
Di suatu malam dalam ruang senat kemahasiswaan di kampus.
“Jadi, hasil evaluasi tadi jangan lupa kita masukkan ke buku besar evidence AD/ART sebelum diteruskan ke dekan yang mau bantu kita itu… “ ucap Tommy.
DEERT… DEEERT…
Ponsel Tommy bergetar. Ia tengah duduk bersama teman-teman dari lembaga mahasiswa. Di sebuah meja forum yang besar, Tommy meraih ponselnya dan melirik layarnya dari bawah mejanya. “Sorry, guys… Gua ke belakang sebentar,” ucap Tommy kepada teman-temannya. Tommy pun melangkah keluar ruangan sambil menenteng ponselnya yang masih bergetar.
“Halo… “ Tommy mengangkat panggilan di ponselnya sambil bersandar di dinding koridor di luar ruangan. Itu adalah panggilan dari Rudi. Kebetulan kegiatan Tommy sedang dalam masa jeda, jadi ia bisa menyempatkan waktu untuk mengangkat telepon. Apalagi itu adalah panggilan dari sahabatnya, Rudi.
“Saya ada kabar gembira,” ucap Rudi. “Oh ya? Kabar apa itu?” tanya Tommy dengan penasaran. “Kamu masih ingat dana yang kamu investasikan untuk hobiku tempo hari?” ucap Rudi. “Ya, itu. Oh, soal itu. Apa sekarang kamu sudah balik modal? Sebenarnya aku ikhlas ingin membantu dan kamu ga perlu mengembalikannya," ucap Tommy.
“Bukan, bukan itu maksudku. Ini soal pameran, galeri art. Kamu ingat?” ucap Rudi. “Sebentar, sebentar. Coba jelaskan,” ucap Tommy. “Dua pekan lagi galeri art yang pernah aku ajukan ke pihak International Art Forum di Paris itu bisa terlaksana. Mereka menerima proposal kita!” jelas Rudi. “Gedung tua itu lulus standar IAF? Karya-karya senimu juga lulus penilaian IAF? Ga bisa dipercaya!” ucap Tommy.
“Itu berkat bantuanmu, Tommy. Ah, kapan kamu ada waktu untuk mengunjunginya?” ucap Rudi dengan sangat bersemangat. “Gampang itu. Gini, gini, besok aku akan datang ke rumahmu. Kita bicarakan ini lebih lanjut. Aku juga mau mendengar semua prosesnya bagaimana bisa berhasil seperti ini,” ucap Tommy. Obrolan itu pun berakhir. Tommy pun kembali ke ruangan meetingnya.
__ADS_1
*
Hari berganti. Tommy mengunjungi rumah Rudi sebagaimana janjinya kemarin. Rudi, sahabat Tommy adalah seorang penggiat seni. Ketenangannya, kebijaksanaannya dan kedewasaannya tergambar di berbagai hasil seni buatannya. Selama ini lukisan-lukisannya berhasil terpajang di galeri-galeri bergengsi bahkan galeri berstandar internasional. Tidak jarang lukisannya itu dibeli dengan harga belasan hingga puluhan juta rupiah. Kali ini untuk pertama kalinya Rudi akan menyelenggarakan galeri art-nya sendiri dengan standar internasional.
Rudi menceritakan bagaimana ia bisa sukses menarik perhatian forum internasional untuk menstandarisasi galerinya. Mereka berdua begitu bersemangat dengan pencapaian itu. Mereka pun merayakannya dengan sederhana di ruang baca Rudi dengan sebotol anggur mahal.
“Ngomong-ngomong, gimana perkembangan usahamu mendapatkan hati Maria?” tanya Rudi. “Si Brengsek Brian kini tampaknya sudah mendapatkan restu ibu Maria. Hal itu semakin menyusahkanku saja untuk mendekati Maria. Ibunya itu begitu protektif, cenderung mendampingi kemana saja Maria pergi. Bagaimana aku bisa melancarkan aksiku kalau begitu! Sial!” jelas Tommy.
“Kamu tahu sendiri kan kalau kakaknya, si Monster Sudarsono itu adalah musuh bebuyutanku? Hal ini semakin menyulitkanku saja. Mungkin ibu Maria pikir aku mendekati Maria karena ada modus untuk menghancurkan keluarganya. Membongkar kebusukan-kebusukan yang selama ini Sudarsono lakukan,” ucap Tommy.
“Wanita sosialita yang namanya Lupita itu? Hem… Bagaimana kalau aku membantumu?” ucap Rudi. “Bagaimana caranya?” tanya Tommy bersemangat. “Aku memang pernah kenal dengan anak dari musuh bebuyutanmu itu, tapi rasanya wajahku masih cukup asing bagi keluarganya. Aku rasa aku bisa mengundang wanita itu datang ke galeriku, tentu dia akan mengajak Maria. Bukankah kamu bilang mereka selalu pergi bersama?” ucap Rudi.
*
Waktu pun berlalu. Rudi berhasil mengundang Tante Lupita yang juga bersama Nurul atau Maria itu ke galeri seni Rudi. Rudi sudah mengatur pertemuan Tommy dan Nurul nantinya di galeri itu, pertemuan secara diam-diam. Tidak akan ada Brian di sana yang akan mengacaukan pertemuan mereka.
__ADS_1
Tante Lupita dan Nurul hadir, mereka menggunakan busana yang begitu anggun. Terutama Nurul, ia sudah seperti seorang putri dari kerajaan Eropa yang begitu bersinar pesonanya. Rudi menyambut kedatangan mereka dan menemani mereka berkeliling.
Ini adalah pertama kali Nurul masuk ke sebuah galeri bernuansa seni tinggi. Berbeda dengan galeri-galeri lokal yang biasa ia datangi. Nurul terpesona dengan beberapa karya. Ia bisa berdiri lebih lama dalam keadaan tercengang di depan suatu karya. Sementara Tante Lupita, keterampilan Rudi dalam mengajaknya berbincang membuat langkahnya lebih cepat menjelajahi ruangan demi ruangan.
“Ma, boleh Maria tinggal di sini dulu?” ucap Nurul. “Oh, kamu menyukainya ya, Sayang?” ucap Tante Lupita yang menunjuk karya di depan mereka. “Oke, Mama mau berkeliling bersama Nak Rudi dulu, ya?” ucap Tante Lupita. Ini adalah kesempatan Tommy untuk menemui Nurul. Sudah cukup lama ia menanti Nurul dari balik persembunyiannya itu. Sementara Rudi, ia membawa Tante Lupita pergi ke ruangan yang semakin jauh.
Tommy muncul di sisi Nurul. Ia tersenyum kepada Nurul. Aroma parfum Tommy membuyarkan perhatian Nurul dari lukisan yang sedang ia pandangi, aroma yang sangat Nurul hafal. Nurul mengalihkan pandangannya, ia hampir tak percaya ketika Tommy ia temukan sedang berdiri di sisinya. Nurul lalu melihat ke sekeliling, ia mancari keberadaan Tante Lupita dan Rudi.
Detak jantung Nurul membuatnya hampir tak bisa membuat napasnya leluasa. Laki-laki yang berdiri ini adalah laki-laki yang ia rindukan. Rasanya sudah lama Nurul tidak melihat sepasang mata indah itu dan senyuman menawan yang membuat lemas lututnya itu. Yang langsung terlintas di pikiran Nurul setiap ia melihat kehadiran Tommy adalah kenangan-kenangan manis bersamanya, dosa-dosa indah yang meracuni isi kepalanya.
“Hanya kita berdua di sini,” ucap Tommy. Nurul berharap ia bisa berlindung di balik Tante Lupita agar terhindar dari dekapan Tommy. Nurul begitu ingin bersama Tommy, tapi itu akan menghancurkannya jadi ia berharap bisa berlindung di balik punggung lebar wanita itu seperti seorang gadis kecil yang takut dengan seekor anjing jinak yang ia kira buas dan mengerikan.
“Lu… Lu di sini, Tom?” ucap Nurul menyembunyikan kegugupannya dengan kembali mengalihkan pandangannya ke lukisan. “Kamu menyukainya?” ucap Tommy berbasa-basi dengan mengalihkan pandangannya juga ke lukisan yang sedang Nurul tatap. “Iya,” jawab Nurul. “Emosi yang ditimbulkan dari perpaduan warna dan gradien itu membuat sendu, sementara di bagian ini emosinya sangat kontras seakan memberitakan kebahagiaan bak matahari pagi. Cerah dan ceria,” ucap Tommy sambil menunjuk bagian lain di lukisan.
Nurul terbawa pada obrolan itu, membahas emosi dari sebuah lukisan adalah cara yang efektif untuk mengalihkan perhatian dan perasaannya saat ini. “Bagaimana dengan efek smoke yang ada di sebelah sini?” tambah Nurul. “Ya, ini menurutku adalah sebuah keajaiban,” ucap Tommy. “Ya, aku sependapat. Sepertinya kita punya cita rasa yang sama,” ucap Nurul.
__ADS_1
Tommy berhasil mendapatkan perhatian Nurul dan kini ia memungkinkannya untuk membawa Nurul masuk ke ruangan lainnya yang sepi. Tommy yang sudah mengatur agar penjaga membantunya mengkondisikan ruangan spesial itu, ia akan membawa Nurul masuk. Penjaga akan mengunci mereka dari luar sebagaimana arahan Tommy kepadanya. Lalu, tidak ada satu pengunjungpun yang bisa masuk karena ruangan itu ditandai oleh penjaga di bagian pintu masuknya.
Setelah itu, Tommy bisa melepaskan kerinduannya kepada Nurul. Membayar apa yang selama ini ia lewatkan. Tommy pastikan kali ini Nurul tidak akan bisa menghindar atau menolaknya seperti sewaktu Nurul menolaknya di perpustakaan kampus.