Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Mencari Tahu yang Sebenarnya (revised)


__ADS_3

AAkhirnya Nurul menceritakan kepada Ustadz Beni dan ayah Nurul bahwa Tuan Sudarsono telah memerasnya dengan membawa masalah kematian ibu Nurul.  “Kamu menyetujui tawaran mereka?” tanya ayah Nurul dengan suara keras.  “Kamu setuju untuk melakukan kebohongan?” lanjutnya.


“Tuan Sudarsono tidak memberikan Nurul pilihan, Pak,” ucap Nurul menelan ludah.  “Pak, ada sesuatu yang tidak Bapak ketahui tentang bagaimana ibu meninggal,” lanjut Nurul.  Saat Nurul selesai menceritakan pada ayahnya tentang ramuan buatannya dan menemukan ibunya yang telah meninggal disaksikan oleh pemilik yayasan, wajah ayahnya sepucat mayat.


Ayahnya itu menghempaskan tubuhnya ke kursi, matanya menerawang.  Hal yang mengejutkan Nurul, ayahnya mulai tertawa yang diwarnai kegetiran dan amarah.  “Bapak!” kata Nurul, bergegas menghampirinya.  “Bapak harus bisa menahan diri.  Nurul tahu ini terdengar mengerikan, tapi… “ ucap Nurul.


“Maafkan Bapak, Nurul.”  Suara ayahnya diwarnai kesakitan.  “Bapak hanya marah pada diri Bapak sendiri.  Bapak telah menjauhkan diri dari kamu selama ini dan karenanya Bapak membiarkanmu berada dalam pengaruh jahat Tuan Sudarsono.  Padahal sebenarnya selama ini Bapak bisa mencegahnya terjadi,” ucap ayah Nurul.


“Maksud Bapak?” tanya Nurul.  Ayah Nurul menatap Nurul dengan pandangan sedih, lalu meraih tangan Nurul.  “Nurul, putri Bapak yang tersayang, kita sudah terlalu lama menyimpan sendiri masalah ini.  Ini saatnya Bapak mengatakan kepadamu apa yang Bapak tahu tentang kematian ibumu,” ucap ayah Nurul.


*


Sementara dari sisi Tommy, ia harus membuat keputusan.  Tommy segera kembali ke Jakarta dengan meninggalkan mobil dan supirnya.  Ia terbang sebab tak ada Nurul di sisinya.  Tidak ada alasan baginya melakukan perjalanan panjang, sebab tidak ada yang dinikmati pada perjalanan kali ini.


Tommy masih belum tahu apa yang harus dilakukan.  Ini pasti akan jauh lebih mudah kalau ia bisa menemukan orang kepercayaannya di Jawa Timur yang ditugaskan untuk mencari informasi mengenai kehidupan Nurul di kampungnya.  Orang kepercayaannya itu mungkin bisa mengatakan kepadanya tentang sesuatu yang menjelaskan keputusasaan Nurul, tapi informasi itu belum didapatkannya.


Tommy telah sampai di Jakarta kembali.  Sekarang ia harus memutuskan, apakah ia sebaiknya langsung segera pergi ke kediaman Tuan Sudarsono dan mengkonfrontasinya di rumahnya itu.  Atau ia seharusnya menunggu sampai mendengar kabar dari orang kepercayaannya?


Tommy menelusuri tempat-tempat familiar yang pernah dilewatinya bersama Nurul. Tommy seakan masih sangat hafal momen bersama Nurul.  Betapa menakjubkan bagaimana nafsu dapat memberikan warna yang menyenangkan terhadap lingkungannya, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Tommy mengerang.  Demi Tuhan, ia mengucapkan kata-kata puitis.  Itu adalah dampak yang dialaminya karena perkataan cinta yang diucapkan Nurul.  Ia merasakannya lagi, dentuman jantung yang kencang.  Cinta.  Nurul mencintainya.  Tapi, Nurul tidak bersedia menikah dengannya jika Tommy mengajukan pertanyaan pada Tuan Sudarsono.


Selama beberapa hari mendengarkan semua teori Nurul tentang apa yang membangun suatu pernikahan dengan kokoh, Tommy tahu bahwa Nurul bersungguh-sungguh dengan ancamannya.  Nurul mengancam tidak akan pernah ada pernikahan tanpa cinta.


Tommy merasa sangat kesal.  Ia bisa saja menggeledah rumah Tuan Sudarsono untuk menemukan rahasia apa yang sedang digenggam oleh pria tua itu.  Atau pilihan lainnya ia tetap tutup mulut dan membiarkan Nurul menghadapi Tuan Sudarsono sendirian.


Nurul bukan lawan yang simbang untuk Tuan Sudarsono.  Nurul tidak punya kekuatan, tidak punya kekayaan, tidak punya gelar, tidak punya apapun yang bisa dipakai untuk melawan Tuan Sudarsono.  Nurul seharusnya berterima kasih karena Tommy bersedia terlibat demi kepentingannya.


Tapi, Nurul tidak melakukannya.  Dalam pikiran Nurul yang rumit, campur tangan Tommy hanya memperlihatkan betapa tidak pedulinya Tommy terhadap keberadaan Nurul.


Sebenarnya, Tommy terlalu peduli dengan Nurul, begitu besar rasa pedulinya sehingga pemikiran bahwa Tuan Sudarsono tahu hal-hal buruk tentang Nurul telah membuat darahnya membeku. Apa yang dilakukan Nurul kemungkinan bukan hal yang penting.  Nurul kekasihnya itu tidak pernah melakukan apapun yang benar-benar jahat.  Tommy yakin itu.


Setan telah menguasai logika Nurul yang sangat aneh dan permohonannya serta penolakannya terhadap Tommy dikatakan sebagai alasan agar Nurul bisa selamat.  “Apa yang memberimu hak untuk memutuskan apa yang terbaik untukku saat kamu tidak tahu keseluruhan ceritanya?”  Kata-kata Nurul itu terngiang-ngiang di pikiran Tommy.


Tommy mengerang.  Nurul tidak akan menceritakan kepadanya keseluruhan cerita sebenarnya.  Bagaimana Nurul bisa membuatnya hanya berdiam diri melihat Tuan Sudarsono menghancurkan hidup Nurul?


Tommy memutuskan akan menemukan kebenaran itu dari Tuan Sudarsono dan Nurul akan menikah dengannya, apapun yang dipikirkan Nurul.  Nurul tidak pernah bisa mengancam Tommy.  Tommy adalah seorang konglomerat, ayah Nurul pasti sudah gila jika membiarkan Nurul menolak suatu lamaran yang sangat menguntungkan itu.


Bagaimana jika ketua yayasan pesantren itu menolak Tommy sebagai menantunya?  Bagaimana jika ayah Nurul berprinsip sama seperti yang ditegaskan putrinya?  Bagaimana jika ayah Nurul mendukung Nurul dan menolak untuk mendukung gugatan Tommy?

__ADS_1


Tommy mendengus.  Jadi biarkan saja Nurul hancur.  Biarkan Nurul menjalani hidupnya dengan rasa malu.  Ini bukan salah Tommy jika Nurul bertindak sedemikian bodoh.  Tommy telah melakukan lebih daripada yang bisa dibayangkan setiap orang.  Ia tidak menginginkan seorang istri.  Ia sama sekali tidak membutuhkan seorang istri dan ia lebih baik menjalani hidup sendiri tanpa istri.


Tommy hampir mempercayai pikiran egoisnya itu.  Tommy masih berputar-putar seiring roda mobil taksi yang belum juga kunjung berhenti pada tujuannya.  Kebenarannya adalah Tommy tidak tahan jika memikirkan ia yang tidak bisa menikahi Nurul.  Ia tidak bisa jika ia tidak pernah bisa memiliki Nurul dalam hidupnya.  Kebenaran itu hampir meyakini seluruh tubuhnya.


Anggaplah itu takdir, tapi sejak saat Nurul salah dijemput sewaktu di Jember, Nurul telah terikat dengannya selamanya.  Sebuah takdir.  Pikiran tentang kemungkinan ia akan kehilangan Nurul karena masalah ini telah menggerogoti dirinya seperti luka yang menganga.


Tommy kesal.  Inilah yang terjadi saat seorang laki-laki membiarkan emosi-emosi yang tidak karuan mempengaruhinya.  Bukannya pikirannya bernalar, justru ketidakjelsan yang mengendalikan nasibnya.


Nurul berpikir untuk menggunakan perwujudan cinta yang menggoda untuk membuat Tommy menginginkan dirinya sedemikian hebat sehingga Tommy mau melakukan apapun untuknya.  Ayah Tommy telah melakukan kesalahan itu dulu.


Tommy menegakkan tubuhnya.  Itu tidak benar.  Ayah Tommy tidak pernah mendengar kata-kata cinta dari ibu Tommy.  Ibunya selalu memperlakukan ayahnya dengan kebencian.  Ibunya mengabaikan hadiah berharga yang luar biasa yang ditawarkan ayahnya.  Ibunya menganggap pemberian itu sebagai sesuatu yang biasa dan tidak pernah membalasnya dengan menyerahkan hal yang sama kepada ayahnya.


“Bukan cinta yang menghancurkan, tapi karena kurangnya cinta,” kata-kata milik Nurul memenuhi kepala Tommy.


Kesadaran yang menakutkan melingkupi Tommy.  Selama ini ia menganggap dirinya adalah versi yang lebih bijak dari ayahnya.  Seorang pria yang telah belajar dari teladan ayahnya bahwa emosi adalah sesuatu yang berbahaya.  Namun, bukan ayahnya yang ditiru Tommy, melainkan ibunya.


Apapun yang dikatakan Tommy kepada dirinya, ia sangatlah mendambakan cinta seperti yang pernah dikatakan Nurul.  Ia sangat menyukai pengakuan Nurul yang menyatakan bahwa Nurul jatuh cinta kepadanya.  Ia menyerap cinta kasih itu seperti spons.  Sama seperti ibunya, Tommy menginginkan semuanya tanpa bersedia membalasnya.  Semua hanya kesenangan dan tidak ada satupun tanggungjawab.


Tommy akhirnya memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya, tidak ke rumah Tuan Sudarsono ataupun ke tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2