Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Membuat Brian Melayang


__ADS_3

Untuk meredakan mood Nurul yang tidak karuan karena nyaris bertemu dengan Ustadz Beni, maka Nurul menerima ajakan Brian untuk menonton film di mini cinema room di sebuah plaza.


“Pilihlah film kesukaan lu, Maria,” ucap Brian.  “Emh… Apa ya…?” Nurul menyapu pandangannya pada berbagai gambar kecil di menu pada layar.  “Ya ampun.  Apa ga bisa spill judul aja, Maria?” ucap Brian bosan.  “Coba ini aja, ya… “ ucap Nurul mengetik huruf di kolom pencarian judul film.  “Transformer.  Selera yang bagus.  Gua kira lu bakal milih film romansa,” ucap Brian.  Ia lalu mengklik film yang dipilih oleh Nurul.


“Ga bosan-bosan gua nonton ini, Kak!  Sebentar lagi Bumblebee-nya nongol nih,” ucap Nurul.  “Iya, gua juga.  Terus… “ ucap Brian yang kata-katanya dipotong Nurul.  “Sst… Jangan spoiler,” protes Nurul.  “Lah, elu yang duluan spoiler tadi,” protes Brian.  “Oh, iya ya… Hehe… “ ucap Nurul.  “Hahaha… Mariaaa… Maria… Lu tuh lucu banget,” ucap Brian mengusap-usap kepala Nurul.


Nurul menghindar pelan.  Ia heran.  “Sejak kapan Kak Brian sok manis begini?” batin Nurul.  “Maria… Sebenarnya… “ ucap Brian sambil meraih tangan Nurul.  Nurul mulai punya firasat buruk.  “Sebenarnya gua… Emh… Tadi lu nanya kan, kenapa gua selama ini mau bantuin lu nyariin Icha?  Sekarang gua mau ngomong jujur, Maria,” ucap Brian menggeser duduknya hingga mengenai lengan Nurul.


“Karena lu peduli sama gua, kan?  Tadi lu udah jawab,” ucap Nurul tanpa memandang wajah Brian, hanya melirik di sudut matanya.  “Iya, karena gua peduli dan gua punya rasa sama lu, Maria,” lanjut Brian yang melingkarkan tangannya kepada Nurul, berharap punggung Nurul bersandar di dadanya.  Nurul melepaskan tangan Brian kemudian menggeser tubuhnya menjauhi Brian.


“Maria, gua sayang sama lu, Maria.  Gua belum pernah sebahagia ini setiap lu dekat sama gua,” ucap Brian yang menggeser tubuhnya mengejar tubuh Nurul yang terus menjauh.  “Lu bagaikan mentari buat gua.  Yang selama ini gua galau setiap malam, menunggu pagi karena terlalu banyak gulita di hidup gua, Maria,” lanjut Brian dengan tangan yang lebih cepat mendekap Nurul.


Nurul merasa mual.  Kata kata romantis yang sama sekali tidak membuatnya luluh.  “Kak, kita cuma teman.  Ga lebih.  Hentikan ini, Kak,” ucap Nurul.  “Gua ga akan ngelepasin lu, bidadariku,” ucap Brian mempererat dekapannya dari belakang tubuh Nurul.  


Nurul melihat ke sekeliling.  Ini adalah tempat yang begitu tertutup, ia baru menyadarinya.  Pencahayaan yang redup dan hanya bersumber dari layar monitor besar yang menayangkan film pilihannya.  Pintu yang tertutup, suara yang bising oleh perpaduan suara berefek treble dan bass yang memenuhi ruangan, dinding yang dilekati peredam suara.  Semua itu begitu memenjarakannya.


Nurul menyesalkan kenapa sejak awal ia mau saja diajak oleh Brian ke tempat seperti ini.  Selama ini Brian mengajak Nurul ke tempat-tempat terbuka yang ramai.  Ini adalah pertama kalinya Brian mengajaknya ke tempat setertutup ini. Harusnya sejak awal Nurul waspada.

__ADS_1


“Gua benar-benar jatuh cinta sama lu, Maria,” ucap Brian.  Brian pun menciumi leher Nurul dari belakang.  “Kak!  Lepas, Kak!  Anjrit lu, Kak!” ucap Nurul mencoba melepaskan diri dari dekapan Brian.  Brian semakin memperkuat dekapannya.  Sekali Nurul berhasil lepas, itu hanya membuatnya tersudut karena Brian terus mengejarnya dengan cekatan.


Kini Brian menyudutkan Nurul.  Mereka duduk di ujung sofa yang terhimpit dinding.  Brian mencengkram tubuh Nurul dan dagu yang diarahkannya ke wajah Brian.  “Demi lu gua rela panas-panasan, nganter-jemput lu!  Ninggalin kegiatan-kegiatan gua demi bisa bersama lu!” ucap Brian dengan geram.  Lalu secepat kilat bibirnya sudah melahap bibir Nurul.  


Nurul meronta sekuat tenaga, tapi ternyata tubuh mungilnya tak berdaya melawan kekuatan yang lebih besar, kekuatan dengan gairah yang membara kepadanya.  Nurul memalingkan wajahnya berulang-ulang namun dengan beringas Brian menahannya, bahkan menggigit bagian lembut yang menjadi pemanis di setiap senyuman Nurul


Suara Nurul tertahan dengan bungkamnya, teriakannya yang tertahan itu pun tidak berarti apapun, tenggelam dalam deru suara film yang menggelegar.  Suara tembakan senjata api berentetan memekakan telinga, separah itu pula serangan Brian kepada wajah ranum Nurul.


Geram dengan perlawanan Nurul, Brian melepaskan mulutnya yang seperti predator itu lalu mengumpat.  “Jangan munafik lu, Maria.  Gua udah melihat semuanya yang lu lakuin dengan Tommy,” ucap Brian.  “To-Tommy?” Nurul tergugup.


“Iya.  Gua tahu elu jago bercinta, Maria.  Lu goda Tommy dengan liar, lu buat si brengsek batu itu kaya anjing jinak,” ucap Brian.  “Dimana?” tanya Nurul sambil membelalakkan matanya.  “Di taman waktu acara pesta malam itu,” jawab Brian dengan wajah liciknya.


“Jadi selama ini lu cuma mempermainkan gua, Brian!  Soal Icha semua itu akal-akalan lu kan?” ucap Nurul geram.  “Jangan bahas perempuan itu.  Dia ga ada apa-apanya dibanding elu, Maria.  Sekarang yang gua mau cuma elu, Sayang,” ucap Brian yang tiba-tiba meremas salah satu gundukan di atas tulang rusuk Nurul.


Brian menggerang.  “Ga ada apa-apanya?” gumam Nurul.  “Argh…” Nurul menggigit mulutnya sendiri, Brian baru saja menekan tombol kenikmatan yang sebenarnya terasa sakit.  “Lepasin gua, Brian!” ucap Nurul dengan suaranya yang berat.  Brian semakin melacarkan serangannya.  Mulutnya begitu liar hingga bisa mengigit puncak Nurul yang berada di balik atasannya, sementara tangannya memenjara Nurul dalam ketidakberdayaan.


“Nurul meronta lalu menendangkan lututnya ke arah perut Brian.  Tidak tepat sasaran, bukan itu bagian yang bermaksud Nurul serang, bukan perut.  “Sialan lu, Maria!  Lu mau main kasar, huh?” ucap Brian.

__ADS_1


“Gua ga napsu sama elu, tahu ga!  Belum ada cerita gua digerepe-gerepe di tempat murah kaya gini!” ucap Nurul meninggikan lehernya.  Nurul dengan cepat membenahi posisi dan pakaiannya.


“Iya!  Memang gua ga setajir Tommy!  Tapi gua adalah kunci dari pencarian lu dan keluarga sombong lu itu!” ucap Brian kembali menangkap tubuh Nurul.  “Kunci?” gumam Nurul.  “Ya, kalian ga akan bisa nemuin Icha sampai kapanpun,” ucap Brian.  “Jadi, cowok yang melarikan Icha itu elu?” ucap Nurul menegakkan tubuhnya setelah baru saja ditabrak Brian hingga separuh berbaring.


Brian menangkap tanda-tanda kemenangannya.  Ia menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman yang begitu licik.  “Jadi lu berharap gua melakukan ini demi apapun yang bisa lu ceritain tentang Icha, gitu?” ucap Nurul mencengkram tubuh yang ada di antara pangkal paha Brian.  “Ah, te...pat, Sayang,” ucap Brian dengan suara yang begitu berat.


Dengan gerakan yang terburu-buru dan seperti kesetanan, Brian menurunkan resleting celana jeans-nya lalu menarik dan mengarahkan tangan Nurul ke bagian tubuhnya itu.  Nurul mencengkramnya dengan kuat.  “Ah, ya, begitu, Sayang,” suara Brian semakin berat.  Matanya ia pejamkan, menandakan kenikmatan baru saja menerpanya dan hampir tak sanggup ditampungnya.


“Icha ga melakukan ini ke elu, Brian?” ucap Nurul dengan rasa kesal tapi di sisi lain karakter liar Maria sedang mendominasinya.  “Ga, Sayang.  Dia ga bisa melakukan ini.  Dia terlalu polos,” ucap Brian sambil menahan napas yang nyaris tersengal.  Nurul mulai menaik turunkan cengkraman lembutnya, membuat Brian tersengal seperti seseorang yang kepedasan.  


“Terus lu buang kemana cewek polos yang ga berguna itu, Brian?” ucap Nurul lalu menggigit bibirnya sendiri sambil memandangi ekspresi Brian yang seakan sedang melayang.  “Cewek itu kabur dari gua… Ma...kanya… gua… ergh… Makanya gua ikut mencarinya bareng elu.  Argh… Lagi, Sayang… Lagi… “ ucap Brian.  Nurul mempercepat tempo pijatannya.  Hal itu membuat Brian tak sadar baru saja jujur membuka fakta antara dirinya dan Icha.


“Kabur?  Kemana?  Sama siapa dia kabur?” ucap Nurul.  “Dia kabur sama cowo barunya, ergh… Gua ga tahan lagi.  Buka! Giliran elu, ayo buka!” paksa Brian setelah melepaskan cengkraman tangan Nurul.  Brian hampir merobek pakaian Nurul.  “Anj’ing lu, Brian!  Gua ga akan sudi melakukan ini sama lu!” Nurul bangkit, ia bisa melepaskan diri.


Brian sedang tak berdaya sebab geloranya yang membara masih terpusat di bagian tubuhnya yang sensitif itu.  Nurul dengan kelabakan membuka pintu.  Pikiran Nurul yang begitu runyam membuatnya tak bisa berkonsentrasi menemukan knop kunci, tapi akhirnya ia bisa menemukannya dan membuka pintu itu.  Nurul berlari sekencang-kencangnya.


Ketika akan pergi keluar tempat itu, ia mundur ke bagian resepsionis yang baru saja ia lewati beberapa langkah.  “Pak, di ruangan A15 ada orang gila yang mencoba memperkosa saya!” ucap Nurul dengan napas tersengal-sengal.  “Tolong, Pak!  Cepat!  Cepat!”  Tak bisa menahan kepanikannya, ia segera meninggalkan resepsionis lalu berlari ke luar plaza.  

__ADS_1


Sebuah taksi baru saja membuatnya tertolong.  Nurul segera meminta supir untuk membawanya pergi dengan kecepatan tinggi.  Nurul menyebutkan alamat rumahnya, lalu ia menyandarkan diri dengan sangat lemas.  Nurul memegangi dadanya yang berdegup kencang dan nyaris seperti bom waktu yang akan meledak.


__ADS_2