Jangan Nackal, Nurul!

Jangan Nackal, Nurul!
Transformasi Nurul


__ADS_3

Baru sekejap saja Nurul memejamkan mata, mencoba menikmati bagaimana rasanya menjadi seorang putri kerajaan dengan gaun tidur indahnya, ranjang empuk dan selimut lembutnya, tiba-tiba…


Nurul membelalakkan matanya.  Ia menepuk dahinya kemudian duduk.  “Astaghfirulllaaaah!  Aku belum shalat Isya!” pekiknya.  Nurul pun beranjak menuju kamar mandi untuk bersuci lalu setelahnya ia meraih mukena dan sajadah yang ada di tumpukan pakaian paling atas di dalam kopernya.  Nurul pun melaksanakan ibadahnya.


Seusai melaksanakan ibadah, Nurul pun berdiam di depan cermin.  “Baru sebentar jadi Cinderella udah lalai aja sama urusan agama,” gumamnya sembari bertolak pinggang mengomeli bayangan dirinya sendiri di cermin.  Nurul lalu mengganti gaun tidur itu dengan pakaian miliknya.  Ia pun beristirahat.


*


Hari pun berganti.  Melihat penampilan Nurul yang begitu kampungan, Tante Lupita pun memilihkan pakaian yang ada di lemari pakaian Nurul.  “Maa… “ cegah Nurul.  Nurul begitu segan memakai pakaian yang bukan miliknya di hadapan Tante Lupita. Meskipun, diam-diam ia telah mencobanya tanpa sepengetahuan siapapun.


“Coba dulu sayang!  Kan cuma ada kita berdua di sini.  Kenapa kamu harus malu?” bujuk Tante Lupita.  Nurul pun menuruti ucapan Tante Lupita.  Ia mencoba berbagai pakaian yang dipilihkan Tante Lupita.  Setiap mencobanya Nurul diminta berjalan dan memutar tubuhnya bak seorang peragawati.


Tante Lupita mengajarkan Nurul untuk bergaya, memposisikan tangannya, kakinya dan ekspresi wajahnya.  Semua itu dilakukan Tante Lupita sambil ia merekamnya melalui ponsel pribadinya.  Seusai semua percobaan pakaian itu, Tante Lupita pun menayangkan semua rekaman-rekaman videonya kepada Nurul.  Nurul jadi bisa menilai sendiri seperti apa gayanya.

__ADS_1


Setelah itu Tante Lupita mengajak Nurul ke pusat spa dan salon kecantikan.  Tante Lupita memang rutin melakukan perawatan kecantikan.  Itu sebabnya walaupun sudah berumur, penampilan Tante Lupita masih sangat menarik.  Ditambah lagi dengan selera fesyennya.  Semua itu ia tularkan kepada Nurul.  Nurul perlu dipoles agar menjadi lebih menarik dan bergaya kekinian.


“Segar sekali rasanya, Masya Allah,” gumam Nurul sambil menepuk-nepuk wajahnya yang basah seusai ia membasuhnya dengan air.  Nurul dan Tante Lupita masih menggunakan handuk untuk membalut tubuh mereka dan rambut yang dibalut handuk berlipat di tempat spa.  Aroma bunga yang menyegarkan ia rasakan dari kulit lengannya yang berwarna cerah, kencang dan halus.


“Kamu sudah pernah spa begini belum, Sayang?” tanya Tante Lupita.  “Belum pernah, Ma,” jawab Nurul.  Tentu saja, yang Nurul tahu hanya sebatas menggunakan masker rempah di wajah, pernah juga lulur di tangan dan kakinya menggunakan lulur mandi yang dibelinya di mini market.


Nurul melihat bagian yang sama pada Tante Lupita.  Kulit lengannya punya kondisi tak jauh berbeda dengannya, padahal usia mereka terpaut begitu jauh.  Melihat Nurul berbinar memperhatikan lengan Tante Lupita, wanita sosialita itu pun membanggakan apa yang dimilikinya.


“Seperti inilah kami para wanita di sini, Sayang.  Kecantikan dan kesehatan kulit adalah investasi yang selalu perlu dijaga,” ucap Tante Lupita sembari menyapu jemarinya di kulit lengannya yang ia banggakan itu.  “Investasi,” gumam Nurul.  “Ya, investasi.  Mumpung kamu masih muda, rawatlah kecantikanmu itu.  Jadikan sebagai investasi,” lanjut Tante Lupita.


“Kalau hal ini dilakukan di tempatku, Ma, ini akan jadi hal yang mubazir.  Baru keluar dari spa, besoknya sudah harus berkebun.  Sama saja, tetap gosong,” kelakarnya.  Tante Lupita terkekeh mendengar ucapan Nurul.  “Yang penting rajin merawat diri, pakai pelindung biar ga gosong.  Alangkah lebih baik lagi kalau memilih pasangan yang mampu membiayai kehidupan rumah tanggamu, sehingga kamu sampai ke anak cucu kalian ga perlu capek-capek bekerja kasar,” ucap Tante Lupita.


“Kalau semua perempuan di negeri ini tidak ada yang berkontribusi di bidang pertanian, ga bisa dibayangkan bagaimana hasil pertanian di negeri ini,” batin Nurul.  Bukan waktunya berdebat mengenai prinsip dengan Tante Lupita saat ini.  Toh wanita sosialita ini mungkin tidak akan mengerti bagaimana rasanya berada di posisi yang berbeda dengan wanita perkotaan.

__ADS_1


“Iya, Tante.  Mencari laki-laki mapan adalah saran yang terbaik,” jawab Nurul.  Berpikir soal laki-laki untuk jodohnya, tidak ada satupun kandidat yang terlintas di pikiran Nurul.  Nurul malah berkhayal untuk bertemu Tommy lagi.  Setidaknya Tommy adalah laki-laki dari kalangan atas.  Tapi, itu tidak mungkin juga untuk diteruskan ke hubungan rumah tangga, sebab Tommy punya keyakinan yang berbeda.  Di dalam agama yang Nurul anut, seorang lelaki muslim boleh menikahi wanita non muslim, tapi tidak sebaliknya.


“Kamu malah bengong, Sayang?  Ngantuk ya, karena habis spa?”  Pertanyaan Tante Lupita menyentak Nurul dari lamunan.  Nurul lalu tersenyum sambil menggeleng.  “Setelah ini kita akan ke ketemu teman Mama, kita akan pilih pakaian buat kamu dan ke salon miliknya,” ucap Tante Lupita.  Nurul hanya menurut apa kata Tante Lupita.


*


Tiba di tempat yang dijanjikan Tante Lupita, Nurul dikenalkan dengan teman Tante Lupita.  Baru saja bertemu teman Tante Lupita itu langsung memandangi Nurul dari atas kepala sampai ke kaki.  Seakan ia sedang menelanjangi Nurul.  Nurul pun dipilihkan pakaian muslimah yang lebih trendi.


Kali ini kerudung Nurul bertransformasi tidak sekaku tipe-tipe kerudung Nurul yang pakai sebelumnya.  Kerudung segi empat yang menutupi hampir separuh tubuh Nurul.  Kini ia dipilihkan kerudung dengan model pasmina.  Lebih minimalis dan punya estetika yang lebih bagi para perempuan di perkotaan.  Tidak hanya kerudung dan baju, Nurul juga dipilihkan sepatu dan aksesoris berupa tas kecil bermerek.


Setelah semua itu dibelikan, Nurul pun dilakukan make over.  Tidak hanya wajah, rambut Nurul pun diberikan treatment untuk dirapikan.  Setelah selesai dengan make up dan pengaturan tata rambut, Nurul dihadapkan pada cermin.  Ia melihat dirinya begitu berubah.


“Cantik sekali!  Duh, Tante sampe gemes lihatnya.  Coba kalau kamu ga pakai kerudung begini ya?” ucap teman Tante Lupita.  Tante Lupita yang berdiri di sampingnya pun langsung menyenggol temannya itu dan memberi isyarat untuk menahan kata-katanya.  Menurutnya kata-kata itu tidak sopan dan dikhawatirkan menyinggung kereligiusan Nurul.

__ADS_1


Sementara, Nurul seakan tidak terusik dengan perkataan itu.  Ia masih terpana dengan bayangannya sendiri di cermin.  Nurul tidak percaya kalau dirinya bisa secantik ini.  Nurul seakan terhipnotis.


Bagaimanapun, Nurul hanya gadis biasa yang berasal dari pelosok.  Ia belum terbiasa dengan perubahan yang ada di depan matanya.  Ia begitu tergoda dan terpana oleh keindahan-keindahan yang sekaligus ia dapatkan ini.  Akan sangat beruntung bagi keluarga Tuan Sudarsono apabila Nurul mau merubah penampilannya agar bisa berbaur dengan lingkungan anak muda yang mungkin bagian dari pergaulan Icha. Meskipun, itu melanggar prinsip yang selalu Nurul pegang di setiap kesehariannya.


__ADS_2