Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Di Teater bersama Tommy (1)


__ADS_3

Benar apa yang dipikirkan oleh Nurul, Tommy membawanya ke sebuah ruangan penyimpanan peralatan sound system yang sedang tidak digunakan.  Ia menyalakan lampunya, menutup pintu dan menguncinya dari dalam.  Nurul dan Tommy benar-benar berdua di ruangan tertutup itu.


“Nurul, hargailah usahaku untuk tetap dapat selalu bertemu denganmu.  Kamu tahu ga, sepertinya ibumu itu tahu tentang yang telah kita lakukan di galeri,” ucap Tommy.  “Ah, yang benar?  Aku ga yakin, sebab mama ga pernah menyinggung hal itu denganku,” ucap Nurul.  Jawaban itu membuat Tommy dapat mengatur napasnya kembali dengan lebih tenang.


Tommy menatap ke dinding, tempat Nurul bersandar dan dipenjara oleh kedua tangan Tommy yang bertumpu pada dinding itu.  Tommy terlihat bimbang.  “Aku hampir ga percaya dengan jawabanmu.  Kamu tahu ga, Rudi selalu saja mengintrogasiku.  Dia memanfaatkan waktu setiap saat bersama denganku untuk menceramahiku tentang mempermainkan para perawan yang lugu,” jelas Tommy.


Nurul membeku.  “Dan apa kamu bilang ke Kak Rudi tentang apa yang kita bicarakan waktu itu dan tentang… “ ucap Nurul.  Tommy memotongnya.  “Tidak,” ucap Tommy.  Tatapan Tommy tertuju kepada Nurul dengan sangat serius.  “Aku ga cerita apapun pada Rudi.  Itulah kenapa aku ada di sini sekarang.  Aku mau meyakinkan kamu kalau aku akan menjaga rahasiamu,” ucap Tommy.


Rasa lega melanda Nurul.  “Oh, terima kasih!  Aku khawatir banget,” ucap Nurul.  Tommy menatap marah.  “Kamu ga benar-benar berpikir kalau aku bisa sangat jahat dengan membocorkan penyamaranmu ini kan, Nurul?  Padahal aku ga tahu apapun soal masalahmu,” ucap Tommy.


“Aku ga tahu apa yang kupikirkan.  Sampai sekarang, kamu itu udah… udah sangat memaksa untuk membongkar penyamaranku ini.  Aku kira kamu akan memberitahu orang-orang atas pencapaianmu karena sudah tahu kalau aku adalah Nurul,” ucap Nurul.


“Ya, ampun, Nurul.  Kamu curigaan banget ya sama aku?  Oke, Nurul Sayang, kamu seharusnya percaya pada taktik penyamaranmu yang sangat terlihat ahli itu.  Air matamu dan permohonanmu sangat efektif.  Aku bisa luluh dengan itu.  Aku bukan benar-benar orang berhati batu seperti yang dikatakan orang-orang,” ucap Tommy.

__ADS_1


“Itu bukan taktik, Tommy!” ucap Nurul yang tersinggung oleh kata-kata Tommy yang dingin.  “Selain itu Brian bilang kalau kamu memang batu.  Jadi, aku percaya kamu itu adalah orang yang berhati batu,” ucap Nurul.  Mata Tommy menyipit.  “Brian?  Apa dia masih ngejar-ngejar kamu?  Dia bilang begitu karena dia itu punya dendam sama aku.  Kamu harusnya tahu,” ucap Tommy.


“Nurul Sayang… Aku tidak seburuk itu.  Hanya karena aku ga remuk saat melihat air mata  perempuan, bukan berarti air mata tidak berpengaruh kepadaku.  Aku bukan orang yang tak berperasaan seperti anggapanmu itu, Nurul,” lanjut Tommy.


Tommy terlihat sangat menyedihkan dengan anggapan orang berhati batu seperti itu.  Nurulpun merasa kasihan kepadanya.  “Sepertinya memang bukan,” ucap Nurul melembutkan suaranya.  “Buktinya kamu tetap menjaga rahasiaku,” lanjutnya.


“Ya.  Tapi aku masih ingin tahu kenapa kamu merasa terpaksa untuk menyamar seperti ini.  Kamu bisa mempercayaiku.  Aku bersumpah, Nurul.  Kamu jangan berpikir aku sedang mempermainkanmu, atau apapun itu setelah apa yang kita lakukan di galeri,” ucap Tommy.  “Jangan bicarakan itu lagi,” ucap Nurul.  Nurul tidak tahan kalau Tommy membicarakan tentang hal yang memalukan itu.  


Nurul baru saja kelepasan bicara.  “Enggak.  Bukan apa-apa, lupain aja yang barusan kukatakan,” ucap Nurul.  Tommy meraih tangan Nurul.  “Jelas banget ini bukanlah ‘bukan apa-apa, terus ngapain kalau begitu kamu barusan mengatakannya.  Yang pasti kamu ga berpikir kalau aku menciummu waktu itu karena aku menganggapmu sebagai Maria,” goda Tommy.


“Itu ga penting,” Nurul berusaha menjaga suaranya tetap tenang, tidak terguncang.  “Aku tuh ngerti, Sayang.  Ngerti banget.  Kamu itu menganggap aku sebagai wanita genit, jadi kamu mau melakukannya denganku.  Tapi, sekarang karena kurangnya pengalaman seorang Nurul, itu membuat kamu kecewa.  Iya kan?  Syukurlah, aku jadi ga perlu khawatir kamu akan melakukannya padaku lagi,” ucap Nurul.


“Ya, ampun.  Nuruuul… Nurul!” Tommy menyisirkan tangan ke rambutnya.  “Hanya ada satu masalah dengan teorimu, Nurul.  Kenyataannya aku tahu tentang kamu, kamu adalah Nurul, bukan Maria atau siapapun.  Sampai sekarang aku masih menginginkan kamu,” ucap Tommy.  Nurul menggelengkan kepalanya.  “Kamu itu menganggap aku sebagai Maria, seorang perempuan liar dari keturunan bangsawan yang… “ ucap Nurul.

__ADS_1


“Aku menganggap kamu sebagai Maria karena dengan begitu aku bisa membiarkan diriku melakukan apa yang ingin kulakukan, bercinta dengan kamu.  Aku ga berhasrat untuk merenggut keperawanan perempuan.  Kalau seorang Maria sudah tidak perawan lagi ya itu ga akan bermasalah kan?” ucap Tommy.


Saat Nurul merasa gugup, Tommy memelankan suaranya dengan lebih dekat.  “Tapi seorang Nurul, gadis pesantren yang polos yang sebenarnyalah yang kuinginkan.  Aku berani bersumpah.  Sampai kapanpun hanya kamu yang tetap aku inginkan.  Aku melihat banyak laki-laki mengerling ke arahmu, ketika itu aku ingin menantang mereka untuk berduel denganku,” ucap Tommy.


“Stop, Tommy!  Ga usah sok-sok romantis untuk mendapat simpati dariku!” ucap Nurul memalingkan wajahnya.  Ada air mata menggumpal di matanya.  “Kamu ga perlu mengasihaniku,” lanjut Nurul.  “Mengasihanimu?” Tommy mengangkat dagu Nurul agar ia bisa memandang Tommy.


“Kamu ga tahu, Nurul… Aku begitu tertarik denganmu, dengan semua penampilanmu, dengan perubahanmu sekarang.  Aku bisa sangat mabuk walaupun kamu bukan Maria,” ucap Tommy.  Nurul tidak bisa meragukan perkataan Tommy sekarang.  Semua perkataan itu menggema dalam tatapan Tommy yang lapar, serak suaranya, dan napasnya yang semakin cepat.  Tubuh Tommy terasa panas, dibandingkan dengan dinding dingin yang menahan punggung Nurul.


Sayup-sayup suara musik panggung terdengar, mereka meresap dalam diri Nurul.  Mereka mengalun hampir secepat detak jantungnya, tapi tidak benar-benar secepat itu juga.  Lalu tangan Tommy meluncur ke bawah menelusuri leher Nurul dengan belaian yang menggoda, membuat kulit Nurul merasakan kebutuhan Tommy dan detak jantungnya semakin menggila.  


Tommy menggunakan satu jarinya yang besar untuk menelusuri leher Nurul dan dadanya, lalu berhenti di belahannya.  Kedua gundukan itu kembang kempis dalam usahanya untuk bernapas dengan normal.  Tommy mengaitkan jarinya di balik ujung atasan Nurul yang membatasi belahan itu.  “Oh, Nurul Sayang… Seandainya kita sedang ga berada di tempat ini,” ucap Tommy.


Tommy tidak sabar, yang terlintas di pikiran keduanya tentu Tommy akan menurunkan atasan Nurul dan mencumbu Nurul seperti yang dilakukannya di galeri.  Tapi, ruangan ini terlalu sempit untuk mereka melakukan itu.

__ADS_1


__ADS_2