Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Tommy Mencintai Nurul (revised)


__ADS_3

Rudi mencoba menenangkan Tommy.  “Kamu sudah menuruti semua keinginannya, meskipun tidak tertulis.  Kamu sudah janji kepadanya untuk tidak menanyakannya kepada Tuan Sudarsono tentang penyamaran itu dan sampai sekarang kamu masih tetap memegang janjimu.  Aku tidak melihat bagaimana kamu membuat masalah ini menjadi semakin buruk daripada yang telah terjadi,” ucap Rudi.


“Iya, tapi dia mungkin tidak melihatnya seperti itu.  Jika memang dia tidak melihat seperti yang kamu lihat berarti… “ Tommy terdiam.  Suatu pikiran serasa memilin dadanya dengan kencang.  “Aku bisa kehilangan dia,” lanjutnya.


Rudi menatap Tommy dengan bingung sekaligus merasa iba.  “Jadi seorang Tommy akhirnya jatuh cinta,” ucap Rudi dengan lembut.


Tommy ingin mengucapkan penyangkalannya seperti biasa, tapi segera ia sadari bahwa ia tidak bisa melakukannya.  Ia benar-benar tidak bisa mengatakan penyangkalannya itu.


“Cinta?  Apakah mereka bisa menyebut jatuh cinta sebagai kondisi tubuh yang tidak nyaman?  Keringat dingin, jantung berdebar, ketakutan yang mencekik saat aku khawatir menjalani hidup tanpa dirinya?” ucap Tommy.  “Begitulah kata orang,” jawab Rudi.


Tommy menatap sahabatnya itu lalumengerang.  “Jadi, perasaan ini memang benar-benar tidak menyenangkan.  Aku telah melakukan hal yang benar karena selama ini telah menentangnya.  Demi Tuhan, kurasa aku tidak bisa menjalani ini lebih dari sekali dalam hidupku,” ucap Tommy sesak.


Rudi tersenyum.  “Dengan segala keberuntungan, kamu ga perlu mengalaminya lagi,” ucap Rudi.


*


Sementara di kediaman Tuan Sudarsono, Nurul duduk di ruang tamu.  Ia lalu bangkit berdiri lagi dan berjalan mondar-mandir.  “Nurul, anakku, tenanglah,” kata ayahnya.  “Ini akan segera berakhir,” ucap Nurul.  “Iya, Bapak tahu,” ucap ayahnya.


Selanjutnya apa?  Menikah dengan Tommy?  Meskipun pria itu tidak mencintai Nurul?  Nurul bahkan tidak tahu bagaimana reaksi Tommy nanti setelah mendengar berita tentang kematian ibu Nurul.  Tommy mungkin tidak ingin berhubungan dengan keluarga Nurul setelah ini.

__ADS_1


Dimana pula Tommy sekarang?  Apakah Tommy kembali ke Jakarta, atau masih berada di Jawa Timur?  Atau dia sedang bersama Tuan Sudarsono?


“Pak, Nurul ingin bicara dengan seseorang di belakang,” ucapnya.  “Siapa?  Bicara apa?” tanya ayahnya.  “Kepala pembantu di sini, Pak.  Bukan apa-apa.  Nurul hanya ingin menanyakan berapa lama lagi Tuan Sudarsono akan tiba di sini,” ucap Nurul.


Sebenarnya, saat Nurul bergegas keluar dari ruangan, ia ingin tahu apakah Tuan Sudarsono sedang datang bersama Tommy.  Atau apakah Tommy telah datang ke sini dan bersama Tuan Sudarsono proses hukum itu mereka mulai?  Tapi, Nurul tidak bisa mengatakan hal itu kepada ayahnya.  Ayahnya bahkan belum tahu tentang Tommy.  Ia belum berani menceritakan tentang kemungkinan masa depannya bersama Tommy.  Ia belum yakin dengan perasaannya sendiri dan masih banyak hal yang belum terselesaikan.


Sudah tidak penting lagi apakah Tommy telah berbicara dengan Tuan Sudarsono atau belum.  Bahkan jika Tuan Sudarsono berusaha mewujudkan ancamannya, ayah Nurul punya sejumlah cara untuk menghentikannya.


Namun, tetap saja ini penting bagi Nurul.  Jika Tommy tidak bisa mempercayainya, pernikahan macam apa yang nantinya akan mereka jalani?  Mungkin ia bisa hidup tanpa cinta Tommy.  Tapi tanpa kepercayaannya?  Pertimbangannya atas harapa Nurul?  Itu akan menjadi sejenis penyatuan yang sangat buruk.


Di sisi lain, apa yang diminta Nurul dari Tommy hampir terlalu sulit untuk dilakukan oleh pria manapun.  Tanpa mengetahui situasinya, Nurul meminta Tommy agar tidak ikut campur tangan.  Setiap pria akan menganggap sulit hal tersebut.  Tapi pria seperti Tommy akan menganggapnya mustahil.


*


“Oh, baiklah,” ucap kepala pembantu itu.  Nurul mengajak kepala pembantu ke salah satu sisi ruangan.  “Tadi Paman bilang Om Sudarsono sedang pergi, apakah dia sendirian?  Atau…” ucap Nurul.  Pria itu terlihat heran.  “Mungkin Paman mendengar Om Sudarsono mendapatkan pesan mendadak?” lanjut Nurul.


“Satu-satunya orang yang menerima pesan seperti itu tadi pagi adalah Nyonya.  Katanya Nyonya harus segera datang ke kediaman seseorang bernama Tommy,” jelas kepala pembantu itu.


Nurul menatap pria itu dengan mata melebar.  “Apa… apa mungkin Om Sudarsono bersama Tante Lupita datang ke sana?” ucap Nurul.  “Saya tidak melihat mereka bersama, Nona.  Oh iya, Nyonya bilang agar saya tidak mengatakan kepada Tuan kemana Nyonya pergi,” ucap pria itu.

__ADS_1


Gelombang kelegaan melanda Nurul dengan kekuatan yang mengagumkan.  Tommy telah melakukan seperti yang dimintanya!  Ia tidak bisa menyalahkan Tommy karena bicara dengan Tante Lupita.  Hal itu bukan bagian dari kesepakatan.


Tommy tidak menemui Tuan Sudarsono.  Itu pasti merupakan sesuatu untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nurul kan?  Alih-alih mengingatkan dirinya bahwa hal ini belum berakhir sama sekali, Nurul tidak bisa mencegah meluapnya kebahagiaan yang meringankan hatinya.


Bergegas kembali ke ruang tamu, ia duduk di sebelah ayahnya sambil tersenyum penuh rahasia.  Tommy-nya.  Ia bisa menganggap Tommy masih menginginkannya setelah semua ini berakhir.


Nurul dan ayahnya mendengar mobil datang.  Ayahnya meraih tangan Nurul dan meremasnya.  Mereka mendengar suara-suara di teras, tapi saat seseorang akhirnya memasuki ruangan, ternyata itu bukan Tuan Sudarsono, itu Tommy.


Nurul menatap Tommy dengan keheranan saat pria itu bergegas menghampiri Nurul bersama Tante Lupita dan Rudi yang mengikuti di belakangnya.  Tommy bahkan tidak memberi Nurul kesempatan untuk mengenalkan ayahnya.


“Nurul, sebentar lagi Sudarsono datang, mobilnya ada di belakangku tadi.  Kita punya waktu singkat.  Dengar, aku sudah tahu semuanya, tentang ibumu dan ramuan obat itu dan tentang Sudarsono yang memerasmu,” ucap Tommy.


Saat Nurul menatapnya dengan tatapan gusar, Tommy menambahkan, “Dan aku tidak menerima informasinya dari Sudarsono.  Aku belum bertemu dengannya, aku bersumpah,” ucap Tommy.


“Terus, siapa yang menceritakannya kepadamu, Tom?” tanya Nurul.  “Ga ada waktu untuk menjelaskannya,” jawab Tommy.  Sambil berlutut di satu kakinya, Tommy meraih tangan Nurul dan menciumnya.  Dengan segera genggaman tangan itu ditepis oleh ayah Nurul.


“Siapa dia, Nurul?” tanya ayahnya.  “Dia adalah teman Nurul, Pak,” jawab Nurul dengan suara yang tidak meyakinkan.  “Bapak, perkenalkan ini Tommy.  Tommy, ini bapakku, Bapak Arif Sumantoro,” ucap Nurul.


Pertemuan kedua lelaki itu mendapatkan kesan tersendiri bagi keduanya.  Tommy, tentu saja ia merasa gugup, namun ia adalah seorang laki-laki yang biasa tampil di muka publik.  Ia dapat mengondisikan raut wajah dan sikapnya sehingga masih terlihat percaya diri di harapan pria yang kelak menjadi mertuanya itu.  Ini adalah pria berprinsip yang telah membesarkan Nurul selama ini.  DI dalam tubuh Nurul mengalir darahnya yang panas, sepanas karakter yang selama ini Nurul tunjukkan kepada Tommy.

__ADS_1


__ADS_2