Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Brian Menyentuh Nurul?


__ADS_3

"Ngapain lu di sini? Mau nonton penderitaan gua?" ucap Brian kepada Tommy.  "Harusnya iya, tapi gua mau bantuin Maria," jawab Tommy.  "Ya, lakukan sesuatu yang berguna," ucap Nurul.


Tatapan Nurul yang tenang dan jelas terarah kepada Tommy untuk pertama kalinya semenjak kedatangannya sejak tadi.  Nurul memberikan kain lap pada Tommy.  "Sobek kain itu jadi beberapa potongan, bisa kan?" ucap Nurul.


"Heh! Jangan kasih kain itu sama Tommy!  Dia bakal mencekik gua, atau meracuni gua!" ucap Brian.  Tommy menggigit ujung kain itu dengan giginya lalu menyobeknya.  "Harusnya memang iya.  Gua pingin banget buat lu mampus.  Dunia akan lebih baik tanpa cowok bego yang melukai dirinya sendiri dengan gelas," ucap Tommy.


"Dasar anjr't lu!" ucap Brian setengah bangkit dari kursi.  "Cukup! Kalian berdua, dasar bocah!" ucap Nurul sembari menarik kembali Brian ke kursinya.  "Lu ga nyelesein masalah, Tom!"  Nurul menatap Tommy.  "Lagian lu juga, ngapain sih sampe berantem mulu sama Brian.  Kalau enggak dia kan ga mungkin terpancing jadi berbuat kayak gini!" lanjut Nurul.


"Ya mana gua tahu kalau dia ga bisa diajak bercanda," ucap Tommy tanpa rasa menyesal sambil memberikan potongan-potongan kain kepada Nurul.  Nurul mengambil potongan kain itu dengan tatapan marah.


Setelah meremas rosemary dan bawang putih dengan jemarinya, ia membubuhkan campuran itu ke luka Brian.  Ia pun membebatnya.  "Itu bukan cara becanda.  Dasar lu aja yang pingin ngelawan Brian dan menunjukkan ke semua orang soal kehormatan lu sebagai aktivis," ucap Nurul.


Kemarahan Nurul membuat Tommy terpana sesaat.  Apakah seperti itu yang dipikirkannya tentang Tommy?  Brian mengawasi mereka berdua, senyuman perlahan menghiasi bibirnya.  


"Bener banget, Maria.  Lu mengenal cowok ini dengan baik.  Dia memang suka merendahkan dan nyepelein orang, merasa kegiatan-kegiatannya paling penting dan paling terhormat.  Batu seperti dia pasti ga bisa memahami cowok yang punya perasaan peka macam gua," ucap Brian.


Brian mengatupkan tangannya pada tangan Nurul saat ia membebat lukanya.  "Atau kebaikan dan ketulusan perempuan sebaik lu, Maria," lanjutnya.  


Api cemburu membakar Tommy.  Saat Nurul diam saja, api cemburu itu semakin berkobar.  Dengan cepat Nurul menyelesaikan bebatannya pada tangan Brian yang terluka.  "Ada yang lupa gua minta dari orang dapur.  Gua mau mengambilnya dulu," ucap Nurul.

__ADS_1


Segera setelah Nurul pergi Brian bersandar kembali ke kursi dan memberikan tatapan mencela kepada Tommy.  "Ternyata gua salah.  Dia sangat jago ngobatin orang ya?  Dia punya sentuhan yang lembut.  Gua kira ga cuma godaannya aja yang jago…" ucap Brian.


Pandangan Tommy mengabur karena kabut kemarahan menghalangi penglihatannya.  "Lu, kalau berani-beraninya ngedeketin Maria, awas lu!" ucap Tommy.  Brian tersenyum, ia mencermati bebatan tangannya dengan sangat senang.  "Emang lu kira Maria suka sama siapa?" ucap Brian.


"Gua peringatin lu buat ngejauhin Maria," ucap Tommy.  "Gua sih mau aja ngejauhin Maria, tapi lu lihat sendiri kan kalau dia ga bisa menjauhkan tangannya dari gua," jawab Brian.  


"Lu mimpi doang bisanya.  Kasihan Maria cuma ngabis-ngabisin waktunya buat nolongin cowok idiot macam lu," ucap Tommy.  Tatapan Brian menuju ke Tommy.  Tatapan itu begitu sebal dan mencela.  "Oh ya?  Nolongin cowok yang jago nyium dia kali maksud lu," ucap Brian.


Wajah Tommy memucat.  Ia mengatakan kepada dirinya sendiri kalau Brian sedang berbohong hanya untuk memanas-manasinya.  Tapi, kalau diingat-ingat Nurul pernah terlihat merona saat nama Brian disebut.


"Tahu ga, Maria jago nyium, rasanya seperti habis dicium bidadari atau malaikat," ucap Brian.  "Dan dadanya itu loh… uhh… " lanjutnya sembari memeragakan memeras-meras sesuatu dengan tangannya.


"Jangan bilang kalau lu juga naksir sama dia?  Dia itu tipe cewek yang cocok buat gua, bukan orang terhormat seperti lu!  Lagian gua akan menikahinya," ucap Brian.


Perkataan Brian seperti siraman air dingin yang mengejutkan wajah Tommy.  "Menikahinya?  Apa benar Brian mau menikahi Nurul?  Bahkan dia ga tahu siapa Maria yang sebenarnya!" batin Tommy.


Yang terlebih penting , apakah Nurul mau menikah dengan Brian?  Apa alasan ia membiarkan seorang laki-laki menyentuhnya?  Apakah Nurul mau mendapatkan suami kaya?


Tidak, Tommy tidak percaya kalau Nurul punya niatan seperti itu.  Tommy mendorong Brian menjauh dengan sumpah serapah.  "Dasar tukang bohong, penggibah!" gumamnya.

__ADS_1


"Bohong?  Kalau ga percaya lu tanya aja sama Maria," ucap Brian.  Ia mengebaskan debu yang menempel di pakaiannya.  "Atau ga usah aja lu tanyain, karena gua tahu lu ga akan suka dengan jawabannya," lanjut Brian.


Dengan kerutan amarah menghiasi dahinya, Tommy menghampiri Tommy.  Si keparat itu berdiri tegak, tawa kejam keluar dari mulutnya.  "Jadi laki-laki yang ga punya perasaan akhirnya nemuin lawan yabg sebanding ya?  Baguslah, gua harap Maria bikin lu sakit hati," ucap Brian lalu ia melangkah pergi.


Tommy masih berdiri di tempatnya.  Kata-kata ejekan Brian berkecamuk di benaknya.  Itu semua hanya kebohongan, jelas Brian adalah seorang pembohong.  Nurul tidak akan membiarkan Brian menyentuhnya.


Sumber siksaan Tommy berada di kepalanya.  Nurul terpana saat melihat Tommy.  "Dimana Brian?  Dia butuh minuman ini untuk meredakan rasa sakitnya," ucap Nurul.


"Bener-bener kepedulian yang penuh perhatian untuk seseorang yang ga punya pendirian," ucap Tommy.  "Aku pingin tahu kenapa rasa sakit Brian begitu mengganggumu," ucap Tommy.  "Aku ga mau lihat siapapun terluka.  Di rumah aku juga selalu mengobati orang.  Itu keahlianku," ucap Nurul.


"Dam memberikan mereka dengan bebas menyentuhmu juga adalah keahlianmu?" tanya Tommy.  Nurul menjadi kaku.  Nurul rasanya belum menceritakan apa yang pernah terjadi antara ia dengan Brian kepada siapapun kecuali Tante Lupita.  Tak mungkin Tante Lupita menceritakannya kepada Tommy.  Mereka tidak terlalu akrab untuk membicarakan ini.


"Dia… dia menceritakannya kepadamu?" tanya Nurul gugup.  Tidak ada bantahan, tidak ada protes, hanya ada rasa bersalah.  Tommy merasa perutnya ditusuk-tusuk paku, seperti baru saja terserang teluh yang menyakitkan.  


"Iya.  Dia senang banget membual tentang gimana dia mencium dan membelaimu," ucap Tommy.  "Enggak!  Dia ga melakukannya!"  Nurul terdiam sejenak, kebingungan terpampang di wajahnya.  "Maksudku… maksudku itu ga seperti yang kamu bayangkan," ucap Nurul.


"Jadi si brengsek Brian itu ga berbohong?" tanya Tommy dengan begitu emosi.  Kata-kata itu terasa seperti kotoran di mulut Tommy.  "Udah berapa banyak cowok lain yang mengentuhmu?" lanjutnya.


Kebingungan Nurul memudar.  Kini Nurul yang berganti marah.  "Tega banget kamu, Tom! Jadi ga masalah gitu kamu menyentuh seluruh tubuhku, meskipun jelas kamu bilang kalau kamu ga berniat menikahiku!  Tapi orang lain ga boleh menyentuhku?  Cuma kamu yang boleh, gitu?" protes Nurul.

__ADS_1


__ADS_2