
Suara Tommy terdengar menyedihkan. “Pada akhirnya, dia menjadi seperti mayat hidup karena telah mengabdikan diri sepenuhnya pada ibu tiriku yang sakit-sakitan itu. Ayahku digerogoti keputusasaan karena tidak ada satupun yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan ibu tiriku. Dia meninggal tak lama setelah kepergian ibu tiriku, karena dia tidak bisa hidup tanpa istrinya itu,” jelas Tommy.
Untuk waktu yang lama keduanya terdiam dalam keheningan. Lalu, Nurul mendesah. “Maafkan aku, Tom,” bisik Nurul. Terpampang rasa kasihan di wajah Nurul, rasa kasihan yang membangkitkan amarah Tommy.
“Aku menceritakan ini kepadamu bukan untuk membuatmu sedih atau merasa kasihan kepadaku. Aku hanya berpikir kalau kamu seharusnya tahu tentang kebenarannya. Bahkan jika aku ingin mencintaimu, aku tak bisa,” ucap Tommy.
“Aku telah menempa diriku untuk menolak emosi-emosi yang tidak stabil semacam itu sejak lama,” lanjutnya. Saat Nurul memucat, Tommy menambahkan, “Tapi itu tidak berarti kita tak bisa menjalani suatu pernikahan yang memuaskan dan menyenangkan. Sebenarnya, jika tanpa dilingkupi oleh emosi itu, pernikahan ini akan menjadi lebih baik daripada kebanyakan pernikahan lainnya,” ucap Tommy.
“Oh, jadi gitu ya?” ucap Nurul. Nurul mengangkat dagunya, mata indahnya melambut dengan penyesalan dan rasa terluka. Sejumlah emosi lainnya yang mendalam. “Dan bagaimana jika aku jatuh cinta kepadamu,” ucap Nurul.
Yang memuakkan Nurul, reaksi pertamanya saat mendengar pernyataan Nurul itu adalah suatu rasa suka cita. Nurul, Nurul-nya, jatuh cinta kepadanya?
Lalu, sisi praktis Tommy muncul lagi, dan ia memaksa dirinya mengatakan, “Kamu ga jatuh cinta kepadaku. Kamu menyalahartikan hasrat dengan sesuatu yang lain, yang bisa dimaklumi dalam situasi seperti ini,” ucap Tommy.
“Jangan meremehkan aku, Tom!” sergah Nurul. “Aku mungkin naif dan muda, serta segala yang kamu pandang rendah itu, tapi aku ga bodoh. Aku tahu apa yang kurasakan,” ucap Nurul.
Dengan tidak nyaman, Tommy menyadari kalau ia tidak berkeinginan untuk mendebat Nurul tentang topik khusus ini. Betapa egoisnya seorang pria merasa senang karena seorang perempuan mencintainya meskipun pria itu tidak merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Namun, Tommy tidak bisa menghentikan rasa senangnya. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Kalau itu benar, aku ga ngerti alasanmu yang menganggap pernikahan kita akan hancur nantinya. Yang pastinya aku ga punya kapasitas untuk mencintai, itu aja,” ucap Tommy.
“Apa ayahmu memahami bahwa ibumu ga punya kapasitas untuk mencintai?” balas Nurul. “Apakah itu yang membuat pernikahan mereka berhasil?” lanjutnya.
Nurul tidak bisa mendapatkan senjata lain yang lebih baik. Tommy menjadi kaku. “Ini ga sama, Nurul. Orang tuaku bukan pasangan yang sepadan. Beda dengan kita berdua, Nurul,” ucap Tommy.
Nurul tertawa pahit. “Oh, iya, udah jelas. Kamu adalah seorang konglomerat dan aku cuma seorang gadis desa. Kamu menganggapnya sepele,” ucap Nurul. “Tidak satupun hal itu yang penting bagiku,” kata Tommy dengan tajam.
“Mungkin tidak sekarang, Tom. Tapi itu akan terjadi. Suatu hari kamu akan terbangun dan mendapati dirimu merasa malu karena keberadaanku,” ucap Nurul. Nurul mengarahkan tatapannya ke luar jendela. “Jika kamu mencintaiku, kamu mungkin bisa mengabaikan tidak menariknya penampilanku dan kurangnya pergaulanku. Tapi, kamu ga mencintaiku, hal-hal seperti itu hanya akan mempermalukan dirimu,” ucap Nurul.
“Kamu lupa sama kemampuanmu lainnya yang mengagumkan… keahlianmu dalam hal pengobatan, kepintaranmu, sifatmu yang manis… “ ucap Tommy.
Nurul salah. Sifat manisnya adalah hal pertama yang telah memikat Tommy. Tapi, Nurul tidak pernah mempercayai hal itu. Ia memupuskannya seperti yang bisa dilakukannya.
Namun, ada satu hal yang akan dipercaya Nurul. “Kamu melupakan satu kemampuanmu yang sangat penting,” ucap Tommy. Tommy meraih dagu Nurul dan membuatnya menengadah sehingga Nurul bisa membalas tatapan Tommy. Mata Nurul diliputi keraguan, nyaris waspada. “Kemampuan untuk memuaskan aku di tempat tidur,” ucap Tommy.
Tatapan Nurul bergeming dari tatapan Tommy. “Itu hal termudah untuk dibeli, seperti yang telah kamu tahu bahwa kamu bisa membayar perempuan manapun yang kamu inginkan. Para pelacur dan janda-janda muda,” ucap Nurul.
__ADS_1
Tommy terpana. “Tidak semudah yang kamu bayangkan, Nurul,” ucap Tommy. Tommy mengeluskan jemarinya ke tatanan rambut Nurul yang ditata tergesa-gesa dan melepaskan beberapa penjepit rambutnya, membuat rambut Nurul tergerai di bahunya. Suara Tommy menjadi serak saat ia membelai pipi Nurul yang merona.
“Aku ga pernah menikmati malam yang sangat menyenangkan sama seperti yang kualami kemarin. Hanya untuk itu, aku bersedia memberikan apapun kepadamu, bahkan keyakinanku sekalipun,” ucap Tommy.
Tommy mendekatkan mulutnya beberapa senti dari mulut Nurul.
*
Tommy mendekatkan mulutnya beberapa senti dari mulut Nurul. Jika ia tak bisa meyakinkan Nurul dengan kata-kata untuk menikah dengannya, maka ia akan menggunakan cara-cara lain yang mungkin dilakukan. Tapi, ia akan meyakinkan Nurul. Ia mungkin tidak jatuh cinta, tapi ia telah memutuskan bahwa seorang istri bisa menjadi hal yang sangat menolong. Terutama jika istrinya adalah Nurul.
Hasrat terpancar di wajah Nurul, meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya. “Dan apa yang terjadi jika kamu bosan tidur denganku?” tanya Nurul. Pernyataan yang sangat tidak masuk akal itu membuat Tommy tersenyum. “Aku tidak akan pernah bosan melakukannya,” jawab Tommy. Sebelum Nurul bisa mengajukan alasan lain, Tommy menutup mulut Nurul dengan mulutnya.
Nurul begitu lembut, sangat lembut. Nurul memiliki bibir yang diciptakan untuk dicium, bentuknya yang halus dan warnanya yang alami jauh lebih menggoda daripada mulut polesan para pelacur. Dengan mendalam dan berulang-ulang, Tommy menggerakkan lidahnya ke dalam mulut Nurul. Ia menunjukkan apa yang sesungguhnya ingin ia lakukan kepada Nurul. Aroma bunga memenuhi indra Tommy, menciptakan manisnya suatu ciuman yang jauh lebih manis daripada yang dibayangkannya.
Nurul melepaskan dekapan Tommy. Ia melirik supir Tommy dengan tak nyaman. Tommy tersenyum mengetahuinya. “Pak, sepertinya kita bisa menepi sebentar,” ucap Tommy. Supir Tommy paham betul apa yang dimaksud Tommy. “Baik, Den,” jawabnya. Mobil pun menepi dan supir itu keluar dari mobil, membiarkan Tommy dan Nurul berdua di dalam mobil.
Tommy punya desakan kuat untuk menyentuh Nurul, seluruh tubuhnya, menandai Nurul sebagai miliknya. Tapi, ia ingin melakukannya dengan pelan untuk memastikan bahwa ia membangun kebutuhan Nurul sendiri untuk terlebih dahulu menggapai puncak kesenangan.
__ADS_1
Tommy menelusuri kulit leher Nurul yang lembut. Kali ini mereka tanpa hambatan, sebab kaca mobil adalah kaca yang gelap dan tidak tembus pandang apabila dilihat dari luar.