
“Mengapa jadi begini?”
Seorang anak perempuan mengamuk di depan matanya. Putri, adalah nama yang diberikan Nurul kepada anak itu.
Anak itu sedang menjerit-jerit, meraup apapun yang bisa ia raih dari atas meja belajarnya, lantas membantingnya ke lantai. Kurang tepat. Anaknya itu tidak menyentuh album foto, ponsel dan benda-benda kesayangannya.
Namun, selain itu buku sekolah, kamus, catatan, juga kotak pensil, semuanya ia banting. Padahal, baru bulan lalu ia membeli kotak pensil itu. Mungkin ia sudah bosan.
Karpet putih dengan motif jantung hati meredam suara bantingannya. Agak mahal memang, tapi Nurul bersyukur sudah membulatkan tekad membeli karpet tersebut.
Pernah, amarah anak itu makin berkobar karena ia tak puas dengan suara bantingan yang teredam itu, jadi ia pun mulai melempar semua barang ke tembok dengan geram. Namun, saat ini ia tak lagi melakukannya, karena sejak dua bulan lalu tembok itu ditempeli poster idola kesayangannya.
Akhir-akhir ini, anak perempuan itu biasa mendelik ke arah poster tersebut, kemudian berteriak dengan seluruh sisa kekuatannya. “KELUAR SANA! MAMA SANGAT KAMPUNGAN!”
Lantas, tantrum itu selesai begitu saja. Nurul tak boleh marah hanya gara-gara dimaki seperti itu. Makina itu masih lebih baik daripada tantrum yang tiada henti.
Apa yang sudah ia lakukan sampai pantas dimaki seperti itu oleh anak yang telah ia besarkan dan rawat dengan kasih sayang?
Awalnya, Nurul terluka. Akan tetapi, ia mencoba mengerti bahwa itu bukanlah isi hari Putri yang sebenarnya. Bahwa itu cara Putri untuk melampiaskan emosi yang tak tahu harus ia tujukan kemana.
Bahwa itu teriakan penuh rasa sesak. Pikiran itulah yang membuat Nurul bisa menerima makian itu dengan lapang dada.
Beberapa waktu yang lalu, ia menemukan strategi. “Sepertinya aku harus mencoba berkonsultasi di forum diskusi daring tentang kekerasan rumah tangga,” batinnya. Nurul pun mulai berkonsultasi secara daring.
Kemudian, dalam forum tersebut, seseorang mengatakan, “Coba tempelkan poster di dinding. Makin langka posternya, makin bagus.”
Poster itu Nurul beli dari situs lelang, setelah ia membujuk Putri yang dengan santainya bilang ingin membolos karena tidak ingin ketinggalan deadline lelang siang itu.
__ADS_1
Nurul menghabiskan tiga ratus ribu rupiah hanya demi membeli selembar kertas. Nurul sendiri pernah punya idola yang membuatnya berbunga-bunga, tetapi belum pernah ia mengeluarkan uang sedemikian banyak hanya untuk selembar poster.
Sebuah tindakan yang konyol. Namun, ia berhasil mendapatkannya. Begitu Putri pulang dari sekolah, gadis itu tampak senang karena ibunya berhasil menang lelang. Meski demikian, setelah tahu harganya, ia segera berkata jijik.
Pada akhirnya, Nurul tidak mendapatkan ucapan terima kasih. Ia juga harus membayarnya dengan gaji tiga hari kerja paruh waktu. Sejak kebangkrutan suaminya, Tommy, Nurul membantu perekonomiannya dengan bekerja di sebuah swalayan tak jauh dari rumahnya.
Nurul dan Tommy berusaha tinggal di tempat tinggal sederhana dengan cicilan yang harus mereka bayar. Rumah dan segala aset milik Tommy telah disita karena persaingannya dengan lawan politiknya.
Nurul bekerja untuk membantu Tommy, mereka butuh biaya agar Putri bisa ikut ujian masuk SMA swasta impian mereka nanti.
Meski begitu, kalau dipikir-pikir uang untuk membeli poster itu bukanlah sebuah pemborosan. Malah bisa dibilang murah, karena tangan Putri yang tantrum, yang sempat melemparkan kamus ke tembok itu, akhirnya bisa tercegah.
Sejak itu, Nurul jadi menyukai bintang K-Pop pujaan Putri. Anak muda yang tersenyum manis di poster yang ia beli itu. Ia pun jadi ikut menjadi fansnya. Ia selalu mengecek acara televisinya, juga mendownload kumpulan foto dan album lagunya.
Menyenangkan rasanya menjadi fans salah satu bintang K-Pop. Pemuda itu berkembang dalam waktu singkat dan berubah menjadi menawan. Meski pada awalnya cara menyanyinya dan beraktingnya cukup kikuk.
Sebelum ini, setiap Nurul bicara kepada Putri, seperti, “Bukannya sebentar lagi ujian?”, “Bagaimana sekolahmu?”, “Ayo, cepat mandi,” Putri selalu menimpalinya dengan keluhan. Kalau sudah begitu, Nurul malah seperti memencet tombol tantrumnya.
Namun, akhir-akhir ini Nurul bisa berbincang dengan Putri secara menyenangkan, berkat topik tentang artis idola mereka.
“Katanya drama Fijin akan dirilis, ya? Kabarnya dia akan menyanyikan lagu utamanya. Hebat, ya. Mau, tidak, pergi ke konsernya nanti?” tanya Nurul.
“Hah? Malu banget kalau pergi ke konser bareng tante-tante. Tapi, kalau memang Mama mau pergi, aku bisa menemani Mama. Sebagai bayarannya, belikan aku baju, ya,” ucap Putri.
Kalau ada kesempatan, Nurul bahkan sempat ingin menulis surat ucapan terima kasih kepada sang idola. Ia sangat menantikan waktu konser itu dilaksanakan.
Masalahnya, kali ini artis K-Pop itu yang menjadi anaknya mengamuk. Pemuda itu hadir sebagai bintang tamu di sebuah acara kuis sarana promosi drama barunya. Ia mampu menjawab semua pertanyaan dengan mudah.
__ADS_1
Lalu, Nurul akhirnya tahu bahwa anak itu ternyata siswa sebuah sekolah terkenal yang sukses.
Padahal Nurul hanya memuji fakta itu. “Hebat, ya, Fijin. Ternyata dia juga pintar. Mungkin karena itu pula aktingnya bagus. Dia pasti gampang menghafal dialog, ceritanya pun jelas sudah masuk ke kepala,” ucap Nurul.
“Dia bisa menari, juga menyanyi. Anak yang pintar itu memang pada dasarnya bisa apa saja,” lanjut Nurul.
“Aku memang ga lolos!”
Putri berteriak dan Nurul tak tahu bagian mana dari kalimatnya yang memencet tombol tantrum anaknya itu. Anak itu berderap ke lantai dua. Suara janggal mirip teriakan bergema di sepenjuru rumah bersamaan dengan suara tangis Putri.
Nurul ingin membiarkan saja, tetapi itu malah akan membuat Putri semakin menjadi. Pernah satu kali anak itu turun lagi ke dapur lalu mulai membanting piring-piring satu demi satu.
Nurul pun naik dengan langkah berat, kemudian membuka pintu kamar Putri. Beberapa buku sudah bergeletakan di lantai.
“Hentikan, Putri! Mama minta maaf. Putri tidak perlu pintar,” ucap Nurul. “Jangan ngeledek!” balas Putri.
Buku catatan, buku pelajaran, semua dibanting ke lantai. Tinggal ponsel dan album foto yang masih ada di mejanya. Nurul berangsur tenang karena tidak ada lagi benda yang bisa dibanting, dan tantrum itu pun akan segera selesai.
Akan tetapi, saat itu juga, tangan Putri terulur ke dinding.
“Stop!” seru Nurul.
Senyum anak muda itu dikoyak jadi dua. Saat itulah tubuh Nurul serasa bagaikan diselimuti plastik bening. Sekujur tubuhnya seperti diguyur lem cair yang perlahan-lahan mengeras. “Perasaan apa ini?” batinnya.
Di balik plastik bening itu, Nurul bisa meilhat sebuah dunia yang tak dikenal.
Seekor monster, yang belum pernah ia lihat, sedang mengamuk. Persis monyet, atau kucing, ah, tapi kalau dilihat-lihat, wajahnya lebih mirip tupai.
__ADS_1