Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Konsultasi dengan Dokter Sunat


__ADS_3

Perubahan pada diri Tommy tampak begitu nyata.  Ini adalah hasil kesungguhannya menyerap ilmu serta sifat-sifat keteladanan yang disampaikan oleh para guru-gurunya, guru spiritualnya.  Hal itu membuat Rudi, teman terdekat Tommy merasakan langsung dampaknya.


Keluhan demi keluhan yang biasa disampaikan Tommy kepadanya sangat terasa berkurang.  Bagi Rudi, kini Tommy menjadi seseorang yang lebih dewasa.  Ia menyambut baik perubahan yang ada pada diri Tommy tersebut.  Meskipun, sebenarnya dukungan itu sudah sejak awal ia berikan kepada Tommy.


Selama menimba ilmu agama, Tommy benar-benar jauh dari Nurul.  Pikirannya ia kondisikan dengan sebenar-benarnya.  Baginya, wanita, harta, apalagi minum-minuman keras adalah penghalang yang nyata untuknya dapat menyerap pelajaran demi pelajaran agama.


Tommy pernah mendengar guru agamanya menyampaikan sebuah riwayat.  Ada seseorang yang hendak menyetorkan hafalan Al Qurannya kepada gurunya di daerah lain.  Seseorang tersebut melalui pasar untuk menempuh perjalanan menuju tempat gurunya itu.


Di pasar, seseorang tersebut tanpa sengaja melihat bentuk tubuh seorang wanita yang melewatinya, wanita itu membelakanginya dengan berjalan di depannya.  Hal itu karena angin yang berhembus menyibakkan kain yang menutupi bagian tubuh wanita tersebut.


Karena penglihatan yang tidak semestinya itu, atau dikatakan pemandangan yang haram untuk dilihat karena bukan mahram, seseorang tersebut tidak dapat menuntaskan hafalannya ketika sudah berhadapan dengan guru tempat ia menyetorkan hafalannya.


Perlu kebersihan pikiran dan hati untuk menyerap sebuah kebaikan.  Hafalan Al Quran adalah kebaikan yang sirna karena tertutupi oleh dosa.  Di dalam hati manusia tidak mungkin akan bersatu dua cinta, cinta amal kebaikan dan cinta maksiat.  Tommy, mencoba memisahkan kebiasaannya bermaksiat untuk dapat menyerap ilmu agama dengan sebaik-baiknya.


Motivasi masuk ke dalam agama islam ini begitu jelas baginya, yaitu demi kebaikan dirinya sendiri.  Bukan demi seorang wanita.  Dulu Tommy memang menyangkal akan adanya perubahan di dalam diri dan kehidupannya karena pengaruh agama, kini ia tidak bisa menyangkalnya sebab ia yang merasakannya sendiri.  Ada sebuah ketenangan yang luar biasa.


Tommy sebenarnya dulu juga seorang pemeluk agama, namun ia bukanlah pemeluk agama yang begitu rutin beribadah.  Sehingga, walaupun dulu Tommy beragama, ia tetap belum bisa menghindarkan diri dari maksiat-maksiat.  Takdir telah membawanya menjadi seorang pemeluk agama yang berbeda.

__ADS_1


Agama yang dipilihnya kini dapat mengondisikan dirinya dengan lebih fokus menjadi seseorang penuntut ilmu agama, walau masih sebagai pembelajar baru.  Ia menyesalkan tentang dirinya yang dulu, yang tidak peduli dengan agamanya walaupun itu adalah agama yang berbeda.


Namun, pada akhirnya Tommy juga mengakui bahwa maksiat-maksiat itu juga yang membuatnya bisa berubah seperti ini.  Ia diperkenalkan dengan seorang gadis walaupun dengan cara yang tidak patut.  Gadis itu adalah Nurul.


Kebutaannya kepada kecantikan dan kenikmatan dosa yang dibawa oleh Nurul membuatnya dapat mengenal agama barunya ini.  Hingga ada alasan bagi Tommy untuk merasa hina, meminta pengampunan dosa, dan takut kepada Tuhannya.  Dosa-dosa yang bisa menundukkan ego dan kesombongannya sebagai seorang manusia.


*


Langkah demi langkah Tommy tempuh untuk menjadi seorang muslim.  Ia pun akhirnya berkunjung ke sebuah klinik yang direkomendasikan oleh teman dari komunitas sesama mualafnya.  Klinik yang biasa dilakukan sunat atau pengeratan ujung kulit ******** laki-laki muslim.


“Loh, kan ga sekarang sampean sunatnya?  Kita datang ke sini untuk konsultasi sama dokter saja,” ucap Koko Chan.  “Iya, sih.  Aduh, Mas.  Jadi malu, saya,” ucap Tommy.


Tommy pun memasuki ruangan dokter.  Dokter yang ditemui adalah dokter laki-laki, sebagaimana rekomendasi, bahwa di klinik ini dokter yang melakukan praktik sunat adalah dokter laki-laki.  Hal itu untuk menghindari ketidakpantasan yang dirasakan antara pasien dan dokter.  Namun, praktik sunat tetap dilakukan oleh dokter laki-laki walaupun pasiennya adalah anak-anak.


Tommy, Koko Chan dan dokter berbincang bertiga.  Mereka membicarakan tentang teknologi dan peralatan yang digunakan, tata cara prosedur yang dilakukan, persiapan yang dilakukan pasien sampai kebiasaan pasien pasca dilakukannya sunat.


Walaupun masih memiliki perasaan gugup dan takut, Tommy dapat mengondisikan dirinya sehingga lebih tenang.  Tapi, yang lebih membuatnya tenang adalah tutur perkataan dokter.  Dokter dapat menjelaskan semua yang ditanyakan Tommy dengan nada yang santai dan sesekali diikuti dengan humor-humor kecil untuk memecah suasana tegang.

__ADS_1


“Katanya kalau setelah sunat itu bekas kulitnya jadi menghitam, dok?  Apakah itu normal?  Atau ada tanda-tanda kalau sedang berpenyakit?”  Tommy begitu antusias melakukan perbincangan dengan dokter didampingi oleh Koko Chan yang sesekali senyum-senyum sendiri melihat wajah Tommy.


“Memang seperti itu, Mas.  Kulit yang sudah terpisah dari tubuh rata-rata memang jadi berwarna gelap.  Bukan karena penyakit, melainkan karena kulit yang sudah terpisah dari tubuh berarti sudah tidak terhubung dengan aliran darah, sudah tidak ada oksigen dan nutrisi yang bersirkulasi di antaranya.  Jaringannya lalu menjadi mati, makanya berwarna gelap,” jelas dokter.


“Oh, begitu rupanya.  Lalu, bagian jaringan mati itu nanti diapakan, dok?  Dibuang begitu saja, atau ada diritualkan atau bagaimana?” tanya Tommy.  “Tergantung.  Ada pasien yang memintanya dan membawa pulang.  Urusan ritual itu adalah urusan masing-masing orang, ya, Mas.  Pokoknya mereka sudah membawa pulang bagian itu,” jelas dokter.


“Dari kami sendiri tidak ada ritual apapun.  Tapi, kalau pasien tidak meminta untuk membawanya pulang, bagian jaringan mati itu kami kumpulkan.  Ada tempat khususnya.  Nanti ada petugas yang akan membawanya, pengambilannya setiap tiga sampai lima kali setiap minggu,” jelas dokter.


“Petugas klinik, dok?” tanya Tommy.  “Bukan, petugas kesehatan juga tapi mereka adalah pihak ketiga yang bekerja sama dengan kami.  Di mereka, jaringan-jaringan mati tersebut akan dihancurkan ke dalam sebuah mesin pembakar khusus yang hanya dimiliki dan dioperasikan oleh pemegang izin, yaitu instansi-instansi seperti mereka,” jelas dokter.


“Oh, seperti itu, ya, dok,” ucap Tommy dengan wajah yang mencerminkan kelegaan.  “Jadi, gimana, Mas Tommy?  Sudah terpuaskan segala yang mengganjal di hati?” ucap Koko Chan dengan senyum yang meledek Tommy.


“Jadi, Masnya tidak perlu khawatir lagi.  Tadi kita sudah bahas teknologi yang dipakai sebagai prosedurnya.  Tidak akan menyakitkan kok, Mas,” sambut dokter yang juga melengkungkan senyuman kepada Tommy.


“Insya Allah, Insya Allah saya semakin mantap untuk melakukannya nanti, dokter.  Semoga ini akan jadi awal yang mulus untuk mengantarkan saya menjadi seorang mualaf,” ucap Tommy dengan pandangan mata yang mengarah kepada dokter dan Koko Chan.  “Masya Allah,” ucap Koko Chan.  “Aamiin…” ucap dokter yang mengucapkannya berbarengan dengan Koko Chan.


Usai melakukan konsultasi, Tommy dan temannya yang bernama Koko Chan itu pun beranjak meninggalkan klinik.  Pria berkulit kuning dan bermata sipit itu benar-benar menemani Tommy dengan sebaik-baiknya.  Ia begitu sabar mendampingi Tommy hari ini.

__ADS_1


__ADS_2