Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Pasca Percekcokan Brian dan Tommy


__ADS_3

Sebuah percekcokan telah terjadi di depan umum.  Ketika Nurul atau Maria sedang menghabiskan waktu mereka di sebuah galeri, Tommy datang.  Adu mulut tak terhindarkan di antara Tommy dan Brian.  Mereka akhirnya saling serang.  Tentu saja tubuh Tommy yang lebih berisi dibandingkan Brian membuat Brian kalah.


Nurul yang berada di pihak Brian pun membelanya saat Brian sudah tersungkur.  “Cukup!  Cukup Tommy!  Kalau lu lanjutin semua ini, berarti lu benar-benar pengecut yang hanya berani menyerang lawan yang udah ga berdaya!” bentak Nurul sambil memangku kepala Brian.


“Pengecut!”  Istilah itu menghentikan aksi Tommy.  Sebagai seorang laki-laki ia paling membenci sikap seperti itu.  Nurul pun mengajak Brian pergi dari sana.  Mereka pulang ke rumah Maria.  Dengan keadaan wajah yang babak belur seperti itu, Tante Lupita mempersilahkan Brian masuk.


Nurul sebagaimana kemampuannya dalam pengobatan, jiwanya pun terpanggil untuk merawat luka-luka memar di wajah Brian.  Termasuk juga luka memar di perutnya yang sudah dihajar oleh Tommy.  Nurul selalu peduli dengan siapapun yang terluka, bukan sebuah simpati khusus kepada Brian. Nurul hanya menjalankan tanggung jawabnya sebagai ahli pengobatan.


Tidak demikian dengan Brian.  Brian menangkap kepedulian Maria adalah bentuk simpatinya khusus untuk Brian.  Nurul mengelap lembut luka di tepi bibir Brian yang pecah  dengan kain yang dicelupkan pada air hangat.  “Aw!”  Brian mengaduh karena merasakan perih.  “Tahan-tahan, Kak.  Biar cepat sembuh.  Kalau ga diginiin bisa infeksi,” ucap Nurul.  Mata Nurul benar-benar fokus dan wajahnya begitu dekat dengan luka itu.


Brian memandangnya dalam-dalam.  Dalam hati Brian ingin bergerak maju menyambut wajah cantik yang ada di depannya itu.  Ia melihat bibir mungil yang sedang berbicara itu, mereka bergerak-gerak.  Kalau bukan berada di rumah Maria, mungkin Brian sudah mendapatkan bagian wajah yang manis itu.


“Lain kali ga usah ngejabanin ocehan-ocehan Tommy lagi.  Berabe!”  ucap Nurul memecah lamunan Brian.  “Dia orangnya memang begitu.  Gua udah kenal lama sama dia, udah bukan hal yang aneh lagi buat gua,” jawab Brian.  “Hah?  Udah berapa kali lu bonyok kaya gini, Kak?” tanya Nurul sembari memeras kain basahnya.


“Udah ga kehitung.  Bayangin aja, udah tujuh tahunan gua sama tu anak,” jawab Brian.  “Tujuh tahun?  Heran deh gua, Kak.  Kalian sering sama-sama tapi suka berantem kaya gini.  Sebenarnya yang bikin betah lu bareng dia itu apa sih?” tanya Nurul penasaran.

__ADS_1


Hal yang membuat Brian selalu bersama dengan Tommy tentu saja pemanfaatan yang dilakukannya kepada Tommy.  Namun, tentu saja bukan hal itu yang diceritakannya kepada Maria.  “Tommy itu sosok yang kesepian.  Dia tinggal sendiri di rumahnya.  Kehidupan bokap nyokapnya ga jelas.  Selain karena kita berdua tetanggaan, dia juga memang selalu butuh gua.  Tahu sendiri gua orangnya rame begini.  Beda dengan dia yang dingin.  Dia selalu butuh gua,” jelas Brian.


Cerita tersebut cukup logis dan Nurul mempercayainya.  Ia sering mendengar bahwa Tommy memang orang yang seperti diceritakan Brian.  Ia juga jarang mendengar kabar tentang keluarga Tommy.


“Butuh tapi suka ninju?” gumam Nurul.  “Walaupun sering sama-sama, gua dan Tommy punya prinsip yang beda banget.  Dia adalah seorang aktivis kampus, suka mengkritisi dunia perpolitikan.  Obrolan di antara kami soal isu-isu yang dia angkat selalu bertentangan dengan pendapat gua.  Menurut gua dia terlalu idealis, ga realistis.  Segala hal yang membuat nyaman hidup kita udahlah, ga usah dikorek-korek lagi.  Sementara dia maunya semua serba bersih, semua harus serba direformasi.  Pokoknya banyak hal-hal konyol yang jadi prinsip dia,” jelas Brian.


Nurul pun mengangguk paham dengan penjelasan Brian.  Semula Nurul menganggap kalau percekcokan Tommy dan Brian dikarenakan dirinya.  Dua orang lelaki yang memperebutkan seorang perempuan adalah hal yang biasa.  Kini Nurul pun mengerti posisinya.  Tidak mungkin baginya bisa membuat kecemburuan Tommy tersulut karena disebabkan oleh perasaannya kepada Nurul atau Maria.


Bagi Nurul, Brian dan Tommy hanya dua orang laki-laki yang selalu beradu pembuktian diri.  Memperebutkan Maria adalah salah satu cara pembuktian diri.  Kini Nurul harus berhenti mengkhayal kalau suatu saat nanti Tommy benar-benar akan menyimpan perasaan kepadanya.  


Usai merawat luka-luka Brian, ia pun pamit pulang, termasuk kepada Tante Lupita.


“Kalian dekat sekali, ya?” ucap Tante Lupita kepada Nurul.  “Kak Brian adalah kandidat penelusuran Nurul, Ma.  Dia bisa membawa kita kepada Icha.  Ada saksi yang bilang ke Nurul kalau Brian berhubungan asmara dengan Icha,” ucap Nurul kepada Tante Lupita.


“Oh ya?  Progres yang bagus sekali, Sayang!” ucap Tante Lupita dengan wajah yang senang.  

__ADS_1


Tante Lupita lalu memiringkan kepalanya dan mengerutkan dahinya.  “Tapi… “ ucap wanita itu.  “Tapi kenapa, Ma?” tanya Nurul penasaran.  “Entahlah, Sayang.  Semoga ini hanya firasat Mama saja yang salah mengira.  Cara Brian melihat mata kamu, sikapnya, itu menurut Mama menunjukkan kalau dia tertarik sama kamu, loh!” ucap Tante Lupita.


Nurul berpikir.  Ia mengingat dengan cerita seorang mahasiswi yang mengatakan bahwa Brian telah meninggalkan calon pengantinnya demi bersama Icha.  Bukan tidak mungkin sekarang Brian tertarik kepada Nurul walaupun telah menjalin hubungan dengan Icha.  Tapi hal ini tidak diceritakan Nurul kepada Tante Lupita.  Sifat Brian yang seperti itu akan membuat Tante Lupita menarik kebebasannya untuk beraksi sendiri.  Beraksi dengan pendampingan Tante Lupita hanya akan menghambat dirinya.


“Mungkin Mama salah menilai.  Selama ini Kak Brian ga menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke romantisme saat bersamaku.  Aku rasa dia hanya menganggapku sebagai teman.  Kita berdua sama-sama asik, punya kebiasaan dan minat yang nyambung, selalu rame, itu doang kok Ma,” jelas Nurul.


“Kalau gitu, kamu lanjutkan penelusuran kamu, Sayang.  Mama percaya sama kamu.  Kita akan segera menyelesaikan perkara ini, Icha akan segera kita temukan,” ucap Tante Lupita.  “Ma, kenapa sih, Om Sudarsono ga lapor polisi aja?” tanya Nurul.


“Kakak Mama itu seorang pebisnis kotor, Sayang.  Melibatkan polisi adalah hal yang sebisa mungkin dihindari.  Khawatirnya bukan cuma kasus Icha yang terbuka, tapi semua kelicikannya di dunia bisnis juga terbuka.  Sampai sekarang Sudarsono masih menganggap hilangnya Icha ini adalah karena persaingan bisnis, atau minimal Icha dimanfaatkan oleh laki-laki yang mengincar harta keluarga ini saja,” jelas Tante Lupita.


“Menurutku Icha orangnya memang pemalu, ga berpengalaman dengan laki-laki.  Karena, kita tahu sendiri perlakuan papanya itu protektifnya udah berlebihan banget.  Tapi, Ma, kayanya Icha ga sebodoh itu deh?  Icha pasti tahu laki-laki yang benar-benar bisa dia percaya mana yang enggak.  Icha kan udah gede, Ma,” ucap Nurul.


“Entahlah, Sayang.  Kamu kan berhubungan dengan Icha hanya sebatas saat Icha sama-sama kamu aja.  Sementara waktu Icha sudah kembali ke Jakarta, kita ga tahu pergaulan Icha seperti apa.  Iya kan?  Lingkungan akan mempengaruhi seseorang sayang,” ucap Tante Lupita.


Memang benar apa yang terakhir Tante Lupita katakan.  Buktinya sangat terpampang nyata.  Nurul kini telah bertransformasi dan merasa begitu nyaman dengan keadaannya sekarang.  Berbeda dengan dulu, di mana lingkungannya begitu kondusif menjaga prinsip-prinsip pergaulan antar muda mudi.  Bukan lingkungan sebebas kota metropolitan tempat Nurul tinggal sekarang.

__ADS_1


__ADS_2