
Rico mengantarkan Nurul pulang dengan cara yang sopan. Walaupun baru dikenalnya, Rico adalah teman yang baik menurut Nurul. Rico pun berpamitan dengan Tante Lupita yang menyambut mereka di pintu rumah. Seperti janji Rico, kini ia sudah mengantarkan Nurul kembali dengan selamat.
Rico pun pulang. Tante Lupita yang melihat kondisi Nurul begitu tak bersemangat, ia pun menunda pertanyaan-pertanyaan yang siap diluncurkan semenjak berjam-jam yang lalu. Tante Lupita tahu kemana Nurul baru saja pergi. Nurul tidak benar-benar memberitahunya tentang pesta macam apa yang ia datangi bersama Rico. Dan pertanyaan yang tak kalah pentingnya adalah pertanyaan-pertanyaan tentang misi Nurul terhadap Icha.
"Kamu terlihat kelelahan, Sayang? Apakah mau Mama siapkan sup?" tawar Tante Lupita. "Terima kasih, Ma. Nurul hanya butuh istirahat sekarang. Maaf, Ma." Tante Lupita pun menghela napas. Ia tidak bisa memaksa Nurul untuk berbicara dengannya saat ini. "Ya sudah. Istirahatlah, Sayang," ucap Tante Lupita dengan raut kecewanya kepada Nurul.
Nurul masuk ke dalam kamar. Ia ingin menghilangkan segala kepenatannya dengan mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Nurul masuk ke kamar mandi, menyalakan shower dan mengatur tingkat kepanasan airnya. Nurul pun berdiam tanpa busana menikmati setiap butir air hangat yang jatuh membelai lembut kulitnya. Kulit yang begitu mulus, kencang, berwarna cerah, dan berkelok. Tubuhnya berkelok indah yang menjadi buruan lelaki mana pun yang melihatnya.
Nurul menangis di bawah guyuran air itu. Ia menyesalkan keputusan yang diambilnya. Ia hampir dinodai oleh orang asing. Semua adalah kesalahannya sendiri, menyerahkan diri kepada sembarang orang dengan harapan urusannya dapat terbantu dengan segera. Seharusnya Nurul hanya perlu bersabar, ia seharusnya bisa menunggu teman Rico datang walaupun itu bukan sebuah kepastian.
Sebuah pengorbanan tanpa membuahkan hasil. Semua itu membuat malam terasa begitu panjang dan berat. Nurul menyudahi mandinya setelah membersihkan tubuhnya. Aroma tubuhnya kini sudah diperbarui. Aroma bunga segar di sekujur kulitnya dan aroma mint di rambutnya membuat rileks pikirannya. Ia lalu bersuci kemudian beribadah.
Nurul berkeluh kesah di atas sajadahnya. Tangisnya tak sederas tadi. Ia berharap dapat segera terlepas dari lingkungan yang memperdayainya ini. Tiba-tiba pikiran sehatnya muncul. Nurul merasa keadaan tak seburuk itu.
__ADS_1
Ini adalah resiko yang harus ia terima. Ini baru permulaan. Nurul bertekad menjadi seseorang yang kuat, ia perlu lebih mendalami perannya sebagai gadis tangguh perkotaan. Lagi pula ia telah difasilitasi kemudahan, kekayaan dan segala hal yang belum pernah didapatkan sebelumnya.
Nurul pun mengakhiri hari tanpa tidur di waktu yang terlalu larut. Ia sudah kelelahan, baik fisik maupun mentalnya. Ia merebahkan tubuhnya, memaksa matanya terpejam, walau ia harus menyiapkan diri untuk memberi penjelasan kepada Tante Lupita tentang kesia-siaan yang ia jalani malam ini.
*
Hari pun berganti. "Ya, makanya… Kamu itu belum bisa bergerak sendiri, Sayang. Kamu masih perlu Mama!" ucap Tante Lupita setelah mendengarkan apa yang diceritakan Nurul. Mereka kini tengah duduk di taman mansion dengan matahari pagi yang teduh. Nurul sengaja memilih tempat ini untuk menghindari Tuan Sudarsono. Ia hanya ingin berbicara dengan Tante Lupita, tidak dengan pria arogan itu.
"Emh, gini, gini. Weekend ini Mama ada undangan pesta pertunangan anak teman Mama. Pesta ini adalah pesta formal, bukan kaya pesta jalanan yang kamu datangi semalam. Kita akan mempersiapkan debutmu di sana. Di sana kamu akan berkenalan dengan anak-anak dari teman-teman Mama dari kalangan terhormat. Kita akan memulai pencarian keberadaan Icha melalui orang-orang seperti itu. Karena setahu Mama, Icha bergaul dengan tipe-tipe seperti mereka," ucap Tante Lupita.
Nurul pun menuruti ucapan Tante Lupita. Di sini hanya Tante Lupita yang bisa dipercayanya, walau tak sepenuhnya. Karena bagaimanapun ia adalah adik kandung pria arogan itu, Tuan Sudarsono. Nurul bisa menerima kebaikan Tante Lupita yang sejauh ini terlihat begitu. Nurul tetap masih selalu waspada.
*
Nurul belajar dengan baik. Ia adalah perempuan cerdas yang menyerap segala sesuatu hal baru seperti sebuah spons kering. Pengajarnya sangat menyukai Nurul. Selain sikap yang tidak bossy, Nurul pun selalu ceria dan tak pernah terbebani dengan pelajaran-pelajarannya.
__ADS_1
*
Waktu pun berlalu. Tante Lupita mengajak Nurul kembali ke temannya yang sebagai penata gaya dan make over itu. Ia begitu terkejut karena kini Nurul sudah tidak menggunakan kerudung lagi. Ia jadi bisa bebas mengeksplorasi gaya untuk kecantikan Nurul. Dengan semangat, teman Tante Lupita mendandani Nurul sepenuh hati dengan rasa memiliki yang tinggi, seperti mendandani diri sendiri. Segala hal yang terbaik yang bisa dilakukannya akan dilakukan.
Malam hari tiba. Nurul bersama dengan Tante Lupita menghadiri pesta pertunangan anak temannya di sebuah pemukiman elit. Sebuah mansion yang mencerminkan kemewahan pemiliknya.
Nurul menggandeng Tante Lupita seperti seorang gadis kecil yang tak boleh jauh dari ibunya. Di sisi lain, di saat seperti itu sikap Nurul yang berbeda ia tunjukkan dengan mantap. Ia benar-benar anggun, terlihat cerdas dengan mata indahnya yang menyala, tentunya juga dengan kecantikan yang menarik banyak perhatian pemuda.
Nurul pun diizinkan untuk berpisah dari Tante Lupita. Ia diminta untuk mencari kenalan sebanyak-banyaknya. Walaupun, tidak muluk-muluk ingin langsung mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Icha. Bagi Tante Lupita, relasi adalah jalan yang bisa mengantarkannya pada kemudahan banyak urusan. Tidak dengan Nurul, di benaknya ia langsung menyaring potensi orang-orang yang mungkin mempertemukannya dengan tanda-tanda keberadaan Icha.
Di luar dugaan Nurul, seorang pemuda mendekatinya. Itu adalah pemuda yang jelas-jelas mengenali seorang Nurul, santriwati dari pelosok daerah. Nurul menutupi perasaannya yang bergemuruh. Di satu sisi itu adalah pemuda pujaannya yang selama ini ia rindukan. Akan sangat menyenangkan menemuinya, tapi tidak sekarang. Jangan sampai penyamaran Nurul terbongkar sekarang juga gara-gara pemuda ini.
Ia adalah Tommy, pemuda yang tanpa sengaja ditemuinya seusai acara Tahfidz Qur'an di Kota Jember. Ia adalah pemuda yang bermadu kasih dengannya di sebuah malam. Seluruh kenikmatan satu malam yang begitu membekas di pikiran Nurul, mungkin sampai kapanpun. Tapi, ia juga adalah pemuda populer, kaya, playboy, yang pasti sudah bersama dengan banyak perempuan cantik. Bagi Nurul, Tommy mungkin sudah melupakannya. Kejadian malam itu tidak berarti apapun bagi Tommy, tentu saja.
Nurul bertahan di tempatnya yang masih dikelilingi teman-teman barunya itu. Ia tidak mendadak pergi dari tempat itu untuk menghindari Tommy. Nurul menahan diri. Menghindari Tommy justru mungkin akan membuatnya curiga dan kembali mengenali Nurul.
__ADS_1
Sebuah hal yang celaka membelalakkan mata Nurul seketika, namun dengan cepat ia menutupinya. Nurul bersikap tidak peduli sebisanya.
Tommy baru saja memanggilnya dengan nama itu… "Nurul."