
Nurul baru saja ditemui oleh Tommy. Kali ini Tommy gagal menggodanya. Sebuah keputusan berat yang Nurul ambil untuk menjauhi Tommy, sebab ia tidak ingin penyamarannya terbongkar. Nurul bisa saja berciuman lagi dengan Tommy, sebagaimana yang sebenarnya ia inginkan. Tapi, Nurul bisa menahan diri. Bukan saatnya memanfaatkan sosok Maria untuk mendapatkan Tommy. Lagipula hubungan di atas nafsu belaka bukanlah hubungan yang diimpikan Nurul.
“Kirain lu dimana… “ ucap Brian yang telah kembali ke perpustakaan. Nurul terlihat sedikit memucat. Belum sepenuhnya Nurul mengembalikan mode dirinya ke sosok Maria. “Lu sakit, Mar?” tanya Brian. “Enggak kok. Mungkin cuma sedikit ngantuk aja,” jawab Nurul dengan senyuman yang sebenarnya ia paksakan. “Ada di tempat semembosankan ini memang bikin ngantuk. Maafin gua ya, Maria? Karena gua udah ninggalin lu di sini,” ucap Brian.
“Ga apa-apa kok, Kak. Lu kan ga lama perginya. Jadi gimana? Kita jalan sekarang?” ajak Nurul. “Yuk,” jawab Brian. Tommy pun diam-diam memperhatikan mereka berdua pergi dengan perasaan yang geram. Tangannya ia kepalkan kuat-kuat di balik rak buku tinggi yang menyembunyikan dirinya itu.
“Ih, gua pingin deh jadi anak kuliahan,” ucap Nurul yang sedang berjalan bersama Brian di halaman kampus. “Kuliah? Lu ga pingin langsung married aja?” tanya Brian. “Married? Kok lu mikir ke sana sih, Kak? Ga pingin berkarir dulu, keliling dunia dulu, atau ngapain gitu? Mumpung masih muda, loh?” tanya Nurul.
“Justru menurut gua karena masih muda itu, dengan menikah berarti bisa membuat hidup jadi berfaedah. Coba kalau jomblo terus, atau sekedar pacaran… Itu kan tiap hari kita cuma bisa leha-leha, buang-buang duit cuma untuk kesenangan pribadi. Menikah berarti kan hidup jadi berdua. Lebih asik kan kalau keliling dunianya berdua,” ucap Brian.
Nurul hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarkannya. Ternyata Brian si cowok pesolek punya visi sejauh itu. Sekilas dari luar Brian adalah cowok yang hanya memikirkan dirinya sendiri, terlalu sibuk memperhatikan kesempurnaan diri sendiri. Bahkan sampai saat ini Brian tidak punya pasangan.
__ADS_1
“Kenapa lu? Kaya bengong gitu?” tanya Brian. “Enggak, enggak apa-apa. Gua cuma salut sama pemikiran lu, Kak,” ucap Nurul. “Jadi sekarang ceweklu kemana?” tanya Nurul. “Gua ga punya cewek. Gua akan memilih sosok sempurna buat pasangan hidup gua seumur hidup,” jawab Brian. “Seandainya jodoh Icha itu Kak Brian,” gumam Nurul. “Hah? Lu bilang apa tadi?” tanya Brian.
“Emh, enggak… Gua cuma teringat dengan sohib gua, Kak. Icha,” ucap Brian. “Oh, cewek itu. Menurut gua Icha adalah cewek yang menarik. Ngomong-ngomong, gua jadi ingat nih. Dulu gua pernah lihat tu anak nemenin cowoknya di Fakultas Hukum, lagi nongkrong-nongkrong di lobby. Gimana kalau kita ke sana aja? Lu nyimpan foto tu anak kan?” ajak Brian. “Iya, ada di HP gua, Kak,” ucap Nurul.
Dalam melangkah, Nurul mencoba-coba mencocokkan apa yang baru saja Brian katakan dengan sikap yang ditunjukkannya. Menikah muda? Keliling dunia berdua katanya, dan ia mencari sosok sempurna sebagai pendamping. “Itu bukan sebuah visi. Itu adalah pencarian kesenangan! Ah, kalian cowok-cowok kota sama aja, hanya mencari kesenangan dari pasangan,” batin Nurul.
Nurul baru mengerti setelah ia bisa benar-benar memahami karakter Brian. Brian tidak sevisioner itu. Brian tidak lebih hanya seorang lelaki pesolek yang suka menggosip dan mencari kesenangan serta keuntungan dari setiap yang dilakukannya.
Nurul pun mulai berpikir apa yang membuat Brian kini bersedia repot-repot membantunya mencari Icha. Mungkin kesamaan minat, sebab siapa yang bisa sefrekuensi dengan Brian, sedangkan Nurul pun bertahan dekat dengan Brian yang suka menggosip itu hanya karena ingin memanfaatkannya saja. Sudah jelas bagi Nurul, Brian dan dirinya adalah hubungan saling memanfaakan.
Setelah buang air, Nurul menatap cermin di depan pintu-pintu bilik toilet. Nurul merasa lelah dan geram sebab mungkin usahanya hari ini lagi-lagi tidak akan membuahkan hasil. Sedang menatap dirinya di cermin, seorang perempuan yang baru saja keluar dari bilik pun menahan langkahnya.
__ADS_1
“Lu… Lu yang tadi jalan sama Brian kan? Brian anak Pertanian?” ucap perempuan itu. Dari penampilannya sangat jelas bahwa ia adalah seorang mahasiswa. “Iya, ada apa Kak?” tanya Nurul. “Hem… Gua tadi ga sengaja ngelihat lu jalan sama tu cowok. Mau gua labrak, eh menurut gua ga penting juga soalnya gua lagi buru-buru tadi,” ucap perempuan itu.
“Lu ceweknya ya?” desak perempuan itu. “Bukan, Kak. Gua bukan cewek Kak Brian. Gua jadi kepo deh, Kak. Memangnya ada masalah apa sih?” jawab Nurul. “Gua kasih tahu, ya… Tu cowok brengsek banget tahu ga! Temen gua diputusin padahal secara personal temen gua itu udah diajakin nikah sama doi. Eh, si brengsek itu ternyata punya cewek baru. Mana anak kecil gitu lagi, yah cewek barunya itu sepantaran elu gini sih,” ucap perempuan itu.
DEEG… Nurul tersentak, ternyata ia baru saja dibohongi oleh Brian tentang pernikahan. Brian nyatanya adalah cowok pengecut yang mencari simpati cewek dengan membawa-bawa pernikahan. “Kak Brian ngajakin cewek nikah?” tanya Nurul. “Iya, bener banget! Temen gua itu sampe udah hunting-hunting undangan sama gaun nikah gitu loh sama nyokapnya,” lanjut perempuan itu.
“Nyokap? Berani juga dia melibatkan keluarga orang seperti itu. Atau mungkin dia tadinya benar-benar mau menikah?” lanjut Nurul. “Gua ga tahu, pokoknya ceritanya kaya gitu. Jadi gua peringatkan elu jangan sampe lu tergoda sama tu cowok. Kalau dia ngajakin nikah, lu jangan percaya. Tu ceweknya yang baru gua akui memang cakep dan lebih tajir daripada teman gua. Jangan sampe lu jadi korban berikutnya. Soalnya gua lihat lu setipe sama tu cewek barunya Brian, malah kayanya lebih tajir lu,” ucap perempuan itu sambil memandangi Nurul dari kepala sampai kaki.
Pintu utama toilet pun terbuka. “Eh, Len! Gua tungguin juga. Lama bener lu!” tegur perempuan lainnya yang mendongakkan kepalanya di pintu itu. “Iya, iya. Ini gua juga udah selese kok,” jawabnya. Perempuan yang tak dikenal Nurul itu pun pergi meninggalkan Nurul.
Mata Nurul terbelalak tiba-tiba, lalu ia mengejar perempuan yang tadi ditemuinya. “Kak… Kak… Tunggu!” panggil Nurul sembari berlari mengejar perempuan itu. Nurul lalu menanyakan sambil menunjukkan foto Icha diponselnya. “Nah! Ini ni cewek barunya Brian!” ucap perempuan itu. “Astafirullah. Jadi Kak Brian yang melarikan Icha!” ucap Nurul. “Melarikan? Jadi dia melarikan anak orang?” tanya perempuan itu. “Itu yang lagi gua cari tahu sekarang, Kak. Ini sahabat gua. Dia udah beberapa bulan ga pulang ke rumah,” ucap Nurul.
__ADS_1
Perbincangan singkat Nurul dan perempuan asing itu berlangsung di koridor tak jauh dari toilet. Ketika Nurul meminta kontak perempuan itu, ia menolak. Ia menolak untuk terlibat lebih jauh, ia hanya bisa membantu memberikan informasi sebatas yang ia tahu saja dan semua telah ia ceritakan tadi kepada Nurul.
Nurul dan perempuan itu pun berpisah. Nurul segera kembali menemui Brian di tempat semula ia meninggalkannya. Perhatiannya kini terpusat pada Brian. Nurul tak lagi ingin melanjutkan pencarian Icha dengan menanyakan ke orang-orang sambil menunjukkan foto Icha, sesuatu yang konyol Nurul rasa. Ia baru saja dibohongi oleh Brian.