Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Tentang Keluarga Tommy (revised)


__ADS_3

Nurul menatap Tommy lalu menghela napasnya.  “Tentu saja bukannya aku ga suka dengan ide pernikahan itu.  Kalau aja situasinya berbeda…” ucap Nurul.  “Situasi yang bagaimana?” tanya Tommy.


Nurul menatap tangannya.  “Situasi yang paling diinginkan oleh kebanyakan orang untuk menikah.  Kamu kelihatannya lupa kalau aku adalah salah seorang perawan bodoh yang terus kamu permainkan,” ucap Nurul.  Nurul berhenti sejenak, seolah takut untuk mengatakan lebih banyak lagi.


“Aku… aku menginginkan cinta, Tom.  Aku tahu kalau kamu menganggap bodoh hal ini, tapi itulah yang kuinginkan,” jawab Nurul.  Tommy tidak terkejut saat Nurul mengatakan hal itu, tapi ia menemukan dirinya sendiri tidak mampu merespons seperti yang diinginkan Nurul.


Benar-benar menakutkan untuk mengatakan bahwa ia mencintai Nurul.  Selain itu, Nurul tidak pernah mengatakan sepatah katapun tentang mencintai Tommy.  Kenyataan ini mengusik Tommy lebih dari yang diharapkannya.  Perlu waktu beberapa menit sebelum Tommy menguasai dirinya untuk bisa berkata-kata lagi.  “Dan kamu ga peduli kalau kita ga menikah maka ada hal yang akan menghancurkanmu, Nurul?” ucap Tommy.


“Menikah hanya karena ingin menyelamatkan kehormatan sangat tidak masuk akal.  Kamu juga tahu dengan jelas kalau pernikahan semacam itu hanya akan menyebabkan bencana.  Tentang orang tuamu… “ ucap Nurul.


“Orang tuaku?  Apa yang kamu tahu tentang mereka?” tanya Tommy.  Nurul mengangkat bahu dengan gelisah.  “Kak Rudi menceritakan kepadaku bahwa mereka dipaksa untuk menikah.  Dia bilng kalau mereka sama sekali ga bahagia setelah hidup bersama,” ucap Nurul.  “Oh, dia bilang begitu ya?” ucap Tommy kesal.


Jika Tommy ingin Nurul mengetahui semua itu, ia sendiri yang akan menceritakannya kepada Nurul.  “Aku ga mau kamu berpikir kalau aku berusaha menjebakmu dalam pernikahan sama seperti yang dilakukan ibumu terhadap ayahmu.  Aku ga bisa menjalani pernikahan yang nanti kamu akan terus menyalahkan aku karena telah menghancurkan hidupmu,” jelas Nurul.


“Aku ga akan berbuat begitu, Nurul,” sergah Tommy.  Nurul menatap Tommy dengan tajam.  “Tapi, kamu nanti akan menyalahkan aku.  Menurutmu semua perempuan itu sama, mereka semua sama seperti ibumu… berusaha menjebakmu untuk melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan,” ucap Nurul.


Dorongan amarah membuat Tommy menatap Nurul dengan gusar.  “Apa kamu benar-benar berpikir bahwa aku sangat picik sehingga ga percaya dengan semua perempuan hanya karena kelakuan ibuku?” ucap Tommy.


Saat Nurul hanya menatapnya, Tommy menegaskan, “Kecuali pada malam itu aku membuat tuduhan bahwa kamu telah menjebakku, berpura-pura salah masuk mobil sehingga aku salah menjemputmu.  Bisa aja kan?” ucap Tommy.

__ADS_1


Kerutan kecil terlihat di dahi Nurul.  “Yah, memang kamu ga melakukannya, tapi…” ucap Nurul.  “Demi Tuhan, Nurul.  aku bahkan ga akan menyalahkan ibuku atas apa yang terjadi dalam pernikahan orang tuaku.  Jadi, sudah pasti aku ga bisa menyalahkanmu nanti,” ucap Tommy.


“Maksudmu apa?  Bukannya selama ini kamu menyalahkan ibumu?  Itu kan alasan kamu kenapa kamu selalu menghindari perempuan-perempuan muda yang masih perawan?” ucap Nurul.


Tommy menggeser duduknya agar bisa memandang Nurul.  Akhirnya… Tommy menceritakan yang terjadi sebenarnya di dalam keluarganya itu.


“Aku menghindari para gadis muda karena aku ga mau melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan ayahku,” ucap Tommy.  “Nah, kan benar?  Seorang perempuan menjebak ayahmu dalam suatu pernikahan.  Dan kamu ga mau… “ ucap Nurul.


“Bukan!  Bukan seperti itu…” ucap Tommy.


*


“Kami selalu bersikap waspada dan belajar untuk melihat tanda-tanda.  Aku yakinkan dirimu, ayahku tidak akan mencapai batas usia dua puluh enam tahun dengan kondisi tanpa istri jika dia tidak membangun insting semacam itu,” ucap Tommy.


Saat Nurul menatap Tommy dengan bingung, Tommy mendesah.  “Ibuku memang menjebak ayahku, dan ya, mereka dipaksa menikah.  Tapi ibuku telah diajari oleh orang tuanya bahwa menjerat seorang pria yang punya gelar kehormatan dan bahkan yang punya banyak kekayaan merupakan suatu pencapaian yang paling terhormat, yang dicita-citakan dalam keluarga, kebanyakan keluarga.  Ibuku berperilaku sama seperti yang diajarkan kepadanya.  Aku tak menyalahkannya untuk itu,” jelas Tommy.


Tommy meraih tangan Nurul.  Menatap tangan itu dan melihat jemari yang cakap dan kuat, serta kulit yang mungkin tidak pernah tersentuh oleh lotion yang eksotis.  Tommy berpikir betapa berbedanya Nurul dengan ibu Tommy yang tamak dan hanya mengutamakan penampilan.


“Ayahku juga diajari sesuatu.  Dia tahu untuk selalu waspada pada jenis perhatian semacam itu.  Tapi, ibuku adalah seorang perempuan yang cantik dan ayahku bukanlah orang yang paling tampan atau berkarisma.  Dia seorang pecinta buku dan pemalu.  Jadi saat ada seorang gadis cantik merayunya, dia akan menanggalkan semua kewaspadaannya,” jelas Tommy.

__ADS_1


Suara Tommy mengencang.  “Pikiran ayahku yang dimabuk cinta secara salah menilai kedangkalan pikiran sebagai keluguan.  Sebuah sifat yang tidak berpendirian sebagai antusiasme orang muda.  Apapun kekurangan ibuku, ayahku memenuhinya hanya dalam benaknya, untuk alasan sederhana karena dia membiarkan emosi yang buta… dan kejantanannya yang tidak terlalu buta… memandunya,” jelas Tommy.


Alih-alih terkejut dengan kekasaran Tommy dalam bercerita, Nurul memandang Tommy dengan penuh pengertian.  Dengan tatapan marah, Tommy melepaskan tangan Nurul.  Ia tidak bermaksud mengungkapkan banyak hal, semua itu tadi mengalir begitu saja.


Namun, jika mereka menikah, sebaiknya Nurul tahu alasan mengapa Tommy tidak melayani sikap-sikap yang sembrono seperti itu.  “Akhirnya,” lanjut Tommy.  “Ayahku tersadar dari kabut cintanya dan menyadari bahwa ibuku bukanlah perempuan seperti yang dipikirkannya,” ucap Tommy.


“Tapi, saat itu sudah sangat terlambat.  Ibuku sudah hamil dan ayahku harus melakukan sesuatu yang terhormat.  Dia tersadar dan mendapati dirinya yang pendiam dan pintar telah memiliki istri yang egois dan bodoh, yang tidak menanggapi perasaan cintanya yang mendalam serta kepekaan perasaan yang ayah miliki,” ucap Tommy.


Tommy menghela napas dengan keras.  Semua kenangan itu terlintas kembali dengan sangat menyakitkan.  Pertengkaran yang terus-menerus, penolakan ayahnya untuk meladeni oermintaan konyol ibunya, kegemaran ibunya akan minuman keras.  Di tengah semua itu, jika bukan karena kelahirannya yang terlalu cepat, mereka tidak akan bertahan.


Dengan sekuat tenaga, Tommy mengenyahkan semua kenangan itu.  “Pernikahan menjadi suatu siksaan bagi ayahku.  Dia mencintai sekaligus kecewa pada ibuku, jad dia menarik diri dari pernikahan itu untuk membuatnya tetap waras,” ucap Tommy.


“Dan ibu, ia merasa kehilangan pendampingnya yang menawan, mencari pelarian ke tempat lain, yaitu minuman keras,” jelas Tommy.  Ia melanjutkan dengan nada getir.  “Itulah yang dilakukan ‘perasaan cinta’ bodohmu pada dua orang malang yang tidak berjodoh.  Pada akhirnya, hubungan romantis itu sirna.  Apa kamu bisa menyalahkanku karena menganggap emosi ini sangat berbahaya?” ucap Tommy.


“Tapi, Tom… itu hanya satu kasus.  Ayahmu menikah lagi untuk kedua kalinya kan?  atau dia juga menikah tanpa cinta?” ucap Nurul.  “Oh, tentu saja dia jatuh cinta lagi.  ayah tidak pernah belajar dari pengalaman,” ucap Tommy.  “Jadi, istri keduanya ini juga bukan orang baik?” bisik Nurul.


Ekspresi Tommy melembut saat ia memikirkan tentang ibu tirinya.  “Dia adalah seorang malaikat.”  Tommy setengah tersenyum kepada Nurul.  “Terkadang kamu mengingatkanku padanya,” ucap Tommy.


Nurul merona, tapi tidak mengalihkan pandangannya.  “Nah, kamu lihat kan?  Cinta tidak selalu berakhir dengan bencana,” ucap Nurul.  “Kamu ga paham, Nurul.  Mereka menikmati beberapa tahun yang indah bersama. Lalu, ibu tiriku mengalami sakit parah dan ayahku pun terpuruk.  Dia telah mencurahkan diri dalam cintanya kepada ibu tiriku sehingga kehilangannya adalah sesuatu yang tidak bisa ditanggungnya,” jelas Tommy.

__ADS_1


__ADS_2