Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Acara di Villa Rudi


__ADS_3

Tommy berangkat seorang diri ke Bogor selepas kegiatan perpolitikannya.  Tidak biasanya Rudi mengadakan acara perjamuan.  Setahu Tommy, Rudi adalah seorang laki-laki penyendiri yang sering muram.  Bagaimana bisa ia mengundang keramaian ke tempat pribadinya?


Ini karena Rudi akan bersanding dengan seorang perempuan.  Tommy jarang mendengar Rudi membicarakannya.  Yang Tommy tahu Rudi pernah menyukai seorang perempuan hanya sekedarnya saja, ia tidak berpikir Rudi akan seserius ini sampai mempersunting seorang perempuan.


Kesepian melanda Tommy.  Sahabatnya itu akan segera memiliki seseorang yang mengambil waktu Rudi sepenuhnya.  Tidak ada lagi waktu berbincang sambil minum-minum dengannya, acara memancing di akhir pekan, Rudi hanya akan bersama istrinya.


"Secepat itu, Rudi," gumamnya sembari memandangi pemandangan kiri dan kanan jalan.  Jalan naik turun yang berkelok dengan udara mulai dingin khas daerah gunung.


Setelah melalui perjalanan yang jauh, Tommy pun sampai di lokasi.  Ia memarkirkan mobilnya lalu berjalan masuk ke villa asri khas daerah gunung.  Begitu segar dan hijau dikelilingi pepohonan.


Baru menginjakkan kaki di anak tangga pertama, Tommy mendengar tawa renyah seorang gadis yang begitu dikenalinya.  Itu adalah suara Nurul.  Lantas, ia pun mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam ruang tamu.


Tampak olehnya beberapa orang duduk di sekitar Nurul.  Beberapa laki-laki yang diundang oleh Rudi, mungkin rekannya.  Tapi, tidak!  Ia baru saja melihat Brian di salah satu kursi di sana.  Darahnya bergejolak.  


Dipandangnya Rudi di sisi ruangan lain, sementara ada Tante Lupita di sisi lainnya.  Tommy tidak habis pikir mengapa Rudi mengundang si brengsek Brian ke acara ini.  Juga Tante Lupita, mengapa ia membiarkan gadis suci itu duduk dikelilingi tamu laki-laki.  Salah satu di antara mereka bercerita tentang sesuatu yang menyenangkan, tapi tetap saja gadis cantik itu menjadi pusat perhatian mereka.


"Lihatlah siapa yang baru saja datang!" ucap Brian menyambut Tommy.  Ia menghampiri Tommy dengan senyumannya yang meledek.  Brian begitu bangga karena bisa duluan memilih tempat duduk di dekat Nurul.  Sementara Nurul, ia tidak memperdulikan keduanya.


Brian datang dengan membawa gelas berkaki dengan minuman yang bisa menghangatkan tubuh Tommy.  Segelas ia berikan kepada Tommy.  "Sohib gua datang terlambat.  Hahaha… Lu pasti kecapekan dengan aktivitas dengan golongan tua itu," ucap Brian.

__ADS_1


Golongan tua? Apakah yang dimaksud Brian adalah kegiatan perpolitikan itu?  Jadi menurutnya kegiatan itu hanya diisi oleh orang-orang uzur?  Lalu generasi muda, apa yang Brian pikirkan tentang mereka?  Apakah generasi muda adalah generasi yang buta politik bahkan apatis lalu kerjanya hanya berpesta-pesta seperti dirinya saja?


"Baiklah, orang dari golongan tua ini ga perlu melayani si tukang gosip," jawab Tommy menahan emosinya.  "Tukang gosip?  Oh, seenggaknya gua ga ngegosipin hal-hal yang ga cewek-cewek ngerti atau ga mau tahu," ucap Brian.  "Ya, lu cocok jadi cewek, Bro.  Ngomongin pakaian trend terbaru, bahkan lipstik dan bedak," ucap Tommy sambil tersenyum menghina.


"Anjr't lu!  Gua dibilang cocok jadi cewek?  Justru cewek-cewek suka sama gua, ga kaya lu yang kayak batu, suram, beda dengan gua yang dicintai banyak cewek," ucap Brian.  "Iya, iya… Gua percaya.  Tapi gua lebih percaya kalau lu lebih doyan make up-an daripada jalan sama cewek. Hahaha…" balas Tommy.


Mendengar perkataan Tommy, orang-orang di sekitar memperhatikan Brian dan tertawa.  Beberapa di antaranya terlihat berbisik-bisik sambil melirik Brian.


Amarah Brian meledak.  Ia tidak pernah dipermalukan di tengah orang-orang seperti ini, seingatnya.  Gelas ringkih yang dipegang Brian digenggamnya kuat-kuat kemudian…


TAAAR…


"Dasar kalian seperti anak kecil!" ucap Nurul melerai mereka.  "Lihat! Lihat! Tangan gua berdarah!" ucap Brian mencoba menarik perhatian Nurul yang sejak awal sudah mengacuhkannya.


Nurul yang memiliki jiwa seorang tabib pun dengan cekatan bergerak.  Ia secara refleks terpanggil untuk mengatasi pendarahan yang ada di tangan Brian.  Tampak olehnya ada sepotong besar kaca pecahan gelas yang menancap di telapak tangan Brian, belum termasuk pecahan kecil-kecil lainnya.


"Panggil dok… " ucapan Rudi terhenti ketika ia melihat Nurul sudah menghampiri Brian.  Ia sedang memegang tangan Brian.  "Coba sini gua lihat tangan lu," ucap Nurul menarik paksa tangan Brian.  Semula Brian enggan, tapi tindakan cekatan Nurul tak bisa dicegah siapapun.


Nurul meraih serbet bersih terdekat yang bisa ia jangkau.  "Jangan bergerak!  Pembuluh nadi lu terluka," ucap Nurul.

__ADS_1


Brian melemas, wajahnya pucat.  Nurul mengikat bawah siku Brian dengan serbet membentuk simpul yang menghentikan pendarahan.  Reaksi Nurul yang tenang dan tidak takut terhadap darah membuat Tommy terpana.


"Duduklah ke sini," ucap Nurul memerintahkan Brian pindah duduk di kursi.  "Kita harus mengeluarkan pecahan kaca dari telapak tangan lu," ucap Nurul.  Gua takut luka lu terlalu dalam.  Gua harus menjahitnya," ucap Nurul.


Nurul memandang ke sekeliling ruangan, matanya menemukan Rudi yang sedang menenangkan para tamunya.


"Kak Rudi!  Saya butuh handuk dan kain lap bersih, sebaskom air panas, jarum, dan benang baru.  Minta orang dapur mengambilkan bawang putih, rosemary kering, sama daun mint," ucap Nurul tegas.  Rudi memanggil pembantunya dan menyampaikan instruksi Nurul.  Rudi lalu kembali kepada para tamunya yang sudah mengelilingi Nurul.


"Bumbu dapur itu? Lu mau nyayur, Mar?" protes Brian.  "Itu obat buat luka lu, pe'ak!  Gua minta yang praktis-praktis aja, biar cepat.  Emang lu mau kehabisan darah sambil nunggu obat generik atau dokter?" protes Nurul.


"Sebenarnya Maria lulusan jurusan apa, sih?  Kayaknya bukan keperawatan, kebidanan atau kedokteran deh?" ucap Brian.  Darah Tommy serasa membeku.  Ada nada curiga dalam suara Brian.  Brian tidak mungkin mengetahui sesuatu.  Sesuatu tentang latar belakang kehidupan Nurul yang asli.


"Jaman sekarang anak Pramuka pun tahu P3K.  Oh, iya gua lupa, dilihat dari kulit lu yang mulus glowing itu gua yakin lu ga tahu apa itu Pramuka," ucap Tommy.  Tommy mengakhiri perkataannya dengan melirik Tante Lupita.


Tante Lupita menaikkan alisnya sebelah.  "Oh, iya… Putriku memang seorang gadis yang aktif, dia suka dengan banyak kegiatan ekstrakulikuler waktu sekolah," tambahnya.


"Gua belum pernah tahu anak Pramuka bisa tahu kalau bumbu dapur bisa dijadikan obat luka," gerutu Brian.  Nurul mencungkil satu serpihan kaca dan Brian mengibaskan tangannya.  "Aduh! Gila! Lu mau amputasi tangan gua lu ya?" protes Brian.


"Gua bakal ngelakuinnya kalau elu ga bisa diam!" ucap Nurul.  Brian pun terdiam dengan rasa sebal.  Seorang pembantu datang membawakan bahan-bahan yang Nurul minta.

__ADS_1


Rudi dengan lihai mengajak para tamu untuk melihat-lihat sekitar villanya, jadi mereka tidak perlu menonton tindakan Nurul.  Tante Lupita termasuk ke dalam rombongan itu.  Hanya Tommy yang tetap tinggal.  Ia tidak ingin meninggalkan Nurul sendirian dengan Brian semenitpun.


__ADS_2