Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Desakan Tommy (revised)


__ADS_3

Nurul bertanya-tanya apa yang membuat Tommy mengajaknya pergi.  Senyum sinis menghiasi bibir Tommy.  “Karena sekarang aku lebih tahu tentang apa tujuanmu.  Ini berkaitan dengan Brian, kan?  Kalau kamu ga mengatakan kebenarannya, aku akan mengatakan semua yang kutahu kepada Brian,” ucap Tommy.  Senyumannya segera memudar.  “Itu bisa mengakhiri skema apapun yang sedang kamu rancang,” lanjutnya.


Jadi Tommy sudah mengetahui sejauh itu, atau ia hanya menebak-nebak saja?  Nurul melipat kedua tangannya di dadanya, berusaha menyembunyikan tubuhnya yang gemetar.  “Katakan apapun yang mau kamu katakan kepada Brian,” gertak Nurul.  “Itu ga penting.  Aku ga mau pergi denganmu, Tom.  Aku jelas ga akan mengatakan  apapun kepadamu,” lanjutnya.


Mulut Tommy merapat dengan seringai kejam.  “Oke!  Aku akan bicara kepada Brian nanti, tapi sebelumnya kau akan menemui Tuan Sudarsono dulu.  Aku tahu dia yang menjadi dalang dari semua ini.  Mungkin dia ga akan setenang dirimu saat aku mengatakan kepadanya bahwa aku berencana mengungkapkan identitasmu kepada Brian,” ancam Tommy.


Ketakutan melanda Nurul.  Ia tidak bisa membayangkan kehancuran apa yang dialaminya bila Tommy mengatakan kepada Tuan Sudarsono…


"Kamu ga boleh melakukannya!  Ga boleh!" protes Nurul.  Nurul melepas kepura-puraannya bahwa ia tidak peduli.  "Kumohon, Tommy… jangan lakukan itu!" lanjutnya.


"Kenapa, Nurul?  Katakan padaku biar aku bisa diam menyimpan rahasiamu," ucap Tommy.  Nurul tergoda untuk menceritakan semuanya pada Tommy.  Tapi itu mustahil.  Setelah menceritakan bahwa semua ini berkaitan dengan Icha, Tommy akan menyadari kalau ini terkait juga dengan Rudi.


Tommy pasti akan segera bertindak jika melihat bahwa kesempatan temannya untuk meraih kebahagiaan dihancurkan.  Ia juga pasti akan mendatangi Tuan Sudarsono, lalu lelaki tua itu akan memanfaatkan dengan baik ancamannya.  Pikiran itu membuat Nurul gemetar.


"A-aku ga bisa, Tommy," ucap Nurul.  Jadi besok aku akan mendatangi Tuan Sudarsono," ucap Tomny.  "Loh, kan kamu udah berjanji untuk tutup mulut?  Katanya laki-laki terhormat, pegang janji aja ga bisa!" ucap Nurul.


Tommy menatap marah.  "Aku adalah laki-laki yang sedang melihat bahaya besar yang mengancam dirimu, Nurul.  Laki-laki ini ingin melindungimu dari orang-orang seperti Brian dan Sudarsono," ucap Tommy.


"Brian? Semua ini gara-gara Brian kan?  Kamu cuma cemburu sama Brian dan semua laki-laki lain yang mendekatiku," ucap Nurul.  "Aku ga cemburu!" sergah Tommy.  Tapi ekspresi kerapuhan dan amarah mengkhianati ucapannya.


"Alasanku ga penting-penting banget.  Pilihannya adalah kamu menceritakan semuanya padaku.  Atau aku akan menemui Tuan Sudarsono.  Hanya itu!" ucap Tommy.


Saat Nurul menatapnya, yang sedang mencari cara untuk merubah pikiran Tommy, Tommy menambahkan, "Kamu punya waktu sampai lusa untuk memutuskannya.  Setelah kembali ke Jakarta."

__ADS_1


"Dan setelah itu kamu akan menghancurkan hidupku," ucap Nurul.  Rahang Tommy menegang.  "Jangan terlalu mendramatisasi.  Apapun hubungan antara kamu dan Brian akan semakin menghancurkanmu daripada campur tanganku yang ga seberapa ini," ucap Tommy.


"Ini bukan… aku bmga mendramatisir atau membayangkan sesuatu yang menakutkan.  Kamu sendiri juga tahu, aku ga pernah melibatkan diri dalam sesuatu yang benar-benar ga kusukai," ucap Nurul.


"Ah, masa iya?  Apa yang benar-benar kuketahui tentang kamu?  Kamu pandai menyamar, padahal sebelumnya kamu begitu berkoar-koar kalau ada prinsip tertentu yang kamu pegang," ucap Tommy.  Tommy memandangi tubuh Nurul.


"Kamu punya bakat untuk membuat laki-laki menyukaimu, menginginkanmu.  Itu yang kuketahui tentangmu.  Kamu mempermainkan Brian dan Tuhan pun tahu kamu mempermainkanku.  Semua itu untuk apa?  Untuk apa, Nurul?" ucap Tommy.


"Sekotor itukah aku!" ucap Nurul.  "Dari sudut pandangku memang kamu terlihat seperti itu," jawab Tommy.


Tommy punya hak untuk curiga, tapi apa lagi yang bisa Nurul katakan kepada laki-laki itu?  Bagaimana Nurul bisa melepaskan diri dari masalah yang menderanya ini?


Tiba-tiba suatu suatu suara terdengar memanggil dari ruangan besar.  "Tommy, apakah itu kamu?"


Rudi mencari sosok Brian setelah ia dan Tante Lupita terlihat mengobrol bersama dengan lirikan mereka yang cukup mencurigakan.


“Tommy, apakah itu kamu?”  Suara itu mengejutkan Tommy dan Nurul yang sedang berbicara secara diam-diam.  Itu adalah Rudi.  Nurul menatap Tommy dengan tatapan memohon.  “Jangan khawatir, aku ga akan mengatakan apapun kepada Rudi.  Tapi lusa, aku akan mengungkapkan identitasmu kepada siapapun yang kuinginkan,”  ucap Tommy.


Tommy berjalan melaluinya dan menghampiri Rudi, dengan sikap seolah ia baru saja melakukan pembicaraan yang tidak penting dengan Nurul.  “Aku baru aja akan menemuimu, Rudi.  Begini, aku akan segera pulang.  Maafkan aku karena ga bisa mengikuti acaramu sampai selesai,” ucap Tommy.  Rudi terdiam.  Rencananya bersama Tante Lupita sepertinya baru saja akan gagal.  Brian yang menjadi target utama mereka sudah pergi, demikian pula dengan Tommy yang bermaksud pergi.


“Cepet banget pulangnya?  Aku kira kamu akan menginap di sini?  Ini sudah malam dan perjalanan ke Jakarta cukup jauh,” ucap Rudi.  “Maaf, Bro.  Bagaimanapun aku ga bisa tinggal.  Ada urusan yang harus kuurus.  Kamu pasti paham,” ucap Tommy.


Rudi mengalihkan tatapannya dari Tommy kepada Nurul.  “Sebenarnya ga terlalu paham sih.  Tapi kamu akan melakukan apa yang mau kamu lakukan, seperti biasa.  Ga ada yang bisa menahanmu kan?” ucap Rudi.  Tommy kembali menatap Nurul, bibirnya menyunggingkan senyum mencela.  “Selamat malam Maria.  Aku akan mengunjungi rumahmu lusa pagi jam sepuluh.  Jangan lupa itu,” ucap Tommy.

__ADS_1


Nurul menatap Tommy.  Tommy pasti tahu kalau Nurul tidak mungkin lupa akan ancamannya ini.  Rudi pun mengantarkan temannya keluar, lalu kembali ke tempat di mana Nurul masih berdiri terdiam.  Tangan Nurul sibuk membuat simpul dari ujung-ujung selendangnya.


“Maria, apa kamu baik-baik saja?”  Dengan lembut Rudi meraih ujung selendang yang digenggam Nurul dengan erat.  “Kayanya Tommy sudah membuatmu tertekan,” ucap Rudi.  “Sahabat Kakak itu memang selalu membuatku tertekan!  Saat ini aku ingin memenggal kepalanya dan menaruhnya di lapangan bola!” ucap Nurul.


Rudi tertawa.  “Serem banget, Maria?” kelakar Rudi.  Sayang sekali Nurul tidak dapat mengatakan apa yang terjadi kepada Rudi.  Mengenakan kembali pesona Maria, Nurul memandang Rudi dengan tatapan sombong.  “Maaf, Kak.  Hal kaya gitu udah biasa di Jepang.  Kayanya aku memang kelamaan di Jepang, sehingga aku jadi seorang yang haus darah apalagi sama orang yang sok mencampuri urusan orang lain seperti sahabatmu itu, Kak,” ucap Nurul.


“Kuharap dia ga membicarakan tentang Brian lagi kepadamu,” ucap Rudi.  Mata Nurul melebar.  “Tommy menceritakan itu kepada Kakak?  Ya ampun, kayanya kepalanya itu cocok ditendang-tenda di liga bola,” ucap Nurul kesal.  “Tenang, Maria.  Aku berbicara dengannya saat dia sedang marah aja.  Dia akan mengoceh tanpa sadar,” ucap Rudi.


“Tapi aku membela kehormatanmu loh di depannya.  Aku mengingatkannya tentang betapa idiotnya Brian.  Tommy biasanya mengabaikan kesombongan Brian, tapi dia cenderung cemburu tiap kali itu berkaitan denganmu.  Kamu harusnya tersanjung, bukan marah.  Ga seorangpun yang bisa membuat seorang Tommy cemburu,” ucap Rudi.


“Ya, aku cukup tersanjung,” kata Nurul dengan kasar.  “Perempuan mana yang menginginkan perhatian seorang laki-laki yang ga akan menikahinya, tapi sangat cemburu kepada setiap laki-laki yang tersenyum pada perempuan itu?” ucap Nurul mementahkan perkataan Rudi.


Air mata merebak di matanya, Nurul sungguh membenci air matanya.  Nurul memalingkan wajahnya dari Rudi untuk menyembunyikan wajahnya.  Ia seharusnya tidak mengungkapkan emosinya seperti tadi.  Khawatirnya Rudi akan bisa menebak perasaan Nurul nantinya.


“Hah?  Gimana… gimana?  Ga punya keinginan untuk menikah?” ucap Rudi.  Nurul mengeringkan matanya dengan ujung selendang.  “Kakak tahu apa maksudku.  setiap orang tahu tentang Tommy.  Bagaimana dia hanya menyukai para perempuan ‘berpengalaman’ seperti para janda muda yang memikat itu.  Tommy akan bersama mereka tanpa menyimpan perasaan.  Tommy adalah orang berhati batu,” ucap Nurul.


Suara Nurul terlihat gugup, tapi tidak bisa menenangkan dirinya.  “Dia membanggakan tentang kekebalannya terhadap emosi manusia normal.  Dia begitu bangga menyebut dirinya anti melankolis,” ucap Nurul.  Rudi terdiam sejenak.  Rudi lalu memegang lengan Nurul.  “Itu memang benar.  Tapi kupikir dia membanggakannya hanya karena dia takut terhadap semua emosi itu.  Hati Tommy tak sekeras yang kamu pikirkan, Maria,” ucap Rudi.


Rudi mengesampingkan urusannya dengan Tante Lupita mengenai penjebakan Brian.  Lagipula Brian sudah pergi tanpa pamit.  Mungkin ia mencari klinik untuk memanjakan tangannya atau hotel untuk melarikan diri, entahlah.  Atau mungkin rencana Tante Lupita untuk menjebaknya sudah bocor?  Tapi siapa yang membocorkannya, toh hanya Rudi dan Tante Lupita yang tahu mengenai rencana itu.


“Maria, boleh ga aku sedikit menceritakan tentang sahabatku itu kepadamu?  Mungkin itu akan menolongmu untuk memahami perilakunya yang aneh,” ucap Rudi.  “Kayanya ga ada apapun yang bisa membuatku memahami seorang Tommy, Kak,” ucap Nurul.  “Ga masalah.  Ayo kota ke ruanganku.  Kupikir kamu ingin mendengar ceritaku,” bujuk Rudi.


Nurul mengangguk.  Ia mengizinkan Rudi menggandengnya melintasi lorong.  Ia mungkin perlu mendengar tentang Tommy, meski ia bisa mengatakan bahwa tidak ada apapun yang bisa mengubah pikirannya.  Tommy hanyalah salah satu dari para laki-laki yang merasakan kekosongan di hatinya.  Semakin cepat Nurul menerimanya, maka semakin baik.

__ADS_1


__ADS_2