Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Rencana Gila Nurul (revised)


__ADS_3

Waktu berlalu.  Nurul dan Tante Lupita pun akhirnya sampai di rumah.  Nurul berjalan masuk di belakang Tante Lupita.  Pikirannya dipenuhi dengan ketidakpastian.  Nurul menemukan sebuah ide gila.  Tommy jelas menginginkan tubuh Nurul, terlepas ia akan menikahinya atau tidak.  Mungkin itu adalah satu-satunya jalan untuk Nurul keluar dari masalah.


Jika Nurul menawarkan tubuhnya untuk membuat Tommy tutup mulut, maka ia bisa menyelamatkan dirinya dari penjara dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran.  Resikonya Nurul akan menghancurkan masa depannya sendiri.  Ia mungkin akan hamil, sama seperti ibu Tommy.


Nurul hanya berharap agar hal itu tidak terjadi, jangan sampai hamil.  Seandainya dia hamil, itu hanya hal kecil yang harus dibayarnya demi terlepas dari penjara.  Dibandingkan dengan rencana-rencana Tuan Sudarsono untuknya, menghabiskan waktu semalam saja dengan Tommy mungkin tidak akan benar-benar beresiko seburuk itu.  Nurul harus melakukannya malam ini juga, sebelum besok pagi Tommy akan benar-benar melakukan semua ancamannya.


Suatu pikiran menakutkan tiba-tiba terlintas di benak Nurul.  Bagaimana jika Tommy menolak tawarannya?  Nurul kembali ke kamarnya dengan lemas.  Ia terhenti di depan cermin, ia memandangi pakaian yang tengah dipakainya.  Lalu, jauh di dalam sana ia memandangi dirinya sebagai seorang gadis polos yang berasal dari pelosok, begitu membosankan.


Tommy tidak akan pernah menyetujui hal ini.  Tommy tidak akan berminat pada perempuan muda yang lugu dan segala komplikasi yang bisa ditimbulkan di dalam hidup Tommy.  Perempuan polos akan minta pertanggungjawaban untuk dinikahi dan membebaninya dengan urusan rumah tangga.


Nurul menegang.  Baiklah jika demikian, bukan Nurul yang lugu yang akan mendatangi Tommy, tapi Maria.  Malam ini Nurul akan mengajukan suatu penawaran kepada Tommy, bahkan jika ia harus merayu Tommy dan berbohong kepada Tommy tentang keperawanannya.


Ataukah Nurul sebenarnya berpikir untuk melakukannya hanya karena ia menginginkan Tommy?  Karena ia berharap untuk mengalami rasanya bercinta dengan satu-satunya laki-laki yang sungguh-sungguh diinginkannya.


Nurul keluar ke balkon.  Ia memandangi sekitarnya.  Bagaimana ia bisa menyelinap keluar dari benteng ini ketika malam dan mencari jalan menuju rumah Tommy?  Bahkan Nurul belum tahu dimana Tommy tinggal.  Maka, Nurul mengatur rencananya.  Ia mencari informasi mengenai tempat tinggal Tommy dari siapapun yang bisa ia jangkau.  Internet, sosial media, tentu saja Tommy adalah mahasiswa terkenal yang punya jejak biodata di internet.


*


Suatu malam, Tommy menyandarkan tubuhnya di kursi empuk di sebuah ruangan di rumahnya.  Ia telah menggulung lengan bajunya dan melepas sepatunya sambil memegang gelas berkaki berisi alkohol di satu tangan saat ia berusaha mempelajari sebuah proposal keorganisasiannya.  Namun, ia tidak bisa berkonsentrasi.  akhirnya ia meletakkan proposal itu dan melamun.

__ADS_1


Besok Tommy akan mengetahui semuanya.  Nurul sudah pasti akan mengatakan kebenaran kepada Tommy.  ketakutan di wajah perempuan itu telah menegaskannya.  Ia tidak suka menakut-nakuti Nurul, kecuali jika ia tidak berniat mewujudkan semua ancamannya.  ia berharap bisa mendapatkan kebenaran itu dari Nurul sendiri dengan cara yang lain, tapi ia tidak bisa.


Tommy harus menghalau semua laki-laki yang mengincar Nurul.  Bahkan jika Brian telah berbohong atau hanya pernah mencium Nurul, si brengsek itu pasti akan mengambil lebih banyak keuntungan jika ia punya kesempatan.  Brian mungkin bisa mendapatkan kesempatan jika Nurul terus berhubungan dengannya.  Tidak, ini tidak bisa berlanjut.  Tommy akan memaksa Nurul mengakhirinya sebelum terjadi bencana.


Ketukan pintu terdengar di pintu ruangannya yang tertutup.  Hal itu mengejutkan Tommy.  “Pergilah!  Aku sudah bilang aku tak ingin diganggu!” ucapnya.  “Ta[i ada seorang perempuan yang ingin bertemu dengan Aden,” sahut seseorang dari luar ruangan.  Seorang perempuan?  Tommy meletakkan gelasnya sambil mengerang.  Begitulah cara pembantunya menyebut para perempuan yang dikencaninya, tapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang berani datang ke rumahnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


Ia bahkan tidak pernah membawa pulang seorang janda genit bersamanya selama berbulan-bulan.  Tidak lagi sejak ia bertemu Nurul.  Nurul, seolah tidak ada lagi perempuan lain yang bisa memikat perhatian Tommy sekarang.


“Kasih aja dia duit lalu suruh dia pulang,” ucap Tommy.  “Saya sudah berusaha melakukannya, tapi dia tidak mau menerimanya, Den.  Saya sudah katakan kalau Aden tidak ingin diganggu, tapi dia memaksa.  Dia mengatakan namanya adalah Nurul dan Aden ingin bertemu dengannya,” ucap pembantu itu.


Tommy langsung berdiri dari kursinya.  Nurul?  Di sini?  Apa dia sudah gila?


Kalau dipikir-pikir kenapa harus repot memikirkan penampilannya?  Jika Nurul cukup bodoh untuk datang ke sini sendirian di malam hari seperti ini hanya untuk memohon agar Tommy melupakan ancamannya, maka biarkan saja Nurul melihatnya berantakan seperti ini.


Tommy membalikkan tubuhnya ketika pembantunya sudah mengantarkan Nurul ke hadapannya.  Tommy terkesima…


*


“Nona Nurul”, pembantu Tommy mengumumkan kedatangan Nurul.  Tommy berbalik ke pintu saat pembantunya mengantar Nurul memasuki ruangannya.  Tommy pun terpana.  Nurul tampaknya sama sekali tidak terkejut dengan pakaian yang dikenakan Tommy, dibandingkan dengan apa yang dikenakan Nurul sekarang.

__ADS_1


Gaun merah yang dikenakan Nurul sangat membuat Tommy tergoda.  Tommy membayangkan Nurul tidak menggunakan apapun di balik gaunnya.  Tanpa celana pendek ketat, tanpa baju dalam.  Saat Nurul memasuki ruangan, gaun itu berkilauan dan lekuk tubuhnya yang menggiurkan sama seperti kertas kado berlapis emas membungkus hadiah ulang tahun yang diimpikan setiap laki-laki.


Tentu saja Tommy tidak boleh membuka kado itu.  Tommy tergelagap, susah payah bernapas saat Nurul berjalan mendekatinya.  Aroma parfum Nurul melingkupi Tommy seperti kabut godaan, dan yang bisa dilakukannya hanyalah terpana menatap Nurul.


“Aden?  Apakah ada yang lainnya yang bisa saya bantu?” ucap pembantunya.  “Ya.  Kali ini aku benar-benar tidak ingin diganggu,” jawab Tommy dengan suara tercekik.


Nurul merona, tapi tidak mengucapkan sepatah katapun saat pembantu Tommy itu pergi lalu menutup pintu di belakangnya.  “Apa tujuanmu ke sini?” ucap Tommy.  “Bagaimana caramu bisa ke sini?” lanjutnya.


Nurul menelan ludahnya.  “Aku melompat dari jendela dan menaiki mobil jemputan online.  Aku mendapatkan alamatmu dari salah satu teman di sosial media,” jawab Nurul.  “Pakai mobil online?  Sendirian?  Memakai pakaian itu?  Untuk kamu ga kenapa-kenapa, Nurul!  Di jam seperti ini orang-orang tidak akan ramah kepada perempuan berpenampilan seperti ini!” ucap Tommy khawatir.


“Aku tadi pakai jaket sampai tiba di sini, lalu orang tadi membuatku melepasnya,” jawab Nurul.  “Ah!  Dasar!” gumam Tommy.  Tidak seorangpun boleh melihat Nurul dengan pakaian seperrti ini.  Tidak seorangpun kecuali Tommy.


Dengan enggan, Tommy mengingatkan dirinya sendiri tentang kemungkinan alasan mengapa Nurul mendatangi rumahnya.  Menuju je kursinya, Tommy mengambil gelas berkakinya dan meneguk cairan yang terasa membakar itu.


Seandainya minuman itu bisa memadamkan api dahsyat yang bergolak di perutnya, tapi tampaknya sama sekali tidak menolong.  Hanya satu yang bisa memadamkan api itu, dan meskipun Nurul berdiri di hadapannya dengan mengenakan gaun yang paling menggoda, Nurul pasti tidak akan bersedia memenuhi keinginan Tommy.


Tommy tidak mau menatap Nurul.  Jika melakukannya, ia tidak bisa bertanggung jawab atas tindakannya.  “Kurasa kamu datang ke sini dengan berpakaian seperti itu karena kamu berpikir itu akan menggoyahkan tujuanku,” ucap Tommy.


“Tidak,” jawab Nurul.  Jawaban lembut yang didengar Tommy membuatnya terkejut.  Ia membalikkan tubuh untuk menatap Nurul.  “Kamu ga berharap untuk membuatku berhenti melanjutkan semua rencanaku?  Apa benar?” tanya Tommy.

__ADS_1


“Sebenarnya aku datang untuk… mengajukan tawaran kepadamu,” ucap Nurul.


__ADS_2