
“Apa yang kamu lakukan, Tommy?” tanya Nurul sembari ditarik dengan lembut oleh Tommy. “Ada sebuah karya fenomenal di tempat lainnya,” ucap Tommy. “Hah? Karya fenomenal? Punya Kak Rudi?” tanya Nurul sembari meneruskan langkahnya yang terseret-seret.
Tommy dan Nurul pun memasuki sebuah ruangan, tidak ada pengunjung yang memasuki ruangan itu, pintunya baru saja Tommy buka. Seorang penjaga berkedip kepada Tommy dan setelah Tommy berada di dalam, pintu pun ditutup oleh penjaga tersebut.
KLEEK… Nurul baru saja mendengar pintu itu terkunci. Ia membalikkan tubuhnya untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya. Ketika Nurul berbalik, kedua daun pintu itu memang sudah tertutup. Tatapan Nurul pun begitu nanar kepada Tommy.
“Sebuah hal yang spesial tidak untuk dilihat orang lain. Aku mengusahakannya hanya untukmu, Maria,” ucap Tommy. Tommy lalu meneruskan langkahnya meninggalkan Nurul. Ia melewati sebuah meja yang lebar lalu setelahnya mereka menemukan sebuah pajangan besar selebar mobil sedan berdiri secara vertikal tertutup kain putih.
Tommy menghentikan langkahnya di depan benda itu, ia sempat melihat Nurul sebentar lalu membalikkan kembali tubuhnya. Tommy menyibakkan kain penutup itu. Itu adalah sebuah lukisan indah yang membuat Nurul terpana. “Aku… Aku… “ ucap Nurul ternganga sembari berjalan mendekati lukisan itu.
“Aku persembahkan kepadamu My Lady, Maria… Karya seniman Bali yang terkenal, Rencak Tirta,” ucap Tommy. “Aku pernah melihat lukisan ini versi digitalnya di sebuah galeri di Tebet. Ini indah sekali,” ucap Nurul sembari mengelus permukaan kanvas. Ia ingin merasakan permukaannya yang kasar oleh lapisan-lapisan cat yang timbul. “Bukan cat minyak biasa,” lanjutnya.
“Sudah kuduga ini akan mengejutkanmu. Melihat lukisan asli Rencak Tirta secara langsung adalah pengalaman yang tak bisa dialami sembarang orang,” ucap Tommy. Lukisan yang menggambarkan romansa antara dua orang telanjang yang sedang bercinta itu membuat Nurul nyaris tak berkedip.
__ADS_1
Berbeda dengan Nurul, Tommy begitu dalam memandangi ekspresi wajah Nurul. “Kalau gadis ini adalah Nurul, dia akan merasa segan dan bahkan cenderung malu melihat hal yang terkesan p’rno bagi seorang Nurul,” batin Tommy. Tommy menunggu ekspresi itu, ia akhirnya meregangkan wajahnya. Tidak ada ekspresi seperti itu keluar dari wajah Nurul.
“Maaf, Maria, bila ini menampilkan kesan yang kurang sopan. Niatku hanyalah ingin memberikan sesuatu yang spesial untukmu,” ucap Tommy. Tommy tidak sabar mendengar pendapat Nurul. “Kurang sopan? Maksudmu karena kamu tadi menyeretku dengan paksa ke dalam ruangan ini? Ga masalah, Tommy. Semua ini sudah membayarnya,” ucap Nurul.
“Oh ya. Aku mohon maaf untuk itu. Maksudku soal lukisan ini. Apa kamu ga merasa ini terlalu ser o nok? Mereka berdua, tanpa busana dan mereka melakukan… “ ucap Tommy dengan kelanjutan kata-kata yang terkesan ragu-ragu. “Lukisan ini? Hahaha… Ini sebuah mahakarya, Tommy! Mana bisa kita mengaitkan hal lain dengan kebebasan berseni! Kamu ada-ada aja. Aku kira kita punya cita selera yang sama,” ucap Nurul.
“Dia… Dia benar-benar Maria, bukan Nurul! Ya, Tuhan. Selama ini aku telah salah mengira. Mereka punya fisik yang mirip, dan mungkin selama ini aku terlalu terbawa oleh pikiranku sendiri sampai-sampai menyamakan beberapa bagian sikap Maria dengan Nurul yang sebenarnya bisa saja berbeda,” batin Tommy.
Tommy menyusuri segenap tubuh Maria, ia memandangnya perlahan-lahan dengan begitu detail. Gadis ini benar-benar Maria, bukan gadis yang polos, sudah berpengalaman bercinta dengan banyak laki-laki. Hal itu membuat Tommy tak lagi menahan dirinya. Selama ini ia menghindari untuk bercinta dengan seorang perawan polos, tapi tidak kali ini.
“Tentang perasaanmu kepada Brian,” lanjut Tommy. “Oh ya ampun. Kenapa harus menyebut-nyebut manusia itu sekarang!” gerutu Nurul di dalam hati. “Apakah kamu punya perasaan kepada Brian? Apakah kalian… “ tanya Tommy tanpa menyelesaikan kata-katanya. “Pertanyaan bodoh macam apa ini!” ucap Nurul kesal dengan memotong kata-kata Tommy.
“Tapi, kalian selalu bertemu, selalu berdua. Dan Brian jelas-jelas menyukaimu, Maria,” ucap Tommy. “Masa? Jadi kalian sudah berbaikan dan membicarakanku di belakang? Perkara dia menyukaiku itu haknya, tapi aku sama Brian ga punya hubungan spesial, hanya teman,” jawab Nurul. “Apa benar seperti itu? Berarti… “ ucap Tommy mendekat.
__ADS_1
“Apa? Apa, Tommy?” ucap Nurul tergugup. “Berarti dia belum menyentuhmu sama sekali kan?” lanjut Tommy. “Kamu ngomong apa, sih!” ucap Nurul. Nurul mencoba berperan sebagai Maria sebaik mungkin. “Lagi pula aku bebas memilih laki-laki mana yang bisa menyentuhku, lebih tepatnya akulah yang menyentuh mereka untuk kesenanganku,” ucap Nurul.
“Aku ingin membuktikannya. Aku ingin memastikan ga ada aroma Brian yang tersangkut di sela-sela tubuhmu, Maria,” ucap Tommy. Gairah Nurul bergejolak. Ini adalah hal yang ia inginkan. Ia sempat bingung memilih peran mana yang akan memimpinnya, Maria atau Nurul?
“Mama… Pasti Mama sedang kerepotan mencariku,” ucap Nurul yang mencoba menjauhkan dirinya dari Tommy. Tommy menarik Nurul, jantungnya terasa tak beraturan. “Hanya satu ciuman, Maria. Aku sudah menjalani banyak kesulitan untuk mendapatkan kesempatan seperti ini,” ucap Tommy memohon.
Tommy memegang lembut dagu Nurul, ia lalu mengusapkan ibu jarinya ke atas bibir bawah Nurul yang lembab, merasakan Nurul menahan napas. Nurul benar-benar menginginkan Tommy juga. Meskipun Nurul berpura-pura tidak menginginkannya, hasrat itu seperti kekuatan primitif di antara mereka. Merekapun berciuman.
Nurul berusaha mengakhiri ciuman itu segera, tapi Tommy mengunci kepada Nurul dengan tangannya. Tommy memegang erat kepala Nurul agar bisa mengeksplorasi bibirnya yang hangat, liat, lembut seperti roti panas yang baru keluar dari oven. Nyaris tidak cukup untuk memuaskan rasa manis yang mendadak disukai Tommy hingga tak tertahankan.
Tommy menekankan lidahnya pada mulut Nurul yang lembut dan mengagumkan, merasa senang saat Nurul membuka mulutnya dan mengerang. Menenggelamkan lidahnya ke dalam kehangatan seperti sebuah beludru. Tommy pun menikmati kepuasan dalam cara Nurul menerimanya.
Namun, itu masih belum cukup. Setelah berhari-hari terbakar dan menginginkan Nurul, Tommy ternyata menginginkan sekedar sebuah ciuman. Menurunkan tangannya ke pinggang Nurul, Tommy menarik tubuh Nurul merapat ke dirinya mulai dari dada sampai paha. Tangan-tangan Tommy pun dengan bebas menjelajahi rusuk, pinggang dan pinggul Nurul.
__ADS_1
Tommy memberikan ciuman yang keras dan lama dengan segala kelaparan dari seorang laki-laki yang menikmati detail kenikmatan. Gadis ini tidak sesuai dengan pola bercinta Tommy yang biasa. Ia adalah seorang gadis yang memikat, berpengalaman, bukan gadis lugu. Ia bukan Nurul.
Tangan Nurul yang lembut melingkari pinggang Tommy, Tommy pun mengerang dan mendorong Nurul ke arah meja yang terletak beberapa langkah di belakang mereka. Tommy tidak berhenti untuk menciuminya. Ia lalu menempatkan Nurul ke atas meja dan menyesuaikan dirinya di antara kedua kaki gadis itu yang terbuka secara natural di balik rok plisketnya yang longgar.