
Nurul dan Tommy mengikuti si pemilik penginapan menaiki tangga ke lantai dua. Nurul menatap sekilas ke sekelilingnya. Ia akan pergi dengan tergesa-gesa dan tidak akan ada yang membantu jika ia tersesat saat mencari jalan keluar.
Si pemilik penginapan mengantar mereka ke suatu ruangan yang bertirai cerah. Hal yang mengejutkan adalah lantainya lumayan bersih meskipun perabotannya sudah kusam. “Saya akan menyiapkan makanan Tuan segera,” ucap pemilik penginapan itu.
Setelah si pemilik penginapan pergi, Nurul memperhatikan adanya sebuah ranjang di ruangan itu. Ia masih tercengang menatap ranjang itu, lalu ia mendengar Tommy mengunci pintu. Melirik ke arah suara itu, Nurul menatap Tommy dengan pandangan menuduh. “Dimana kita bisa makan?” protes Nurul.
Senyum Tommy yang menawan membuat jemari kaki Nurul melengkung. “Makannya nanti ajalah. Sepertinya kita bisa memuaskan rasa lapar kita dengan lebih dari satu cara,” ucap Tommy lalu melempar sudut matanya ke arah ranjang sejenak.
Nurul merona. Ya ampung, Tommy ingin bercinta dengannya lagi. Pikiran itu membuat tubuh Nurul memanas dan lemah. Mengapa tidak membiarkannya saja? Selain itu, ia akan meninggalkan Tommy sebelum hari ini usai. Lalu setelah itu tidak ada lagi kesempatan untuk bercinta. Apa salahnya menikmati pelukan Tommy selama satu jam lagi?
Nurul menyadarkan dirinya. Tentu saja tidak! Jika ia membiarkan Tommy bercinta dengannya lagi, ia tak akan pernah bisa meninggalkan Tommy. Selain itu, semakin sering mereka bercinta tampaknya akan semakin besar kemungkinan ia akan hamil.
Tommy maju selangkah ke arah Nurul, dan Nurul pun melangkah mundur. “Tommy, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan ini,” ucap Nurul. Tommy mendekati Nurul, seringai menghiasi wajahnya yang tampan. “Ayolah, Sayang. Masih ada banyak waktu sebelum mereka selesai menyajikan makanan kita. Ada cukup waktu untuk memanjakan diri kita,” ucap Tommy.
Saat Tommy sudah terlalu dekat, Nurul menghindar dan menjadikan ranjang memisahkan jarak di antara mereka. Ia sambil memikirkan sejumlah alasan untuk menghentikan Tommy. “Apa kamu mau si bapak tua tadi tiba-tiba masuk dan melihat kita melakukan… melakukan itu?” ucap Nurul.
Saat Tommy memutari sisi ranjang, ia tertawa. “Melakukan apa… Hahaha… Bercinta, Sayang! Kamu lupa ya, kalau pintunya sudah aku kunci tadi?” ucap Tommy.
Nurul melangkah mundur dan berlari ke arah meja yang terbuat dari kayu kasar. Memandang sekilas, ia melihat ada sebuah vas bunga di atas meja itu. Suatu ide terbentuk di pikirannya. Bergeser sedemikian rupa, tubuh Nurul menghalangi Tommy untuk bisa melihat gerakan tangannya. Nurul pun meraba vas bunga itu dari balik punggungnya.
“Aku mau langsung makan segera setelah makanan itu tersaji. Kita belum menikah, kamu tahu itu , Tom. Kalau kamu tetap berharap mau mendapatkan hak sebagai suami sebelum pernikahan, harusnya kamu memberikan aku makan dulu,” ucap Nurul.
Tommy menyergap Nurul, memerangkap tubuh Nurul dengan kedua lengannya saat ujung-ujung jari Nurul menyentuh vas bunga. “Oke, kalau gitu. Terus gimana dengan sedikit makanan pembuka sebelum makanan utama?” ucap tommy. Tommy mengecup ringan ujung hidung Nurul. “Sesuatu yang membangkitkan hasratku untuk menyantap makanan,” lanjutnya.
Lalu bibir Tommy menguasai bibir Nurul, membujuk dan mengelusnya dengan sangat menggoda. Untuk sejenak, Nurul membiarkan dirinya menikmati ciuman itu. Ia membiarkan Tommy membuka mulut Nurul dengan lidahnya lalu membenamkan lidahnya itu ke dalam mulut Nurul. Hal itu menunjukkan tentang apa yang ingin dilakukan Tommy padanya. Bagian-bagian lain dari tubuh Nurul yang ingin dinikmati Tommy diperjelasnya.
__ADS_1
Tangan Tommy membelai rusuk Nurul hingga ibu jarinya sampai di bawah gundukan dada Nurul. Tapi, saat Tommy menangkap gundukan tersebut, Nurul melepaskan bibirnya dari mulut Tommy. Apa yang dilakukan Nurul? Bergeser sedikit dalam pelukan Tommy, Nurul meraih vas bunga itu, berharap Tommy semoga tidak memperhatikannya.
Ternyata memang tidak. Mata Tommy berkilau dengan gairah yang tak terpuaskan dan napasnya memburu saat ia menundukkan kepalanya ke arah mulut Nurul lagi. “Maafkan aku, Tommy,” bisik Nurul tepat sebelum Tommy bisa menciumnya.
Lalu, Nurul menghantam kepala Tommy dengan vas bunga itu.
Beberapa waktu kemudian Tommy tersadar. Ia terbaring di atas lantai kayu yang kasar. Menatap langit-langit ruangan yang bernoda, ia berusaha mengingat kenapa ia dalam posisi seperti itu. Kepalanya terasa sakit luar biasa. Ia lalu duduk mengaduh dan mengusap benjolan di kepalanya. Bagaimana ia bisa terbaring di ruangan yang sangat jorok?
Lalu Tommy melihat pecahan vas yang berserak di dekatnya. Segala sesuatu pun mulai diingat di benaknya. “Astaga!” geram Tommy saat secara mendadak berusaha bangkit. Berdiri membuat denyutan di kepalanya semakin parah, tapi amarah telah menguasai dirinya.
Nurul benar-benar melarikan diri! Hal itu terjadi setelah Tommy mulai percaya bahwa Nurul menyatakan kesediaannya sendiri tentang pernikahan mereka. Terhuyung-huyung menuju pintu, Tommy berusaha membukanya, tapi pintu itu terkunci. Sialan! nurul telah menguncinya dalam kamar. Tommy menggedor pintu, berteriak sekuat tenaga untuk memanggil si pemilik penginapan.
Tommy mendengar langkah tergesa-gesa di ruangan di luarnya, suara perempuan dan suara laki-laki yang sedang berdebat.
*
Tommy terjebak di dalam kamarnya. Setelah menggedor-gedor pintu kamarnya, seorang perempuan terdengar berdebat dengan orang lain. “Nona tadi bilang kalau laki-laki di dalam sana telah menculiknya!” gumam seorang perempuan. Suara satunya lagi hampir dipastikan adalah suara bapak pemilik penginapan. “Iya, tapi, Sayang, dia seorang konglomerat! Kita ga boleh mengurung seorang konglomerat begini,” ucap pria tua itu.
“Buka! Hei kalian! Buka pintu!” suara Tommy menggelegar. Diskusi dua suara itu hanya membuatnya semakin murkan. “Buka pintu ini atau kalian akan saya jebloskan ke penjara!” ancam Tommy.
Ada keheningan, yang untungnya hanya sebentar. Tommy mendengar suara kunci diputar di lubangnyadan pintu kamar mengayun terbuka untuk memperlihatkan si pemilik penginapan meremas tangannya. Ia didampingi istrinya yang terlihat marah.
Mengabaikan keduanya, Tommy bergegas menuruni tangga secepat yang bisa dilakukan dengan kepalanya yang masih terasa sakit itu. Ia tidak tahu sudah berapa lama tak sadarkan diri, tapi itu bukan masalah. Ia akan menemukan Nurul.
Tommy menyeruak masuk ke ruang makan, tapi pengamatan cepatnya menunjukkan jika Nurul tidak ada di situ. Ia pun berbalik menghampiri si pemilik penginapan yang mengikutinya dengan menggumamkan permintaan maaf berkali-kali.
__ADS_1
“Dimana dia?” geram Tommy sambil maju selangkah ke arah pria tua itu. “Dia… dia… bilang kalau Tuan menculiknya. Dia… dia…” ucap pemilik penginapan. “Dimana istriku? suara Tommy membahana. Si pemilik penginapan memberikan isyarat ke arah pintu dengan salah satu jarinya yang gemetaran.
Tommy bergegas menuju ke halaman penginapan, lebih bisa mengendalikan kekuatan fisiknya sekarang. Syukurlah, Nurul tidak menghantam Tommy terlalu keras sehingga bisa menyebabkan kerusakan permanen.
*
Di ujung lain di halaman yang ramai itu, Tommy melihat supirnya berusaha memprotes seorang pria tegap yang menolong Nurul naik ke kursi truk. “Lepaskan istriku!” Tommy berteriak keras saat ia mempercepat jalannya menembus kerumunan. Mata Nurul melebar saat melihat Tommy. “Ayo cepat, Pak!” desak Nurul pada pria yang akan menjadi penyelamatnya.
Saat pria itu ragu, pria itu melihat Tommy berjalan dengan cepat menuju ke arahnya. Nurul menerobos masuk, tapi supir Tommy menghalanginya. Nurul memelototi supir Tommy dan berdiri di tempatnya semula. “aku mau pulang ke Jakarta. Bapak ga bisa menahanku!” ucap Nurul.
“Jangan seyakin itu!” tukas Tommy saat beranjak merebut Nurul. Pria tegap itu menghalangi langkah Tommy. “Nona ini tidak mau pergi denganmu. Dia membayarku mahal untuk membawanya pulang ke Jakarta,” ucap pria itu.
“Membayarmu?” Tommy meraba sakunya untuk mencari dompetnya, tapi dompet itu tidak ada. Nuurl tidak hanya menghantam kepala Tommy dengan sebuah vas bunga dan menguncinya di kamar, tapi juga berani mencuri uangnya. “Aku pastikan kepadamu tindakanmu ini salah. Dia adalah istriku dan driverku bisa membuktikannya,” ucap Tommy.
Supir Tommy mengangguk dengan semangat, lebih dari siap untuk berbohong demi orang yang mempekerjakannya, tapi penantang Tommy bergeming. “Nona ini bilang kalau kau akan mengatakan hal itu. Dia bilang kau telah membohongi orang-orang untuk mencegahnya pulang. Aku tidak akan membiarkan seorang laki-laki kaya sepertimu berbuat sesuka hati terhadap nona ini,” ucap pria itu.
Tommy menatap si penantangnya itu. Nurul telah memilih pelindungnya dengan baik. Pria ini sungguh besar, kemungkinan sekitar dua puluh kilogram lebih besar dari berat badan Tommy, juga lebih tinggi. Walaupun, tubuh Tommy tidak bisa dianggap kecil. Dari pria ini tercium keringat dan bau oli. Otot-oto tangannya kekar, mungkin ia juga bekerja sebagai kuli.
Kondisi itu hanya semakin mengobarkan kemarahan Tommy. “Menyingkirlah, atau aku akan menghajarmu,” desis Tommy dengan suara rendah. Ia menyadari bahwa sebagian dari orang yang menginap di penginapan itu telah meramaikan halaman di belakangnya, menyaksikan perdebatan itu.
“Menghajarku?” pria itu tertawa. Pria itu mengayunkan salah satu kepalan tangannya yang berotot ke kepala Tommy, tapi Tommy bisa menghindarinya. Tommy membalasnya dengan pukulan cepat ke arah perut lunak pria itu.
Si penantang itu hanya memiliki waktu sejenak untuk memandangi Tommy dengan tatapan penuh kebingungan. Ia seolah terkejut karena seorang laki-laki kaya bisa yang biasanya terlayani bisa melayangkan pukulan seperti itu. Lalu, dengan kekuatan lengannya Tommy meninju dagu pria itu.
Raksasa itu terhuyung ke belakang, tapi tidak jauh. Lalu, ia mengejutkan Tommy dengan melayangkan pukulan ke mata yang membuat Tommy sempoyongan. Samar-samar Tommy mendengar teriakan Nurul. Nurul meminta mereka untuk berhenti.
__ADS_1