
Pesta perjamuan di villa Rudi berakhir. Tidak seperti yang direncanakan Tante Lupita untuk mempermalukan Brian, rencananya itu benar-benar gagal. Tommy yang akan dipasangkan dengan Nurul pun sama menghilangnya dengan Brian. Mereka berdua sama-sama tidak mengikuti acara hingga selesai.
Hari sudah berganti. Matahari hampir meninggi, tapi udara pagi yang dingin seakan tidak pernah sirna dari tempat itu. Tentu saja, itu adalah daerah dataran tinggi yang terkenal dengan kesejukannya. Nurul dan Tante Lupita pulang dengan mobil mereka, mereka pulang ke Jakarta. Tante Lupita menahan rasa kecewanya ditambah lagi ia harus mengatur rencana selanjutnya ketika ia dan orang-orang yang berhubungan dengan masalah ini sudah kembali ke Jakarta.
Sementara Nurul, ia menatap ke luar jendela selama mobil melaju. Ia memikirkan tentang apa yang telah diceritakan Rudi kepadanya tentang Tommy. Terlalu banyak sakit hati, terlalu banyak penderitaan untuk seorang anak, sewaktu Tommy masih anak-anak. Tidak heran jika Tommy mencegah dirinya untuk memiliki perasaan. Jika menjadi laki-laki itu Nurul pun akan melakukan hal yang sama.
“Kamu sangat pendiam, Sayang,” sapa Tante Lupita. “Sehari semalam di villa Rudi adalah hal yang menyenangkan bukan? Apa ada masalah, Sayang?” lanjutnya. “Iya, Ma. Menyenangkan,” jawab Nurul. suatu pemikiran tiba-tiba muncul di benak Nurul. “Apa Mama mendapatkan sesuatu dari Kak Rudi? Aku ingin mengakhiri penyamaran ini, Ma,” ucap Nurul.
Jika Tante Lupita telah menemukan apapun yang meyakinkan, maka mereka bisa mengatakannya kepada Tuan Sudarsono. Laki-laki itu pasti akan segera bertindak, sehingga pasti sudah sangat terlambat bagi Tommy untuk campur tangan. Tapi, kenyataan yang menunggu mereka, Tuan Sudarsono pasti nanti akan menghancurkan Rudi.
Nurul menggigit bibirnya. Lalu Tommy akan benar-benar membenci Nurul. Ia telah menolong Tuan Sudarsono untuk menghancurkan harapan sahabat Tommy untuk bersanding dengan Icha.
“Tenang aja, Sayangku. Beberapa hal sudah kuatur,” ucap Tante Lupita. Mata Tante Lupita berkilau dengan keriangan yang mengusik. “Kita perlu melanjutkannya sedikit lebih lama lagi,” lanjutnya. Nurul ingin berteriak. “Tapi kita ga akan bisa melanjutkannya lagi!” ucap Nurul.
“Tommy telah menyimpulkan bahwa ini juga berkaitan dengan Brian dan sekarang dia mengancam akan menceritakan semuanya kepada Brian!” lanjut Nurul. “Apa? Tommy akan mengatakan itu?” tanya Tante Lupita. “Iya, Ma. Dia mengatakan kalau dia memberiku waktu hingga besok untuk memutuskan. Besok pagi dia akan menemuiku dan jika aku masih belum mau mengatakan kebenarannya, dia akan mengungkapkan identitasku kepada Brian,” jelas Nurul.
“Ma, Brian akan dengan senang hati mempermalukan kita di depan umum. Selain itu, hal ini akan membuat Rudi memutuskan hubungan baik dengan kita. Dia ga akan bisa lagi membantu kita untuk masalah Icha ini,” lanjut Nurul. Tante Lupita mengibaskan tangannya dengan tidak acuh. “Oh, Tommy ga akan melakukan hal semacam itu,” ucap Tante Lupita.
“Sayang, dia akan mengancam tapi dia tidak akan bertindak,” ucap Tante Lupita. Nurul memutar duduknya agar bisa memandang Tante Lupita. “Ma, ceritakan kepadaku tentang suatu hal. Oh, ya… Mamam pasti seumuran dengan ibu Tommy jika ia masih hidup. Apa mama mengenalnya? seperti apa dia?” tanya Nurul tiba-tiba.
“Helen? Dia seorang perayu, seperti itulah dirinya. Dia menyukai para pria dan pesta. Perempuan itu ga pernah menurut dengan orang tuanya. Tapi Mama rasa Mama sedikit mirip dengannya,” jawab Tante Lupita. “Dan ayah Tommy?” tanya Nurul lagi.
__ADS_1
“Dia sama sekali bertolak belakang dengan istrinya. Mereka sudah pasti salah memilih pasangan. Ayahnya itu jenis orang yang serius dan perasa. berbeda dengan putranya, dia ga pernah menggunakan waktunya dengan para wanita malam,” ucap Tante Lupita.
“Tapi di sisi lain, dia dan putranya punya banyak kesamaan. Dia dengan sungguh-sungguh mengabdikan diri untuk melakukan reformasi politik dan jarang menghadiri pertemuan-pertemuan sosial. Setiap orang sangat terkejut saat Helen, dari semua perempuan yang ada, berhasil memikatnya sehingga membuatnya menikahi perempuan itu,” jelas Tante Lupita.
Nurul bimbang sejenak. Ia menimbang apakah ia seharusnya mengatakan apa yang telah diceritakan Rudi kepadanya. Tapi ia sangat memerlukan nasihat dan ia tahu ia bisa mempercayai Tante Lupita untuk menyimpan rahasia. selain itu, ia perlu memberikan kesan terhadap minat Tante Lupita tentang hal ini, menimpalinya agar Tante Lupita tidak terkesan bicara sendiri.
“Sebenarnya ayah Tommy harus menikahi ibu Tommy. Suatu hari saat mereka kebetulan berdua saja, ayah Tommy sangat dikuasai oleh gairahnya terhadap Helen. lalu, mereka melakukan hubungan badan. Lalu perempuan itu mendapati dirinya hamil, sehingga dia dipaksa untuk menikah dengan ayah Tommy,” sambung Nurul.
“Bukan begitu,” jawab Tante Lupita.
“Benar, Ma. Kak Rudi yang menceritakannya kepadaku. Tommy menceritakan itu kepadanya ketika mereka masih remaja. Menurut Kak Rudi, mama Tommy sangat membenci pernikahan yang dipaksakan itu sehingga dia menjadi sangat menyukai minum minuman keras dan membuat hidup Tommy sengsara,” lanjut Nurul.
“Nurul, Sayang… Begini… “
“Nurul, Sayang… Begini… Mama ga menyangkal tentang kemungkinan ayah Tommy membuat Helen hamil. Dia seorang perempuan yang sangat cantik dan cerdas. Mama juga ga ragu jika dia adalah jenis ibu seperti yang kamu sebutkan itu. Menikahi seorang laki-laki yang lebih suka menggunakan waktu malamnya untuk membahas tentang puisi dan tidak bisa diajak bercanda, itu juga sangat membosankan,” ucap Tante Lupita.
Helen itu adalah jenis perempuan yang akan menyibukkan diri dengan minuman keras. Perempuan malang itu hanya punya sedikit kelebihan untuk bisa menghibur dirinya sendiri,” lanjut Tante Lupita. Suara Tante Lupita terdengar kejam.
“Tapi aku berani bertaruh kalau Helen-lah yang merayu ayah Tommy dan bukan sebaliknya. Ayah Helen adalah laki-laki dari kalangan biasa dan hanya punya sedikit uang. Ayah Tommy adalah suatu tangkapan besar bagi keluarga Helen. Mama bisa bayangkan kalau Helen pasti berpikir tentang banyaknya kesenangan jika menikah dengan seorang bangsawan seperti ayah Tommy, sampai akhirnya mereka menikah,” jelas Tante Lupita.
Nurul mempertimbangkan hal itu sejenak, hingga suasana menghening. Lalu ia menghela napas. “Kalau begitu kenyataannya, itu semakin memperburuk masalah. Kak Rudi bilang ibu Tommy selalu menimpakan kesalahan tentang ketidakbahagiaan hidupnya kepada Tommy dan tentang mengandung dirinya yang terlalu dini. Dia selalu mengatakan bahwa Tommy-lah yang menghancurkan hidupnya, bahwa dia menderita karena Tommy,” ucap Nurul.
__ADS_1
Tante Lupita merapatkan bibirnya. “Benar-benar hal yang sangat mengerikan kalau betul Helen mengatakan itu kepada anaknya yang tidak bersalah itu. Helen ga pernah sanggup memikul tanggung jawab untuk perbuatannya sendiri,” ucap Tante Lupita.
“Itulah alasan kenapa Tommy ga mau mempercayakan hatinya kepada siapapun,” ucap Nurul. Tommy pasti sangat mencurigai penyamaran yang dilakukan Nurul. Ini mungkin terlihat seperti skema yang telah melibatkan ibunya. Memang bisa dikatakan demikian. “Jadi dia ga akan ragu untuk mewujudkan ancamannya. Aku tahu, Ma, dia pasti akan melakukannya,” ucap Nurul.
“Tapi dia udah sedikit membuka hati padamu, Sayang. Dia belum menyingkapkan rahasiamu. Mama ppikir dia ga akan mungkin melakukannya,” ucap Tante Lupita. Tante Lupita memberikan senyuman misterius lagi kepada Nurul. “Bahkan jika dia benar-benar melakukannya, hal itu ga akan memperburuk keadaan. Mungkin itu bisa mempercepat penyelesaian masalah,” tambah Tante Lupita.
“Mama ga ngerti! Ma, Nurul berusaha mengatakan padanya bahwa aku ga peduli jika dia akan mengatakannya kepada Brian, tapi dia juga mengatakan akan berusaha mendapatkan kebenaran dari kakak Mama!” ucap Nurul.
“Biarin aja, Sayang. Apa masalahnya? Ini mungkin justru menjadi sesuatu yang baik. Sudarsono bisa dipaksa untuk mengakhiri kebodohan ini. Lalu Mama akan meyakinkan Sudarsono untuk menerima Rudi sebagai pendamping Icha,” ucap Tante Lupita.
Keteguhan yang terdengar dalam suara Tante Lupita menciptakan ketakutan di hati Nurul. “Enggak, Ma. Ga boleh! Mama pasti tahu betul bahwa kakak mama itu ga akan menerima Kak Rudi! Dia akan menyalahkan Nurul karena menghancurkan semua rencananya. Dia ga akan pernah memaafkan aku, Ma,” ucap Nurul.
“Omong kosong! Memangnya kenapa kalau dia ga memaafkanmu?” Saat melihat kegugupan Nurul, Tante Lupita menambahkan, “Kalau kamu khawatir tentang pekerjaan ayahmu dan yayasan itu, itu ga akan jadi masalah. Mama menduga Sudarsono telah mengancam untuk ga mau lagi memberikan donasi tetapnya dan mengakhiri kerjasama dengan pemilik yayasan itu. Itu kan alasan kenapa kamu sangat khawatir begini?” ucap Tante Lupita.
Nurul hanya menatap Tante Lupita. Jemarinya mencengkram roknya yang menutupi kursi. Ia mencengkeramnya dengan rasa frustasi.
“Sayang, kamu ga perlu mengkhawatirkan itu lagi. Mama menjamin ayahmu pasti akan mendapatkan pekerjaan lain yang lebih terbuka kalau benar Sudarsono akan melakukannya,” ucap Tante Lupita. Tante Lupita tersenyum dan memegang tangan Nurul. “Ga ada yang perlu begitu dikhawatirkan, Sayang. Kamu bisa mempercayakan hal ini sama Mama,” ucap Tante Lupita.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkannya! Tuan Sudarsono pesti sangat ingin melihat Nurul dipenjara, bagaimana mungkin Nurul tidak khawatir dengan itu? Nurul berharap bisa menjelaskan hal yang sebenarnya kepada Tante Lupita. Tapi, Tuan Sudarsono telah berjanji untuk tutup mulut, jika Nurul juga tutup mulut. Nurul terjebak antara keinginan Tante Lupita untuk ikut campur dengan obsesi Tommy.
“Jadi kamu ga perlu mengkhawatirkan Tommy, Sayang,” lanjut Tante Lupita. Tante Lupita sepertinya berpikir bahwa ia telah menyelesaikan semua masalah Nurul. “Kita akan bisa mengatasinya seandainya dia mengatakan yang diketahuinya kepada Brian dan Sudarsono,” ucap Tante Lupita.
__ADS_1
Yang bisa dilakukan Nurul hanyalah menampilkan senyuman palsu di wajahnya dan menganggukkan kepalanya kepada Tante Lupita. Ia merasa tidak menemukan pertolongan dalam hal ini. Ia harus menemukan sendiri suatu cara untuk keluar dari kekacauan ini.
Tapi bagaimana caranya?