
Suatu kenikmatan duniawi telah menjerat Tommy, menghancurkan semua prinsip kesopanan atau perasaan. Tommy harus menyentuh seluruh tubuh Nurul, berpesta dengan tubuhnya, meraba kaki dan lengan serta dada yang membuat Tommy gila.
Nurul melepaskan mulutnya dari mulut Tommy. Rasa panik tergambar di wajahnya. “A-apa yang kamu lakukan?” tanya Nurul. “Bermain dengan api,” gumam Tommy, lalu ia menangkap mulut Nurul kembali.
“Api?” batin Nurul saat Tommy menyapukan tangan yang besar dan mahir di sepanjang tubuh Nurul sampai ke pinggangnya, lalu turun ke pinggulnya. Api itu seperti tumpukan batu bara yang membara dalam nyala api. Itulah yang dirasakan Nurul di sekujur tubuhnya, di dadanya, di perutnya, hingga tempat rahasia yang ada di antara kedua kakinya.
Mulut dan tangan Tommy mengembara di seluruh tubuh Nurul, dan seperti orang bodoh Nurul menyerahkan tubuhnya dengan mudah. Menyerah pada desakan untuk balik menyentuh Tommy. Nurul mengarahkan jari-jarinya untuk menelusuri rambut hitam Tommy. Rambut Tommy yang tebal terasa lembut dan menggoda. Sangat berbeda dengan tangannya yang keras dan kokoh yang menjelajahi tubuh Nurul.
“Tuhan, tolong aku… “ batin Nurul saat Tommy menyelipkan salah satu tangannya ke bawah rok Nurul dan dengan menuju ke pangkal pahanya. Ia semakin merasakan bara api yang bertambah panas di setiap belaian Tommy.
Nurul seharusnya tidak membiarkan Maria memimpin saat Tommy mencoba berusaha untuk membuka penyamarannya. Namun, cara ini berhasil, Tommy rasanya kini benar-benar menganggap ia adalah Maria.
Tapi sekarang Nurul menuai hasil dari permainan bodohnya. Maria bersikap liar dan tidak terkendali. Maria mendambakan sentuhan laki-laki, ciuman laki-laki. Maria yang nakal telah menguasai Nurul. Dengan naluri yang tepat dari seorang gadis penggoda, Tommy menangkap kehadiran Maria. Tidak ada lagi sikap menahan diri pada Tommy.
Salah satu tangan Tommy pun membelai paha Nurul dengan sensual, sementara tangan lainnya ada di pinggang Nurul. Namun, itu hanya sebentar. Tommy menarik tangannya untuk membuka lebih lebar pakaian yang menutupi dada Nurul.
__ADS_1
Napas Nurul tertahan di tenggorokannya. Tatapan Tommy yang panas tertuju pada gundukan yang terangkat ke atas oleh dalaman yang menampungnya. Nurul seharusnya menutupi tubuhnya yang terbuka itu, dan semakin terbuka saat pengait ********** terlepas. Tapi, entah mengapa tangan Nurul lebih suka membenam dalam rambut Tommy.
Mulai dari lekukan yang ada di pangkal tenggorokan Nurul, Tommy meluncurkan jari telunjuknya perlahan menuju ke bagian di antara kedua gundukan dada Nurul. “Jangan… Kamu harusnya ga perlu sejahat ini!” ucap Nurul. “Jahat? Aku belum cukup jahat denganmu, Maria,” ucap Tommy.
Mengaitkan jari pada dalaman dada Nurul, ia pun menariknya ke atas dan membuatnya terlepas. Dada Nurul terbuka lebar seolah siap dilabuhkan oleh Tommy. Terkejut dengan reaksinya yang tanpa protes, Nurul menjatuhkan tangan untuk meraih atasannya, tapi Tommy menangkap tangan Nurul. Ia memenjarakan jari-jari Nurul, sementara tangan Tommy yang satunya meraih gundukan dada Nurul yang terpampang.
Mata Tommy melahap mata Nurul dengan tatapan yang seampuh opium dan begitu memukau. Tanpa kata, ia mengarahkan ibu jarinya ke puncak gundukan itu, membuat puncak itu menegang karena sentuhan luhai Tommy. “Ya, Tuhaaan… “ desah Nurul saat Tommy membelai dan menggodanya lagi. Rasanya begitu menggetarkan. Nurul tak tahan memandang Tommy, pada wajahnya yang penuh kemenangan.
Namun, saat mata Nurul mulai terkatup, ia juga tidak meminta Tommy untuk menghentikan sentuhannya. Desakan untuk merasakan belaian laki-laki itu mengatasi kesantunannya saat sensasi yang indah membuat lututnya lemas dan ketetapan hatinya menguap.
Ada waktu dalam terjangan kenikmatan yang liar dan tidak terkendali, Nurul merasakan tangan Tommy melakukan serbuan ganda. Satu tangan membelai dada Nurul dan tangan lainnya berada di atas pangkal paha Nurul. Tommy membelai kulit lembut di bagian dalam kakinya, menyingkirkan dalaman yang membalutnya.
Saat merasakan belaian intim itu, Nurul mengabaikan semua kepura-puraan yang dipungkirinya. Maria yang liar telah sepenuhnya menguasai diri Nurul, memenuhinya dengan desakan yang tajam untuk merasakan tangan Tommy di tubuhnya.
Bagaimana Nurul bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan mengabaikan apa yang bisa diperbuat oleh seorang laki-laki, bisa menggoda seorang perempuan untuk melakukan sesuatu? Ia mendambakan setiap sentuhan jemari Tommy untuk membelai kedua puncaknya yang sensitif, setiap belaian ringan, setiap gerakan menyiksa yang terasa manis.
__ADS_1
Bibir Tommy yang terbuka melepaskan bibir Nurul untuk melancarkan ciuman-ciuman dengan mulut terbuka ke pipinya, bulu matanya yang terkatup, dan dahinya. Nurul tidak bisa berpikir atau bergerak atau melakukan apapun kecuali menikmatinya. Dunianya serasa tenggelam dalam perubahan keintiman yang memikat ini.
Lalu mulut Tommy menelusuri salah satu bukit di dadanya, dan sebelum Nurul menyadarinya, Tommy mencumbunya sembari bermain-main dengan ibu jari dan telunjuknya.
Sungguh menyenangkan, sungguh liar! Erangan terlontar dari bibir Nurul saat melengkungkan punggungnya. Ia membiarkan Tommy menyesap dadanya dengan sangat keras sehingga ia nyaris melonjak dari meja karena kepuasan yang dirasakannya. “Tommy… “ bisik Nurul saat ia menggerakkan tangannya ke atas untuk mengcengkeram bahu Tommy. “Oh, ya ampun, Tommy… Ini… Sangat… sangat… “ ucap Nurul. “Memalukan?” gumam Tommy di atas dada Nurul. “Sangat nikmat, seperti surga! Ini Surga!” lanjut Nurul.
Tommy menarik diri dari Nurul dengan senyum lebar. “Itulah yang kupuja darimu,” kata Tommy sambil menjauhkan tangannya dari Nurul dengan jarak yang cukup sehingga Tommy bisa membuka bajunya dan melemparkannya ke atas meja.
“DI sudut bagian terdalam dari otaknya yang memanas, nurul berharap bahwa Tommy seharusnya tidak membuka baju. Tapi kemudian Tommy meraih kedua tangan Nurul dan menempatkannya di dada Tommy. Nurul bisa merasakan keberadaan tulang rusuk Tommy dan desakan untuk menjelajahi tubuh Tommy sama seperti Tommy menjelajahinya.
Tanpa rasa malu Nurul membelai sisi-sisi tubuh Tommy dengan jemarinya yang ingin tahu. Nurul menelusuri otot-otot Tommy dan ia menemukan tulang dan otot dengan sangat kokoh. Saat jemari nurul mencapai pinggang Tommy, Tommy mengerang. Tommy lalu membuka kancing dan resleting celananya. Ia meraih tangan Nurul…
Sesuatu pun terjadi. Hal yang belum pernah Nurul temukan dan rasakan secara langsung. Tatapan Tommy begitu panas tertuju pada Nurul yang menolaknya dengan enggan. Suara Tommy begitu serak karena ia sangat menginginkan sesuatu dengan tangan Nurul itu.
“Sentuh aku, Maria,” ucap Tommy sambil setengah memohon. Hal itu membuat Nurul menempatkan tangannya di pangkal paha Tommy dan berada di dalam kain **********. Dengan malu-malu, Nurul melingkarkan jari-jarinya pada tubuh Tommy seperti yang diminta oleh laki-laki itu.
__ADS_1