
“Oh, Nurul Sayang… Seandainya kita sedang ga berada di tempat ini,” ucap Tommy. Tommy tidak sabar, yang terlintas di pikiran keduanya tentu Tommy akan menurunkan atasan Nurul dan mencumbu Nurul seperti yang dilakukannya di galeri. Tapi, ruangan ini terlalu sempit untuk mereka melakukan itu.
Sungguh Nurul adalah perempuan yang tak tahu malu karena ia juga menginginkan hal yang sama dengan Tommy. Tommy menurunkan tangannya, lalu meraih tubuh Nurul dan merapatkannya pada bagian yang mengeras di dalam celana Tommy. “Kamu ngerasain itu ga? geram Tommy. “Itulah bukti seberapa besar aku berhasrat kepadamu. Aku selalu begitu setiap kali melihatmu,” ucap Tommy.
“Apapun peran yang kamu mainkan, baik itu Maria atau Ratu Inggris sekalipun, kamu tetap Nurul. Kamu masih selalu adalah Nurul, perempuan yang membuatku sangat bernafsu hingga ga bisa membuatku tidur nyenyak setiap malam. Aku menginginkanmu sejak malam kita bertemu di Jember,” ucap Tommy.
Sekarang Tommy mengatakan suatu kebohongan. Nurul menyentakkan tangannya menjauh. “Malam itu kamu bilang akan menghargai kereligiusanku! Kamu cuma basa-basi, ya kan?” ucap Nurul. Tommy mencondongkan tubuhnya ke depan sampai mulutnya berada di dekat telinga Nurul. “Terus kenapa aku minta sekali lagi untuk menciummu?” ucap Tommy berbisik.
Tommy memberikan ciuman di lekuk telinga Nurul, lalu di cupingnya, lalu di bagian kulit sensitif yang berada di bawah telinganya. Tommy mencium aroma parfum yang menyegarkan. Ada gairah yang ikut terhirup. Getaran antisipasi merambati tulang belakang Nurul.
Tommy melanjutkan dengan suara keras. “Percayalah kepadaku. Aku tidak mencium para perempuan yang tidak memicu hasratku. Dan ku tahu seharusnya tidak bisa, tidak boleh menginginkanmu,” ucap Tommy.
“Karena aku hanya gadis kampung yang membosankan?” ucap Nurul. “Bukan,” kata Tommy dengan tegas. “Karena kamu manis, lugu dan masih perawan,” lanjutnya.
Nurul memalingkan kepalanya untuk menatap Tommy. Mulut mereka hanya terpaut beberapa senti. Mereka begitu dekat sehingga Nurul bisa menghirup aroma napas Tommy yang jantan. “Apa salahnya menginginkan seorang perawan?” Nurul tidak bisa menahan kepahitan dalam suaranya. “Banyak cowok yang menginginkan keperawanan,” lanjutnya.
__ADS_1
“Para perawan adalah makhluk yang berbahaya. Mereka mempercayai cinta dan perasaan romantis. Aku udah lama menyerah untuk omong kosong itu. Seorang perawan mengharapkan seorang pria menjual jiwa kepadanya, dan aku tak bisa melakukan itu. Itu bukan sifatku,” ucap Tommy.
Tidak ada yang suka mendengar kebenaran untuk merusak rayuan yang benar. Nurul membenamkan kukunya dalam genggaman telapak tangannya, mencegah agar ia tidak menangis. “Oh, iya, aku lupa. Kamu itu cowok berhati batu. Kamu hanya bisa merasakan… hasrat,” ucap Nurul.
Tatapan Tommy mengunci tatapan Nurul. Untuk pertama kalinya Nurul merasa Tommy terlihat tidak pasti, begitu meragukan sesuatu.. Lalu wajah Tommy kembali normal seperti semula. “Iya, benar sekali apa katamu. Aku tahu akhirnya kamu bisa memahamiku,” ucap Tommy.
Nurul mendorong Tommy menjauh. “Aku ga akan pernah bisa memahamimu, Tommy. Bagaimana mungkin seseorang bisa hidup tanpa cinta, tanpa emosi yang lembut? Bagaimana kamu bisa punya kemauan untuk bangun dari tempat tidurmu di pagi hari?” ucap Nurul.
“Aku ga punya masalah untuk bangun dari tempat tidur. Aku ga perlu cinta untuk menjalani hidupku sepanjang hari. Aku udah mempelajarinya sejak aku masih sangat kecil,” jelas Tommy. “Maksud kamu apa?” tanya Nurul.
“Aku ingin menolongmu, Nurul. Kamu bisa percaya sama aku, percayakan semua rahasiamu padaku. Aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan untuk melindungimu dari Sudarsono dan keluarganya,” lanjut Tommy. Kewaspadaan melanda Nurul. “Sudarsono?” ucap Nurul membulatkan matanya.
“Udah jelas kalau mereka punya sesuatu untuk memerasmu. Kalau enggak, kamu ga akan setuju melakukan kegilaan ini. Aku bisa menolongmu, Nurul. aku akan bantu kamu menghadapi mereka, percayalah,” ucap Tommy.
Kepanikan melanda Nurul.Jika Tommy mulai bertanya kepada Tuan Sudarsono… “Ga seorangpun bisa menolongku, terutama kamu, Tommy. Kumohon, Tommy, biarin aja aku seperti ini!” ucap Nurul. “Aku ga bisa,” jawab Tommy. “Kenapa ga bisa?” tanya Nurul. Nurul menggenggam erat tangannya saat ia mendekati Tommy. “Ini ga ada kaitannya dengan kamu. Ini semua akan segera selesai. Terus aku akan kembali ke Madura dan menghilang dari kehidupanmu. Kamu ga akan terganggun dengan kehadiranku lagi,” ucap Nurul.
__ADS_1
“Ga bisa! Aku bukannya terganggu olehmu, Nurul! Aku cuma mau menolongmu!” ucap Tommy. “Aku ga butuh pertolonganmu! Apa kamu ga bisa memahaminya dengan kepalamu yang besar itu? Tahu ga, Tommy… satu-satunya cara kamu menolongku adalah dengan menjauh dari masalah ini!” ucap Nurul.
“Jadi, kamu ga mau mengatakan apa yang sedang terjadi?” tanya Tommy. “Gak,” Nurul memelankan suaranya. “Kumohon berjanjilah kepadaku kalau kamu ga akan ikut campur. Kamu ga boleh ikut campur, Tommy!” ucap Nurul.
“Aku ga akan ikut campur, tapi aku ga akan menjauh darimu juga,” ucap Tommy. “Ya ampun, Tommy… Kenapa sih kamu sangat ingin menghancurkan hidupku?” tanya Nurul. “Aku ga mau menghancurkan hidupmu. Aku berusaha mencegahmu supaya kamu ga menghancurkan hidupmu,” ucap Tommy.
“Peran ini… peran yang kamu lakukan dengan menggoda para cowok dan merubah penampilanmu ini. Ini lebih berbahaya daripada yang kamu sadari. Terutama, jika kamu merayu mereka dengan genit seperti kamu merayuku saat kita bercinta!” ucap Tommy.
Nurul ingin berharap pada nada cemburu dalam suara Tommy, tapi ia tahu yang terbaik. “Satu-satunya cowok yang berbahaya bagiku adalah kamu!” ucap Nurul. “Hah? Ga salah? Dan Brian? Apa dia belum pernah menyentuhmu? Apa dia belum pernah mengambil keuntungan darimu?” Pertanyaan itu sangat mengejutkan Nurul sehingga ia tidak bisa menahan rona di wajahnya.
“Kayaknya memang dia udah melakukannya,” geram Tommy. “Dasar Brian sialan!” ucap Tommy. “Itu adalah masalah yang bisa kuatasi,” sela Nurul. “Aku ga sebodoh dan senaif yang kamu pikirkan, Tommy. Aku tahu bagaimana menangani cowok seperti Brian!” ucap Nurul.
Tommy tertawa kasar. “Iya iya, aku paham, setelah apa yang udah kita lakukan di galeri,” ucapnya. Nurul semakin tidak bisa menahan rona di wajahnya. Sungguh tega Tommy mengingatkannya betapa sembrononya Nurul bersikap waktu di galeri itu. Nurul ingin segera mengakhiri percakapan ini. Ia mendorong tubuh Tommy keras-keras dan membuka kasar pintu yang begitu sulit ia buka itu.
“Urusan kita belum selesai, Nurul. Kita akan menyudahi ini sekarang tapi percayalah, aku ga akan menjauh darimu. Ga akan sampai aku bisa mengetahui alasan tentang masalah ini,” ucap Tommy. Setelah itu Tommy membuka pintu itu. Nurul keluar dengan segera. Langkahnya begitu cepat mendahului Tommy meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1