
Rasa dingin melanda Nurul saat lengan Vino yang terlihat rapuh dengan tiba-tiba memenjarakan tubuhnya. Semakin Nurul berniat untuk melepaskan dekapan itu justru semakin mempererat perlakuan Vino melakukannya. “Jangan lakukan hal ini, Vino!” tegas Nurul.
Lengan Vino memeluk pinggang Nurul, menariknya dengan kuat dan merapatkan tubuh atas keduanya. Vino menggeser benda kotak yang memisahkan tempat duduk mereka berdua, menarik tuas di kursi Nurul hingga membuatnya terbaring dan secepat itu pula Vino berpindah tempat.
Ruangan ini tidak cukup luas untuk mereka berdua apalagi berada di kursi yang sama. Tapi, Vino adalah pemiliknya. Ia menguasai tempat ini. Penampilan boy band itu ternyata tidak sesuai dengan yang terlihat, tidak lemah, sebaliknya lengannya begitu kuat.
Vino tengah menatapnya dengan lapar di atas tubuh Nurul yang ringkih. Bulu kuduk Nurul di bagian belakang lehernya meremang. Vino meluncurkan jari-jarinya di sepanjang leher belakang Nurul. Vino mengunci posisi Nurul. Ia membuat Nurul tertengadah sehingga ia bisa mencium Nurul. Bibir yang panas dan basah mengecup bibir Nurul. Rasanya seperti ditampar belut rebus. Sangat menjijikan. Nurul berusaha mendorong dada Vino yang bidang, tapi Vino tidak mau melepaskan Nurul.
Nurul berusaha menjauhkan mulutnya dari Vino, tapi itu seperti lintah. Mulut Vino melekat erat pada mulut Nurul dan tampaknya semakin bebas melakukan apapun. Lidahnya yang tebal membelai bibir Nurul dan napasnya yang beraroma parfum nyaris membuat Nurul tercekik.
Rasa panik semakin melanda Nurul saat Vino berusaha menarik ke bawah ujung atasan Nurul sambil meremas gundukan yang menahannya. Nurul berusaha menggeliat untuk mendorong bahu Vino. Hal itu belum membuahkan hasil, jadi Nurul menendang bagian sensitif Vino di antara pahanya dengan lutut Nurul.
Vino kesakitan dan melepaskan Nurul. Nurul segera membenahi atasannya yang berantakan. “Sialan lu! Berani-beraninya giniin gua!” ucap Nurul. Ekspresi jengkel terlihat di wajah Vino saat mengusap bagian di antara pahanya yang sakit setelah ia kembali ke posisinya.
__ADS_1
“Dasar cewek muna lu!” ucap Vino kesal. KLEEK… Kunci pintu di sisi Nurul bergeser secara otomatis melalui tombol di sisi Vino. “Keluar lu!” Vino baru saja mengusir Nurul dari mobilnya. Nurul menghela napas lega. Ia segera keluar dari mobil dan membanting pintu itu. Vino pun meninggalkan Nurul dengan melajukan mobilnya secara kencang.
Nurul menggosok-gosok kedua lengannya dengan tangannya yang ia silangkan, memeluk tubuh depannya yang merasa kedinginan. Ini adalah jalanan sepi. Nurul harus berjalan jauh untuk kembali ke tempat Rico berada. Ia melihat ke sekelilingnya beberapa kali setiap beberapa menit sekali, berharap ada orang baik yang memberi tumpangan kepadanya. Tapi, ia masih belum menghilangkan traumanya dengan pengendara asing. Pengendara mana yang berbaik hati mengantarkannya tanpa ada kemauan terselubung di balik itu?
Tak beberapa lama, sebuah mobil sport lainnya pun datang. Mobil itu berhenti di samping Nurul, lalu kaca mobilnya yang gelap itu bergeser turun. Tampak seorang lelaki bertubuh kekar. Kali ini usianya lebih senior, tapi pakaiannya masih bergaya hip-hop seperti anak muda lainnya. Sepertinya ini adalah orang kaya lainnya yang sedang menggandrungi hobinya, seorang om-om bergaya anak muda.
“Ayo naik!” ajak pengendara itu. Nurul terus berjalan sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak baik jalan sendirian begitu. Tempat ini jauh dari keramaian. Menyusuri jalanan ini cuma akan membuat kakimu pegal,” bujuk lelaki itu. Nurul tidak memperdulikan ajakan itu.
“Madam Lupita mengkhawatirkanmu di rumah,” ucap lelaki itu. Nurul menghentikan langkahnya dan memandangi lelaki itu dengan mata membulat. Ia tersentak dengan penyebutan nama itu yang tiba-tiba. “Apa mungkin ini adalah suruhan Mama Lupita?” batin Nurul. “Ayo, Dik. Naiklah,” bujuk lelaki itu sekali lagi.
Nurul pun menerima sebotol air mineral itu. “Tugas saya belum selesai. Ada yang harus saya lakukan di tempat ini,” ucap Nurul lalu membuka minuman itu dan meneguknya perlahan. “Kamu membahayakan dirimu sendiri, Dik,” ucap lelaki itu. Nurul menggeleng. “Kehadiran saya yang lebih lama di lingkungan ini yang justru lebih membahayakan bagi saya. Saya baru saja akan mengakhiri ini semua, saya hampir menyelesaikan tugas saya. Saya mohon, kembalikan saya ke tempat teman-teman saya,” ucap Nurul.
“Baiklah. Saya akan menemanimu,” ucap lelaki itu. “Jangan! Cukup antarkan saya, saya mohon,” ucap Nurul. Rasa trauma masih melingkupi perasaan Nurul saat duduk berdua dengan pria asing di dalam mobil seperti ini. Apalagi kali ini tubuh pria ini begitu kekar. Kalau ia melakukan hal yang tak sopan, Nurul tidak akan berdaya olehnya. Nurul hanya bisa memohon sepanjang ucapannya.
__ADS_1
Untungnya pria ini tidak berbuat macam-macam kepada Nurul. Pria itu mengantarkan Nurul ke tempat Rico berada. Di sekitar Rico telah ada teman-teman Rico termasuk pemuda yang kemarin membicarakan Icha dengannya.
“Maria! Baru dateng lu? Ni acara balap mau mulai, sini, sini,” ucap Rico. Suasana begitu riuh, hampir-hampir Nurul tidak mendengar suara Rico. Di sana sudah terbentuk kumpulan penonton yang berdiri membentuk pagar di sisi kiri dan kanan lintasan. Nurul benar-benar tidak memperdulikan ajang balap itu. Ia menarik Rico dan menanyakan dimana ia bisa menemui Icha.
Di tengah suara yang berisik dengan teriakan-teriakan dan derum kendaraan yang digeber-geber di tempatnya itu, Nurul dan Rico bercakap-cakap sambil berteriak-teriak. Rico lalu mengarahkan Nurul kepada temannya yang kemarin menemuinya itu. Teman Rico lalu membawa Nurul pergi dari sana. Mereka menepi.
“Itu… Itu dia Icha. Dan pacarnya yang kaya b’nci itu! Eneg gua sama dia,” ucap teman Rico menunjuk perempuan yang sedang mendekap laki-laki itu dari kejauhan. “Itu? Yang pakai baju pink? Icha?” tanya Nurul. “Iya, itu yang namanya Icha. Ngomong-ngomong, ada urusan ape lu sama Icha?” ucap teman Rico.
Rona kecewa baru saja menyeruak di wajah Nurul. “Mirsha… “ gumamnya. “Iya, itu Mirsha anak Jakut,” jawab teman Rico. “Kenape lu?” lanjutnya sembari memandangi Nurul berjalan pelan kembali menghampiri Rico. Teman Rico itu pun mengejar Nurul. “Yang gua cari Mirsha anak Jaktim, Kak,” ucap Nurul tertunduk lesu. “Oh, salah orang lu, Neng,” ucap teman Rico.
Nurul pun meminta Rico mengantarnya pulang dengan alasan tiba-tiba ia tidak enak badan. Rico yang simpati melihat wajah Nurul yang suram pun mengiyakan permintaan Nurul. Dengan sopan Rico mengantar Nurul ke dalam mobil, memakaikan sweater, dan melekatkan punggung tangannya di kening Nurul. Ia memastikan apakah Nurul demam.
“Mungkin udara malam yang bikin lu sakit, Maria. Maafin gua, ya, udah ngebawa lu keluar malam-malam gini,” ucap Rico sebelum akhirnya ia menyalakan mobilnya. “Ga apa-apa, Kak. Kan kemaren gua yang minta ikut ke sini,” ucap Nurul. Sepanjang perjalanan Rico berceloteh tanpa banyak mendapat tanggapan dari Nurul. Nurul masih menyimpan kekecewaannya. Ia hampir saja dinodai sementara hasil yang didapatkannya tidak sepadan. Nurul telah memburu perempuan yang salah.
__ADS_1
Melihat keadaan Nurul yang muram, Rico pun memberikan waktu untuknya berdiam. Rico tidak lagi berceloteh. Ia memutarkan musik yang menenangkan untuk mengisi keheningan di antara mereka.