Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Duduk di Sisi Pembalap Genit


__ADS_3

Nurul pergi bersama teman barunya itu.  Rico, anak konglomerat yang suka dengan musik, dance dan otomotif.  Pemuda tampan yang asik untuk sebagai teman bicara.  Menyerap banyak informasi terutama gosip. 


Tertarik dengan pemuda seperti Rico bukanlah gaya Nurul.  Rico lebih cocok dijadikan sebatas teman akrab dan lebih cocok lagi kalau Rico adalah perempuan sebagaimana caranya berbicara dan tertariknya ia dengan bahan-bahan gosip.


Nurul pun sampai di tempat berkumpulnya pecinta otomotif, anak-anak konglomerat lainnya.  Tempat ini tampak seperti kolong jembatan layang dengan jalan yang sengaja diblokir oleh mereka.  Hal yang tidak sulit dilakukan oleh orang-orang berduit seperti mereka.  


Nurul turun dari mobil.  Ia melihat ke sekeliling.  Tempat ini begitu ramai.  Musik bit cepat dengan volume yang memekakan telinga memenuhi tempat ini.  Mobil sport mahal terparkir di sana-sini dengan memamerkan keunikan modifikasi masing-masing.  


Si pemilik mobil tentu saja dikerumuni oleh teman-temannya yang tertawa bersamanya, membelai-belai aksesoris interior maupun eksterior mobil, menggeber gas, ada pula yang melakukan breakdance dengan sound system mahal di ruang belakang mobil.  Melewati mobil yang dipamerkan lainnya, maka berbeda lagi musik yang diputar dan bentuk keunikan yang dibawa mobil.  


Pemilik mobil sport mewah itu tak hanya laki-laki, perempuan pun ada.  Mereka mengecat mobil mereka dengan gambar-gambar yang feminim tapi masih terkesan mewah.  Sesuai dengan karakter mereka.  Mata Nurul berkelana ke banyak tempat, begitu memanjakannya.  Ini adalah pertama kalinya Nurul masuk ke tempat seperti ini, penuh dengan muda-mudi yang mengeksplor gaya mereka masing-masing.


“Maria… Lu harus lihat ini,” ucap Rico mengalihkan perhatian Nurul dari pemandangan yang tengah dinikmatinya.  “Kak.  Di sini panas, ya?  Dimana aku bisa dapat air minum?” keluh Nurul.  “Oh, lu haus.  Yuk kesana.  Ngomong-ngomong, itu tuh yang bikin lu kepanasan.  Sini gua…” ucap Rico melepas sweater Nurul dan membantu memeganginya.  Terlihat pakaian Nurul yang sedikit terbuka dengan lengan yang terlihat sepenuhnya dan bagian ketiaknya.  Di pinggangnya terlilit ikat pinggang kecil yang membuatnya terlihat seksi dengan dada, perut dan pinggul yang terlihat berkelok.

__ADS_1


Kemeriahan tempat ini membuat keengganannya untuk melepaskan sweaternya hilang.  Ia menikmati suasana, dapat membaur dengan baik.  Langkah mereka lalu terhenti di sebuah box es yang lalu dibuka oleh Rico.  Ia memberikan sekaleng soft drink untuk Nurul, juga untuk diminumnya sendiri.


Rico bertemu dengan teman-temannya.  Meminta salah satunya untuk menaruhkan sweater Nurul ke dalam mobil Rico yang sudah mereka tinggalkan jauh.  Rico memberikan kunci mobilnya itu kepada salah satu temannya itu.  


Di hadapan mereka terdapat arena yang luas, sebuah lapangan.  Tiga buah mobil sedang melakukan manuver drifting mereka di sana.  Berputar-putar dengan salah satu roda yang sebagai pusat perputaran mobil.  Ban-ban lainnya bergesekan dengan aspal membuat kepulan debu dan asap di sekitarnya.


Sedang asik menikmati tontonan itu, beberapa pemuda yang penampilannya seperti boyband datang menghampiri Rico.  Salah satu anggotanya mengunci pandangannya pada Nurul.  Sepertinya ia menyukai Nurul.  Nurul yang menyadari itu hanya berpura-pura tidak melihatnya.  Selain tidak terbiasa digoda, ia juga tidak ingin menunjukkan penolakan yang mungkin akan terlihat mencolok.  Sepertinya semua perempuan di sini suka digoda dan bersikap manja.  Nurul tidak mau terlihat berbeda.


“Masih nunggu bos-bos lainnya datang, Maria.  Tunggu aja,” jawab Rico.  “Oh, jadi nama lu Maria.  Gua Vino,” ucap pemuda tampan berkulit mulus seperti kulit wajah artis Korea itu.  “Iya, hem… “  Nurul hanya bicara singkat dan melempar senyum seadanya.  Sejak tadi selain menikmati tontonan, Nurul juga menyapu tempat ini dengan pandangannya.  Ia mencari kehadiran Icha.


Melihat sosok yang sok jual mahal dan sibuk memperhatikan arah lain itu, Vino merasa tertantang.  “Gua juga ikut balapan.  Lu mau nyoba mobil gua?  Kebetulan ‘kursi’ gua kosong.”  Vino menawarkan tempatnya untuk Nurul.  Kebanyakan pengendara punya pendamping cantik mereka masing-masing untuk menempati kursi sampingnya.


Nurul langsung melirik ke Rico.  Rico tampak tersenyum kagum pada Nurul.  Nurul yang berpura-pura menyerahkan kaleng minuman ke Rico pun lalu dibisiki Rico.  “Gila lu bisa-bisanya ngegaet salah satu master di sini.  Kesempatan langka tahu ga?  Lu bisa nguasain apa aja di sini kalau bisa ngegaet tu orang,” ucap Rico.

__ADS_1


Pandangan Nurul beralih lagi ke Vino.  Nurul baru saja memainkan sebelah alisnya sambil melempar senyum ke Vino.  “Bersenang-senanglah, Maria,” ucap Rico melepas Nurul.  Ini adalah kesempatan Nurul.  Ia mungkin akan lebih mudah mendapatkan informasi tentang Icha dengan bantuan Vino, salah satu orang yang berpengaruh di tempat ini.


Nurul pun dibawa oleh Vino melintasi lintasan balap yang berupa jalanan yang sudah diblokir khusus untuk mereka saja.  Interior yang mewah, derum kendaraan yang terdengar halus, jalanan berkelok, semua membawa sensasi baru pada Nurul.  Dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi, Vino bermanuver menyusuri kelokan-kelokan yang menyenangkan.


Sesekali Nurul terlihat takut, begitu terasa bagi Vino bahwa ini adalah pertama kalinya Nurul menaiki mobil seperti ini.  Tangan yang mengepal di ujung jok dilihat oleh Vino.  Ia pun dengan cepat sudah menggenggam tangan Nurul.  “Baru pertama, ya?” ucap Vino.  “Udah lama sekali ga ngelakuin ini,” ucap Nurul beralibi.  Wajah polos yang sekaligus tegas dari cara bicara Nurul membuat Vino tertarik.


Nurul pun membuka percakapan dengan Vino.  Ia tidak nyaman dipandangi seperti itu terus.  Wajah Vino terlalu mesum baginya.  Nurul membahas tentang sahabatnya yang tadi meninggalkannya di tempat ini, oleh sebab itu arah pandang Nurul tadi selalu kemana-mana.  Ia mengklarifikasi sikap sok jual mahal Nurul yang dituduhkan oleh Vino.  Ia mengatakan sedang mencari sahabatnya yang suka berubah-ubah mood itu.  Ia ditinggalkan begitu mood sahabatnya terganggu.  


Nurul langsung menyebut nama Icha, Mirsha, kepada Vino.  Vino pun berjanji akan membantunya bertemu dengan sahabatnya itu.  Mencari seseorang di tempat ramai seperti itu akan begitu mudah bagi Vino.  


Perjalanan mereka terhenti.  Vino sengaja menghentikan mobilnya di tempat yang sedikit lebih sepi.  Ia mengiming-imingi Nurul akan memberikan apapun yang Nurul mau asal Vino mendapatkan sebuah kecupan.  Perasaan Nurul terbawa kepada masa lalu.  Satu-satunya laki-laki yang pernah berbuat seperti ini kepadanya adalah Tommy.  Bedanya ia jatuh cinta dengan Tommy, sementara tidak kepada Vino.  Vino hanyalah orang asing yang coba dimanfaatkan Nurul.


Tanpa bisa bersiap apalagi menghindar, tiba-tiba tangan Vino sudah mencengkeram lengan Nurul yang mungil dan lembut itu.  Astaga, apakah Nurul sudah masuk ke dalam kandang macan?  Sebuah kecupan?  Sepertinya tidak sesederhana itu yang akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2