
“Mas? Mas ga ngomong kalau… “ ucap wanita itu ragu-ragu. “Lupita, perkenalkan, ini Nu…” ucap Tuan Sudarsono. “Ya, apa Mas ga dengar tadi aku sudah menyapanya?” ucap wanita dengan riasan berlebih itu. Ia adalah Lupita, adik perempuan Tuan Sudarsono. Tuan Sudarsono menjanjikan bahwa Lupita akan menjadi mahram titipan bagi Nurul selama Nurul berada di Jakarta.
“Assalamualaikum, Tante,” sapa Nurul sambil tersenyum. Perkenalan yang tidak tepat menurutnya, karena yang begitu ingin ditemui Nurul saat ini adalah Icha. “Dimana Icha?” tanya Nurul sekali lagi masih dengan senyumannya. Tante Lupita dan Tuan Sudarsono saling beradu pandang. Mengetahui ada yang aneh di antara mereka, senyuman Nurul pun surut.
“Di… mana… I… cha… “ ucap Nurul memelankan suaranya sambil mengerutkan dahinya.
“Kamu mungkin bertanya-tanya mengapa Om menjemputmu kemari, Nurul. Sebenarnya begini… “ ucap Tuan Sudarsono. “Sebaiknya kita persilakan Nurul duduk dulu,” ucap Tante Lupita. “INEEEM… “ Tante Lupita memanggilkan seorang pembantu untuk membuatkan minuman untuk mereka. “Perjalanan begitu jauh, pasti Nurul begitu haus. Maaf, ya, Nurul, kakakku memang orangnya suka begitu,” lanjut Tante Lupita.
“Yah, duduklah! Duduk!” suara angkuh Tuan Sudarsono terdengar lagi. Nurul segera melakukan seperti yang diperintahkan, tidak berani untuk melakukan yang sebaliknya. Sementara mereka menunggu minuman datang, Tante Lupita dengan gencar mengajukan pertanyaan kepada Nurul tentang orang tuanya, bagaimana ia dibesarkan dan kegiatan apa yang ditekuni.
Pada saat minuman mereka tiba, Nurul hampir memberitahu Tante Lupita bahwa semua itu tidak ada urusannya dengan Tante Lupita. Nurul masih menunggu jawaban atas teka-teki yang bersarang di kepalanya. Apakah seperti ini cara semua wanita kalangan atas menginterogasi tamu mereka?
Mereka pun meraih minuman mereka. Nurul menyesap minumannya sembari ia menyadari tatapan tajam Tante Lupita. “Tante, bagaimana keadaan Icha?” tanya Nurul perlahan. “Itu yang kami khawatirkan, Sayang. Icha… “ ucap Tante Lupita yang dengan segera dipotong oleh Tuan Sudarsono.
__ADS_1
“Icha melarikan diri dengan seorang pria yang tidak terhormat,” ucap Tuan Sudarsono dengan ekspresi yang muram. Nurul mengabaikan minumannya sama sekali. “Icha? Si pemalu Icha… melarikan diri dengan seorang laki-laki?” tanya Nurul heran.
“Ya, si pemalu Icha melarikan diri dengan seorang laki-laki,” ucap Tuan Sudarsono mengulang kata-kata Nurul dengan masam. “Itulah sebabnya aku ingin mengetahui dengan siapa Icha-ku melarikan diri,” lanjutnya. “Jadi, Om tidak tahu siapa yang melarikan Icha?” tanya Nurul panik.
“Ya, begitulah. Suatu malam Om mendengar suara lalu Om lihat ada yang menyelinap, rupanya itu Icha dengan laki-laki itu. Om mengejarnya, meminta supir untuk menyiapkan mobil, tapi sayang Om sudah terlambat,” ucap Tuan Sudarsono. Sorot berbahaya terpancar dari mata pria angkuh itu. “Tapi Om akan menemukannya! Awas saja mereka!” lanjutnya.
Nurul hampir tidak percaya yang baru saja didengarnya. Icha, gadis manja yang pemalu dan mudah senewen, lari bersama laki-laki asing? Tapi kalau diingat-ingat lagi, Icha memang pernah bercerita kalau ia sempat naksir dengan guru lesnya.
Sesuatu di wajah Nurul membuat Tuan Sudarsono dan Tante Lupita curiga. Mereka berdua berseru bersama-sama, “Kamu tahu tentang laki-laki itu!” “Enggak! Nurul benar-benar ga tahu, Om, Tante. Gini, gini, Icha pernah cerita kalau dia naksir dengan guru lesnya, tapi kayanya itu cuma becandaan Icha aja,” ucap Nurul.
“Bagaimana kami saling bertukar kabar, nomor HP dan sosmednya pun kini ga bisa Nurul hubungi lagi,” keluh Nurul. “Om masih belum percaya. Kecurigaan Om selama ini, pasti Icha bertemu dengan laki-laki sialan itu sejak Icha mondok di tempatmu! Ah, mungkin sewaktu kalian melakukan perjalanan ke Jember!” tuduh Tuan Sudarsono.
“Saya saksi hidup setiap menitnya Icha, Om. Ga ada laki-laki asing yang dekat dengan Icha, kami benar-benar ga pernah berbuat yang aneh-aneh, Om,” ucap Nurul kesal. Nurul menghela napas. “Saya memaklumi apa yang Om rasakan. Saya berharap bisa membantu Om lebih banyak lagi, tapi saya benar-benar buta tentang masalah ini,” lanjut Nurul.
__ADS_1
Tante Lupita bangkit dari tempatnya dan pindah untuk duduk di samping Nurul. Ia menggenggam tangan Nurul. Nurul semakin takut. “Nurul, kakakku sudah menceritakan persahabatanmu dengan Icha. Begini, kami akan mengandalkan kamu untuk menemukan dimana Icha berada dan membongkar identitas laki-laki asing yang membawa kabur Icha,” ucap Tante Lupita.
“Jadi, Nurul dibawa kemari untuk urusan menemukan orang hilang, bukan untuk pengobatan?” ucap Nurul menyesal. “Demi sahabatmu, Sayang,” ucap Tante Lupita.
Nurul duduk dengan gelisah. Ia melemparkan pandangan spekulatif kepada Tante Lupita tapi menghindar agar tidak menatap Tuan Sudarsono. Tante Lupita mungkin setidaknya bersikap lebih baik kepadanya dibanding lelaki angkuh itu.
“Apa yang Om dan Tante ingin aku lakukan?” tanya Nurul dengan hati-hati. Ekspresi cemas Tante Lupita melembut. “Kami perlu mata-mata, Sayang. Seseorang yang bisa berbaur di antara lingkungan Icha dan mungkin teman-temannya yang berhubungan dengan laki-laki asing itu,” ucap Tante Lupita. "Jadi seperti itu,” gumam Nurul.
“Ya, benar. Kami membutuhkanmu untuk menjadi mata-mata kami,” tegas Tuan Sudarsono. “Sa-saya tidak yakin akan berhasil, Tante, Om,” ucap Nurul menunduk. “Siapa yang akan percaya kepada saya yang adalah perempuan kampung ini?” lanjutnya.
“Tidak perlu khawatir, Sayang. Tante benar-benar akan menjadi orang tuamu di sini. Kamu akan menjadi anak Tante, mengisi tempat kosong Maria yang saat ini sedang studi di Jepang. Tante akan mengajarimu bagaimana menjadi perempuan yang bisa berbaur di sini,” ucap Tante Lupita.
“Berpura-pura menjadi anak Tante? Tante mengajariku menjadi perempuan yang bisa berbaur? Saya rasa rencana ini ga akan berhasil, Tante. Saya mohon, Om, Tante, pulangkan saya ke Madura. Pulangkan saya,” ucap Nurul dengan memohon-mohon. Ketakutan menyeruak di diri Nurul. Ia sering mendengar kabar bahwa pergaulan di kota besar sungguh berbahaya bagi perempuan muda seperti dirinya. Apalagi ketika Tante Lupita menyebutkan istilah ‘berbaur’, itu hal yang tidak mungkin Nurul lakukan. Akan banyak batasan pergaulan yang mungkin Nurul bisa langgar nantinya.
__ADS_1
Tiba-tiba, suatu hal pun dilakukan oleh Tuan Sudarsono. Hal yang membuat Nurul tidak punya pilihan lain. Nurul benar-benar tidak bisa menghindar dari peran yang diberikan oleh keluarga aneh ini.
Tuan Sudarsono meminta Tante Lupita untuk memisahkan diri dari mereka berdua. Tuan Sudarsono mengarahkan Nurul secara paksa ke sebuah ruangan tertutup. Ia menguncinya dari dalam dan hanya ada lelaki angkuh itu dan Nurul saja. Orang di luar ruangan itu tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan di dalam.