
Setelah semua ini selesai, Nurul akan benar-benar hancur. Ia dihancurkan oleh seorang laki-laki yang lebih memilih untuk menelan paku daripada menikah. Bukan karena Nurul berharap ingin menikah dengan Tommy. Satu hal yang telah dicapai dari kunjungannya ke rumah Tommy adalah mengingatkan tentang besarnya perbedaan derajat mereka.
Kamar tidur ini sendiri ukurannya dua kali lebih besar dari penggabungan semua kamar tidur yang ada di pesantren. Ini hanyalah salah satu rumahnya, kemungkinan Tommy punya lebih dari satu rumah. Istrinya nanti pasti menjadi nyonya rumah yang sempurna. Seorang perempuan yang punya banyak keahlian yang tidak pernah dibayangkan Nurul.
Seorang perempuan seperti Nurul hanya cocok menjadi seorang perempuan simpanan. Bahkan rasanya ia pun tidak pantas menjadi perempuan simpanan Tommy. Cara Tommy melepas kaitan dan membuka penahan dada Nurul menunjukkan bahwa Tommy punya pengalaman yang tidak dimiliki Nurul. Jelas sekali kalau Tommy telah sering melakukan hal ini sebelumnya.
Nurul bahkan belum pernah sekali pun melakukannya. Jika ia bisa menjalani ini semua tanpa menimbulkan kecurigaan Tommy tentang betapa tidak berpengalaman dirinya, sungguh merupakan suatu keajaiban.
Tentu saja, saat Tommy menidurinya nanti, laki-laki itu akan menemukan kebenaran itu. Nurul pernah mendengar penjelasan bahwa saat seseorang kehilangan keperawanan, ia akan berdarah dan merasakan kesakitan. Nurul pasti akan kesulitan menyembunyikan hal itu. Tapi, pada saat itu, hal tersebut tidak akan menjadi masalah.
Satu-satunya alasan Tommy tidak menginginkan seorang perawan adalah ketidaksukaannya terhadap para perempuan yang kurang berpengalaman. Tommy juga takut dipaksa untuk menikah. Tentang alasan terakhir Tommy itu, Nurul nanti akan meyakinkan Tommy bahwa ia tidak akan memaksa Tommy untuk menikahinya.
Tapi, bagaimana mengatasi alasan Tommy yang pertama? Nurul pasti terlihat tegang atau melakukan beberapa gerakan yang tidak disadarinya, yang mengungkapkan ketakutannya, karena Tommy berhenti sejenak setelah selesai melepas pakaian Nurul. “Ada masalah, Sayang?” tanya Tommy.
“Ga ada,” jawab Nurul. Tommy membalikkan tubuh Nurul, tatapannya menyusuri wajah Nurul. “Orang akan berpikir saat memandangmu kalau seorang laki-laki belum pernah melucuti gaunmu sebelumnya,” ucap Tommy.
Nurul menelan ludahnya. “Jangan berlagak bego,” ucap Nurul dengan tawa gugup. “Bagaimana aku bisa merasakan kenikmatan bercinta kalau masih menggunakan gaun? Aku hanya khawatir kalau aku ga bisa memuaskanmu. Bagaimanapun kamu telah menjalin hubungan dengan banyak perempuan yang hebat. atau setidaknya bergitulah yang mereka katakan,” ucap Nurul.
Seperti obor yang menyala, tatapan Tommy menyusuri gaun Nurul yang terbuka. “Tak ada yang sepertimu. Percayalah padaku, Nurul. Kamu pasti membuatku puas malam ini,” ucap Tommy.
Waktu mereka habiskan berdua di atas ranjang. Hingga pada suatu ketika…
__ADS_1
Tiba-tiba Tommy mendesak tubuhnya semakin dalam dan tampaknya merobek sesuatu di dalam tubuh Nurul. Itu menyebabkan jeritan terlontar dari mulut Nurul. Tommy membeku dan matanya terbuka untuk menatap Nurul dengan tatapan kaget. “Astaga! Sialan kamu, Nurul!” ucap Tommy.
Tommy tidak melanjutkan perkataannya saat Nurul menatapnya dengan tatapan bersalah. Setiap otot di tubuh Tommy mengencang. “Kamu berbohong padaku, Nurul!” ucap Tommy. Nurul mengangguk, merasakan sedikit kelegaan karena ia tidak perlu berpura-pura lagi. “Maafkan aku,” bisik Nurul.
“Kupikir kerusakan sudah terlanjur terjadi. Tapi aku bisa berhenti,” ucap Tommy. “Jangan!” ucap Nurul. Jika Tommy berhenti sekarang, laki-laki itu meungkin tidak akan memiliki alasan untuk memenuhi janji atas tawaran yang dibuat Nurul. dengan putus asa, Nurul mencengkram pinggul Tommy dan menambatkan tubh Tommy kepadanya. “Selesaikanlah, kumohon. Kamu udah janji!”ucap Nurul.
Mata Tommy berkilau muram. “Tapi aku telah menyakitimu. Aku harusnya tadi berhati-hati,” ucap Tommy. “Rasanya pasti sakit saat pertama kali,” ucap Nurul. “Ya, begitulah kata orang-orang,” ucap Tommy.
Nurul sedikit menggoyangkan pinggulnya dan yang mengejutkan itu bisa mengurangi sedikit tekaan yang dirasakannya. “Tom, ini ga terlalu buruk,” ucap Nurul.
Tommy memejamkan matanya terlihat kesakitan.
Untuk sesaat dunia seakan berhenti bergerak. Hanya ada dua orang yang saling menyatu, terjalin dalam perasaan yang manis. Lalu, Tommy ambruk di atas Nurul. Nurul merasakan kenikmatan, namun mulai sekarang dan selamanya ia tidak akan bisa mendapatkan Tommy lagi.
*
Nurul memalingkan wajahnya dan menangis ketika ia menyadari bahwa apa yang baru saja dilakukannya membuat ia tak akan pernah bisa bersama Tommy. Pada awalnya Tommy hanya menyadari rasa kepuasan yang paling mengagumkan yang pernah dialaminya sepanjang hidupnya. Nurul sepenuhnya menjadi miliknya.
Mengabaikan ketakutannya terhadap Nurul yang adalah gadis perawan, tampaknya Nurul pun menikmati percintaan mereka dengan antusiasme yang menghangatkan hati. Tommy yakin bahwa ia telah memuaskan Nurul.
Tommy membenamkan wajahnya di leher jenjang Nurul, sekali lagi mengagumi kelembutan dan kehalusan kulit Nurul. Lalu, ia mendengar isakan itu. Nurul menangis! Tommy mendorong dirinya menjauh dari Nurul dengan waspada. Ya Tuhan, ia telah menyakiti Nurul lebih dari yang dibayangkannya!
__ADS_1
Meregangkan tubuh di samping Nurul, Tommy menangkup pipi Nurul dengan sau tangannya yang bergetar. “Aku berusaha untuk tidak menyakitimu, Sayang. Maafkan aku, aku sungguh menyesal,” ucap Tommy. Nurul menggelengkan kepala. Ia berusaha menarik napas di sela-sela isakan tangisnya. “Kamu ga menyakitiku, Tom…” ucapnya.
Tekanan di dada Tommy sedikit berkurang. “Terus kenapa kamu menangis?” tanya Tommy. Mengusap air mata dengan tangannya, Nurul menatap Tommy dengan mata yang memerah. “Karena itu tadi sungguh indah. Aku ga akan pernah merasakannya lagi seumur hidupku,” ucap Nurul.
Tawa terlontar di bibir Tommy sebelum ia bisa menahannya. “Bahkan aku ga bisa melakukan apa pun untuk hal itu. Memang benar, mereka bilang seorang perempuan hanya bisa kehilangan keperawanannya sekali seumur hidup,” ucap Tommy.
Perkataan itu menyadarkan Tommy. Ia telah melakukan sesuatu yang tidak bsa dimaafkan. Ia telah merampas keluguan seorang gadis. Ia menunggu munculnya kemarahan, rasa penghianatan karena Nurul telah mangatur untuk mencapai sesuatu dengan tipu daya yang tidak mungkin dilakukan perempuan lain.
Namun, yang dirasakan Tommy adalah kebahagiaan karena dirinyalah yang mengambil kegadisan Nurul dan bukan orang lain.
“Aku… aku ga mempermasalahkan keperawanan itu,” kata Nurul dengan gugup. Rona menghiasi wajahnya saat ia memalingkan pandangannya. “Maksudku, kamu dan aku ga akan pernah bisa bercinta lagi,” ucap Nurul.
“Kenapa? Apa masalahnya, kok kita ga bisa melakukannya lagi?” tanya Tommy. Tommy membelai rambut Nurul, rasa damai yang aneh memenuhi Tommy saat ia mengambil satu-satunya keputusan yang bisa dilakukannya.
Tommy selalu tahu apa yang diharapkan darinya jika ia bercinta dengan seorang perempuan seperti Nurul. Tapi, ia tidak pernah berpikir kalau ia merasa sangat puas karena telah melakukannya. “Tentu saja kita harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi sampai kita menikah… “ ucap Tommy.
“Menikah?” Nurul tiba-tiba duduk di tempat tidur sambil menyilangkan lengan di depan dadanya dalam upaya sia-sia untuk bersikap sopan. “Kamu ga akan menikahiku, Tommy!” ucap Nurul.
Reaksi Nurul mengejutkan Tommy. “Tentu saja aku bisa menikahimu. Aku akan menikahimu, Nurul. Terutama sekarang karena aku telah mengambil keperawananmu. Aku bukan orang yang tidak tahu diri yang hanya bisa menghancurkan kesucian seorang perempuan lalu memulangkannya begitu saja,” ucap Tommy.
“Kamu ga perlu menikahiku. Aku sudah mengatakan itu sejak awal. Ini adalah suatu tawaran kesepakatan, ga lebih. Itulah satu-satunya cara yang bisa kupikirkan untuk membuatmu tutup mulut,” ucap Nurul.
__ADS_1
Meluncur turun dari tempat tidur, Nurul bergegas ke tempat pakaian dalamnya tergeletak dan ia pun mengenakannya. Tommy menatap noda merah yang ditinggalkan Nurul. “Suatu penawaran, hanya sebatas itu,” batin Tommy. Kata-kata yang mengerikan itu menghantam otaknya. Apa Nurul benar-benar melihat masalah itu sepelik ini?
Baiklah, tidak masalah bagaimana Nurul melihat masalah itu, pikir Tommy dengan letih. Itu tidak akan mengubah apapun. Tommy bangkit dari posisi tidurnya, berharap Nurul tidak meninggalkan tempat tidur dengan sangat cepat.