
“Siapa dia, Nurul?” tanya ayahnya. “Dia adalah teman Nurul, Pak,” jawab Nurul dengan suara yang tidak meyakinkan. “Bapak, perkenalkan ini Tommy. Tommy, ini bapakku, Bapak Arif Sumantoro,” ucap Nurul.
“Assalamualaikum, Bapak,” ucap Tommy dengan kata-kata yang cepat. “Sejak kapan…” ucap ayah Nurul. “Sebenarnya ada banyak hal yang perlu kita bahas, Pak. Tapi, sekarang bukan waktunya,” ucap Tommy menyerobot.
Mengabaikan cara ayah Nurul yang menatap Tommy, Tommy segera kembali mengarahkan perhatiannya kepada Nurul. “Aku ga akan bicara kepada Sudarsono tanpa izinmu, Nurul. Apa kamu akan membiarkan aku melakukan hal ini untukmu? Aku tahu apa yang kulakukan, aku janji,” ucap Tommy.
“Tommy orang yang baik, Sayang. Dia tahu yang dia lakukan,” ucap Tante Lupita dengan berbisik. Lalu, Tante Lupita melihat di balik bahunya saat mendengar suara Tuan Sudarsono datang. “Biarkan Tommy yang bicara lebih dahulu,” lanjunya.
“Permisi, dengarkan saya…” sela ayah Nurul. “Kami punya solusi, Bapak… Bapak Arif,” ucap Tante Lupita. “Tidak apa-apa, Pak,” ucap Nurul. Senyuman terukir di wajah Nurul ketika seorang Tommy, pria yang selalu memimpin banyak forum kini meminta izin kepada dirinya.
“Nurul ingin melihat orang semuda Tommy mengatasi masalah serumit ini,” ucap Nurul. Nurul menatap ayahnya dengan tatapan yang penuh arti. “Nurul mohon, Pak?” lanjutnya. Ayah Nurul hampir tidak punya waktu saat dengan enggan menyatakan persetujuannya sebelum Tuan Sudarsono menerobos masuk.
“Baiklah, sekarang dimana perempuan sialan itu?” suara Tuan Sudarsono menggelegar, lalu ia terkaget saat ia melihat saudarinya, ketua yayasan pendidikan Icha, musuhnya-Tommy, dan Rudi, semuanya berkumpul di sekeliling Nurul seperti sepasukan tentara yang melindungi ratu mereka.
Tuan Sudarsono tersadar dari rasa terkejutnya. “Keluar kalian semua! Kecuali keponakanku. Aku ingin bicara dengannya berdua saja!” ucap Tuan Sudarsono. Nurul tertawa. Tuan Sudarsono masih berusaha mempertahankan penyamaran ini? Sekarang? Bahkan dengan keberadaan ayah Nurul di sini?
“Jangan menertawaiku, Nak,” seru Tuan Sudarsono. “Kamu tahu apa yang akan kulakukan kepadamu,” lanjutnya.
Ayah Nurul menjadi tegang dan nyaris bangkit dari kursinya, tapi Nurul menangkap lengan ayahnya untuk membuatnya tetap duduk bersamanya. Tommy melangkah maju. “Oh, Jadi apa yang akan Anda lakukan kepadanya?” ucap Tommy.
Sayang sekali Tuan Sudarsono tidak mengenal suasana hati Tommy, berbeda dengan Nurul yang sangat mengenal pria itu. Seandainya mengenal Tommy, Tuan Sudarsono pasti telah menyadari bahwa ia sedang memijak bagian lantai yang berbahaya.
“Ini bukan masalahmu, bocah ingusan! Pergilah!” ucap Tuan Sudarsono. “Enak saja! Aku datang ke sini untuk berbicara dengan Anda tentang ‘keponakan Anda’. Aku ingin menikah dengannya,” ucap Tommy.
__ADS_1
Nurul menatap Tommy dengan pandangan marah. Jika ini merupakan ide Tommy tentang solusi yang dimilikinya, itu tidak akan berhasil. Ayah Nurul mulai terlihat marah, tapi Nurul mengencangkan genggaman di lengan ayahnya itu, mendesaknya untuk tetap tutup mulut.
“Menikah dengannya?” Tuan Sudarsono tersedak. “Aku tidak akan mengizinkannya. Sekarang pergilah! Dan ajaklah temanmu pergi bersamamu,” ucap Tuan Sudarsono.
“Tentu Anda lebih suka jika aku menikahi keponakanmu daripada putrimu,” ucap Tommy. Pernyataan yang diucapkan dengan nada datar itu menarik perhatian setiap orang. Tatapan Tuan Sudarsono sepenuhnya diwarnai amarah. “Apa maksudmu?” ucapnya.
“Maksudku, akulah orang yang berusaha kawin lari dengan putri Anda, Icha. Aku tahu Anda sedang mencariku. Aku mendengar tentang orang-orang yang telah Anda sewa. Selain itu, aku tentu saja telah berencna untuk mencobanya lagi,” ucap Tommy.
*
Tommy mengalihkan tatapannya ke arah Nurul. “Tapi kemudian aku bertemu dengan keponakanmu yang menawan, dan semua ketertarikanku kepada putrimu pun segera lenyap tanpa bekas,” ucap Tommy.
Nurul menatap Tommy, ia terkagum, tersentuh dan merasa senang. Tommy telah muncul dengan solusi yang sempurna. Pertama, ia menyatakan diri sebagai bajingan yang ingin dihancurkan Tuan Sudarsono. Lalu, ia melenyapkan alasan Tuan Sudarsono untuk melakukan hal itu dengan cara memberikan pernyataan bahwa Tommy tidak lagi tertarik dengan Icha. Itu ide yang cemerlang dan sempurna.
“Jadi Anda lihat, Anda harus mengizinkan pernikahan ini, karena sudah jelas kalau saya tidak akan menikahi putri Anda,” ucap Tommy.
Ayah Nurul bangkit dari kursinya, tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. “Jangan dengan pemuda ini, Tuan Sudarsono. Bukan dia yang melarikan putrimu, saya bisa membuktikannya,” ucap ayah Nurul.
Tommy memutar tubuhnya, wajahnya dipenuhi amarah karena rencananya dipatahkan dengan sangat cepat. “Bapak Arif, Bapak tidak memahami peliknya situasi ini!” ucap Tommy. Nurul memutuskan untuk ikut menyela. “Ga apa-apa, Tom.” Nurul bangkit dari kursinya. “Bapak tahu betul situasinya. Biarkan Bapak bicara,” lanjut Nurul.
Tommy sejenak menatap Nurul, lalu ia mengangguk dengan kasar. Tapi, untuk pertama kalinya Nurul melihat ketakutan di wajah Tommy. Ketakutan untuk Nurul. Hal itu menghangatkan hati Nurul yang terdalam.
“Apa yang Ustadz tahu tentang semua ini?” tanya Tuan Sudarsono. “Ada pemuda lain. Dia adalah salah satu pendamping Icha sewaktu putrimu itu mengikuti acara di Jember,” ucap ayah Nurul. Saat Tuan Sudarsono menatapnya, ayah Nurul melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
“Dia adalah orang yang menarik hati putrimu itu. Bukan melarikan Icha lebih tepatnya, tapi Icha yang meminta dia mencarikan pondok pesantren untuk tempat Icha tinggal sekarang. Pemuda itu akan meminta putri Tuan dengan santun, melamarnya secara baik-baik, tapi putrimu itu begitu tertutup dan mencegahnya bertemu dengan Tuan,” ucap ayah Nurul.
Cerita baru ini membuat semua orang terpana. Tuan Sudarsono menjadi murka, Rudi terlihat bingung karena ia sama sekali baru tahu. Tapi Rudi cukup menerima karena kenyataan yang ia tahu bahwa Icha tinggal di pondok pesantren itu sudah lebih dahulu didapatkannya bersama Tante Lupita. Hal itu memvalidasi cerita ayah Nurul.
“Pemuda itu bernama Beni Nugroho,” lanjut ayah Nurul. “Beni?” Tante Lupita menatap Rudi dan mereka kini saling beradu tatap. “Ustadz Beni?” Tante Lupita menunjukkan gambar yang sempat ia rekam di ponselnya saat lelaki itu memarahi bawahannya di stand bazar. “Benar, ini orangnya,” ucap ayah Nurul.
“Ya Tuhan! Hahaha… Benar-benar sebuah karunia! Dia punya perhatian yang protektif dan apa adanya, tegas, tepat seperti yang biasa diterima Icha dari papanya!” ucap Tante Lupita.
Nurul tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya, tapi sekarang setelah ia bisa melihatnya, ia juga ikut tertawa. Tentu saja, sekarang segala sesuatu akan membuatnya tertawa.
Sayangnya, tawa Nurul semakin menambah murka Tuan Sudarsono. “Icha-ku akan menikah dengan seorang guru biasa? Enak saja!” ucap Tuan Sudarsono.
“Ga ada yang bisa kau lakukan, Kak!” ucap Tante Lupita. “Sampai kau bisa bersikap lebih baik, aku akan senang jika keponakanku dan calon suaminya itu menikah lalu tinggal bersamaku di luar negeri, jauh darimu!” ucap Tante Lupita.
Merasa satu sumber kepuasannya dirampas, Tuan Sudarsono berputar ke arah Nurul dengan ekspresi garang. “Ini semua gara-gara kau, bocah!” ucap Tuan Sudarsono. “Kau tidak takut masuk penjara, huh?” lanjutnya.
Nurul tersentak saat mendengar kedengkian dalam suara Tuan Sudarsono. Tapi, Tommy menempatkan diri si antara Nurul dan Tuan Sudarsono. “Menjauhlah darinya, atau aku akan membunuhmu, aku bersumpah akan melakukannya!” ucap Tommy.
“Lakukan apa yang kau inginkan, bocah! Tapi kau tidak akan bisa mencegahku untuk menghancurkan dia dan ayahnya,” ucap Tuan Sudarsono. Suara Tuan Sudarsono semakin terdengar tidak menyenangkan. “Dan aku berpikir kalau kau akan berusaha mencegahku setelah mendengar kebenaran tentang wanita muda yang jahat ini. Tahu? Dia telah membunuh ibunya!” ucap Tuan Sudarsono.
“Saya tidak membunuh Ibu!” teriak Nurul bersamaan dengan teriakan Tommy, “Aku tak peduli!” Lalu keduanya saling menatap. “Kamu ga membunuhnya?” tanya Tommy. Nurul ternganga menatap Tommy. “Kamu benar-benar mengira aku melakukannya?” tanya Nurul.
“Iya… orang suruhanku melakukan penelusuran di Madura dan dia mendapatkan berita…” Merasa dirinya semakin tergagap dengan setiap kata, Tommy menambahkan dengan tegas, “Itu tidak lagi menjadi masalah sekarang, kamu tahu itu, Nurul. Ibumu menderita dan kamu punya hati yang lembut. Aku bisa memahaminya," ucap Tommy.
__ADS_1
"Memang bukan masalah," kata Nurul saat tawa berhamburan dari tenggorokannya. Ia seharusnya marah karena Tommy memikirkan kemungkinan bahwa ia adalah seorang pembunuh. Tapi, Tommy jelas tahu semua situasinya.