
Dengan malu-malu, Nurul melingkarkan jari-jarinya pada tubuh Tommy seperti yang diminta oleh laki-laki itu. Bagian tubuh yang mengeras itu melompat seakan hidup di tangan Nurul. Dengan terkejut Nurul melepaskan genggamannya. “Tidak, jangan!” erang Tommy. Ia menarik tangan Nurul untuk memegang tubuhnya lagi.
Mulut Nurul serasa kering saat tangan Tommy memaksa tangannya untuk mengusap bagian tubuh itu. “Oh Tuhan, ya, seperti itu. Jangan berhenti,” ucap Tommy.
Tommy menghentakkan tubuhnya beberapa kali dalam genggaman Nurul. Matanya tertutup, ekspresinya memancarkan hasratnya. Namun, Nurul mengeratkan genggamannya pada tubuh Tommy karena rasa ingin tahu untuk melihat efeknya. Mata Tommy terbuka lebar dan ia menarik tangan Nurul keluar dari dalam celananya sambil menggeramkan umpatan. “Itu terlalu nikmat. Tidak lagi. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi,” ucap Tommy.
Tatapan Tommy yang membara telah mengunci tatapan Nurul saat Tommy meraih ujung roknya dan menariknya sangat tinggi ke atas sehingga memaparkan kaki telanjang Nurul. “Giliranmu,” bisik Tommy dengan senyum menggoda yang membekukan napas Nurul di tenggorokannya.
Tommy menunjukkan hal itu kepada Nurul, maksud dari ‘giliranmu’ itu. Tommy melebarkan tangannya di kedua kaki Nurul lalu membelai ringan bagian di pangkal paha Nurul. Nurul merasakan jari-jari Tommy membuka celah dalam lipatannya. Nurul berusaha merapatkan kedua kakinya, tapi tubuh Tommy yang ada di antara kedua kakinya menghalanginya.
Belaian pertama membuat Nurul tersentak. Belaian kedua membuatnya mengerang. Setelah belaian ketiga, geliat di atas meja dalam usahanya untuk semakin mendekat dengan jari-jari Tommy yang menggoda. “Ya Tuhan… Ya Tuhaaan… Tommy…” ucap Nurul. “Ya, Maria?” Tommy menghentaknya lagi dan Nurul tersengal. “Apa kamu menyukainya? Apa aku memberimu kenikmatan?” tanya Tommy.
“Ya Tuhaaan… “ ucap Nurul. Apapun yang mungkin akan dikatakan Nurul lenyap dalam ciuman kelaparan yang diberikan Tommy. Laki-laki itu membelainya dengan lihai, membuatnya mendamba. Nurul tidak lagi memperdulikan apa yang terjadi padanya. Ia berada dalam pelukan seorang laki-laki yang senantiasa dimimpikannya selama berbulan-bulan. Laki-laki ini sedang menunjukkan kepadanya segala lika-liku gairah.
Tangan Nurul mencengkeram bahu Tommy, dengan erat dan longgar silih berganti saat Tommy membuatnya menggeliat dan menggerakkan pinggulnya naik-turun.
__ADS_1
Saat Tommy menyelipkan satu jari ke dalam tubuhnya, Nurul merasakan jauh melampaui keterkejutan. Inilah yang sedang dinantikannya, yang diinginkannya. Rasanya sungguh nikmat. Nurul menyukainya, sangat menikmatinya.
“Ya ampun, betapa aku ingin melakukan ini sejak pertama kali melihatmu,” desah Tommy. “Aku sangat ingin menyentuhnya, memelukmu seperti ini, berada di dalam tubuhmu, sayangku yang manis dan menawan,” ucap Tommy. Kata-kata cinta itu membuat Nurul bergetar.
“Aku tak bisa memikirkan apapun selain dirimu sejak pertama kalinya kita berciuman,” ucap Tommy dengan mesra. Jarinya mengelus pusat kewanitaan Nurul semakin dalam.
Segera Nurul merasa basah di bagian tubuhnya. Hal itu mempermudah Tommy untuk memasukkan jarinya. “Dan mereka mengatakan bahwa kamu ga punya perasaan romantis,” bisik Nurul saat memegang erat bahu Tommy. “Mereka salah, sayang!” ucap Tommy.
Tommy menembus lipatan bagian tubuh Nurul yang ada di antara kedua kakinya dengan belaian-belaian kasar. “Ini adalah hasrat, murni dan sederhana. Aku tidak pernah kekurangan hasrat. Tidak untukmu,” ucap Tommy.
Tommy mengelus telinga Nurul dengan tangan masih berada di dalam tubuhnya. “Barusan aku bilang bahwa aku ini selalu menginginkanmu. Kamu pasti tahu itu,” ucap Tommy. Perkataan Tommy seperti seember air dingin yang disiramkan ke kepala Nurul. Semua gairahnya yang menggelora dan hasratnya yang membara lenyap seketika.
Nurul kecewa. Nurul selalu berpikir jika Tommy menginginkan dirinya, tapi ternyata laki-laki itu hanya menginginkan daerah kewanitaannya ini. Nurul menjadi merasa tidak enak badan. Ia menjadi sedemikian bodoh.
Dengan panik, Nurul meraih tangan Tommy, berusaha menjauhkan tangannya itu dari tubuhnya. “Kamu ngapain, Maria?” seru Tommy saat Nurul menarik paksa tangan Tommy dari bawah roknya. Tatapan tak percaya yang terlihat di wajah Tommy sungguh layak diterima Nurul karena bersikap demikian bodoh. “Menjauhlah dariku!” teriak Nurul dalam keputus asaan. “Aku ga mau tanganmu menyentuhku!” lanjutnya. “Kenapa? Omong kosong apa ini, Maria?” ucap Tommy dengan geram.
__ADS_1
“Ini bukan omong kosong!” Nurul mengibaskan tangan Tommy. Lalu, ia membebaskan dirinya dan melompat turun dari meja. Ia bergegas menuju ke bagian ujung di seberang sisi ruangan. Ia memunggungi Tommy. “Aku ga mau… Aku ga bisa melakukan hal yang memalukan ini! Ini salah!” ucap Nurul.
Saat air mata penyesalan dan kemarahan menggumpal di matanya,Nurul membenahi pakaiannya, berusaha merapikannya, berusaha tidak memikirkan hal-hal yang dibiarkannya dilakukan Tommy. Semua itu karena ia cukup bodoh dengan berpikir bahwa Tommy benar-benar mencintainya. Ia akan memberikan diri sepenuhnya kepada Tommy jika ia berpikir bahwa Tommy jatuh cinta padanya.
Tapi tidak, bukan Tommy. Bukan Tommy orangnya, dia hanya laki-laki yang berhati keras. Bukan Tommy yang akan mencintainya. Ini hanya nafsu belaka dan tidak lebih. Ini bahkan bukan karena Nurul, tapi karena Maria. Hanya karena Tommy berpikir bahwa perempuan ini sama-sama berpengalaman seperti para perempuan menawan yang biasanya mengisi waktu Tommy.
“Sayang, tidak perlu malu dalam bercinta,” ucap Tommy saat ia berjalan mendekat di belakang Nurul. Tommy menaruh tangannya di bahu Nurul, tapi Nurul mengibaskannya. “Dasar ga tahu malu,” bisik Nurul. “Tapi apapun yang kamu pikirkan tentangku, aku udah bersedia menyerahkan diri padamu, Maria. Tidak ada kehormatan apapun di antara kita, jangan katakan kalau aku ga tahu malu.”.
Ketakutan mencengkeram Nurul saat ia memalingkan wajahnya untuk memandang Tommy. “Maksudmu… Apakah maksudmu…” ucap Nurul dengan tertahan. Nurul tahu teori tentang bagaimana seorang perempuan kehilangan keperawanannya, tapi tidak secara rinci.
Tommy telah memasukkan jari-jarinya ke dalam tubuh Nurul. Apa itu sama seperti… Apa berarti Tommy… “ Apa kamu udah mengambil keperawananku?” tanyanya. Nurul terlihat begitu ngeri dengan kemungkinan yang akan ia telan. “Ya ampun. Apa kamu benar-benar ga tahu?” tanya Tommy heran.
“Tidak, Tommy. Aku tak tahu!” ucap Nurul dengan frustasi. “Aku belum pernah bersama seorang laki-laki seperti… seperti yang udah kamu lakuin itu. Jadi bagaimana aku bisa tahu?” ucap Nurul.
Rahang Tommy menegang. Ia terlihat menderita. “Kupikir, dari caramu bersikap di taman, caramu menciumku, ya ampun… Dari caramu bersikap barusan, hal-hal yang kamu biarkan untuk kumelakukannya, aku kira kamu… “ ucap Tommy.
__ADS_1
“Aku melakukan itu semua karena aku percaya kalau kamu peduli sama aku!” seru Nurul den segera menyesali pengakuannya itu. Nurul telah mengatakan perasaannya. Ia kira Tommy bisa mencintainya.