada Tommy.


Tommy menghembuskan asap vape-nya dengan tenang sambil menyandarkan diri di sofa single empuk milik Rudi.  “Aku curiga kalau dia sengaja mendekati Maria untuk memacarinya.  Aku ga rela My Lady bersama orang serendah Brian,” ucap Tommy dengan nada datar.  “Sejak kapan kamu merasa tersaingi dengan orang rendahan itu?” ucap Rudi sambil memberikan segelas brendi.


“Entahlah.  Iya juga, ya?  Sejak kapan?  Dia benar-benar bukan sainganku.  Hahaha… “ ucap Tommy.  “Aku hanya tak habis pikir, kenapa Maria lebih memilih bersama Brian daripada bersamaku.  Tidak mungkin selera Maria jadi turun seperti itu,” ucap Tommy lalu menegak brendi di tangannya setelah usai menaruh vape-nya di atas meja di dekatnya.


Menyadari kemampuan Brian yang jago merayu perempuan, Tommy pun bangkit dan menghentak gelas yang dipegangnya ke atas meja.  “Bisa-bisa My Lady terjerat dengan si Brian brengsek itu!  Aku ga rela dia menyentuh Maria!” ucapnya dengan penuh emosi.  Rudi membulatkan matanya.  “Kamu harus banyak-banyak ikut kelas yoga biar bisa mengendalikan emosimu itu,” ucap Rudi.  “Aku yakin Maria ga suka dengan laki-laki kasar yang suka menarik perhatian orang dengan cara konyol seperti ini,” lanjutnya.


“Menarik perhatian orang?” gumam Tommy.  “Maria… “ gumamnya lagi.  Pikiran Tommy pun kembali kepada saat berdua dengan Maria.  Ada suatu suasana di mana ia begitu merasakan kehadiran Nurul di diri Maria.  Pikiran itu kembali menggelitiknya.  

__ADS_1


“Kalau seandainya Maria itu Nurul, ia akan menjadi sasaran empuk Brian.  Kalau itu benar… Aku jadi semakin penasaran dengan gadis itu,” ucapnya kepada Rudi.  “Sudah sampai dimana pembuktian yang kamu lakukan?  Banyak kasus politisi yang sudah kamu pecahkan dengan caramu yang kritis, bukankah untuk membuktikan identitas seorang gadis adalah hal yang jauh lebih mudah?” ucap Rudi.


“Belum terlalu jauh,” jawab Tommy.  Tommy berbohong.  Ia hampir mendapatkan tubuh Maria.  Di saat-saat intim seperti itu apabila Tommy benar-benar bisa membuatnya lupa diri, gadis itu tentu tanpa sadar akan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.  Tommy yang sudah berpengalaman dengan banyak wanita dalam bercinta tahu betul akan hal itu.


Tapi Tommy mencintai gadis itu.  Ia tidak ingin mempertaruhkan keperawanan seorang gadis demi pembuktian seperti itu.  Selama ini Tommy memang banyak bercinta dengan perempuan, tapi semuanya itu sudah jelas bukan perempuan yang masih suci.  Tommy tidak pernah mau bercinta dengan seorang perawan.


Ia tidak mau terjebak dengan romansa perempuan-perempuan perawan.  Bisa saja Tommy dijebak setelah menghilangkan keperawanan perempuan kemudian terpaksa menikahinya sebagai bentuk pertanggungjawaban.  Setelah itu dengan sesuka hari perempuan yang sudah dinikahinya itu akan meminta banyak hal, menahan dirinya melakukan berbagai kegiatan di luar, atau merengek dibelikan barang-barang mewah.


Tommy selalu menghindari hal seperti itu, sehingga ia tidak pernah mau melibatkan diri dengan perasaan cinta, juga bercinta dengan perempuan perawan yang mabuk cinta dengan begitu melankolis.  Lain halnya dengan Nurul, gadis yang dilihatnya begitu berbeda.  Bagi Tommy, Nurul bukan gadis yang sengaja mencari laki-laki kaya untuk dijebaknya agar bisa menikahinya lalu memanfaatkan kekayaan lelaki itu.


Tommy masih berharap bahwa Maria adalah Nurul.


“Jadi apa rencanamu, Tom?” tanya Rudi.  “Aku akan terus memantau mereka, si brengsek itu dengan My Lady.  Kemanapun mereka pergi, aku harus mengetahuinya,” ucap Tommy.

__ADS_1


“Wah, demi seorang Lady Maria,” ucap Rudi lalu bertepuk tangan kecil-kecil.  “Seorang Tommy yang selama ini dikejar-kejar para gadis, yang tidak pernah memperdulikan mereka, sekarang rela mengikuti kemanapun seorang gadis pergi,” lanjut Rudi.


“Pesanku, berlakulah dengan tenang.  Berlatihlah menahan emosimu.  Anggap saja sorot kamera di acara-acara on air televisi sedang 24 jam mengikutimu.  Ingat, citramu selalu terjaga selama ini.  Jangan sampai itu rusak, Tommy.  Atau karirmu akan tamat,” ucap Rudi.


__ADS_2