Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Sebuah Titik Terang (revised)


__ADS_3

Nurul tiba di pesantren dengan berjalan kaki.  Kali ini ada lima orang wanita yang berjalan bersamanya, mengantarkannya masuk ke dalam komplek pesantren.  Betapa tidak, Nurul adalah seorang perempuan yang dikenal dan begitu diandalkan oleh masyarakat sekitar sebagai ahli pengobatan alternatif.


“Assalamu alaikum,” ucap Nurul menyapa ayahnya yang sedang berdiri memberikan instruksi kepada beberapa orang santri yang berjongkok-jongkok di halaman.  “Wa alaikumussalam,” ucap ayahnya dengan mata berbinar.  “Nurul sudah pulang, Nak?”  Ayah Nurul menyambut kepulangan putrinya dengan gembira tampak dari senyum sederhana seorang pria tua yang bersahaja.


Setelah mencium tangan ayahnya, Nurul bergegas mengarahkan ayahnya itu untuk masuk ke dalam rumah.  Dalam benaknya, Nurul mencari-cari cara tentang bagaimana mengatakan kepada ayahnya mengapa ia pulang ke rumah.  Tapi, ia segera menghentikan langkahnya saat tidak hanya ayahnya, tapi ia melihat seseorang baru saja mengetuk pintu yang masih terbuka.


“Ustadz Beni?” gumam Nurul.  Nurul nyaris menghindari menatap mata laki-laki itu, ia masih khawatir bila penyamarannya di Jakarta tercium oleh Ustadz Beni.  “Oh, iya.  Kebetulan sekali.  Kalian sama-sama dari Jakarta kan?  Harusnya Bapak mengabari Nurul dan Nak Beni waktu kalian sama-sama berada di Jakarta,” ucap ayah Nurul.


Untung saja hal itu tak terjadi, kalau tidak, urusan Nurul mungkin bisa lebih runyam daripada ini.  Nurul pun menunda pembicaraannya dengan ayahnya.  Tamu yang baru datang ini pasti punya urusan dengan ayahnya, Nurul enggan mengganggunya.  Yang pasti Nurul menunggu waktu yang lebih tepat untuk bercerita tapi tidak kali ini.


Nurul lalu melakukan tugasnya, permisi ke belakang untuk membuatkan minum.  Setelah kembali dari dapur, sebelum benar-benar sampai ke ruang tamu, sayup-sayup Nurul mendengar Ustadz Beni mengucapkan nama Mirsha di tengah pembicaraannya dengan ayah Nurul.  Langkah Nurul tertunda.  Ia lebih memilih bersembunyi dari balik dinding untuk menguping.


“Dia kan santri Ustadz.  Saya ingin melamarnya dengan bantuan Ustadz, sebab gadis itu enggan menjembatani saya dengan keluarganya.  Tapi saya sudah bertekad untuk mencoba melamarnya, jadi siapa tahu melalui Ustadz jalan atas itikad saya ini bisa lebih mudah,” ucap Ustadz Beni.

__ADS_1


“Melamar Mirsha?” batin Nurul dan ia membelalakkan matanya.  “Mirsha yang santri pindahan dari Jakarta itu?  Anak dari pengusaha besar, Tuan Sudarsono?” ucap ayah Nurul.  “Iya, benar!  Santriwati berbakat yang pernah meraih penghargaan Tahfidz Quran di Jember beberapa tahun lalu,” sambung Ustadz Beni.  “Iya, iya.  Oh, tentu saja Nak Beni mengenalnya ya, waktu itu Nak Beni jadi tim official dari sini,” ucap ayah Nurul.


Mereka pun membahas pertemuan antara Ustadz Beni dan Mirsha baik di Jember maupun di Jakarta, kemudian keduanya bersenda gurau mencairkan suasana.


“Jadi… yang mengajak Nurul kawin lari adalah… Tapi, kalau kawin lari mengapa Ustadz Beni justru meminta bantuan bapak untuk melamar Icha?” batin Nurul.


Nurul lalu melangkah menjumpai keduanya.  “Maaf Bapak, Ustadz, apakah benar Ustadz Beni akan melamar Icha, sahabat saya itu?” ucap Nurul.  Ia meletakkan begitu saja beberapa cangkir teh beserta nampannya di atas meja.


Nurul pun menceritakan kepada ayah dan Ustadz Beni perihal yang terjadi dengan keluarga Icha dan alasan ia dipanggil oleh Tuan Sudarsono ke Jakarta.  Nurul melewatkan bagian cerita ketika ia merubah penampilannya sebagai Maria.  Ia hanya menceritakan bahwa ia dimintai bantuan oleh Tuan Sudarsono dengan menyamar sebagai keponakannya untuk mencari jejak keberadaan Icha.


“Waktu itu karena kami sudah saling mengenal sejak event di Jember itu, jadi Mirsha beberapa kali menghubungi saya.  Dia minta dicarikan sebuah tempat untuk mondok di Jakarta.  Anak manis itu bilang ia begitu ingin mondok karena ayahnya yang jarang di rumah, sibuk dengan bisnis katanya.  Nurul kenal betul bukan bagaimana sikap Mirsha.  Sangat tepat ketika ia mengatakan bahwa ia tidak merasa aman bila tinggal sendirian dan memilih mondok,” ucap Ustadz Beni.


“Jadi?  Icha selama ini mondok?” potong Nurul.  “Ya, saya memberikan rekomendasi tempat mondok,” jawab Ustadz Beni.  Nurul memukul-mukul dahinya dengan gumpalan tangannya karena menahan kesal.  Bisa-bisanya Nurul mengorbankan dirinya ke dalam pergaulan bebas sementara sahabatnya itu berada di lingkungan yang sangat aman.

__ADS_1


“Dia butuh perlindungan, usianya sudah cukup untuk menikah dan melalui obrolan kami secara tidak langsung dia menyatakan kebersediannya untuk menerima pinangan laki-laki yang serius.  Dia mengharapkan seorang laki-laki yang bisa jadi imamnya, bisa membimbingnya di jalan Allah.  Tentu saya tidak salah bukan kalau punya niat untuk melamarnya?  Dan jalan yang mungkin bisa membantu saya adalah dengan bantuan Ustadz Arif,” ucap Ustadz Beni.


“Apa Ustadz tidak pernah mendengar kabar kalau Icha menjalin hubungan dengan laki-laki lain?” tanya Nurul.  “Maksudnya Mirsha berpacaran?” ucap Ustadz Beni.  Ustadz Beni menggeleng.  Saya rasa gadis belia seperti Mirsha dengan lingkungan sebebas di Jakarta sedikit banyaknya mungkin pernah mengenal yang namanya pacaran.  Tapi, saya tidak pernah membahas hal itu,” ucap Ustadz Beni.


Ayah Nurul menangkap mimik yang tidak biasa pada putrinya.  Mimik wajah seakan hendak meledakkan emosi, tapi ditahan, sekaligus sedih juga marah.  “Apa yang sudah Tuan Sudarsono lakukan kepadamu, Nurul?” ucap ayah Nurul.  Ayah Nurul tak ingin membahas mengenai Mirsha kali ini, ia mengkhawatirkan anaknya sendiri.


Mulanya Nurul enggan menceritakan apa yang terjadi di depan kedua laki-laki di hadapannya ini, tapi keduanya memang patut tahu.  Ustadz Beni adalah dalang yang disalahtanggapi oleh Tuan Sudarsono.  Benar kata Tante Lupita, Tuan Sudarsono adalah orang yang terlalu berlebihan dan bodoh.  Ia terlalu protektif kepada anaknya itu.


Akhirnya Nurul menceritakan kepada mereka bahwa Tuan Sudarsono telah memerasnya dengan membawa masalah kematian ibu Nurul.  Tuan Sudarsono dan Tante Lupita memang awalnya belagak meminta bantuan Nurul untuk memecahkan permasalahan mengenai Icha, namun Nurul menolaknya.  Karena, Nurul tidak ingin melakukan sebuah kebohongan.


Sama seperti prinsip ayah Nurul, walaupun kebohongan itu dimaksudkan untuk hal-hal yang baik, tapi itu tetaplah sebuah kebohongan.  Karena penolakan Nurul tersebut, maka Tuan Sudarsono mengeluarkan cara yang tidak Nurul sangka-sangka.  Tuan Sudarsono mengancam akan membongkar kematian ibu Nurul apabila Nurul menolak permintaannya.


Mau tidak mau, Nurul pun menyanggupi permintaan Tuan Sudarsono.  Nurul berpura-pura sebagai anak dari Tante Lupita yang bernama Maria.  Anak Tante Lupita itu memang benar ada dan namanya benar-benar Maria.  Kini anah Tante Lupita yang bernama Maria itu sedang studi di luar negeri, sehingga posisinya di Jakarta bisa digantikan oleh Nurul.

__ADS_1


Nurul tidak melakukan yang seharusnya seperti yang diminta Tuan Sudarsono ketika ia datang meminta izin ke Madura kemudian membawa Nurul.  Nurul tidak benar-benar membantu keluarga mereka mengenai pengobatan tradisional, tapi Nurul melakukan tugas spionase yang sebenarnya membahayakan bagi gadis semuda dirinya.


__ADS_2