
Biarpun perut Tommy baru saja berbunyi, dengan tekad, ia bermaksud melanjutkan kegiatannya belajar shalat. “Lagi tanggung, Bro. Kita lanjut aja. Nanti setelah ini kita makan siang bareng. Gua bakal traktir lu,” ucap Tommy. Dimas sumringah. “Siap, Bos!” ucap Dimas.
“Oke, tadi lu bilang shalat diawali niat. Silahkan, Bro. Gimana itu… “ ucap Tommy. Namanya niat, letaknya di dalam hati. Ga perlu lu was-wes-wos komat-kamit. Ada ulama yang bilang niat itu perlu dilafazkan, tapi gua termasuk yang meyakini niat cukup di dalam hati. Lu bebas pilih mau yakin yang mana,” ucap Dimas.
“Saran gua sih, lu kan masih baru. Yang penting adalah lu ngerti maksud setiap bacaan, itu aja dulu. Jangan sibuk sama hafalan dan gua yakin lu pasti kesulitan menghafal bacaan-bacaan berbahasa Arab. Lu niat aja dalam hati mau shalat apa, terus lafadzkan basmallah,” ucap Dimas.
“Tahu kan, artinya bismillahirrahmanirrahim?” ucap Dimas. “Dengan nama Tuhan,” jawab Tommy. “Yup, benar. Artinya itu dengan nama Allah, tapi yang lengkapnya itu artinya dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jangan lu bilang dengan nama bapa lagi. Hahaha…” ucap Dimas. “Haha… iya, mirip, Bro, makanya gua tandainnya di situ, dengan nama Tuhan. Bedanya itu kami ngucapinnya di akhir doa, kalau kalian di awal doa,” ucap Tommy.
“Yok lanjut. Setelah basmallah itu, lu angkat kedua tangan, kaya gini. Lafadzkan Allaahu Akbar! Lu berarti baru aja mengakui kebesaran Allah. Lu gimana sih kalau ada yang elu takuti, hormati, segani, pokoknya elu besarkan. Jadi setelah ini benar-benar lu jaga sikap. Berdiri yang tegak, jangan malas-malasan tau miring sana-sini. Nah, kaki lu selebar ini biar kuda-kuda lu mantep, ga ambruk lu. Tangan disedekap di dada gini. Nah yang itu di atas lengan satunya, Bro. Nah sip,” jelas Dimas.
“Sebenarnya ada doanya setelah gerakan tadi, Bro. Gerakan tadi namanya takbiratul ikhram. Tapi, yang lu fokusin bacaan Al Fatihah aja dulu,” ucap Dimas. Makna dari surah Al Fatihah itu intinya tiga. Pertama, kita sedang membesarkan siapa itu Allah, Tuhan Semesta Alam dengan sifat-sifatnya yang lain nanti lu bisa pelajari lagi. Kedua, kita benar-benar hanya menyembah Allah, hanya meminta pertolongan kepada-Nya. Ga ada pakai jalur ini itu melalui siapa dan siapa, pokoknya potong kompas, ga pakai media lain-lain. Ketiga, kita minta keselamatan sama Allah,” jelas Dimas.
“Pokoknya pas lu shalat berjama’ah, ketika imam udah bilang aamiin, berarti itu surah udah selesai, dan lu langsung bilang amin juga,” lanjut Dimas. “Surah ini wajib ada di setiap paket gerakan shalat, istilahnya raka’at. Satu paket raka’at berarti lu udah mau balik lagi berdiri atau selesai dengan salam,” lanjutnya.
__ADS_1
“Ada kalanya imam ga bacain tu surah, jadi kita baca sendiri ga pakai suara. Karena ini adalah surah wajib di semua shalat, jadi lu kalau mau shalat ya kudu hafal surah ini,” ucap Dimas. “Oke, oke. Gua ngerti. Nanti gua hafal-hafalin,” ucap Tommy.
Dimas pun menjelaskan setiap gerakan shalat kepada Tommy. Tommy dengan lapang dada menuruti semua instruksi Dimas. Ia kini seperti seorang anak penurut yang jarang ditunjukkan di kesempatan-kesempatan lain. Ia terkenal sebagai pemuda kritis yang mendahulukan sikap ‘ngeyel’ dibanding hal lainnya. Namun, tidak kali ini. Tommy benar-benar mengikuti pelajaran dari temannya ini.
Pelajaran shalat pun usai. Mereka berdua pun beranjak meninggalkan masjid. Di saat mereka berjalan kaki secara beriringan, Tommy tampak antusias membahas kembali beberapa hal dalam pelajaran shalatnya tadi.
“Sampai tegak gitu kaki kanan di belakangnya, ya? Sumpah, itu susah banget. Hampir-hampir keseleo engkel kaki gua,” ucap Tommy dengan alas kaki yang menggesek batu-batu kerikil jalanan. “Ya pelan-pelan aja, Bro. Nanti lama-lama juga kaki lu lemes, bisa kok. Pasti bisa,” ucap Dimas menyemangati.
Sementara dari sudut tempat lainnya, beberapa orang memperhatikan Tommy yang baru saja keluar dari halaman masjid bersama Dimas. “Tommy? Tu anak ngapain? Kok bareng Dimas dari masjid?” ucap salah seorang mahasiswa. “Dimas si sok alim itu, Bro?” ucap lainnya. “Bener! Itu mereka bareng gitu.”
Selama ini Tommy memiliki kebiasaan buruk, yaitu melakukan hiburan-hiburan malam, minum minuman beralkohol dan bergaul dengan perempuan-perempuan untuk bersenang-senang. Semua hal-hal yang dapat menciptakan cibiran itu nyatanya tidak pernah mencoreng nama baiknya. Ia mempunyai kuasa tertentu terhadap awak media untuk memfilter pemberitaan-pemberitaan semacam itu.
Bagaimana dengan hal-hal baik yang baru saja dilakukannya, yaitu dengan kereligiusan? Tentu sangat tidak masalah bagi Tommy apabila terdapat pemberitaan seperti itu. Perkara-perkara negatif saja bisa tertahan dengan apik, apalagi perkara-perkara baik seperti peribadatan. Menyeruaknya berita itu nanti justru akan menambah terangkatnya nama baik Tommy, bukan?
__ADS_1
*
Dari Dimas, Tommy dikenalkan dengan komunitas yang bisa lebih membantunya untuk belajar menjadi seorang muslim. Setelah berkali-kali belajar islam dari Dimas, Tommy pun memberanikan diri mengutarakan niatnya bahwa ia bermaksud menjadi seorang mualaf.
Melalui perantara Dimas, Tommy masuk ke dalam lingkungan komunitas mualaf dan berkenalan dengan ulama-ulama yang bisa membimbingnya memperdalam ilmu agama.
Hal ini berpengaruh kepada pembawaan Tommy. Sejak Tommy menyibukkan diri dalam belajar agama, sikapnya lebih santun, ucapan-ucapannya lebih hati-hati dan pemikirannya lebih cepat dalam mengambil keputusan dengan cara banyak menyimak, lebih banyak menyimak daripada biasanya.
*
Di sebuah ruangan dalam gedung instansi pemerintah, Tommy duduk bersama jajaran orang-orang penting. “Lihatlah, sejak tadi Tommy tidak banyak bicara. Tidak seperti biasanya,” bisik beberapa orang yang duduk berjauhan dari Tommy. “Iya, saya pun penasaran, apa argumennya terhadap planning yang baru saja disampaikan ketua forum,” bisik lainnya.
“Ah, permisi. Giliran saya berbicara setelah siapa ini?” bisik Tommy kepada seseorang di sampingnya. Tidak seperti biasanya. Dimana kata-kata ‘interupsi’ yang biasa dengan tiba-tiba Tommy layangkan di tengah forum? Tommy benar-benar memberikan kesempatan kepada para panelis untuk masing-masing mengungkapkan argumen-argumen mereka, tanpa memotong pembicaraan, walaupun kalimat-kalimat mereka terkesan bertele-tele sekalipun, Tommy tetap membiarkannya.
__ADS_1
“Sepertinya sudah ada yang tidak sabar untuk menyampaikan argumennya. Ya, silahkan Bung Tommy…” ucap host acara. “Baiklah, terima kasih. Menurut saya hal ini sebenarnya bisa disederhanakan. Coba kita tilik lagi secara objektif, dimana akar permasalahan yang mau benar-benar diangkat… “ ucap Tommy. Tommy menyampaikan argumennya dengan santun namun juga tegas. Ia tidak menyudutkan personal seperti yang biasa ia lakukan.
Dari sudut lain, seseorang yang selalu hadir dimanapun Tommy berada sedang memperhatikan Tommy. Tatapannya tajam, tak bersuara kepada siapapun. “Lu lihat nanti, Tommy… Lu lagi bertransformasi? Atau pura-pura bodoh? Lihat nanti, gua bakal bongkar semuanya di depan umum begitu gua dapat semua bukti lengkap gua,” batinnya.