Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Rayuan Nurul (revised)


__ADS_3

“Sebenarnya aku datang untuk… mengajukan tawaran kepadamu,” ucap Nurul.  Dagu Nurul bergetar, begitu juga tangannya.  Tapi, ia berusaha membuat dirinya setegar mungkin seolah ia mengenakan pakaian musim dingin yang paling tertutup dan tebal, begitu sopan.


“Kamu menginginkannya bukan?” ucap Nurul sembari melambaikan kedua tangannya ke bawah untuk menindikasikan seluruh tubuhnya.  Untuk pertama kalinya dalam hidup Tommy, ia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.  Nurul tidak mungkin mengatakan apa yang Tommy pikir Nurul maksud.  Ini bukan gadis desa polos yang dikenalnya.


Saat melihat Tommy terdiam, Nurul melanjutkan dengan lebih gugup.  “Aku akan memberikan tubuhku kepadamu secara gratis untuk satu malam.  Sebagai gantinya, kamu harus berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada Tuan Sudarsono atau Brian,” ucap Nurul.


Nurul pun menarik napas dalam-dalam, lalu dengan segera melanjutkan.  “Aku tidak mengharapkan apapun selain janjimu.  Aku tidak ingin kamu menikahiku.  aku hanya ingin kamu tutup mulut,” ucap Nurul.


Demi itu Nurul rela melakukan hal ini?  Untuk sejenak Tommy sebenarnya mempertimbangkan tawaran itu dan maksud dari semua yang dikatakan Nurul.  Ia bisa merobek gaun Nurul dan membelai setiap lekuk tubuhnya yang menggoda.  Ia bisa membuai dada yang cantik itu, membuka kedua kaki jenjang itu dan membenamkan dirinya dalam tubuh Nurul dengan leluasa.


Lagi pula, Tommy sebenarnya tidak sungguh-sungguh bermaksud menemui Tuan Sudarsono.  Itu semua hanya gertakan.  Tapi, jika Tommy menyerah dan menerima tawaran Nurul, ia akan kehilangan satu-satunya metode untuk mendesak Nurul mengatakan kebenaran kepadanya.  Ia tidak boleh menyerah.


Nurul menawarkan diri karena sudah putus asa, bukan karena berharap ingin tidur di ranjangnya.  Nurul terlihat malu-malu di percintaan pertamanya.  Nurul terlihat tidak bisa diam dengan daun itu dan matanya menyapu ke seluruh ruangan itu seolah-olah mencari monster yang sedang bersembunyi di balik rak buku.


“Rencanamu begitu berarti sehingga kamu rela menghancurkan dirimu begini?” tanya Tommy.  Nurul tersentak saat mendengar hal itu.  Tapi, tampaknya itu tidak bisa menghentikan tujuannya.  “Ya, tujuan dari penyamaranku jauh lebih terhormat daripada yang kamu pikirkan dan jika kamu mengakhirinya sebelum… “


Kemarahan terpancar di mata Nurul lalu segera memudar.  “Kamu harus mempercayaiku.  Banyak orang akan hancur jika kamu bicara dengan Tuan Sudarsono.  Aku melakukan apapun untuk mencegah hal itu terjadi,” ucap Nurul.


Nurul mengangkat tangannya dan melepas penjepit rambutnya.  Ia membiarkan jalinan rambut panjangnya jatuh tergerai di bahunya.  “Apapun yang kamu inginkan, Tommy,” ucap Nurul.

__ADS_1


Gejolak gairah membuat lutut Tommy lemas.  Aroma parfum bunga menggodanya.  Saat Nurul menyibakkan rambutnya yang panjang, Tommy berpikir seolah dia telah menggapai ujung surga.


“Kamu pikir aku ini laki-laki macam apa?” kata Tommy dengan suara tercekik.


*


Jemari Nurul menjelajahi tubuh Tommy yang tertutup celananya.  Ia membelainya dengan penuh kepastian yang membuat Tommy terdiam sejenak saat tubuhnya itu menjadi sekeras besi.  Sambil mengutuk, Tommy meraih tangan Nurul dan menjauhkannya dari tubuhnya.


Meraih bahu Nurul, Tommy mencari sejumlah tanda ketidakpastian di mata Nurul, tapi ia tidak menemukannya.  Senyum perlahan menghiasi bibir Nurul saat ia melingkarkan tangan ke sekeliling pinggang Tommy.  Lalu, dengan ganas Nurul melancarkan tangan ke bawah untuk menangkap bokong Tommy.  Nurul meremasnya dan Tommy nyaris meledak saat itu.


“Jadi, apakah kita akan melanjutkannya?” tanya Nurul dengan suara lembut seorang kekasih.


Tommy menarik tangan Nurul ke dalam pelukannya.  Ia mencium Nurul dengan segala gairah yang telah terbentuk dalam dirinya sejak pertama kalinya ia melihat gadis itu.  Respons Nurul yang lembut, cara tubuh Nurul meleleh dan mulutnya terbuka di bawah mulut Tommy, semua itu telah menggoda Tommy.  Ada semacam kegembiraan terkutuk yang posesif dan itu menakutkan Tommy.


Demi Tuhan… rasa Nurul, aroma Nurul begitu menggiurkan dan memperdaya.  Rasanya akan membuat setiap laki-laki lupa diri.  Dengan liar, Tommy menancapkan lidahnya ke mulut Nurul yang hangat.  Ia sekarang nyaris gila untuk menyatukan dirinya dengan Nurul.


Tubuh Nurul menggeliat seperti kucing dalam pelukan Tommy.  Ia hampir bisa membayangkan Nurul mendengkur saat Nurul merangkulkan lengan ke leher Tommy, seperti kucing.  Nurul membenamkan jemarinya dalam rambut Tommy untuk menarik Tommy mendekat.  Lalu jam berdentang tepat di tengah malam, itu mengejutkan mereka berdua.


Melepaskan mulutnnya dari mulut Nurul, Tommy sekilas melihat jam.  Lalu, seluruh ruangan itu yang suram.  Tommy tidak tahu apa ia bisa menahan diri lebih lama lagi untuk segera bercinta dengan Nurul, tapi gadis ini layak mendapatkan yang lebih baik daripada ruangan ini.

__ADS_1


“Ayo,” ucap Tommy sembari menarik Nurul ke arah pintu.  “Kita mau kemana, Tom?” tanya Nurul.  “Ke kamar tidurku.  Aku ga mau bercinta denganmu di lantai seperti gelandangan,’ ucap Tommy.


Nurul berhenti sejenak di pintu.  “Apa ini berarti kamu setuju dengan tawaranku?  Kamu mau tutup mulut kan?” tanya Nurul.


Perkataan Nurul mengingatkan Tommy dengan cara yang buruk tentang alasan mengapa Nurul melakukan hal ini.  Tommy menatap Nurul, berharap ia punya keinginan untuk menolak Nurul dan ternyata ia sama sekali tak punya keinginan itu.


Satu tatapan ke rambut Nurul yang tergerai, bibirnya yang kemerahan, matanya yang memancarkan hasrat, itu sudah cukup membuat Tommy mengabaikan semua keraguan.  “Tutup mulut?  aku akan mengikat lidahku selamanya hanya demi bisa memilikimu di ranjangku malam ini,” ucap Tommy.


Kemenangan terpancar jelas di mata Nurul.  Lalu, ia menyentuhkan jari ke mulut Tommy, menelusuri garis bibirnya dengan gerakan sensual yang membuat gairah melanda tubuh Tommy.  “Aku bisa memikirkan kegunaan lain yang lebih baik untuk lidahmu,” ucap Nurul.


Tommy menggigit jari Nurul, mengisapnya sampai Nurul bersuara.  saat Tommy melepaskan jari itu, tubuh Tommy terasa lebih keras daripada sebelumnya.  “Benar.  Ikuti aku dan akan kutunjukkan berapa banyak yang bisa kulakukan dengan lidahku,” ucap Tommy.


Kamar tidur Tommy tidak seperti yang dibayangkan Nurul.  Yang pasti, di kamar itu terdapat sebuah tempat tidur besar, tempat yang sempurna untuk merayu.  Anehnya tidak ada lukisan-lukisan cabul, patung-patung erotis untuk membangkitkan gairah seseorang di sini.  Untuk seorang laki-laki yang menghabiskan malamnya dalam pelukan perempuan penggoda dan janda-janda perayu, kamar tidur Tommy tampak tertata dan memiliki sedikit perabotan saja.  Hanya ada meja rias dan meja tulis yang menemani ranjang itu.


“Kita sudah sampai,” ucap Tommy.  Tommy mengunci pintu kamarnya dan suaranya menggema keras di telinga Nurul.  “Ya,” jawab Nurul.  Nurul benar-benar berada di sini sekarang.  Di kamar tidur Tommy.  Berdua saja dengan Tommy.


“Ayo kita lepas semua ini.  Bisa kan?” ucap Tommy.  Tommy mendekati Nurul dari belakang dan mendorong rambutnya ke samping agar ia bisa membuka resleting gaun Nurul.  Nurul pun merasakan gaunnya terbuka, menyingkapkan punggungnya sedikit demi sedikit untuk merasakan dinginnya udara.


Nurul bergetar.  sebagian karena udara dingin, sebagian karena ketakutan.  Saat Tommy menciumnya tanpa ampun tadi, Nurul lupa tentang banyaknya hal yang ingin dilakukannya.  Tapi, menyadari Tommy melepaskan gaunnya, ia menyadari kenyataan yang tidak mungkin bisa ia hindari.  Setelah semua ini berakhir, Nurul akan benar-benar hancur.

__ADS_1


__ADS_2